Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Juli 2013

Masjid Merah Panjunan

Di Cirebon selain terdapat Masjid Agung Sang Ciptarasa juga terdapat mesjid tua yang ukurannya lebih kecil, yaitu Mesjid Merah Panjunan. Masjid ini fungsinya hanya untuk tempat shalat sehari-hari, tidak dipakai untuk ibadah shalat Jumat. Mesjid yang berada di tengah pemukiman padat ini secara administratif berada di wilayah Kampung Panjunan, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemah Wungkuk. Masjid berada di sudut barat daya perempatan jalan. Sebelah utara merupakan Jl. Kolektoran, sebelah timur merupakan ruas Jl. Masjid Abang. Di sebelah selatan terdapat bangunan untuk Posyandu dan rumah penduduk serta sebelah barat merupakan pemukiman.

Bangunan masjid berdiri di atas lahan seluas 150 m2. Latar belakang sejarah mesjid yang berdiri di perkampungan Arab ini telah berumur sekitar 524 tahun. Pada tahun 1480 Pangeran Panjunan membangun surau, yang kemudian dikenal dengan nama Mesjid Merah Panjunan. Surau ini dibangun 18 tahun sebelum pembangunan Mesjid Agung Sang Cipta Rasa. Dengan demikian, surau ini merupakan tempat ibadat umat Islam kedua di Cirebon, setelah Tajug Pejlagrahan di Kampung Sitimulya. Dikenal dengan nama demikian karena dinding Mesjid ini dibangun dari susunan bata merah ekspose, sementara nama Panjunan menunjuk pada nama kampung di mana mesjid berada.
Pembangunan Mesjid Merah Panjunan berkaitan dengan migrasi keturunan Arab ke Cirebon pada sekitar abad ke-15. Dalam Babad Cirebon disebutkan pada masa pemerintahan Sunan Gunung Jati, surau ini kerap digunakan untuk pengajian dan musyawarah Wali Sanga. Ketika Kesultanan Cirebon diperintah oleh Panembahan Ratu (Cicit Sunan Gunung Jati), pada sekitar tahun 1549, halaman mesjid dipagar dengan kuta  kosod (bata disusun tanpa lepa). Pada pintu masuk dibangun sepasang gapura candi bentar dan pintu panel jati berukir. Keadaan tata ruang mesjid yang masih terawat ini bertahan hingga sekarang. Atap sirap pada tahun 2001-2002 dipugar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jawa Barat. Pada awalnya mesjid ini dikelola oleh pihak Kesultanan Kasepuhan, namun sekarang sudah diserahkan pengelolaannya kepada DKM Panjunan.
Kompleks mesjid dikelilingi pagar bata setinggi 1,5 m. Teknin penyusunan pagar bata ini menggunakan sistem gosok (kuta kosod). Di bagian timur pagar terdapat gerbang dengan bentuk bentar. Pagar berwarna merah bata. Di sebelah utara bangunan utama masjid terdapat bangunan baru berukuran 10 x 2 m. Bangunan ini merupakan kamar mandi, tempat wudhu, dan tempat bersuci lainnya.
Bangunan utama mesjid berukuran 25 x 25 m dilengkapi halaman yang sangat sempit ± 10 x 1 m. Teras depan di sisi timur yang juga digunakan sebagai tempat shalat setiap waktu merupakan pengembangan. Serambi mesjid berukuran 6 x 8 m. Lantai dari bahan keramik berwarna merah marun. Dinding merah bata dihiasi dengan piring keramik Eropa. Di sini terdapat 12 tiang sebagai pendukung atap. Pada sisi barat terdapat gerbang berbentuk koriagung. Gerbang ini adalah pintu bangunan masjid kuno. Di kiri-kanan terdapat hiasan piring-piring keramik Eropa. Di ruang ini terdapat 12 buah  tiang yang mendukung atap genteng.
Ruang utama mesjid kuno berukuran 8 x 12 m berlantai tegel. Dinding merupakan bata dengan teknik penyusunan gosok. Di ruang ini terdapat 4 soko guru dan 10 tiang penyangga atap genteng yang berbentuk tumpang. Ruang ini hanya difungsikan pada hari-hari besar Islam saja. Di selatan bangunan ini ada ruangan yang dimanfaatkan sebagai gudang.

