Jumat, 06 September 2013

Karakter-Karakter Keris Jawa Berdasarkan Tempat Asal Pembuatannya

Pada dasarnya pada awalnya keris-keris dibuat adalah untuk menunjang kesaktian, kekuasaan dan kewibawaan manusia pemiliknya. Masing-masing keris jawa yang dibuat oleh empu jawa di Jawa Barat, Jawa Tengah dan di Jawa Timur mempunyai perbedaan sifat perwatakan yang umumnya sejalan dengan sifat perwatakan dan keilmuan kesaktian masyarakat setempat.

Keris Jawa Barat.
Secara umum, keilmuan kesaktian dari Jawa Barat sangat mengedepankan sifat keilmuan yang tinggi dan watak keilmuan yang keras. Diibaratkan jika ilmu pukulan, maka ilmu pukulannya itu bersifat ampuh mematikan / menghancurkan, atau jika ilmu pertahanan tubuh, ilmunya benar-benar bisa menjadikan manusianya kebal tidak terluka oleh serangan senjata tajam. Dengan sifat keilmuan kesaktian yang seperti itu maka orangnya akan dikenal sebagai manusia yang berkesaktian tinggi.

Sejalan dengan itu, keris-keris yang dibuat di Jawa Barat dibuat dengan sifat karakter yang keras dan panas dan berhawa angker menakutkan, sehingga walaupun hanya dilihat sekilas saja akan terasa bahwa keris-keris tersebut mengandung hawa gaib yang keras.

Keris Jawa Timur.
Secara umum, keilmuan kesaktian dari Jawa Timur juga mengedepankan sifat keilmuan yang tinggi dan watak keilmuan yang keras, tetapi tidak sekeras keilmuan Jawa Barat, sifatnya lebih halus tetapi tajam. Diibaratkan jika ilmu pukulan, walaupun ilmu pukulannya juga bersifat mematikan / menghancurkan, tetapi lebih halus dan energinya lebih tajam, bersifat merusak tubuh bagian dalam atau menembus kekebalan / pagaran ilmu gaib lawan, atau jika diibaratkan ilmu pertahanan tubuh, walaupun ada juga ilmu yang benar-benar menjadikan manusianya kebal terhadap serangan senjata tajam, tetapi kebanyakan ilmunya berupa ilmu ketahanan tubuh dari serangan fisik dan tenaga dalam dan perlindungan dari serangan ilmu gaib.

Sejalan dengan itu, keris-keris yang dibuat di Jawa Timur dibuat dengan sifat karakter yang halus tetapi berenergi tajam, berwibawa tetapi tidak angker menakutkan, sehingga bila dilihat sekilas akan terasa bahwa sekalipun keris-keris tersebut berkesaktian tinggi, tetapi tidak terlihat angker, tetapi anggun dan berwibawa dan terasa kandungan hawa gaib energinya yang tajam (tetapi tidak semua keris dari Jawa Timur berenergi tajam).

Keris Jawa Tengah.
Secara umum, keilmuan kesaktian dari Jawa Tengah tidak menonjolkan sifat keilmuan yang tinggi dan watak keilmuan yang keras, tetapi menekankan pada keilmuan yang "dalam" dan bersifat "menindih" kesaktian lawan atau bersifat menenggelamkan / memunahkan keilmuan lawan yang tinggi. Sangat jarang kita mendengar nama-nama orang sakti dari Jawa Tengah, karena seseorang yang menganut filosofi keilmuan dari Jawa Tengah, walaupun sakti dan berilmu tinggi, tetapi seringkali tidak kelihatan sebagai orang yang sakti / berilmu, karena perwatakannya didasari oleh filosofi kebatinan jawa mendem jero, tetapi karisma perbawa keilmuannya akan dapat dirasakan oleh sesama orang berilmu, sehingga mereka akan saling menghormati dan menjaga jarak. Diibaratkan jika ilmu pukulan, maka walaupun ilmu pukulannya juga bersifat menghancurkan, tetapi lebih lembut dan tidak menonjolkan serangan yang mematikan, tetapi lebih bersifat mengalahkan dengan melumpuhkan atau bersifat "menindih" / memunahkan keilmuan lawan, atau jika ilmu pertahanan tubuh, walaupun ada juga ilmu yang benar-benar menjadikan manusianya kebal terhadap serangan senjata tajam, tetapi kebanyakan ilmunya berupa ilmu ketahanan tubuh dari serangan fisik dan tenaga dalam dan perlindungan dari serangan ilmu gaib.

Sejalan dengan itu, keris-keris yang dibuat di Jawa Tengah dibuat dengan sifat karakter yang halus, tetapi berenergi besar dan bersifat "menindih" kesaktian lawan, dan tidak menonjol wibawanya, apalagi angker menakutkan, sehingga banyak orang yang tertipu yang menganggap keris-keris tersebut kosong isinya, karena memang tidak terasa aura wibawanya dan juga tidak terasa getaran energinya. Sekalipun keris-keris tersebut berkesaktian tinggi dan berenergi besar, tetapi tidak terlihat angker berwibawa dan tidak terasa kandungan hawa gaibnya, tetapi orang-orang berilmu kebatinan dan yang peka batinnya, mereka akan dapat merasakan getaran gaibnya dan energinya yang besar dan berat dari jarak yang cukup jauh sebelum keris-keris itu hadir di hadapan mereka. Bahkan banyak orang-orang berilmu gaib yang memilih untuk tidak "berurusan" dengan keris-keris dari Jawa Tengah ini, karena keris-keris itu dapat "menindih" dan memunahkan keampuhan ilmu gaib mereka. Banyak keris-keris Jawa Tengah yang sebenarnya adalah Keris Tindih.

Etika Belajar Ilmu Gaib

Kajian sejarah menyebutkan bahwa sebelum agama-agama (Hindu, Budha, Islam) masuk ke nusantara, masyarakat Jawa sudah sangat mengenal tradisi mistik dan kebatinan yang tinggi. Kedatangan para wali di Pulau Jawa (Wali Songo) tidak menolak tradisi jawa tersebut. Melainkan memanfaatkannya sebagi sarana dakwah.

