Senin, 07 Januari 2013

Tuk Si Bedug

Berada di Margodadi Seyegan, Sleman, Yogyakarta, sumber mata air itu telah menjadi tempat yang sakral bagi masyarakat di sana. Ada beberapa bangunan mengitari sumber mata air ini. Di antaranya dua sendang untuk berendam, satu mushala, dan ada pula bangunan tempat menyimpan barang pusaka. Tempat yang disebut Tuk Si Bedug.

Sehari menjelang Ramadan, ribuan orang datang ke sini. Mereka tak sekedar jalan-jalan, tapi juga berniat bersuci diri lahir dan batin. Di sini mereka berdoa dan membersihkan diri dengan mandi di kolam mata air ini. Tradisi ini disebut padusan.

Padusan tak lain adalah simbol menyucikan diri dari kotoran dengan harapan bisa menjalankan puasa dengan diawali kesucian lahir dan batin. Biasanya, tradisi Padusan ini dilakukan di pemandian umum dan di sumber air alami.  Misalnya di Klaten, ada salah satu sumber mata air yang diberinama Cokro Tulung, di Boyolali ada Pengging yang tak lain adalah kolam yang tak jauh dari situs Kraton Surakarta.

Sedangkan di Sleman ada beberapa tempat yang telah disakralkan sebagai tempat pemandian suci. Selain Tuk Si Bedug ada dua tempat lainnya yang dikunjungi masyarakat sehari menjelang puasa, yaitu Umbul Pajangan di Wedomartani Ngemplak, dan Umbul Klangkapan di Margoluwih Seyegan.

Di antara tiga sumber mata air itu, memang yang paling istimewa adalah Tuk Si Bedug. Maklum di sini ada sebuah legenda yang mengaitkan Tuk Si Bedug dengan Sunan Kalijaga. Ini bukan sembarang tokoh, dia adalah salah seorang dari Wali Songo yang kisah hidupnya di kenang sepanjang masa oleh umat Islam di negeri ini.

Masyarakat Jawa percaya, Sunan Kalijaga pernah berada di Margodadi Seyegan. Saat itu, Sunan Kalijaga dalam perjalanan menyebarkan ajaran Islam. Melepas penat, Sunan beristirahat di bawah sebuah pohon yang besar. Kebetulan bertepatan dengan jadwal shalat Jumat, tepatnya Jumat Pahing.

Namun, Sunan tak menemukan sumber air untuk berwudhu di kawasan itu. Lalu, Sunan berdoa kepada Allah, dan menancapkan tongkatnya ke dalam tanah. Keajaiban terjadi, dari tancapan tongkatnya memancar air.

Dipercaya, air inilah yang tak pernah kering hingga saat ini. Kemudian di namakan Tuk Si Bedug, yang maknanya sumber air yang keluar dari tancapan tongkat Sunan yang terjadi pada waktu bedug dzuhur. Semula bentuknya hanya berupa kolam yang tiada henti keluar air. Awal 2001, didirikan sejumlah bangunan di sini.

Dari cerita ini pula lahir upacara adat Tuk Si Bedug yang dilaksanakan setiap tahun pada Jum’at Pahing di bulan Jumadil Akhir dalam kalender Jawa. Pelaksanaannya selama tiga hari berturut-turut. Ini sebagai wujud rasa syukur dan ungkapan terimakasih yang tulus dari masyarakat di sini.

Mereka percaya, Tuk Si Bedug inilah yang memberikan berkah bagi Sleman. Memang pula dari Tuk inilah mereka mengairi sawah dan ladang tempat mereka bercocok tanam. Dan, kolam ini tak pernah kering mesti Sleman sedang dilanda kemarau. Air nan jernih terus mengalir.

Jadi tak heran jika masyarakat pun percaya akan kesucian dirinya jika mandi di sini. Bahkan diyakini pula, bahwa dari Tuk Si Bedug mengalir air suci sehingga diharapkan padusan akan bertuah sesuai harapan mereka.

Itulah sebabnya, masyarakat yang berkunjung ke tempat ini tidak hanya dari Pulau Jawa semata, juga dari daerah-daerah lain di luar Pulau Jawa. Maka itu, jika menjelang puasa, untuk bisa mandi di sini haruslah mengantri.

Tak perlu berkerut dahi untuk memahami hal seperti ini, sebab ini soal keyakinan seseorang. Jadi bebas saja untuk menganalisis. Di dalam Al-Quran dan Hadits tentu tak akan ditemukan ajaran seperti ini untuk menyambut bulan puasa.

Kendati demikian, tak ada yang mempersoalkan dan mempertentangkannya. Ini adalah sebuah adat dan kebiasaan. Justru mereka akan merasa kurang afdol jika melaksanakan ibadah puasa tanpa menjalankan prosesi yang dianggap sakral itu.


Minggu, 06 Januari 2013

Kesakralan Tari Bedhaya Ketawang, Surakarta

Suasana sakral mengiringi upacara Tingalan Jumenengan Dalem (ulang tahun penobatan raja) PB XII. Kesakralan yang tercipta itu ditunjang oleh suguhan tari Bedaya Ketawang. Sebuah tari yang amat disakralkan dan hanya digelar setahun sekali. Konon di dalamnya sang Ratu Kidul ikut menari sebagai tanda penghormatan kepada raja-raja penerus Dinasti Mataram.

Perbendaharaan beksan (tarian) tradisi keraton Surakarta terdiri dari berbagai ragam. Dilihat dari fungsinya, tarian itu bisa dibagi dalam 3 macam. Yaitu tari yang punya sifat magis religius, tari yang menggambarkan peperangan, dan tari yang mengandung cerita (drama). Masing-masing tari tercipta karena ada sejarahnya yang dipengaruhi oleh suasana saat itu. Berbagai macam jenis tari yang diciptakan oleh pengramu keraton bukan asal bikin, melainkan dipadu dengan masukan dari kalangan lelembut yang punya hubungan baik dengan keluarga keraton. Sehingga ada muatan mitis dan gaib.

Tari yang punya sifat magis-religius ini, seperti Bedhaya biasanya diperagakan oleh kaum putri yang berjumlah 7 atau 9, sedang yang diperagakan oleh 4 putri biasa disebut Tari Srimpi. Di samping tari rancak yang lewes seperti menggambarkan peperangan atau latah disebut Wireng, biasanya diperagakan oleh kaum pria yang secara umum menggunakan senjata seperti tombak, pedang atau lawung. Ciri tarian ini adalah tidak ada cerita mengingat dalam tarian ini hanya bersifat perang-perangan. Adapun yang termasuk dalam tari ini di antaranya adalah Beksan Lawung, Bandabaya, atau Guntur Segara. Sedang tari yang mengandung cerita, antara lain Wayang yang mengambil sumber cerita dari Mahabarata dan Ramayana. Topeng mengambil cerita dari Panji dan biasanya diperagakan oleh kaum pria, dan Langendriyan mengambil cerita dari Babad dan biasanya disajikan oleh kaum wanita semua.