Sabtu, 22 Juni 2013

Mandala Keraton

Di mata orang Jawa, keraton adalah keramat. Kawula takut kuwalat jika berbuat semaunya di lingkungan keraton. Kawula selalu berasumsi bahwa sang raja memilikki kuluk kanigara, yaitu makutha yang esensinya memuat kewibawaan. Makutha menyimpan hal-hal yang “the seen” dan “unseen worlds”. Secara kasatmata, makutha itu benda berharga. Tapi di balik barang tersebut merupakan perlambangan kesaktian dan kekuasaan sebagai warisan pusaka Kiai Jaka Piturun. Kepemimpinan raja adalah kuasa yang mengayomi sebagaimana ada rasa adhem, ayem dan tenang yang dikhayati oleh kawula.

Keraton adalah pusat rasa Jawa, rasa hakiki yang hidup di dataran nalar Jawa adalah rasa njaba dan rasa njero.  Kedua rasa ini menep (merasuk) dalam candrasengkala memet regol kemagangan yang berbunyi: Dwi Naga Rasa Tunggal (1682). Dwi Naga Rasa Tunggal artinya dua naga yang tubuhnya (sarira) dipadukan hingga muncul ungkapkan mistik manunggaling kawula – Gusti.

Dalam konteks manunggal ini, ditunjukkan oleh ungkapkan sarira tunggal atau sari-rasa-tunggal. Maksudnya adalah kawula-Gusti memilikki hakikat satu rasa (madu rasa).  Keinginan kawula untuk selalu manunggal dengan Gusti disebut madu brangta.

Sebelum keraton berdiri, sesuatu yang ada hanyalah hutan belantara.  Hutan yang bernama Garjitawati dan diartikan sebagai kesadaran total manusia.  Kesadaran yang melahirkan pemikiran jernih dan wening. Wati berarti kaya, banyak, luas dan Garjtawati adalah hutan yang menyimbolkan kesadaran kuat.  Salah satu raja Jawa, Sri Sultan HB I memandang tepat keraton Yogya berdiri di atas bumi harum itu.  Dari sini kesadaran kosmis muncul di benak kawula-Gusti Yogya, karena tata letak simbolik imajiner keraton.

Kosmologi keraton Yoga tidak terlepas dari pandangan dunia Kejawen dengan masyarakat kejawen berpikir tentang kosmologi Jawa melalui pepangkataning dumadi, Tribuwana. Adanya Guru loka (baitul makmur), Endra loka (baitul muharam), dan Jana Loka (baitul muqadas).  Guru loka dalam posisi keraton diwakili oleh Gunung Merapi. Gunung berada di utara disebut lor, utama dan luhur. Posisi di tengah yaitu, Endra Loka artinya raja. Raja kehidupan tidak lain adalah hati (rasa sejati). Ada pun Jana loka adalah gambaran kawula, rendah dan bawah. Ketiga ranah filosofi – kosmis ini yang memposisikan keraton sebagai sentral.

Pemikiran kosmologi Jawa sedemikian berkembang dan meningkat dari posisi Tribuwana menjadi Pancabuwana. Konsep Pancabuwana tetap meletakkan keraton sebagai Pusat. Pancabuwana memuat keblat papat lima pancer yang berarti buwana manusia selalu dilingkupi oleh empat anasir:

(a)  Keraton sebagai sentral (pancer) kehidupan.