Dalam hasanah ilmu supanatural di tanah air, kita mengenal dua aliran utama yaitu Aliran Hikmah dan Aliran Kejawen. Aliran Hikmah berkembang di kalangan pesantren dengan ciri khas rapalannya berbahasa Arab misalnya hizib/hijib/asma. Sedangkan Aliran Kejawen (sebetulnya sudah tidak murni Kejawen lagi, melainkan bercampur dengan tradisi arab) mantranya murni berbahasa Jawa. Namun sekarang mantra tersebut sudah diawali dengan membaca “Basmalah” kemudian dilanjutkan dengan mantra Jawa dan diakhiri dengan memohon ijin Tuhan (Soko Kersaning Allah)..

Baik Aliran Hikmah dan Aliran Kejawen itu sudah diketahui oleh para penyebar agama. Awalnya aliran hikmah dan oleh Para Wali kemudian dikoreksi dan direvisi dengan menyusun amalan ilmu-ilmu supranatural dengan tatacara yang sesuai dengan akidah agama, misalnya dilakukan puasa, wirid dan rapal yang biasanya dicampur antara bahasa arab-jawa. Intinya adalah do’a dan permohonan agar diijinkan Tuhan memiliki amalan tertentu. Mungkin itu alasan para wali mengapa mantra kejawen tersebut tidak seluruhnya berbahasa Arab. Yaitu agar orang jawa tidak merasa asing dengan ajaran yang baru mereka kenal.

Salah seorang wali yang terkenal dengan kemampuan mengolah amalan ilmu supranatural adalah Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga adalah tokoh yang pandai dan cerdas memanfaatkan berbagai media dan sarana untuk berdakwah. Misalnya melalu suluk, tembang, kidung. Suluk dan kidung yang dikarangnya mengandung ajaran falsafah ketuhanan dan ajaran kebatinan yang sangat berharga.

Setiap perilaku manusia akan menimbulkan sebuah bentuk fisik di alam astral. Apapun perilakunya, suatu ketika akan kembali ke pelakunya dan akan menimbulkan akibat yang bersifat metafisik. Amalan ilmu supranatural yang diniatkan untuk tujuan baik akan membangkitkan energi astral yang sangat dasyat sehingga seseorang bisa melakukan sesuatu yang melebihi kemampuan manusia biasa. Amalan sebuah ilmu adalah olah batin sebagai syarat yang perlu dipenuhi untuk mendapatkan suatu ilmu supranatural.

Olah batin adalah mengisi energi batin yang gaib. Pengisian energi cukup dilakukan satu kali untuk seumur hidup. Penabungan energi ini dapat dilakukan dengan cara bermacam-macam tergantung jenis ilmu yang ingin dikuasai. Jadi syarat mendapatkan ilmu adalah mengamalkan bacaan wirid doa/mantra, menjauhi pantangan, berpuasa. Di Jawa kita mengenal puasa patigeni (tidak makan, minum, tidur dan tidak boleh kena cahaya), nglowong, ngebleng dan lain-lain. Biasanya beratnya tirakat sesuai dengan tingkat kesaktian suatu ilmu. Seseorang harus banyak melakukan kebajikan dan menjaga bersihnya hati ketika sedang mengamalkan sebuah ilmu.



Rabu, 04 September 2013

Makam Wali Allah Sultan Suriansyah

Sultan Suriansyah, berasal dari keturunan raja-raja Kerajaan Negara Daha. Ia merupakan Raja Banjar pertama yang memeluk Islam, dan sejak beliaulah agama Islam berkembang resmi dan pesat di Kalimantan Selatan. Untuk pelaksanaan dan penyiaran agama Islam beliau membangun sebuah masjid yang dikenal sebagai Masjid Sultan Suriansyah yang merupakan masjid tertua di Kalimantan Selatan.

Makam Sultan Suriansyah terletak di Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin. Sultan Suriansyah merupakan raja Kerajaan Banjar pertama yang memeluk agama Islam.

Sewaktu kecil namanya adalah Raden Samudera, setelah diangkat menjadi raja namanya menjadi Pangeran Samudera dan setelah memeluk Islam namanya menjadi Sultan Suriansyah. Gelar lainnya adalah Panembahan atau Susuhunan Batu Habang.

Menurut sarjana Belanda J.C. Noorlander bahwa berdasarkan nisan makam, maka umur kuburan dapat dihitung sejak lebih kurang tahun 1550, berarti Sultan Suriansyah meninggal pada tahun 1550, sehingga itu dianggap sebagai masa akhir pemerintahannya. Ia bergelar Susuhunan Batu Habang. Menurut M. Idwar Saleh bahwa masa pemerintahan Sultan Suriansyah berlangsung sekitar tahun 1526-1550. Sehubungan dengan hal ini juga dapat menetapkan bahwa hari jadi kota Banjarmasin jatuh pada tanggal 24 September 1526.

Ratu Intan Sari atau Puteri Galuh adalah ibu kandung Sultan Suriansyah. Ketika itu Raden Samudera baru berumur 7 tahun dengan tiada diketahui ayahnya Raden Manteri Jaya menghilang, maka tinggallah Raden Samudera bersama ibunya. Pada masa itu Maharaja Sukarama, raja Negara Daha berwasiat agar Raden Samudera sebagai penggantinya ketika ia mangkat.

Tatkala itu pula Raden Samudera menjadi terancam keselamatannya, berhubung kedua pamannya tidak mau menerima wasiat, yaitu Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Tumenggung, karena kedua orang ini sebenarnya kemenakan Sukarama. Ratu Intan Sari khawatir, lalu Raden Samudera dilarikan ke Banjar Masih dan akhirnya dipelihara oleh Patih Masih dan Patih Kuin.

Setelah sekitar 14 tahun kemudian mereka mengangkatnya menjadi raja (berdirinya kerajaan Banjar masih/Banjarmasin). Ratu Intan Sari meninggal pada awal abad ke-16.
Sultan Rahmatullah, putera Sultan Suriansyah, beliau raja Banjar ke-2 yang bergelar
Susuhunan Batu Putih. Masa pemerintahannya tahun 1550-1570.

Sultan Hidayatullah, raja Banjar ke-3, cucu Sultan Suriansyah. Ia bergelar Susuhunan Batu Irang. Masa pemerintahannya tahun 1570-1595. Ia senang memperdalam syiar agama Islam. Pembangunan masjid dan langgar (surau) telah banyak didirikan dan berkembang pesat hingga ke pelosok perkampungan.