Tari Langendriyan sebenarnya mirip seperti opera di mana semua dialog dinyanyikan. Di keraton Surakarta didapati sebuah tari yang termasuk drama, namaun tanpa antawacana (dialog) dan tembang (nyanyian). Seperti tari Boyong Wukir karya Paku Buwana (PBI) IV. Tari ini digunakan sebagai pelengkap dari sesaji Boyong Wukir, yakni tata cara pindahnya keraton dari Kartasura ke Surakarta pada 17 Februari 1745. Dalam perkembangan berikutnya oleh PB V, tari ini digubah menjadi Wayang Gedog dengan cerita Raden Panji, Sekartaji, dan Prabu Klana (menggambarkan zaman Kediri).

Pada wal mulanya tari Bedhaya Ketawang di Keraton Surakarta Cuma diperagakan oleh tujuh wanita saja. Namun dalam perkembangan selanjutnya, karena tari ini dianggap sebuah tarian khusus dan dipercaya sebagai tari yang amat sakral kemudian diperagakan oleh sembilan orang penari.

Berbeda dengan tarian lainnya, Bedhaya Ketawang ini semula khusus diperagakan oleh abdi dalem Bedhaya Keraton Surakarta. Iramanya pun terdengar lebih luruh (halus) dibanding dengan tari lainnya semisal Srimpi, dan dalam penyajiannya tanpa disertai keplok-alok (tepuk tangan dan perkataan). Dikatakan tari Bedhaya karena tari ini menyesuaikan dengan gendingnya, seperti Bedhaya Gending Ketawang Ageng (Karya Penembahan Senapati) Bedhaya Gending Tejanata dan Sinom (karya PB IX) Bedhaya Pangkur (karya PB VIII), Miyanggong (karya PB IV), Duradasih (karya PB V), dan lainnya.

Tentang siapa pencipta tari Bedhaya Ketawang itu sendiri sampai sekarang memang masih rancu. Satu sumber menyebutkan bahwa tari ini diciptakan oleh Penembahan Sanapati-Raja Mataram pertama-sewaktu bersemadi di Pantai Selatan. Ceritanya, dalam semadinya Penembahan Senapati bertemu dengan Kanjeng Ratu Kencanasari (Ratu Kidul) yang sedang menari. Selanjutnya, penguasa laut Selatan ini mengajarkannya pada penguasa Mataram ini.

Sumber lainnya menyebutkan bahwa tari Bedhaya Ketawang ini diciptakan oleh Sultan Agung Anyakrakusuma (cucu Panembahan Senapati). Menurut Kitab Wedhapradangga yang dianggap pencipta tarian ini adalah Sultan Agung (1613-1645), raja terbesar dari kerajaan Mataram bersama Kanjeng Ratu Kencanasari, penguasa laut Selatan.

Ceritanya, ketika Sultan Agung sedang bersemadi, tiba-tiba mendengar alunan sebuah gending. Kemudian Sultan Agung berinisatif menciptakan gerakan-gerakan tari yang disesuaikan dengan alunan gending yang pernah didengar dalam alam semadinya itu. Akhirnya, gerakan-gerakan tari itu bisa dihasilkan dengan sempurna dan kemudian dinamakan tari Bedhaya Ketawang.


Ilmu Hitam Palasik Dari Minangkabau

Palasik menurut cerita, legenda atau kepercayaan orang Minangkabau adalah sejenis makhluk gaib. Menurut kepercayaan Minangkabau palasik bukanlah hantu tetapi manusia yang memiliki ilmu hitam tingkat tinggi. Palasik sangat ditakuti oleh ibu-ibu di di Minangkabau yang memiliki balita karena makanan palasik adalah anak bayi/balita, baik yang masih dalam kandungan ataupun yang sudah mati (dikubur), tergantung dari jenis palasik tersebut.

Ilmu palasik dipercayai sifatnya turun-temurun. Apabila orang tuanya adalah seorang palasik maka anaknya pun akan jadi palasik. Pada umumnya palasik bekerja dengan melepaskan kepalanya. Ada yang badan nya yang berjalan mencari makan dan ada pula yang kepala.

Jenis-jenis palasik

Jenis palasik ada bermacam-macam. Menurut jenis makanannya palasik dapat dibagi sebagai berikut:

  1. Yang memakan bayi dalam kandungan sehingga bayi tersebut lahir tanpa ubun-ubun / mati dalam kandungan
  2. Yang memakan bayi yang masih rapuh sehingga bayi tersebut sering sakit-sakitan / meninggal
  3. Yang memakan mayat bayi yang sudah dikubur
Palasik yang lepas kepalanya disebut Palasik Kuduang. Kuduang artinya terpotong atau buntung. Buntung dalam bahas Minang adalah “kuduang”.

Ini ada sepenggal cerita tentang Palasik.
Andi begitu bahagia ketika tangis bayi melengking dari balik bilik di sebuah klinik. Yah istrinya yang baru saja berjuang hidup mati, telah melahirkan anak pertamanya. Tapi, kebahagiaan itu seketika sirna, setelah setahun kemudian anaknya mengalami sakit, sesaat setelah seorang wanita tua menyapa.

Kalau seorang bayi sakit merupakan hal yang wajar. Daya tahan tubuh yang belum stabil menjadi salau satu pemicunya. Tapi itu tak berlangsung lama, setelah dibawa ke dokter, tak sampai 1 minggu bayi akan sembuh. Tapi yang dialami anak Andi tak begitu. Sakit yang diderita anaknya tak kunjung sembuh setelah 1 bulan. Tak hanya dokter, orang pintar dan tabib pun dikunjunginya, namun penyakit yang diderita sang anak tak jua sembuh.

Suhu badan anaknya tinggi, badan menjadi kurus, kulit mengeriput dan terus mengeluarkan kotoran dari matanya. Cukup menyedihkan. Sementara dokter yang menanganinya sudah angkat tangan untuk mengobatinya. Akhirnya, dengan kondisi lemah, anaknya meninggal dunia. Menurut para tetangga dimana tempat Andi menetap, anaknya terkena palasik.

Palasik sangat tenar di masyarakat Minang Kabau, Sumatera Barat. Masyarakatnya meyakini, bayi yang terkena palasik sangat sulit diobati, namun bukan tak ada penangkalnya.

Palasik merupakan sebutan seorang kanibal, yang memiliki kegemaran memakan daging dan tulang orang mati. Wujudnya seperti manusia biasa, hanya saja memiliki perangai yang aneh.