(b)  Keraton Yogyakarta secara kosmis diapit oleh empat anasir kiblat yaitu

   1. Kampung Gandamanan (Timur)
   2. Kampung Krapyak (Selatan)
   3. Wirabrajan (Barat)
   4. Utara (jetis)

Makna filosofi Kampung Gandamanan bila ditarik ke utara lurus bersimetris dengan Kampung Gandalayu (timur Tugu).  Adapun Kampung Wirabrajan, jika ditarik lurus ke utara muncul Kampung Pingit, sebelah barat Tugu. Jadi garis imajiner keraton ke Tugu menandai bahwa lokasi keraton diapit oleh dua nama kampong yang melambangkan hidup (Pingit, berarti suci) dan mati (Gandalayu, artinya bau bangkai).  Hal ini ditandai pula bahwa Kampung Pingit itu dialiri sungai Winanga dan Kampung Gandalayu yang dialiri Sungai Code. Winanga berasal dari bahasa Jawa winong, artinya paham, ketahuilah dekatkanlah dengan Hyang Winong yaitu Tuhan.  Sebaliknya, jauhilah yang jelek, berbau bangkai yang dilambangkan Code (dalam bahasa Jawa, cocode, kejelekan).

Jika posisi Pancabuwana tersebut dilukiskan, keraton akan tampak sebagai sumber kasekten.  Sakti berarti hangabehi, di dalamnya muncul zating Pagneran melalui sebuah proses emanasi. Kosmologi keblat papat lima pancer, keraton tergambar sebagai kuthanegara yang berada pada posisi tengah, isinya suwung (titik nol), menjadi fakta hakiki (ultimate reality), hari pasarannya adalah Kliwon, multi-warna dan dewanya adalah Manikmaya (Bhatara Hyang Guru).  Sebelah timur dibatasi oleh negaragung, sebagai fakta emanen, sebagai purwaning dumadi (jagad kawitan).  Maka posisi semadi orang Jawa menghadap ke timur, pasarannya adalah Legi, dibatasi dengan negaragung brang wetan, warnanya putih, disimbolkan anasir air, dewanya Wisnu.  Sebelah selatan adalah fakta eksistensial, berwarna merah, pasaran Paing, dibatasi Laut Selatan, dan dewanya Kala.  Sebelah barat pasarannya adalah Pon, dibatasi negaragung brang kulon, berwarn akuning, sebagai fakta transeden, dewinya Sri.  Sebelah utara adalah pasarannya Wage, warnanya hitam, dibatasi Gunung Merapi, dewanya Narada, sebagai fakta esensial.

Kosmologi keraton demikian terkait dengan sebutan ning-rat.  Ning artinya jernih dan rat (dunia kosmos).  Kejernihan berpikir tentang dunia (kosmos) oleh kesakralan keraton.  Di mata orang Jawa, keraton sebagai mandala yang gawat keliwat-liwat wingit kepati-pati.  Maka dalam Serat Baron Sekender, dikisahkan ada pesawat colonial yang hendak menyerang keraton Yogya, tiba-tiba jatuh ketika berada di atas keraton.  Nuansa kosmis itulah yang menyebabkan keraton sangat berbeda dengan tempat lain.  Keraton diibaratkan seperti istana, tapi istana bukan keraton.

Dari waktu ke waktu, umumnya orang Jawa memandang keraton selalu menyebarkan ruh kosmis, yaitu:

(1)  Memberi perlindungan (hangayomi)

(2)  Memberi rasa aman, tenang dan tenteram (hangayemi)

(3)  Memberi berkah berbagai hal (hamberkahi).

Ketiganya tergambar pada watak raja yang mahambeg paramarta.  Artinya, raja selalu menyebarkan watak keutamaan kepada kawula.  Kawula memandang Sultan sebagai figure yang mampu amangku-amengku-among-momot.  Amangku, artinya bisa menciptakan suasana jenak, tenang, adhem ayem, memahami aspirasi bawahan secara total sebagaimana seorang Ibu memangku anaknya.  Amengku, berarti mampu menjalankan kekuasaan yang tidak semena-mena, penuh kecintaan, perlindungan, penuh perhatian, seperti halnya sayap ayam melindungi anaknya.  Among-momot, artinya mampu memimpin dengan kultur kejawaan yang penuh asah-asih-asuh, mewadahi segala keinginan kawula.  Ketiga hal itu terangkum dalam ungkapan mahambeg berbudi bawa laksana.