Pada tahun 1521 datanglah seorang tokoh ulama besar dari Kerajaan Demak bernama Khatib Dayan ke Banjar Masih untuk mengislamkan Raden Samudera beserta sejumlah kerabat istana, sesuai dengan janji semasa pertentangan antara Kerajaan Negara Daha dengan Kerajaan Banjar Masih.

Khatib Dayan merupakan keturunan Sunan Gunung Jati dari Cirebon, Jawa Barat. Ia menyampaikan syiar-syiar Islam dengan kitab pegangan Surat Layang Kalimah Sada di dalam bahasa Jawa. Ia seorang ulama dan pahlawan yang telah mengembangkan dan menyebarkan agama Islam di Kerajaan Banjar sampai akhir hayatnya.

Patih Kuin adalah adik kandung Patih Masih. Ia memimpin di daerah Kuin. Ketika itu ia telah menemukan Raden Samudera dan memeliharanya sebagai anak angkat. Pada masa beliau keadaan negerinya aman dan makmur serta hubungan dengan Jawa sangat akrab dan baik. Ia meninggal pada awal abad ke-16.

Patih Masih adalah seorang pemimpin orang-orang Melayu yang sangat bijaksana, berani dan sakti. Ia memimpin di daerah Banjar Masih secara turun temurun. Ia keturunan Patih Simbar Laut yang menjabat Sang Panimba Segara, salah satu anggota Manteri Ampat. Ia meninggal sekitar awal abad ke-16.

Senopati Antakusuma adalah cucu Sultan Suriansyah. Ia seorang panglima perang di Kerajaan Banjar dan sangat pemberani yang diberi gelar Hulubalang Kerajaan. Ia meninggal pada awal abad ke-16.

Syekh Abdul Malik atau Haji Batu merupakan seorang ulama besar di Kerajaan Banjar pada masa pemerintahan Sultan Rahmatullah. Ia meninggal pada tahun 1640.

Haji Sa'anah berasal dari keturunan Kerajaan Brunei Darussalam. Ia menikah dengan Datu Buna cucu Kiai Marta Sura, seorang menteri di Kerajaan Banjar. Semasa hidupnya Wan Sa'anah senang mengaji Al-Qur'an dan mengajarkan tentang keislaman seperti ilmu tauhid dan sebagainya. Ia meninggal pada tahun 1825.


Pangeran Ahmad merupakan seorang senopati Kerajaan Banjar di masa Sultan Rahmatullah, yang diberi tugas sebagai punggawa atau pengatur hulubalang jaga. Ia sangat disayangi raja dan dipercaya. Ia meninggal pada tahun 1630.

Pangeran Muhammad, adalah adik kandung Pangeran Ahmad, juga sebagai senopati Keraton di masa Sultan Hidayatullah I. Ia meninggal pada tahun 1645.

Sayyid Ahmad Iderus, adalah seorang ulama dari Mekkah yang datang ke Kerajaan Banjar bersama-sama Haji Batu (Syekh Abdul Malik). Ia menyampaikan syiar-syiar agama Islam dan berdakwah di tiap-tiap masjid dan langgar (surau). Ia meninggal pada tahun 1681.

Gusti Muhammad Arsyad putera dari Pangeran Muhammad Said. Ia meneruskan perjuangan kakeknya Pangeran Pangeran Antasari melawan penjajah Belanda. Ia kena tipu Belanda, hingga diasingkan ke Cianjur beserta anak buahnya, setelah meletus perang dunia, ia dipulangkan ke Banjarmasin. Ia meninggal pada thaun 1938.

Kiai Datu Bukasim merupakan seorang menteri di Kerajaan Banjar. Ia keturunan Kiai Marta Sura, yang menjabat Sang Panimba Segara (salah satu jabatan menteri). Ia meninggal pada tahun 1681.

Anak Tionghoa Muslim. Pada permulaan abad ke-18, seorang Tionghoa datang berdagang ke Banjarmasin. Ia berdiam di Kuin Cerucuk dan masuk Islam sebagai muallaf. Tatkala itu anaknya bermain-main di tepi sungai, hingga jatuh terbawa arus sampai ke Ujung Panti. Atas mufakat tetua di daerah Kuin, mayat anak itu dimakamkan di dalam komplek makam Sultan Suriansyah. 


Senin, 02 September 2013

Syeikh Tegal Arum

Jika RADEN ADIPATI ARYO COKRONAGORO I berjiwa seperti kiai, sunan atau ulama besar tidak lain karena di dalam darahnya mengalir nilai-nilai Islam para kiai atau sunan yang menjadi pendahulunya. Misalnya seperti Kiai Nosingo (Wonosingo) yang merupakan kakeknya atau bahkan dengan Sunan Geseng.

Sunan Geseng adalah murid dari ulama besar Jawa, yakni Sunan Kalijogo. Sebutan Sunan Geseng diberikan Sunan Kalijaga kepada Kiai Cokrojoyo I karena begitu setia terhadap perintahnya sehingga merelakan badannya menjadi hangus (geseng).

Alkisah, setelah ditinggal ibundanya (yakni Nyai Ageng Bagelen atau Raden Rara Rengganis), Bagus Gentho melanjutkan hidupnya di desa Bagelen. Pekerjaan sehari-hari dilakukan menjadi petani seperti kebiasaan para leluhur. Setelah dewasa ia menikah dan memperoleh putra yang diberi nama Raden Damarmoyo.

Raden Damarmoyo mempunyai putri bernama Raden Rara Rengganis II yang setelah dewasa menikah dengan Kiai Pakotesan. Pernikahan mereka menghasilkan keturunan, yakni Pangeran Semono atau sering disebut Pangeran Muryo. Dari hasil pernikahan Pangeran Semono inilah Kiai Cokrojoyo I lahir untuk mencicipi kehidupan di dunia dan kemudian dikenal sebagai Sunan Geseng

Saat Kiai Cokrojoyo I beranjak dewasa, Islam sedang mengalir deras ke Tanah Jawa. Penyebabnya tak lain karena sepak terjang para wali yang sangat gigih menyebarkan Islam di Tanah Jawa (baca: Pusat Pengembangan Peradaban Islam Madani). Di tengah fanatisme masyarakat penganut Hindu, Budha maupun Dinamisme, Sembilan Wali menyebarkan Islam ke Tanah Jawa mulai penghujung abad 14 sampai pertengahan abad 16. Para Wali Allah tersebut tinggal di tiga wilayah strategis pantai utara Jawa, yakni Jawa Timur (Surabaya-Gresik-Lamongan), Jawa Tengah (Demak-Kudus-Muria) dan Jawa Barat (Cirebon).