Menurut kepercayaan masyarakat, jika seorang wanita yang sedang menggendong bayi bertemu dengan palasik, sebaiknya jangan dijauhi, malah sebaliknya, ambil tangan palasik dan katakan "Ini cucumu atau Ini anakmu". Dan ciri umum palasik, tak memiliki parit di atas bibirnya.

Seorang bayi bisa jatuh sakit, hanya dengan tatapan palasik saja. Dan kalau tidak segera diobati orang pintar, tak tertutup kemungkinan anak tersebut meninggal dunia. Diyakini juga, ketika anak tersebut meninggal dunia, dan kemudian dikubur, palasik akan mencuri anak tersebut untuk disantap.

Dizaman modern seperti sekarang ini ,masih patutkah ilmu palasik dipercayai keberadaannya ? Wallahualam.


Sabtu, 05 Januari 2013

Kidung Rumeksa Ing Wengi Sunan Kalijogo

Kadilangu terletak tak jauh dari Demak di Jawa Tengah. Kalau Anda datang dari arah Semarang, sebelum sampai di Demak bisa mampir ke Kadilangu dahulu. Udara biasanya panas, tetapi orang-orang yang mengalir tanpa putus wajahnya begitu tulus – dan ketulusan itulah yang memberi perasaan damai. Memang, di sanalah terletak makam yang dalam tesis Sumanto Al Qurtuby, Arus Cina-Islam Jawa: Bongkar Sejarah atas Peranan Tionghoa dalam Penyebaran Agama Islam di Nusantara Abad XV & XVI (2003) disebutkan sebagai “paling dikeramatkan di Jawa Tengah”, yakni makam Sunan Kalijaga.

Nama ini terdengar begitu akrab, tetapi lebih akrab lagi adalah karya-karyanya sebagai pendakwah kreatif, yang sering dimanfaatkan tanpa disadari lagi sebagai gubahan Sunan Kalijaga. Seperti terjadi dengan kidung Rumeksa Ing Wengi, yang disamping berfungsi sebagai kidung tolak bala, jika dibawakan Nyi Bei Madusari juga terdengar indah sekali. Perhatikan :

Ana kidung rumeksa ing wengi
Teguh hayu luputa ing lara
Luputa bilahi kabeh
Jim setan datan purun
Paneluhan tan ana wani
Miwah panggawe ala
Gunaning wong luput
Geni atemahan tirta
Maling adoh tan ana ngarah ing mami
Guna duduk pan sirna.

Terjemahan :

Ada kidung melindungi di malam hari
Penyebab kuat terhindar dari segala kesakitan
Terhindar dari segala petaka
Jin dan setan pun tidak mau
Segala jenis sihir tidak berani
Apalagi perbuatan jahat
Guna-guna dari orang tersingkir
Api menjadi air
Pencuri pun menjauh dariku
Segala bahaya akan lenyap.


Kidung ini disusun dalam sastra macapat yang ditulis dalam metrum dhandhanggula. Sebuah ulasan dalam buku best seller yang ditulis seorang sarjana agronomi, Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga (2003) karya Achmad Chodjim, dengan memikat telah menghadirkan makna kidung yang juga bisa berarti sabda atau firman, sebagai teknik membangkitkan konsentrasi dan kekuatan pikiran. Menurut Chodjim, kata-kata yang tertata rapi di dalam sebuah doa, sebenarnya untuk menjadi titik perhatian dan tujuan dari pelafal doa. Titik perhatian inilah yang akan membangkitkan konsentrasi dan dengan itu menjelmakan kekuatan pikiran.

Mengacu kepada Michael Talbot dalam Mysticism and The New Physics: Beyond Space-Time, Beyond God, To The Ultimate Cosmic Consciousness (1981), Chodjim memaparkan bahwa kekuatan pikiran dapat menghasilkan sebuah medan biogravitasi (gravitasi makhluk hidup) yang dapat berinteraksi dengan dan mengubah medan gravitasi yang mengendalikan materi. Teori ini terbuktikan oleh populernya kidung gubahan Sunan Kalijaga sebagai penolak bala kejahatan yang dilakukan malam hari. Mulai dari kejahatan “masuk akal” seperti pencurian, sampai yang disebut gaib seperti sihir, teluh, santet, yang tentunya dipercaya keberadaannya pada masa kehidupan Sunan Kalijaga.

Chodjim menyampaikan kisah nyata, bahwa kidung ini masih berfungsi di desa pada masa kini demi kebutuhan praktis, misalnya mengusir hama tikus. Dikisahkan bahwa pelafal doa berpuasa 24 jam, makan sahur dan buka tengah malam, lalu kidung Rumeksa ing Wengi ini dibaca sambil mengelilingi pematang sawah atau ladang. Alhasil, tikus benar-benar tidak datang ke sawah tersebut. Perhatikan, bukan tikus mati di mana-mana, melainkan sekadar tidak datang. Menurut Chodjim, doa memang bukan untuk merusak, tetapi menjaga harmoni alam. Disebutkan dengan tegas sebagai doa, bukan sihir atau mantra negatif – dan yang disebut doa secara sungguh-sungguh memiliki kesakralan dan kesucian.

Adapun hubungan fakta atas kidung Rumeksa ing Wengi dan reputasi Sunan Kalijaga sebagai pendakwah, agama Islam diperkenalkan Sunan Kalijaga tidak sebagai formalitas yang kaku. Dalam perbincangan bait-bait selanjutnya dari kidung tersebut yang terlalu panjang dikutip di sini, Chodjim menekankan betapa Sunan Kalijaga mementingkan terbangunnya keyakinan dalam beragama daripada hafalan atas doa-doa itu sendiri, dan karena orang Jawa abad XV tidak mudah mengucapkan apalagi memahami bahasa Arab, dalam memperkenalkan orang Jawa terhadap keindahan dan kebesaran beragama, Sunan Kalijaga mengacu alam pikiran Jawa masa itu.

Dalam disertasi yang ditulis seorang pemuda 29 tahun pada 1935, Manunggaling Kawula Gusti: Pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa, disebutkan bahwa di antara para wali, ajaran Sunan Kalijaga adalah “yang paling orisinil.” Pemuda itu, P.J.Zoetmulder, yang kelak terkenal sebagai mahapakar Jawa Kuno, mengambil kesimpulannya antara lain setelah memeriksa Serat Wirid yang ditulis Ranggawarsita, yang berisi ajaran-ajaran para tokoh yang secara bersama disebut sebagai Walisanga, para pendakwah yang menyebarkan Islam di tanah Jawa pada abad XV.