Melalui Perjanjian Giyanti yang diskenariokan kolonialis pada 13 Februari 1755, hingga membelah Mataram menjadi dua, yaitu Kasultanan Yoga dan Kasunan Surakarta, terkesan agak aneh.  Sunan seakan representasi ulama dan sultan adalah gambaran umaro.  Pada hal kedua belah pihak jelas memuat ulama-umaro.  Teologi dan teosofi Keraton Yogya selalu merujuk bahwa keraton adalah sentral – kosmis – filosofis.  Keraton Yogya tidak sekadara memimpin kawula secara lahir, melainkan juga dengan konsepsi filosofi kejawen yang luhur.  Sultan yang bergelar Sayidin Panatagama Kalifatullah, diakui atau tidak jelas melukiskan sebuah paugeraning dumadi.  Sultan dianggap figure waskitha atau nawung kridha, yang menjadi pandom (kiblat) kawula.

Atas dasar itu, keraton sekaligus juga sebagai pusat (telenging dumadi).  Maka kedudukan sultan menjadi abon-aboning panembah jati.  Maksudnya, keraton menjadi sentral kawula dalam melakukan persembahan.  Hakikatnya kawula adalah menyembah Hyang Widhi, sebab Sultan diobsesikan sebagai wakil (badal wakiling) Tuhan.  Itulah sebabnya kawula selalu melakukan tindakan saiyeg, saeka praya sebaya pati sebaya mukti.

Demi tegaknya keraton, kawula rela dan ikhlas berkorban secara serentak, rukun sampai titik darah penghabisan.  Alasannya, jika keraton menemui kejayaan, kawula juga akan menerima kemurahan (luberan) raja.


Selasa, 14 Mei 2013

Masjid Besar Tegal kalong

Masjid Besar Tegal Kalong terletak di Jalan HajiSuleiman di wilayah Kampung Kaum, Kelurahan Talun, Sumedang Selatan. Di sebelah timur masjid terdapat tanah lapang kecamatan yang sekarang menjadi taman, sebelah utara terdapat Pasar Inpres, sebelah barat pemukiman warga Kampung Kaum, dan sebalah barat merupakan pemukiman wilayah Kampung Sukaluyu.
Tegal Kalong dalam sejarah Sumedang merupakan ibu kota kerajaan Sumedanglarang setelah dipindahkan dari Dayeuh Luhur pada tahun 1600-an. Pemindahan ini terjadi pada waktu R. Suriadiwangsa menggantikan ayahnya, Prabu Geusan Ulun. Setelah Kerajaan Sumedanglarang menjadi daerah kekuasaan Mataram Islam, tempat ini oleh R. Suriadiwangsa dijadikan pusat pemerintahan Kabupaten Sumedang. Sebagai kelengkapan kota seperti yang berlaku pada umumnya kota-kota masa Islam di Indonesia, R. Suriadiwangsa membangun masjid ini pada sekitar tahun 1600-an merupakan bangunan permanen berdenah segi empat berukuran 22 x 8 m. Ruang utama dilengkapi juga dengan pintu-pintu dan jendela-jendela. Masjid beratap tumpang yang disangga empat tiang utama atau saka guru dengan puncaknya dilengkapi dengan mustaka.  Selain ruang utama, masjid dilengkapi juga dengan teras dan tempat wudhu. Pada bagian masjid terdapat halaman yang dilengkapi dengan pagar keliling dengan dua pintu. Menurut keterangan dari pihak Dewan Kesejahteraan Masjid (DKM), semula masjid merupakan bangunan rumah panggung, dinding dari anyaman bambu atau bilik. Setidaknya masjid telah mengalami 5 kali pemugaran.
Selain masjid, di tempat ini terdapat tinggalan arkeologi – sejarah yang cukup penting, yaitu bekas Pendopo Kabupaten Sumedang. Bangunan pendopo tersebut terletak di dekat masjid. Bangunan yang mengalami perubahan dan penambahan bentuk ini sekarang difungsikan sebagai Kantor Camat Sumedang Selatan.