Di Jawa Tengah yang menjadi pemimpin wali Allah dalam menyebarkan Islam termasuk Sunan Kalijogo. Ia sering berkelana keliling menyiarkan Islam sampai di pelosok desa maupun hutan .

Pada suatu hari Sunan Kalijogo singgah di kediaman Kiai Cokrojoyo I karena mendengar kiprah anak Pangeran Semono ini dalam menyebarkan Islam di daerahnya. Sewaktu tiba, Cokrojoyo sedang mencetak aren sambil bernyanyi dengan santai (Jawa: uro-uro).

Setelah mengucapkan salam, Sunan Kalijaga bertanya; "Berapa hasilnya setelah menjadi gula?" Cokrojoyo menjawab seketika; ”hanya cukup untuk menghidupi orang melarat”. Sunan Kalijaga lalu berkata; ”Coba gantikanlah uran-uran-mu dengan Surat Kalimah Syahadat. "Kemarilah biar aku ajarkan membacanya dan nanti jika gulanya telah tercetak bawalah kemari, aku akan melihatnya," ujar Kalijaga lebih lanjut.

Setelah mengucapkan Surat Kalimah Syahadat, Cokrojoyo meneruskan kerjanya, dan sesudah gulanya dicetak ia tutupi dengan tampi. Kemudian cetakan gula itu diserahkan ke Sunan Kalijaga. Namun betapa takjubnya ketika tutup gula itu diangkat oleh Sunan Kalijaga, dilihatnya gula aren yang baru dibuat telah berubah menjadi emas. Ia pun langsung diam terpaku hingga beberapa saat.

Sewaktu sadar, Sunan Kalijaga sudah tak di tempat. Dengan bergegas (Jawa: guralawan) Cokrojoyo mengejar dan setelah berhasil menyusul ia langsung bersimpuh pada lutut Kalijaga. Sambil berlutut ia memohon agar diperkenankan menjadi muridnya. Dikisahkan Sunan Kalijaga mengatakan; ”Anakku (Jawa: jebeng) jika sungguh-sungguh ingin menjadi murid, maka kau harus bertapa sujud di tempat ini dan jangan pergi sebelum aku datang.” Setelah berkata demikian, Kalijaga sirna dari pandangan dalam sekejap.

Syahdan, Kalijaga baru teringat dengan peristiwa itu ketika lewat di desa Bagelen dalam rangka syiar Islam keliling. Kemudian para pengikutnya diperintahkan untuk mencari tempat bertapa Kiai Cokrojoyo I. Namun karena sudah dipenuhi alang-alang dan tumbuhan liar setinggi manusia, maka tak seorangpun berhasil menemukan.

Sunan Kalijogo kemudian memerintahkan untuk membabat seluruh tumbuh-tumbuhan yang menutupi tempat itu. Tapi sekali lagi, upaya itu sia-sia. Akhirnya tak ada jalan lain kecuali membakar seluruh alang-alang dan semua tumbuhan yang telah dibabat. Dikisahkan walaupun alang-alang dan dahan-dahan tumbuhan masih basah, ketika didoakan oleh Sunan Kalijaga, api langsung menyala berkobar-kobar seperti kebakaran hutan besar. Peristiwa itu membuat penduduk di sekitarnya menjadi cemas dan ketakutan.

Setelah api reda dan semua tumbuh-tumbuhan rata dengan tanah, terlihatlah tubuh Kiai Cokrojoyo I masih dalam posisi sujud namun telah hitam hangus. Walaupun seperti tak bernyawa, namun denyut jantungnya masih berdetak dengan sangat lemah.

Sunan Kalijaga mendekati tubuh hangus itu sambil berkata; ”Hai Cokrojoyo bangunlah. Jangan enak-enak tidur, aku datang”. Seketika Cokrojoyo tersentak dan begitu melihat sang guru ia langsung bersimpuh.

Kiai Cokrojoyo I kemudian mendapat wisik ”manunggalnya kawulo dengan gusti”, yang berarti dirinya telah mencapai tingkat kesempurnaan tertentu. Setelah menerima berkah Sunan Kalijaga, hatinya merasa semakin terang (dalam istilah Jawa: kadyo mendung ingkang kabuncang ing samirono, narawang lir pendah saged muluk ing ngawiyat).

Sunan Kalijogo meneruskan wejangan kepada Cokrojoyo. Dikatakan, atas kemurahan Allah Yang Maha Kuasa, Cokrojoyo telah terbuka (Jawa: tinarbuko) memperoleh Wahyu Wali. Kalijogo meneruskan ucapannya; "Karena badanmu hangus (geseng), pakailah nama Sunan Geseng dan mulailah bermukim (Jawa: tetruko) di hutan Loano. Hutan ini kelak akan menjadi desa ramai dan akan menjadi tempat tinggal para keturunan raja."

Sunan Geseng mengembara menyebarkan agama Islam sampai ke desa Jatinom, sekitar 10 kilometer arah utara kota Klaten. Penduduk Jatinom mengenal Sunan Geseng dengan sebutan Ki Ageng Gribig, karena ia senang tinggal di rumah beratap gribig (anyaman daun nyiur).

Menurut legenda, ketika Ki Ageng Gribig pulang menunaikan ibadah haji, dilihatnya penduduk Jatinom sedang kelaparan. Ia kemudian membagikan sepotong kue apem kepada ratusan orang yang kelaparan. Kepada semua orang yang menerima secuil kue itu disuruhnya makan sambil berzikir: Ya-Qowiyyu (Allah Maha Kuat). Anehnya, seketika semuanya merasa kenyang dan sehat. Sampai kini, masyarakat Jatinom masih menyelenggarakan upacara ”Ya-Qowiyyu” setiap bulan Syafar.