Seperti apakah ujudnya orisinalitas itu, dan mengapa orisinalitas harus dianggap penting? Rupa-rupanya, dalam penyebaran agama Islam, kecenderungan Sunan Kalijaga untuk peduli kepada konteks lokal di tempat ia berdakwah sangat dimaknai sampai hari ini. Namun sebelum sampai ke sana, mungkin baik kita ikuti kembali “sastra lisan” tentang proses kewalian Sunan Kalijaga, yang jangan dicari kefaktaannya melainkan makna yang berada di balik kisah itu. Historiografi Jawa sulit dibaca seperti membaca buku sejarah modern -karena itu harus selalu diterima sebagai materi untuk ditafsirkan kembali.

Episode brandal

Ada sebuah episode dalam kehidupan Sunan Kalijaga, yang boleh kita sebut sebagai episode Brandal Lokajaya. Memang, sebelum mendapat pencerahan dan disebut Sunan Kalijaga, disebutkan bahwa ia bernama Raden Syahid, putra Adipati Tuban, yakni Tumenggung Wilatikta yang juga disebut Aria Teja IV, seorang keturunan Ranggalawe. Dipandang secara politis, penyebutan Ranggalawe ini bukanlah hubungan, melainkan “penghubungan” dengan Majapahit, demi legitimasi kekuasaan Mataram kelak -seolah-olah Sunan Kalijaga menjadi penghubung dan sekaligus pengukuh kesinambungan Majapahit-Demak-Mataram.

Sebagai Raden Syahid, disebutkan betapa pemuda ini sudah sangat kritis terhadap kemiskinan di sekitarnya dalam kekuasaan Majapahit, sehingga ia bertindak sebagai “maling budiman”, yakni merampok orang kaya yang korup, dengan cara mencegatnya di dalam hutan dan hasilnya dibagikan kepada orang-orang miskin. Mohon dicatat juga terdapatnya versi lain, seperti yang dikutip Nacy K. Florida dari Babad Jaka Tingkir untuk disertasinya Menyurat yang Silam, Menggurat yang Menjelang (1995), bahwa Raden Syahid merampok bukan karena ia seorang maling budiman, melainkan karena betul-betul bejat. Dalam kedua versi, Raden Syahid bertemu batunya ketika mencegat seorang tua yang tidak diketahuinya adalah Sunan Bonang, seorang wali kutub tingkat pertama.

Seperti biasa, ia bermaksud membegal Sunan Bonang, terutama tongkatnya yang dalam pandangannya berlapis emas -tetapi ketika berhasil merebutnya, ternyata hanya terbuat dari kuningan, maka lantas dikembalikan. Sunan Bonang berkata jangan menganggap remeh yang tampaknya sederhana, dan ia perlihatkan betapa tongkat itu mampu mengubah buah aren menjadi emas. Dengan bernafsu, Raden Syahid memanjat untuk mengambil buah-buah emas itu, yang ternyata berubah menjadi buah hijau kembali – saat itulah Raden Syahid menyadari kerendahan derajat hidupnya. Ia lantas menyatakan ingin berguru kepada Sunan Bonang, bukan untuk bisa mengubah buah menjadi emas, melainkan untuk belajar “ilmu-ilmu“.

Sunan Bonang lantas menancapkan tongkatnya di tanah, dan meminta Raden Syahid tafakur di sana sambil menjaga tongkatnya itu, sebelum akhirnya berlalu untuk membantu Raden Patah membangun kerajaan Demak. Peristiwa itu berlangsung di tepi sungai, dan dari ketafakurannya selama bertahun-tahun di sana Raden Syahid mendapat nama sebutannya, Sunan Kalijaga.

Alkisah selama tafakur Raden Syahid berhasil menghayati arti kehidupan, dan ketika Sunan Bonang kemudian menemuinya kembali (sangat terkenal ilustrasi tentang akar-akaran yang sudah meliputi seluruh tubuh Raden Syahid) segeralah ia diberi pelajaran, yang isinya bisa dirujuk dalam Suluk Linglung Sunan Kalijaga yang ditulis Iman Anom pada 1884, dan telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Balai Pustaka pada 1993. Dalam “suluk linglung” itu juga dikisahkan pertemuan Sunan Kalijaga dengan Nabi Khidir di tengah samudera ketika akan beribadah haji ke Mekah, yang sangat mirip dengan cerita wayang Dewaruci, bahwa untuk mendapatkan pencerahan seseorang cukup memasuki dirinya sendiri, yang dalam dirinya merupakan alam luas tak berbatas.

Kisah ini, dengan berbagai perbedaan versi yang tidak mengubah alur, sangat terkenal, dan merupakan “sejarah” paling pokok dari pembangunan karakter Sunan Kalijaga : yakni bahwa selalu ada segi-segi “kebadungan” dalam diri Sunan Kalijaga – justru sesuatu yang sangat penting dalam kelanjutan sejarah penyebaran Islam di Jawa, seperti terlihat dari perdebatannya dengan para wali lain untuk mempertahankan warisan tradisi Hindu-Buddha dalam kesenian sebagai sarana berdakwah, yang tentu tidak begitu saja bisa segera diterima oleh para sunan yang sangat teguh dalam syariat agama.

Dalam kompromi dengan para wali lain itulah, Sunan Kalijaga dengan kreatifnya mengubah boneka wayang kulit yang semula tiga dimensi menjadi pipih dua dimensi (supaya tidak seperti patung, yang di Saudi Arabia masa itu tentu identik dengan berhala), serta memanfaatkan segala sarana pertunjukannya seperti layar yang putih dan kosong, blencong, bayangbayang, posisi penonton di depan atau di belakang layar, dan wayang kulit itu sendiri untuk berfilsafat dan berdakwah, menyampaikan ajaran agama Islam dengan cara yang dipahami dan disukai oleh masyarakat Jawa. Bukankah pertanyaan sederhana seperti, “Kalau wayang digerakkan oleh dalang lantas siapa yang menggerakkan dalang?”, akan sangat mudah mengundang renungan atas kekuasaan Tuhan? Orisinalitas dalam pemikiran Sunan Kalijaga untuk mempertahankan lokalitas jelas merupakan kontribusi penting bagi kemandirian identitas budaya Islam di Jawa, dulu maupun sekarang.

Saka Tatal & Jung Cina

Peristiwa penting lain dalam riwayat Sunan Kalijaga terlihat dari kasus saka tatal yang terkenal. Diriwayatkan bahwa para wali bergotong royong membangun Mesjid Demak, dan Sunan Kalijaga mendapat bagian mendirikan salah satu dari empat tiang utama Mesjid. Entah kenapa, Sunan Kalijaga sudah sangat terlambat ketika memulai pekerjaannya, sehingga dengan “kesaktian”-nya ia terpaksa menggantikan balok kayu besar itu dengan potongan-potongan balok kecil, yang disebut tatal – dan ternyata tiang yang tampaknya darurat itu mampu menyangga atap mesjid, sama kuat dengan tiang-tiang utama lain, meski sekarang tentunya sudah direnovasi. Dalam tradisi lisan Jawa, saka tatal itu adalah bukti kedigdayaan Sunan Kalijaga, tetapi bagi penelitian ilmiah, soalnya ternyata menjadi lain.