Salah  satu peristiwa sejarah yang cukup penting di masjid ini adalah ketika pada tahun 1786 terjadi serangan tentara Kesultanan Banten yang dipimpin oleh Cilik Widara. Serangan dilakukan ketika Bupati dan para pejabat serta masyarakat sedang menjalankan shalat Hari Raya Idul Fitri yang mengakibatkan banyak jatuh korban di pihak Sumedang. Setelah peristiwa tersebut pusat pemerintahan dipindahkan ke pusat kota yang sekarang. Peristiwa yang memilukan tersebut juga berakibat lain adalah tabu bagi para bupati selanjutnya bila shalat Idul Fitri jatuh pada hari Jumat untuk shalat di ibu kota Sumedang.

Minggu, 28 April 2013

Makam Pangeran Salawe

Kompleks makam Pangeran Salawe berada di Desa Dermayu, Kecamatan Sindang. Morfologis daerah berupa pedataran rendah dengan ketinggian sekitar 3 m di atas permukaan laut. Dahulu daerah di sekitar komplek makam ini dialiri Sungai Cimanuk. Sejak dibangun bendungan di Bangkir, aliran sungai dialihkan. Litologi daerah merupakan persebaran batuan hasil endapan sungai muda berupa pasir, lanau, dan lempung coklat. Komplek makam berada pada pemakaman umum. Sebelah barat dan utara komplek makam merupakan perkampungan, sedangkan sebelah selatan dan timur merupakan pemakaman umum.

Komplek makam berada pada sebidang tanah dengan luas 320 m2, berpagar tembok berukuran 20 x 16 m dengan tinggi 1,5 m. Untuk memasukinya melalui jalan masuk dilengkapi kelir (rana) yang terdapat di sisi barat. Keadaan sekarang merupakan hasil pembenahan (pemugaran) yang dilakukan pada bulan Juli tahun 1976. Di situs tersebut terdapat 24 kubur yang terbagi dalam 4 blok. Blok I terletak pada bagian barat laut komplek terdiri 4 kubur dengan jirat berundak. Kuburan tokoh utama yaitu Pangeran Guru Wirya Nata Agama, yang dipercaya berasal dari Palembang terletak pada bagian paling utara blok I (kubur nomor 1). Di sebelah selatannya (kubur nomor 2) dipercaya sebagai kuburan Endang Darma Ayu. Blok II terletak di sebelah timur blok I terdiri 8 kubur tanpa jirat (kubur nomor 5 - 12). Blok III terletak di sebelah selatan blok II terdiri 2 kubur yang juga tanpa jirat (kubur nomor 13 - 14). Blok IV terletak di bagian paling selatan komplek terdiri 10 kubur. Kubur nomor 24 dilengkapi jirat berundak. Kubur nomor 23 dilengkapi nisan ganda berhias motif flora dan geometris berupa bintang dengan sudut delapan.
Di dalam komplek makam terdapat beberapa pohon tua yaitu asam dan sawo kecik. Pada sudut tenggara terdapat pohon rotan. Menurut cerita pohon rotan tersebut merupakan tongkat Pangeran Guru Wirya Nata Agama yang dikubur dan kemudian tumbuh. Para peziarah ada yang mengeramatkannya, sehingga sepulang dari ziarah akan mengambil sekerat rotan untuk dijadikan azimat.
 
Cerita mengenai Pangeran Selawe pada intinya yaitu berkaitan dengan keberadaan Endang Darma di Cimanuk. Hal ini didengar oleh Pangeran Guru di Palembang. Bersama 24 muridnya berangkat ke Cimanuk dengan tujuan untuk menguji kesaktian Endang Darma, tetapi di Cimanuk ke dua puluh empat (24) murid Pangeran Guru beserta Pangeran Guru dapat dikalahkan Endang Darma.
 