Upacara itu dimulai masyarakat dengan membuat kue apem lalu disetorkan ke masjid. Apem yang terkumpul hingga 40 ton itu berjumlah sekitar ratusan ribu potong. Puncak upacara berlangsung usai shalat Jumat. Dari menara masjid, kue apem disebarkan oleh para santri sambil berzikir; "Ya Qowiyyu..." Ribuan orang yang menghadiri upacara itu kemudian memperebutkan apem ”gotong royong” yang disebut apem ”Jokowiyu”.
Dikisahkan setelah 40 tahun kemudian, yang bertahta di kerajaan Mataram adalah Kangjeng Sinuwun Anyokrowati (1612-1621). Istri prameswarinya adalah Kanjeng Ratu Mas Hadi, putri dari Pangeran Adipati Benowo di Pajang. Pangeran Adipati Benowo ini adalah putra dari Joko Tingkir (Kangjeng Sinuwun Hadiwijoyo).

Kangjeng Sinuwun Anyokrowati mempunyai kakak laki-laki bernama Pangeran Wiromenggolo yang berambisi menjadi raja. Karena obsesi itu ia bertapa siang dan malam dan berguru pada Sunan Geseng di Tegal Bekung untuk mencapai kesempurnaan hidup. Karena bertapa melebihi batas kemampuan, Pangeran Wiromenggolo menemui ajalnya. Dikisahkan sukmanya merasuk ke dalam ikan tombro bersisik kencana (ikan mas).

Pada saat bersamaan, sang prameswari Kangjeng Ratu Mas Hadi sedang mengandung dan ngidam ikan tombro bersisik emas. Keinginannya itu disampaikan berkali-kali kepada suaminya Kangjeng Sinuwun.

Dalam pada itu Kangjeng Sinuwun mendengar kabar bahwa Sunan Geseng memiliki sebuah jala sutra dengan biji pemberat dari emas, yang khusus hanya untuk menjala ikan tombro. Oleh karenanya, sang Prabu mengirim utusan untuk minta bantuan Sunan Geseng menangkap ikan tombro bersisik kencana seperti yang diinginkan sang Ratu.
Akhirnya keinginan sang Ratu Ratu terpenuhi dan lahirlah bayi laki-laki yang diberi nama Raden Mas Jatmiko (atau Raden Mas Rangsang). Setelah Sinuwun Anyokrowati wafat, kedudukannya diganti oleh putranya Raden Mas Jatmiko, dengan gelar Kangjeng Sinuwun Sultan Agung Anyokrokusumo (1621-1636).

Sang Prabu juga berguru ilmu kesempurnaan pada Sunan Geseng, sampai pada tingkat penguasaan yang tinggi (Jawa: widagdo waskitho ing samudayanipun). Atas jasanya, Sunan Geseng dianugerahi sebidang tanah jabatan (siti lenggah) dengan nama Kiai Ageng Jolosutro.

Kini makam Sunan Geseng di Kabupaten Bantul, Yogyakarta dikenal Makam Jolosutro dan dikeramatkan orang untuk diziarahi terutama pada Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon.

Perkawinan Sunan Geseng melahirkan anak perempuan bernama Nyai Tumenggung Kertisara yang pada saat dewasa bersuamikan Bupati Jenar. Bupati Kertisara memiliki anak bernama Wiratantana yang memiliki anak perempuan bernama Raden Rara Sragu. Dari hasil perkawinannya, Raden Rara Sragu memiliki dua orang putera, yakni Kertamanggolo (kemudian bergelar Adipati Nilasrobo I atau Cokrojoyo II) dan Raden Bumi.

Dikisahkan Kertamanggolo memiliki perawakan yang agak aneh sehingga sering disebut Joko Bedug. Karena itu ayahnya memerintahkan untuk tapa brata secara ”gentur”, mengurangi tidur serta makan, dengan tekad agar segera diampuni oleh Yang Maha Kuasa. Setelah beberapa waktu, dikisahkan ia mendapat ampun dari Tuhan YME dan kembalilah wujudnya seperti sediakala, yaitu sebagai manusia.

Konon ”genturnya” Joko Bedug didengar Sang Raja Mataram. Karena itu ia diangkat menjadi Bupati di Bedug dengan nama, Raden Adipati Nilosrobo I. Setelah wafat ia dimakamkan dekat dengan Petilasan Nyai Ageng Bagelen.

Raden Adipati Nilosrobo I mempunyai putra, Raden Cokrojoyo III (Tumenggung Rogowongso atau Raden Adipati Danurejo). Setelah ditinggal wafat ayahnya, Raden Cokrojoyo III diperkenan oleh Sinuwun di Mataram untuk menggantikan kedudukan ayahanda sebagai Bupati di Bedug.
Semasa hidupnya, Raden Cokrojoyo III mengalami berbagai peristiwa huru-hara. Tidak jelas berapa lama perang itu berlangsung, tetapi yang jelas ketika Sinuwun Pakubuwono I mangkat dan kemudian digantikan oleh putranya (bergelar Sinuwun Mangkurat Jawa/Agung), Kia Patih Cokrojoyo III masih di Surabaya.

Pengabdian Kiai Patih Cokrojoyo III di segala bidang sangat luar biasa. Akibatnya Sinuwun Mangkurat Jawa/Agung menganugerahkan pangkat Adipati. Dengan gelar Adipati Danurejo, beliau meneruskan pengabdiannya sebagai Patih Kerajaan. Pengabdian itu berlangsung setelah Sinuwun Mangkurat Jawa/Agung mangkat dan digantikan oleh putranya yang bergelar Sinuwun Paku Buwono II.

Saat pergantian tampuk pimpinan kepada Raja yang masih muda itu, Kyai Patih diberhentikan dari jabatannya, dan bahkan dikisahkan dibuang ke Jakarta. Sesungguhnya Kyai Patih sudah mengabdi pada tiga Raja, yaitu Sinuwun Paku Buwono I, Sinuwun Mangkurat Jawa/Agung dan Paku Buwono II. Kalau dihitung, jumlah pengabdiannya semasa jaman Pangeran Puger sudah berlangsung selama 45 tahun.
Cerita kembalinya Adipati Danurejo ke Bagelen memang masih misteri. Namun setelah ia dan istrinya wafat, jasadnya dimakamkan di pegunungan Gemulung di desa Bagelen, tidak jauh dari petilasan Nyai Ageng Bagelen.

Saat ini, makam Kiai Cokrojoyo III atau Tumenggung Rogowongso atau Raden Adipati Danurejo sudah dicungkup dengan dinding tembok. Makam itu dikenal nama Makam Rogowangsan, terletak di desa Bagelen Kabupaten Purworejo Jawa Tengah.