Dalam buku Qurtuby yang sudah disebutkan, tesis yang meneliti peranan Tionghoa dalam penyebaran Islam di Indonesia, disebutkan bahwa teknik perakitan yang digunakan Sunan Kalijaga untuk menyangga atap mesjid dengan himpunan tatal itu sama dengan cara penyambungan potongan kayu untuk tiang kapal jung Cina. Sehubungan dengan tujuan penelitiannya, timbul pertanyaan-pertanyaan seperti berikut : Apakah Sunan Kalijaga memintabantuan tukang-tukang asal Tiongkok, yang tentunya terdapat dalam masyarakat Tionghoa yang telah bermukim sepanjang Pantai Utara di Jawa; apakah Sunan Kalijaga, sebagai wali yang kreatif dan menghayati hadits “tuntutlah ilmu sampai ke Negeri Cina”, telah mempelajari teknik itu dari orang-orang Tionghoa; dan yang paling rawan adalah, apakah Sunan Kalijaga sendiri adalah seorang keturunan Tionghoa?

Semua ini baru pertanyaan. Sejumlah buku sejarah yang kurang teliti, antara lain oleh seja-rawan kenamaan Slamet Muljana dalam Runtuhnya Kerajaan Hindu-Djawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara (1968), dengan yakin pernah menyebutkan nama lain Sunan Kalijaga sebagai Gan Si Cang. Sumber Muljana adalah buku M.O. Parlindungan berjudul Tuanku Rao (1964), dan sumber Parlindungan adalah Malay Annal (Catatan Tahunan Melayu) yang terdapat dalam penelitian pakar kenamaan Belanda, H.J. de Graaf dan Pigeaud, tetapi yang tidak satu sejarawan pun sebelumnya, dalam hal Sunan Kalijaga, berani memastikannya.

Kita tidak punya ruang untuk berkisah tentang Gan Si Cang yang “terhubungkan” dengan Sunan Kalijaga, sehingga menimbulkan kerancuan, tetapi bisa melihat apa pendapat Qurtuby sebagai peneliti mutakhir: “Mungkinkah cerita kesaktian Sunan Kalijaga di atas sebetulnya hanyalah narasi masyarakat tradisional atas keahlian teknologi perkapalan yang dimiliki sang sunan? Atau Gan Si Cang sebetulnya hanyalah “tokoh khayalan” yang sengaja diciptakan peng-gubah teks Malay Annals untuk menyamarkan figur Sunan Kalijaga?” Qurtuby berpendapat “agak susah” untuk mengidentifikasikan Gan Si Cang dengan Sunan Kalijaga, karena tradisi lokal tak secuilpun memunculkan kecinaan Sunan Kalijaga; namun kiranya pendapat Qurtuby berikut sangat menarik: “Kalaupun Gan Si Cang adalah ‘tokoh historis’, kemungkinan ia adalah nama lain bukan Sunan Kalijaga yang bisa saja pada waktu itu dimanfaatkan keahliannya oleh penguasa Demak untuk turut serta membangun mesjid.”

Sementara itu, dalam pemeriksaan Florida atas Babad Jaka Tingkir sebagai bagian disertasinya, kita akan menemukan ulasan menarik atas peranan tokoh Sunan Kalijaga, ketika pembangunan Mesjid Demak sampai kepada saat harus menentukan arah kiblat. Dalam babad ini terdapat adegan perdebatan para wali tentang arah kiblat. Nancy Florida, yang meneliti budaya Jawa selama 25 tahun sebelum sampai penulisan disertasi ini, menafsirkannya secara politis sebagai “penawaran“, bahkan kadang disebut juga “perlawanan” Muslim Jawa terhadap hegemoni “Islam pusat” di Mekah masalahnya, bukankah tidak mungkin menghadapkan arah kiblat tidak ke Ka’bah? Disebutkan, Sunan Kalijaga diberi tugas menangani masalah ini, agar kiblat tetap seperti seharusnya, tanpa memberi posisi Muslim Jawa “tunduk” kepada suatu kekuasaan duniawi di manapun, meski tetap tunduk menyerahkan diri kepada Tuhan, karena Islam memang berarti penyerahan diri.

Maka Sunan Kalijaga mengambil langkah berikut, seperti dibahasakan oleh Florida sendiri dalam menganalisis Babad Jaka Tingkir. “Sunan Kalijaga merampungkan proses lokalisasi ini. Berkat penanganan ajaibnya, sang Mesjid akhirnya menurut bersepakat dengan Ka’bah Mekah, dan pada saat yang sama Ka’bah pun menurut bersepakat dengan Mesjid Demak. Tindakan Kalijaga adalah suatu hal yang radikal:

Tangan kanan memegang Ka’bah Allah /Tangan kiri memegang /Balok puncak Mesjid itu /Ditariklah keduanya / Telah terulur diadu terantuk / Atap Ka’bah dan balok puncak Mesjid / Dinyatakan sewujud / Sempurna segaris tiada melenceng.

“Dengan tindakan berganda ini, keduanya dinyatakan dan dibuktikan sebagai keberadaan atau substansi yang satu. Kenyataan satu-yang-adalah-dua itu yang menyatakan pemapanan kiblat diwujudkan dengan kesegarisan dalam keterhubungan antara struktur Demak dan Mekah yang di dalamnya struktur Mekah (meskipun jelas lebih tua) tidaklah memiliki dominasi yang mutlak. Kesepakatan diraih berkat penanganan sang wali merdeka Kalijaga menghasilkan perwujudan Mesjid Demak sebagai pusat – salah satu pusat di dalam dunia Islam yang tidak mengakui kekuasaan duniawi mana pun sebagai mutlak. Tindakan berganda yang membuka peluang untuk penyebaran berbagai-bagai pusat ini justru berhasil, karena tindakan ini merupakan perlawanan terhadap “keterpinggiran” mereka yang memang ada di pinggir.”

Tentu saja kita tidak bisa mengandaikan bahwa Sunan Kalijaga dalam babad tersebut adalah Sunan Kalijaga historis, yang dari darah dan daging, tetapi bukankah justru tugas penelitian sejarah tidak sekadar memisahkan antara yang mitos dan fakta, melainkan juga menafsirkan mitos demi pemahaman sejarah secara menyeluruh? Setidaknya kita mendapatkan informasi dari babad tersebut, bagaimana masyarakat Jawa memandang Sunan Kalijaga : kreatif dan merdeka.