Mengenai tokoh Endang Darma, Babad Dermayu menerangkan bahwa Endang Darma mempunyai nama lain Ratna Gumilang, Ratu Sakti, dan Mas Ratu Gandasari. Purwaka Caruban Nagari menyebutkan bahwa Mas Ratu Gandasari adalah adik Fadlillah Khan, Putra Maulana Mahdlar Ibrahim bin Malik Ibrahim. Dengan demikian Endang Darma adalah cucu Maulana Malik Ibrahim. Sedangkan mengenai Pangeran Guru, Babad Dermayu menerangkan bahwa, dia adalah orang Jawa yang bermukim di Palembang. Pangeran Guru mempunyai nama lain Arya Dilah, putra Wikramawardhana, raja Majapahit yang ditugaskan sebagai gubernur di Palembang.
Mengenai Arya Dilah, Sajarah Banten menceritakan bahwa di Majapahit terdapat wanita jelmaan raksasa yang dijadikan selir oleh raja Majapahit. Ketika wanita tersebut mengandung, makan daging mentah dan kemudian berubah wujud ke bentuk semula. Karena takut ketahuan wanita tersebut melarikan diri dan melahirkan anak diberi nama Ki Dilah. Setelah dewasa Ki Dilah ke Majapahit dan dapat diterima raja. Ki Dilah diberi nama Arya Damar dan kemudian diangkat sebagai wakil raja di Palembang. Babad Tanah Jawi menceritakan bahwa raja Majapahit menghadiahkan kepada Arya Damar salah satu selirnya, seorang putri Cina yang dalam keadaan hamil. Di Palembang putri Cina tersebut melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Raden Patah. Sedangkan dengan Arya Damar juga mempunyai anak laki-laki bernama Raden Husin. Cerita tentang asal-usul Raden Patah menurut Babad Demak juga berkaitan dengan Arya Damar. 
Diceritakan bahwa Arya Damar adalah anak angkat Brawijaya yang ditugaskan sebagai adipati di Palembang. Arya Damar selain diberi jabatan juga diberi putri Cina untuk diperistri. Putri Cina tersebut adalah salah satu selir Brawijaya. Ketika mendapatkan putri Cina dalam keadaan mengandung anak Brawijaya. Di Palembang putri Cina melahirkan anak diberi nama Raden Patah.
 
Berdasarkan berbagai sumber yang ada dapat diduga bahwa Pangeran Guru atau Arya Dilah juga bernama Arya Damar, seorang kerabat dekat (anak atau sepupu) raja Majapahit, yang dipercaya menjadi wakil Majapahit (adipati) di Palembang. Ia juga ayah (angkat) Raden Patah. Baik Sajarah Banten maupun Babad Tanah Jawi tidak menceritakan kematian Arya (Ki) Dilah, hanya Babad Dermayu yang menceritakan kematian Pangeran Guru (Arya Dilah) karena perang melawan Endang Darma.

Jumat, 26 April 2013

Masjid Saka Tunggal

Masjid Saka Tunggal terletak di desa Cikakak kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, provinsi Jawa Tengah atau 30 KM kearah barat dari kota Purwokerto . Masjid ini dibangun pada tahun 1288 seperti yang tertulis pada Saka Guru (Tiang Utama) masjid ini. Namun, tahun pembuatan masjid ini lebih jelas tertulis pada kitab-kitab yang ditinggalkan pendiri masjid ini, yaitu Kyai Mustolih. Tetapi kitab-kitab tersebut telah hilang bertahun-tahun yang lalu. 