Kembali pada kisah Raden Adipati Danurejo, ia beristrikan adik dari Sinuwun Paku Buwono II yang merupakan keturunan dari Sinuwun Mangkurat Jawa/Agung. Istrinya bernama Bandoro Raden Ayu Tungle yang sehari-harinya disebut (Jawa: apeparab) Kleting Dadu.
Sebelum menikahi Raden Adipati Danurejo, BRA. Tungle sudah kawin dengan Raden Nosuto yang disebut juga Wirosuto. Raden Nosuto masih bersaudara sepupu dari Raden Adipati Danurejo, yaitu putra dari Joko Bumi, kakak laki-laki (Jawa:roko) dari Joko Bedug alias Raden Nilosrobo I.

Perkawinan BRA. Tungle dengan Raden Nosuto menurunkan tiga orang anak laki-laki, yakni:

1. Raden Tumenggung Cokrojoyo I yang dikenal dengan nama Cokrojoyo Mbalik. Selama perang Giyanti ia menjadi pendamping Tumenggung Arung Binang;
2. Raden Kertoyudo;
3. Raden Hudosoro atau Yudosoro;

Perkawinan dengan Raden Adipati Danurejo, BRA. Tungle mempunyai 6 orang anak;

1. Raden Ayu Lebe (kemudian menikah dengan Syeh Baulowi);
2. Raden Ayu Notoyudo III (yakni istri Raden Tumenggung Notoyudo III, Bupati Kedu);
3. Raden Nilosrobo (tidak memiliki keturunan);
4. Raden Tumenggung Kartomenggolo (dimakamkan di Bedug);
5. Raden Rogoyudo (dimakamkan di Bagelen);
6. Raden Ayu Nosingo (menjadi istri Kiai Nosingo di Bragolan);

Perkawinan Raden Ayu Nosingo (Wonosingo) dengan Kiai Nosingo (Wonosingo) melahirkan keturunan dua anak laki-laki, yakni:

1. Raden Mas Singowijoyo;
2. Raden Mas Singogati

Setelah menikah, Raden Mas Singowijoyo (Raden Bei Singawijaya) memiliki tiga orang putera yang salah satunya kemudian menjadi Bupati pertama Purworejo):

1. Raden Rekso Diwiryo (RAA Cokronagoro I, Bupati Purworejo);
2. Raden Nganten Citrowikromo;
3. Raden Prawironagoro (Raden Tumenggung Prawironagoro, Wedana Bragolan);

Dari Raden Adipati Aryo Cokronagoro I lahir bupati-bupati Purworejo penerusnya sampai Raden Mas Tumenggung Cokronagoro IV. Adik bungsu RAA Cokronagoro I, yakni Raden Tumenggung Prawironagoro mempunyai anak bernama Raden Ayu Cokroatmojo yang menjadi istri Raden Adipati Cokroatmojo, Bupati Temanggung. Raden Adipati Cokroatmojo sendiri adalah putra Raden Gagak Handoko dari Loano.

Sementara Raden Mas Singogati di Jenar mempunyai putra Raden Singodrio dari Bakungan, cucu dari Raden Singowijoyo di Bragolan atau cicit Raden Singodiwongso (Kiai Singodiwongso) dan terus mengalir sampai kini. 


Sabtu, 31 Agustus 2013

Seorang Guru Spiritual

Mungkin kita pernah melihat atau mendengar KENAPA GURU SPIRITUAL MENYURUH MURID JADI GELANDANGAN?

Salah satu yang dianjurkan dalam meniti jalan spiritual adalah menghilangkan keakuan/ego/diri. Proses ini harus dilalui agar diri yang masih diliputi hasrat kebendaan sedikit demi sedikit terangkat menemukan DIRI SEJATI-NYA.

Dalam tradisi tasawuf atau mistik Islam, kita mengenali tahap ini sebagai tahap pembersihan diri dari berbagai hawa nafsu yang masih melekat kuat pada diri seseorang. Tanpa dilakukan pembersihan, diri kita tidak akan mampu membuka mata terhadap petunjuk/rambu-rambu hidup yang diberikan-Nya. Bila kita sudah mampu membaca rambu-rambu/petunjuk-Nya, otomatis kita pun mampu terus berjalan di jalan yang telah digelar untuk kita.

Cara kaum sufi –sebutan bagi mereka yang menempuh jalan tasawuf sebagai pilihan hidup untuk pendakian spiritual— untuk proses penghilangan diri ini bermacam-macam. Semua sufi besar sepanjang masa, melakoni tidak dengan cara yang sama. Masing-masing disesuaikan dengan kadar ego/keakuan yang dimiliki masing-masing individu. Siapa yang mampu melihat berat ringan melekat dan tidak melekatnya diri pada dunia benda, hasrat egoistik, dan keinginan hawa nafsu?

Disinilah orang terkadang mengharuskan para penempuh jalan suluk untuk berguru kepada seorang guru yang diyakini ilmunya lebih tinggi. Hubungan guru dan murid, adalah hubungan antar teman konsultasi berbagi pencapaian tahap spiritual termasuk keluhan-keluhan apa yang dihadapi selama menjalani olah batin. Murid akan diarahkan untuk tetap tegar dan tenang sekaligus akan disembuhkan secara batiniah oleh sang guru bila terjadi kegagalan fokus dan gangguan-gangguan oleh pihak luar apakah itu manusia, jin maupun hal lain.

Guru lebih mengerti daripada murid karena mereka sudah terlebih dulu memiliki pengalaman menempuh jalan spiritual tertentu. Ibarat sang guru akan memberikan pengertian bagaimana cara naik sepeda karena dia pernah dan sering naik sepeda. Dalam konteks perjalanan spiritual mistik, guru tidak hanya memberi pengertian teoritis saja sebagaimana guru sekolah-sekolah formal, melainkan ikut menceburkan diri dalam laku sang murid.

Guru atau pembimbing spiritual kemudian menyarankan agar sang murid menjalani proses penghilangan diri ini. Ini adalah proses kedua setelah seorang murid benar-benar berniat untuk tobat kembali ke jalan Tuhan. Atau sang murid sudah benar-benar mau dan bertekad sangat kuat untuk menjalani proses laku yang panjang. Tobat oleh sebab itu merupakan tahap awal.