Lir-ilir, lir-ilir

Makam Sunan Kalijaga kini berada di dalam “rumah” kokoh dengan ukiran Jepara terbaik di pintu, jendela, maupun tiang-tiangnya. Bisa dibayangkan betapa masa lalu, ketika Sunan Kalijaga bermukim dan mengajar di sana, tempat itu tentu jauh lebih sunyi daripada sekarang. Tanpa listrik tentu, dan tanpa suara bising dari jalan raya antarkota. Namun meski dahulu kala Kadilangu adalah desa yang sunyi, bisa dibayangkan terdapatnya keceriaan yang melingkupinya, berkat wibawa dan kegairahan seorang wali pecinta kesenian, yang selalu siap dan terbuka terhadap perubahan. Sehingga, meski antara pemakaman yang wingit dan pasar cinderamata di luarnya tampak seolah-olah tidak cocok, jika masyarakat di sekitarnya tidak keberatan, maka Sunan Kalijaga pun kiranya bisa dibayangkan tidak akan terlalu keberatan.

Catatan ini ingin menekankan, bahwa “ziarah pustaka” bisa membuat pemikiran kita jadi produktif, sebagai alternatif “ziarah kuburan” yang sebenarnya, meski “penghayatan lingkungan” bukannya tidak penting – tanpa kita harus jadi sejarawan professional. Maka kita tutup ziarah ini dengan sebuah lagu dolanan gubahan Sunan Kalijaga, yang bukan hanya ceria tapi juga penuh makna, karena sebenarnya membawa sebuah pesan keagamaan yang serius :

Lir-ilir, lir-ilir, tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo, dak sengguh penganten anyar
Cah angon, cah angon, penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekna kanggo masuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro, kumitir bedhah ing pinggir
Domono jlumatono kanggo seba mengko sore
Mumpung jembar kalangane, mumpung padhang rembulane
Ya surak-a surak horeeee!


Komplek Makam Mbah Ratu Ibu

Mbah Ratu Ibu juga disebut Mbah Ratu Ayu memiliki nama asli Syarifah Khadijah putri dari Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), cerita dimakamkannya Mbah Ratu Ayu Ibu di Bangil ini bermula. Ketika suatu saat putri Sunan Gunung Jati ini, mendadak dirundung rasa kangen yang begitu dalam kepada kedua putranya yang tengah belajar agama di pondok pesantren milik Mbah Soleh Semendi di daerah Winongan, yang tak lain adalah masih familinya.

Akhirnya berangkatlah beliau mengunjungi kedua putranya, Sayid Arif Segoropuro dan Sayid Sulaiman Mojoagung yang belajar di pesantren di Winongan. Namun sepulang menjenguk kedua putranya tersebut, Mbah Ratu Ibu mendadak sakit saat di daerah Bangil dan akhirnya meninggal. Setelah meninggal Syarifah Khadijah dimakamkan di pemakaman di daerah yang sekarang disebut dengan Wetan Alun karena memang letaknya di Wetan (Bahasa Jawa yang artinya Timur) dari alun-alun Bangil.

Komplek ini terletak persis dibelakang rest area swadesi, diperikirakan berumur sudah ratusan tahun, sebelumnya komplek ini tak ada bedanya dengan komplek-komplek makam yang lain, hanya komplek makam biasa, suatu saat ada seorang kyai dari daerah Lawang Malang bernama Kyai Ba'bud mengunjungi komplek ini dan menemukan sebuah makam yaitu makam Syarifah Khadijah, Kyai Ba'bud mempercayai kalau makam ini bukan makam dari orang biasa atau lebih tepatnya seorang wali menurutnya, maka kemudian dibangun sebuah kijing (bangunan makam) dan dalam perkembangannya dibangunkan sebuah gedung untuk menandai komplek tersebut, dalam komplek ini terdapat beberapa makam diantaranya makam Syarifah Khadijah (Mbah Ratu Ayu/Ratu Ibu), Abdullah Bin Abdur Rahman, dan pembantunya, serta makam KH.Qosyim Muzammil, juga terdapat satu makam lagi yang terpisah dari bangunan ini, terletak di sebelah timurnya yaitu makam Habib Qosim Basyaiban.

Makam Habib Qosim Basyaiban ini terletak dalam gedung sendiri dengan gaya kuno, terlihat dari bangunan gedung dan kijing yang jelas sekali kalau makam ini sudah sangat tua, memang belum diketahui persis kapan bangunan ini dibangun, tapi menurut H.NUR salah satu warga yang memiliki stan yang menjual busana muslim dan souvenir khas bangil persis di depan makam Mbah Ratu Ibu, makam ini juga sudah berumur ratuan tahun.

Komplek ini banyak dikunjungi peziarah dari berbagai daerah dan berbagai kalangan, apalagi ketika digelar acara Haul peringatan wafatnya Mbah Ratu Ibu, ratusan peziarah dari seluruh pulau jawa dan dari berbagai daerah di seluruh nusantara berkumpul disini untuk memperingati Haulnya.



komplek pemakaman ini didukung dengan adaanya Masjid, Rest Area dengan rumah makan yang menyajikan makanan khas Bangil seperti gule sate serta lahan parkir yang cukup luas, di tambah lagi UKM-UKM khas seperti busana bordir, souvenir juga terdapat dalam satu komplek. Akses untuk menuju komplek ini juga sangat mudah karena terdapat Halte tempat transit travel, bus antar kota dan antar propinsi yang menuju Surabaya, Probolinggo, Banyuwangi, Bali dan Lombok, yang hampir semua berhenti di tempat ini yang dikenal dengan swadesi.


Keberadaan Mbah Ratu Ibu tersebut juga dikenal sebagai sosok waliyullah perempuan yang cukup terkenal dengan karomahnya. Dikisahkan dari warga sekitar areal makam, Syarifah khodijah ini, sejatinya adalah merupakan salah satu putri dari Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah. "Pernah ada anak usia 12 tahun yang sejak lahir tidak bisa bicara. Tapi tiba-tiba bisa bicara setelah menghadiri haul Mbah Ratu Ibu ini, dan ini adalah salah satu karomah wali perempuan disini mas. Karena wali perempuan jarang, makanya karomahnya begitu hebat," ujar salah satu warga di sekitar makam.


Jumat, 04 Januari 2013

Dhamar Colok Manusia Setengah Siluman

Heboh Hantu Cekik jelas bukan isyu isapan jempol. Ternyata, ada ilmu hitam yang memang bisa mengubah sosok manusia menjadi hantu jenis ini. Nama ilmu tersebut Dhamar Colok. Bagaimana hal ikhwalnya...?