Nama resmi masjid ini adalah masjid Saka Tunggal Baitussalam, tapi lebih populer dengan nama masjid saka tunggal karena memang Masjid ini hanya mempunyai saka tunggal (tiang penyangga tunggal). Sakatunggal yang berada di tengah bangunan utama masjid, saka dengan empat sayap ditengahnya yang akan nampak seperti sebuah totem, bagian bawah dari saka itu dilindungi dengan kaca guna melindungi bagian yang terdapat tulisan tahun pendirian masjid tersebut. Masjid saka tunggal berukuran 12 x 18 meter ini menjadi satu satunya masjid di pulau Jawa yang dibangun jauh sebelum era Wali Sembilan (Wali Songo) yang hidup sekitar abad 15-16M. Sedangkan masjid ini didirikan tahun 1288 M, 2 abad sebelum Wali Songo. Sekaligus menjadikan Masjid Saka Tunggal Baitussalam sebagai Masjid Tertua di Indonesia. Lokasi Ditengah suasana pedesaan Jawa yang begitu kental Suasana pedesaan sangat kental. Di kawasan masjid yang dipenuhi dengan kera-kera yang berkeliaran bebas. Bangunan masjid juga sangat unik, beratapkan ijuk serta sebagian dindingnya dari anyaman bambu. Sejarah Masjid Saka Tunggal Dinamakan Masjid Saka Tunggal, karena memang hanya memiliki satu pilar utama penyangga. 

Disekitar masjid terdapat makam seorang penyebar agam Islam yang bernama Kyai Mustolih. Berdasarkan ceritera nara sumber yaitu KGPH Dipo Kusumo dari Keraton Surakarta Hadiningrat dan Drs. Suwedi Montana , seorang peneliti Arkeologi Islam dari Puslit Arkenas Jakarta pada tanggal 29 Januari 2002 dijelaskan sebagai berikut : Sunan Panggung adalah salah seorang dari kelompok Wali sanga yang merupakan murid Syech Siti Jenar. Sunan Panggung meninggal pada masa pemerintahan Sultan Trenggono di Demak Bintoro antara tahun 1546-1548 M. Menurut Serat Cabolek, Sunan Panggung dihukum dengan cara dibakar atas kesalahannya menentang suatu syariat. Namun demikian dalam hukumannya tersebut ia tidak mati, bahkan saat pada saat itu mampu menulis suluk yang kemudian dikenal dengan sebutan Suluk Malangsumirang. Sunan Panggung menurunkan anak bernama Pengeran Halas. Pangeran Halas menurunkan Tumenggung Perampilan. Tumenggung Perampilan menurunkan Kyai Cikakak. Kyai Cikakak menurunkan Resayuda. Kyai Resayuda menurunkan Ngabehi Handaraka, dan Ngabehi Handaraka menurunkan Mas Ayu Tejawati, Istri Amangkurat IV, yang menurunkan Hamengkubuwana, Raja Ngayogyakarta Hadiningrat. Kyai Cikakak yang merupakan keturunan ketiga Sunan Panggung tidak diketahui nama aslinya. Nama Kyai Cikakak diperkirakan merupakan sebutan, karena ia bertempat tinggal di Desa Cikakak. Di Desa inilah Kyai Cikakak mendirikan sebuah masjid dengan keunikan tersendiri, yaitu dengan tiang utama tunggal ( saka tunggal ) yang masih lestari hingga saat ini. Masjid saka Tunggal di bangun di tempat suci Agama Kuno ( agama yang berkembang sebelum masuknya agama Hindu Budha ) yang dapat dibuktikan di sekitar masjid terdapat sebuah batu menhir yang merupakan tempat untuk kegiatan ritual : agama kuno, dibangun pada tahun 1522 M. Di sekitar tempat ini terdapat hutan pinus dan hutan besar lainnya yang di huni oleh ratusan ekor kera yang jinak dan bersahabat, seperti di Sangeh Bali. Saat ini Masjid Saka Tunggal belum kehilangan sama sekali wajah aslinya. Bedanya, gebyok kayu dan gedek bambu yang semula menjadi dinding masjid ini telah diganti dengan tembok. 