Nah asal muasal seseorang itu tobat dan benar-benar sadar semuanya hak istimewa Tuhan. Tidab bisa diganggu gugat dan tidak bisa direspon oleh siapapun untuk bertobat. Maka, bila kita sudah ada kesadaran untuk bertobat maka harusnya disyukuri dan lekas-lekas untuk berterima kasih pada-Nya. Jangan sampai hidayah pemberian tobat ini ditarik lagi gara-gara kita tidak bersyukur.

Wujud syukur adalah menerima dengan ikhlas dan kemudian melaksanakan perubahan diri itu. Apabila Tuhan menghendaki, maka Dia kan memberi guru spiritual yang sesuai. Guru tiba-tiba akan datang membimbing kita dan hendaknya kita menyambut dengan kuat untuk menjalani pengajaran-pengajaran Tuhan Yang Maha Memberi Petunjuk tersebut.

Masih ingat bagaimana proses yang dijalani oleh Sunan Kalijaga sewaktu belum menjadi wali? Sang guru spiritual Sunan Bonang atas “dawuh” atau petunjuk-Nya menyuruh agar Sunan Kalijaga meditasi/tapa duduk bersila di pinggir sungai untuk sekian waktu dengan fokus pikiran pada sebuah tongkat yang ditancapkan Sunan Bonang. Apabila nanti Sunan Bonang sudah mencabut tongkat tersebut, maka itu tanda bahwa Sunan Kalijaga sudah selesai menjalani laku penghilangan diri ini.

Ada pengalaman beberapa sufi yang diperintahkan seorang gurunya untuk hidup menjadi pengemis dan menggelandang bertahun-tahun. Mereka harus hidup dalam kesengsaraan dan kemiskinan, dengan pakaian seadanya, tidak boleh melanggar wewarah misalnya dilarang meminta makanan. Boleh makan asalkan diberi oleh siapapun juga.

Sang pelaku atau murid ini diminta untuk tidak mengaku nama, alamat, asal usul-nya bila ditanya oleh orang lain. Tidak melanggar semua aturan yang telah disampaikan guru. Semua ini pada hakikatnya agar sang diri murid yang penuh kekotoran dan kemunafikan dihilangkan, dan diganti dengan diri yang sama sekali baru. Diri yang sepenuhnya mendapatkan tuntunan Tuhan.

Sesungguhnya, perintah puasa Ramadhan dan melaksanakan semua tata cara beribadah dalam agama Islam selama sebulan penuh itu pada hakikatnya sama dengan laku penghilangan diri. Pelaku puasa ditatar, didril, dibersihkan dari kekotoran dan kerak yang menyebabkan batin menjadi buram. Sang aku dan diri dihilangkan kemudian diganti dengan Diri yang sama sekali dipenuhi oleh sinar pencerahan. Namun sayangnya, puasa yang kebanyakan dilaksanakan oleh kaum muslimin masih belum sepenuhnya dihayati secara mendalam dan dilaksanakan sepenuh jiwa.


Ada juga dari beberapa orang yang diharuskan oleh guru spiritualnya untuk menjalani laku jadab seperti ini. Berjalan keliling Jawa, Sumatra, Kalimantan tanpa bekal apapun kecuali PASRAH KEPADA TUHAN. Setelah mereka pulang dari pengembaraan, mereka pasti akan berubah total. Diri mereka tersucikan, mulut, tubuh dan perilaku mereka tidak seperti sebelumnya yang sak karepe dhewe. Melainkan sebaliknya, tertuntun oleh sebuah kekuatan ghaib dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Bisa disimpulkan penghilangan diri adalah sebuah proses kepasrahan yang kaya dengan pengalaman mistik. Sebab setelah diri/keakuan hilang maka Tuhan Gusti Allah akan mengisi keakuan kita yang sudah hilang tersebut dengan DIRI SEJATI-NYA. Ini adalah pengalaman kebersatuan dan kemanunggalan dengan iradat Gusti Allah. Oleh sebab itu pengalaman yang demikian ini pasti akan kaya dengan certia yang bagi kalangan awam dianggap tidak masuk akal dan sangat supranatural. Siapa yang berniat menetapkan tujuan hidup untuk berjumpa dengan Tuhan, pasti akan melalui proses yang berat ini.



Kamis, 29 Agustus 2013

Kayu Towo

Kayunya putih menyerupai kayu kebak dan boga namun agak keras.
Pohon Towo banyak dijumpai dilereng Merapi dan Lawu, diyakini dapat menawarkan bisa hewan berbisa. Pada luka bekas gigitan tempelkan potongan kayu towo untuk beberapa lama sampai semua bisa tersedot. Air seduhan kayu towo sering digunakan untuk mengobati orang yang keracunan.



Rabu, 28 Agustus 2013

Angku Saliah, Salah seorang Ulama keramat Minangkabau

Sejarah perjalanan sarak di minangkabau, semuanya berawal dari ranah piaman, yang dibawa oleh Syekh Burhanuddin dari Tanah Ulakan, Pesisir pantai, terus menyebar sampai kepedalaman daerah minangkabau dan kenegara tetanggak. Disamping Syekh Burhanuddin, dalam catatan sejarah rang piaman banyak ulama-lama besar berpengaruh yang lahir dan merasul (berdakwah) di piaman, seperti Tuangku Nan Basaruang di Ulakan, Syekh M. Hatta di Nagari Kapalo Koto, Syekh Mato Aie di Nagari Pakandangan, Syekh Tuangku Tampe Talang di Kuranji Hilir, Tuangku Badinah di Nagari Sungai Garinggiang, Tuangku Johor di Limu Purut, Tuangku Lubuak Ipuah di Nan Sabaris, Syekh Harun Bin Abdulla Gani di Toboh Pariaman, dan Syekh Tuangku Saliah Kiramat dan banyak lagi ulama besar piaman lainnya yang tidak bisa digambarkan dalam tulisan ini.

Setiap ulama yang ada di piaman memiliki kisah-kisah yang menarik untuk diceritakan, semua ulama besar tersebut telah memberikan kontribusi dan mendudukan pondasi kuat tegagnya ajaran sarak (agama islam) di ranah piaman dan minangkabau, salah satunya contoh adalah Syekh Mato Aie di Pakandangan, semasa hidup Syekh Mato aie memiliki murit dan pengikut dimana-mana, ini dapat kita lihat dari ramainya orang berziyarah pada saat bulan ramadhan mau masuk, dilihat makam Syekh Mato Aie yang berda dipakandangan sangat ramai di kunjungi oleh para peziyarah tersebut, baik yang berasal dari Piaman sendri, mapun dari luar piaman sperti dari Aceh, Damasraya dan Batusangkar.