Ini masih berhubungan dengan teror Hantu Cekik yang melanda beberapa daerah di Kabupaten Demak, atau yang kemudian juga menyebar ke sejumlah daerah lain di Jawa Tengah. Menurut dugaan, apa yang disebut Hantu Cekik itu sesungguhnya adalah manusia setengah siluman yang gemar memangsa korbannya dengan cara mencekik leher dan menghirup sukmanya. Para pelaku ritual sesat ini kemudian dikenal dengan sebutan Dhamar Colok.

Istilah Dhamar Colok ini memang sudah tak asing lagi di telinga orang Jawa, khusunya daerah Jawa Tengah bagian utara. Seperti diketahui, di Demak mata pencaharian penduduk di dapat dari bertani, sehingga rata-rata orang Demak, khususnya yang tinggal di pedesaan adalah keluarga yang kurang mampu. Di daerah ini kita akan sering mendengar kata pepatah seperti ini; "Yen rendeng ora biso dodok, yen tigo ora bisa cewok." Arti dari pepatah ini, ialah: "Jika musim hujan turun tidak dapat duduk, jika musim kemarau tidak dapat cebok."

Memang benar, di Demak jika musim hujan turun tiap tahunnya sudah dapat dipastikan banjir akan melanda di setiap daerah se-Kabupaten Demak. Begitu pula jika kemarau tiba, akan sangat sulit mencari air akibat banyak sungai kekeringan, bahkan tanah retak-retak.

Sejak penduduk mengikuti anjuran pemerintah untuk menghemat energi listrik dan BBM, beberapa desa di Demak mulai sekitar jam 20.00 WIB, keadaannya sudah nampak sangat sunyi, dan gelap gulita. Bahkan, jarang sekali penerangan listrik atau lampu minyak yang dihidupkan di setiap rumah maupun jalan-jalan.

Mungkin keadaan yang seperti ini merangsang hasrat penganut Dhamar Colok, alias manusia setengah siluman ini untuk melakukan aksinya. Menurut penulis pada umumnya, ciri-ciri manusia Dhamar Colok ialah seperti manusia biasa. Namun, ada hal-hal spesifik yang bisa kita perhatikan sebagai ciri dominan mereka.

Biasanya, manusia Dhamar Colok tingkah lakunya seperti orang bodoh, suka menyamar seperti orang gila, penampilannya kotor dan lusuh, serta wajahnya suram. Hal yang paling khusus, biasanya dia lebih suka memilih tidur di kuburan. Hanya saja ketika berubah menjadi siluman, ada banyak keanehan pada bentuk fisiknya. Di antaranya, raut mukanya bercahaya hijau, tubuhnya berubah kekar hitam legam, tubuhnya sulit ditangkap maupun diraba, tapi bisa dirasakan keberadaannya.

Makhluk Dhamar Colok ini bisa ditangkap. Ini sangat mungkin terjadi jika kebetulan saat naasnya tiba. Atau bisa juga karena dia melanggar pantangan, sehingga akan luntur daya kekuatan gaibnya. Kabarnya, kisah Dhamar Colok berasal dari tempat-tempat pesugihan. Ilmu hitam ini merupakan ilmu dari Bhuto Ijo. Bhuto Ijo tidak akan keberatan meladeni permintaan serta memberkan ilmu kepada manusia-manusia yang menghambakan diri kepadanya.

Kepada setiap pengikut-pengikutnya, Bhuto Ijo menjanjikan akan memberikan kesaktian ataupun kekayaan yang melimpah ruah. Asalkan si pengikut menyepakati sejumlah perjanjian khusus dan dapat memenuhi syarat-syarat yang menjadi ketetapannya.

Syarat dimaksud salah satunya biasanya berupa tumbal nyawa manusia, yang jumlahnya ditetapkan oleh si Bhuto Ijo sesuai dengan tingkat kesaktian, maupun kekayaan yang diminta. Konon, sukma manusia yang dijadikan tumbalnya itu akan diambil oleh makhluk tersebut untuk dijadikan budaknya di alam lelembut sampai dengan akhir zaman.

Karena erat hubungannya dengan makhluk siluman, kemunculan manusia Dhamar Colok biasanya malam hari. Di saat hari gelap barulah dia akan beraksi. Dengan kesaktiannya, maka serapat apapun jendela dan pintu dikunci, makhluk aneh ini dengan mudah bisa memasuki rumah calon korbannya.

Perihal manusia aneh ini bisa memasuki rumah, konon karena dia bisa merubah diri menjadi cahaya hijau, sehingga bisa melalui celah-celah sempit jendela atau pintu. Setelah leluasa memasuki rumah, lalu di saat korbannya tidak sadar, manusia Dhamar Colok akan langsung mencekik leher korbannya, dan menghirup sukma si korban.

Apabila ada orang yang dicekik oleh Dhamar Colok tapi dia selamat, misalkan saja karena tertolong atau ketahuan warga, biasanya akan ada bekas cekikan di leher korban. Tak hanya itu, badannya juga akan mengalami panas, dingin, mata dan pikirannya kosong, bahkan selalu trauma dan ketakutan. Jika tidak diobati, maka orang tersebut bisa meninggal dunia secara tragis dan mengenaskan. Sungguh suatu pemandangan yang menyayat hati.

Untuk mengusir pengaruh kekuatan hitam Dhamar Colok, korban dapat disembuhkan dengan dibikinkan ramuan untuk mengobati dan menetralisir energi negatif yang tersisa di tubuh si korban. Ramuan ini sudah dipercaya sejak zaman nenek moyang silam.

Ada pula ritual lain lagi yang dipercaya ampuh untuk menangkal keganasan Dhamar Colok. Ritual yang terbilang unik ini lebih mudah dijalankan, tapi juga menggelikan, karena orang yang menjalankan ritual harus telanjang bulat sambil membawa syarat. Di antara syarat tersebut adalah kacang hijau, merica, garam dan tanah. Kesemua syarat tersebut sebelumnya sudah digoreng tanpa minyak (disangrai), bisanya alat untuk menggoreng bahan-bahan ini adalah apa yang disebut sebagai ngaron, yakni alat semacam gerabah yang terbuat dari tanah liat.

Setelah semua syarat tersebut dipersiapkan, segeralah mengelilingi pekarangan rumah sambil telanjang bulat. Nah, dalam memutari pekarangan ini biasanya ditutup dengan bilangan ganjil. Dengan ritual telanjang bulat, dipercaya sejak zaman para leluhur dahulu, dapat membuat manusia Dhamar Colok akan mengalami naas. Mengapa?

Sebab, melihat orang telanjang bagi manusia Dhamar Colok adalah suatu larangan. Disamping itu, banyak juga orang tua yang menyarankan, bila ingin terhindar dari kejahatan pengaruh ilmu hitamnya, dianjurkan untuk membiasakan tidur di lantai. Konon, tanah mempunyai energi positif, karena itu makhluk jenis ini tidak berani memangsa korban yang sedang tidur di lantai, sebab terasa panas baginya.