Disamping Syekh Mato Aie yang memiliki pengaruh yang besar, ada juga ulama piaman yang sangat karismatik dan memiliki kiramat (kemuliyaan) yaitu Syekh Tuangku Saliah Kiramat atau orang Sungai Sariak mengatakan “Ungku Saliah”, Tuangku Saliah yang nama sebenarnya “dawaik”, beliau dilahirkan di PS. Panjang tahun 1890, dan meninggal pada tahun 1974, adalah ulama piaman yang memiliki banyak murit dan pengikut, semasa hidupnya Ungku Saliah memiliki Surau di Ujung Gunung Sungai Sariak dan beliau dimakamkan sekarang di Korong Lareh Nan Panjang, Nagari Sungai Sariak, kita bisa lihat goboanya disana.

Perjalan dakwah Ungku Saliah atau yang disebut oleh orang tua-tua kampuang juga merassul beliau dilakukan di beberapa tempat di daerah piaman dan minangkabau ini, Ungku Saliah menurut cerita urang tuo-tuo dulu mengatakan bahwa Ungku Saliah merupakan seorang umat manusia mengajarkan Islam kepada semua masyarakat piaman, yang memiliki kelebihaan, sehingga dengan kelebihaan itu dijelaskan Ungku Saliah memiliki kiramat dan keistimewaan sebagai ulama, seperti Pertama, Do,a Ungku Saliah yang banyak dikabulkan oleh Allah. SWT. Sehingga pada waktu beliau masih hidup banyak masyarakat atau muritnya yang minta didoakan oleh Tuangku Saliah untuk mendapatkan pertolongan dari Allah. SWT, Kedua Ungku Saliah memiliki indera yang lebih dari kabanyakan orang, sehingga Ungku Saliah pernah meramalkan dan mempredisi kejadian-kejadian yang akan terjadi dalam waktu dekat dan kejadian-kejadian yang akan terjadi kedepan,

Ketiga Ungku Saliah mampu memberikan obat dan penawar kepada orang sakit, sehingga dalam ceritanya orang sakit tersebut bisa sembuh dan sehat kembali, Keempat beliau juga termasuk yang menentang dan melawan penjajagan Belanda, dalam riwayatnya Ungku Saliah pernah dipenjaraa dengan muritnya oleh Belanda. Kelima disaat beliau mengisi ceramah atau mengisi pengajian, Ungku Salih bisa hadir diwaktu bersamaan dibeberapa surau, dan banyak lagi kiramat yang dimiliki oleh Tuangku Saliah tersebut.

Kehidupan Tuangku Saliah dalam cerita orang-orang tua dulu memiliki keistimewaan yang sangat menonjol, dalam sejarahnya tidak banyak penulis atau sasrawan yang mengkaji dan menuliskan kisah-kisah beliau, dari gambaran penulis banyak cerita-cerita yang dipercayai pernah terjadi pada masa hidup beliau yang tidak ditulisakan, hanya cerita-cerita yang banya berkembang ditengah masyarakat Piaman seperti Tuangku Saliah semasa hidup beliau sering ke Koto Mambang, setiap jumaatnya, setiap kedatangan beliau disambut oleh masyarakat dengan penuh penghargaan, semua orang dengan ikhlas memberikan apa saja yang diminta dan diinginkan oleh Tuangku Saliah, banyak orang bersedekah dan Ungku Saliah pun banyak memberikan kepada masyarakat, cerita M. Yadi khibo, (prantau piaman) mengatakan bahwa diwaktu kecil yadi, Ungku Saliah pernah memberikan 3 (tiga) benda, berupa ganto padati, tangkelek, dan sagenggam bareh (beras), semua benda itu disimpan oleh orang tuan yadi untuk dijadikan obat dan penawar sakit.

Disamping itu ada juga kisah, pada masa itu, ada salah seorang pengikutnya bernama sabar, yang ditegur oleh Ungku saliah yang belum membayar nazar, dan biasanya Tuangku Saliah selalu mengingatnya karna dia tahu selalu, kalau muritnya sabar itu kilaf belum membayarnya. Ada juga kisah yang digambarkan pada saat Belanda menyerang Lubuk Alung dengan membom bardir Pasar Lubuk Alung, sebelum terjadi penyerangan Belanda, Tuangku Saliah sudah memperingatkan warga Pasar Lubuak Aluang agar berhati. dengan mengataka bahwa sebetar lagi akan ada hujan lebat, maka padi yang terjemur agar segera di bangkit atau diteduhkan, sedangkan pada waktu itu hari sangat panas terik, alhasil ternya yang dimaksut dari Ungku Saliah itu adalah akan ada serangan bom dan mortir dari penjajah Belanda.

Syekh Tuangku Saliah Kiramat memiliki pengikut yang banyak, malah sampai sekarang masyarakat Piaman masih memiliki kerpercayaan yang diujutkan dengan dipajangnya foto Ungku Saliah di beberapa tempat, malah dikeramaian. Seandainya kita melakukan perjalanan kesetiap daerah dan kota di Indonesia, lalu singgah di warung nasi Padang, maka banyak kita temukan adanya foto-foto Ungku Saliah yang dipajang didinding rumah makan padang tersbut, bisa kita lihat dipajang didekat kasir, dipintu keluar dan lainya. Maka bisa dipastikan bahwa orang yang memasang foto Ungku Saliah tersbut merupakan pengikut.

Dalam sejarah Ungku Saliah, hanya dilukiskan oleh orang piaman dalam bentuk cerita dari mulut-kemulut, sampai hari ini belum ada penelitian yang ilmiah yang menggali dan melakukan penelitian akademis dari sosok sebenarnya Tuangku Saliah tersbut, dalam kesimpulan tulisan ini, begitu heroiknya kisah beliau maka patutlah kiranya masyarakat Piaman dan masyarakat minangkabau melakukan pengkajian dan meneliti jejak dan sejara Syekh Tuangku Saliah Kiramat untuk dibukukan dan dimunculkan dalam cacatan sejarah seorang ulama yang berpengaruh diminagkabau.