Iblis Dhamar Colok sangat takut sekali dengan berbagai ritual dan azimat penangkal di atas. Setiap kali setan ini beraksi, dan dia melihat azimat penangkal, maka dia akan segera kabur meninggalkan tempat yang diincarnya. Jika dia sampai melewati benda tersebut, sudah dipastikan seluruh kekuatan energinya akan musnah, dan dia akan berteriak keras sekali karena badannya terasa sakit semua seperti terbakar api neraka.

Dhamar Colok memangsa korbannya biasanya ditandai dengan berkelebatnya cahaya berwarna hijau. Dan sang calon korban seringkali akan merasakan capai, pegal linu, nyeri, dan kantuk yang sangat dahsyat. Suhu badannya juga naik turun, keringatpun bercucuran.

Maka dari itu jika ada orang merasakan tanda-tanda seperti itu diharapkan agar segera mengumpul dengan warga lain dan membaca doa. Jika tidak mengumpul dengan warga lain, maka ditakutkan dia akan langsung meninggal dunia akibat pengaruh hirupan penarik sukma ilmu hitam Dhamar Colok.

Djoeminati, warga Kopen, Brambang, Demak, menduga Dhamar Colok sedang meneror desanya. Hampir setiap malam warga meronda. Jika melihat bayangan hitam atau cahaya hijau berkelebat, maka dengan spontanitas warga segera beramai-ramai menabuh kentongan, lesung dan mengumandangkan azan sekeras-kerasnya untuk membangunkan warga.

Karena sudah banyak sekali yang menjadi korban keganasan manusia siluman ini, bahkan hampir setiap hari orang mati akibat ulah Dhamar Colok, maka warga daerah Demak trauma melihat dan mendengar kematian warga. Tentu saja kejadian ini meresahkan masyarakat. Masyarakat akhirnya mengadakan musyawarah, para tokoh agama, tokoh adat, paranormal, dan warganya, sepakat menyelenggarakan upacara Ritual Wilujengan Tolak Balak pengusiran manusia Dhamar Colok.

Ritual yang diselenggarakan dilengkapi menyan, bunga, dan umbo rampe lainnya. Setelah upacara Wilujengan Tolak Bala, pengusiran itu dilaksanakan, dan terpasangnya setiap pintu rumah serta gapura-gapura jalan dengan azimat-azimat penangkal. Akhirnya, makhluk itu menghentikan terornya. Entah daerah mana lagi yang akan menjadi korban keganasan Dhamar Colok.

Memang, banyak orang yang tidak percaya akan keberadaan Hantu Cekik, bahkan menganggapnya sebagai isyu yang terlalu dibesar-besarkan. Namun, kenyataannya makhluk ini, setidaknya dalam kajian kaum Paranormal, memang sungguh-sungguh ada. Setidaknya, cerita hantu satu ini juga telah melegenda di lingkungan masyarakat kita.


Benda Bertuah

Benda bertuah adalah benda biasa atau benda antik yang memiliki energi gaib yang bisa digunakan keperluan apapun sesuai kehendak si pembuat, seperti kekebalan, pengasihan, kedudukan dan sebagainya. Benda bertuah ini memiliki tiga kategori yang pertama benda bertuah hasil pengisian atau sering disebut dengan benda afirmasi kedua benda bertuah asli hasil penarikan alam gaib dan yang terakhir adalah benda alam yang tercipta dengan sendirinya dan memiliki kekuatan murni dari alam.

Benda bertuah hasil pengisian adalah benda biasa apapun (bisa batu permata, ballpoin, gunting, sapu lidi dan sebagainya) yang diisi oleh orang yang berilmu (ghaib) tinggi, tingkat kadar kekuatan energinya-pun tergantung dengan si pembuat pusaka tadi.

Benda bertuah asli alam gaib merupakan benda pusaka yang diambil dari alam gaib. Pada dasarnya benda kategori ini juga merupakan hasil pengisian dari si pembuat pusaka namun bukan pengisian layaknya pusaka jaman sekarang, pengisian benda asli lebih dikategorikan pengisian dengan jalan pendekatan kepada Tuhan YME sehingga energi yang dihasilkan berupa energi berkah sehingga secara tidak langsung tapi pasti benda ini memiliki daya energi yang luar biasa, dikarenakan energinya dan tingkat spiritual si pembuat yang tinggi sehingga kekuatannya bisa dibilang pilih tanding, sampai-sampai benda ini muksa atau hilang dan masuk kealam gaib.

Benda Alami adalah benda alam yang tercipta sebagai bukti salah satu kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa, benda semacam ini bukanlah benda hasil dari pengisian seperti pada kategori kedua benda diatas, benda alami asli tercipta dengan sendirinya tanpa rekayasa dari manusia bentuknya-pun sama seperti benda lain yang ada di atas bumi seperti bambu petuk, kayu stigi, galih kelor, bambu patil lele, batu muda, kol buntet, galih asem dan sebagainya.

Banyak kalangan berpendapat bahwa memiliki, menyimpan dan merawat benda bertuah adalah syirik. Semua tergantung dari siapa yang menyikapinya sebab para nabi saja memiliki benda bertuah seperti nabi musa dengan tongkatnya, nabi sulaiman dengan cincinnya dan rosululloh pun menggunakan cincin (khatim).

Lantas bagaimana menyikapi benda bertuah tersebut agar tidak salah dan menjerumuskan kita sebagai pemilik benda tersebut?. Benda bertuah bukanlah benda sembarangan layaknya benda bisa, setiap benda bertuah memiliki khadam.

Layaknya manusia khadam juga menginginkan dirinya di hormati dan mulyakan, tetapi jangan sampai menghormati benda dan khadam tersebut membuat kita lupa bahwa benda tersebut adalah ciptaan Tuhan YME.

Sama seperti anda ketika ada presiden atau kyai di rumah anda, anda pasti akan memulyakannya dengan mencium tangannya, menyediakan tempat yang istimewah, makanan yang mewah dan lain sebagainya, apakah hal semacam ini dinamakan menyembah? tentu tidak.. memulyakan bukan berarti menyembah.

Sama seperti benda bertuah, di beri warangka yang bagus, di mandikan setiap bulan atau setiap tahunnya, di beri wewangian, di letakkan di tempat yang istimewa bukan berarti anda menyembah benda tersebut hanya sebatas memulyakan benda tersebut.

Jadi intinya jangan sampai keliru antara memulyakan benda bertuah dan menyembah benda bertuah, karena yang layak disembah hanyalah Tuhan YME yang telah menciptakan anda dan benda bertuah tersebut.