Salah satu tampilan asli masjid ini yang belum hilang adalah saka tunggal di tengah-tengah bangunan masjid. Sakatunggal tersebut dibuat dari galih kayu jati berukir motif bunga warna-warni.Di bagian pangkal berdiameter sekitar 35 sentimeter. Saka ini berdiri hingga di atas wuwungan yang berbentuk limas, seperti wuwungan pada Masjid Agung Demak. Salah satu keunikan lain Saka Tunggal adalah keberadaan empat helai sayap dari kayu di tengah saka. Menurut Sopani sang Juru pelihara Masjid Saka Tunggal tersebut, empat sayap yang menempel di saka tersebut melambangkan papat kiblat lima pancer, atau empat mata angin dan satu pusat. 

Papat kiblat lima pancer berarti manusia sebagai pancer dikelilingi empat mata angin yang empat. Mata angin itu berarti bahwa hidup manusia harus seimbang. Jangan terlalu banyak air bila tak ingin tenggelam, jangan banyak angin bila tak mau masuk angin, jangan terlalu bermain api bila tak mau terbakar, dan jangan terlalu memuja bumi bila tak ingin jatuh. Hidup itu harus seimbang, kata Sopani. (source:banyumaskab.go.id) Tradisi Unik Masjid Saka Tunggal, Banyumas Zikir seperti melantunkan kidung jawa Keunikan masjid saka tunggal Banyumas, benar benar terasa di hari Jum’at. Selama menunggu waktu sholat jum’at dan setelah sholat jum’at, Jamaah masjid Saka Tunggal berzikir dan bershalawat dengan nada seperti melantunkan kidung jawa. Dengan bahasa campuran Arab dan Jawa, tradisi ini disebut tradisi ura ura. Pakaian Imam dan muazin Imam masjid tidak menggunakan penutup kepala yang lazimnya digunakan di Indonesia yang biasanya menggunakan peci, kopiyah, tapi menggunakan udeng/pengikat kepala. khutbah jumat disampaikan seperti melantunkan sebuah kidung, Empat muazin sekaligus Empat orang muazim berpakaian sama dengan imam, menggunakan baju lengan panjang warna putih, menggunakan udeng bermotif batik, dan ke empat muazin tersebut mengumandangkan adzan secara bersamaan. Semuanya dilakukan berjama’ah Uniknya lagi, seluruh rangkaian sholat jumat dilakukan secara berjamaah, mulai dari shalat tahiyatul masjid, kobliah juma’at, shalat Jumat, ba’diah jum’at, shalat zuhur, hingga ba’diah zuhur. Semuanya dilakukan secara berjamaah. Tanpa Pengeras Suara Masjid Saka Tunggal Baitussalam hingga saat ini masih mempertahankan tradisi untuk tidak menggunakan pengeras suara. 

Meski demikian suara azan yang dilantunkan oleh empat muazin sekaligus, tetap terdengar begitu lantang dan merdu dari masjid ini. Ritual Ganti Jaro, Masjid Saka Tunggal Adalah ritual mengganti pagar bambu keliling masjid saka tunggal. Ritual ini diikuti oleh seluruh warga desa Cikakak. Dalam ritual yang mereka sebut ganti Jaro Rajapine. Saat membuat pagar ada beberapa pantangan yang harus ditaati. Mereka dilarang berbicara dengan suara keras serta tidak boleh menggunakan alas kaki. Sehingga yang terdengar hanya pagar bambu yang dipukul. Karena melibatkan ratusan warga, hanya dalam waktu 2 jam pagar sepanjang 300 meter ini selesai. Selain bermakna kebersamaan dan gotong royong, tradisi ganti Jaro Rajab ini bagi warga di sini dipercaya bisa menghilangkan sifat jahat dari diri manusia. Pagar bambu ini selain mengelilingi Masjid Saka Tunggal juga makam Nyai Toleh. Seorang penyebar agama di Banyumas. Sejumlah utusan dari kraton Surakarta dan Ngayogjogkarta Hadiningrat ikut ambil bagian dalam acara ini dengan memanjatkan doa di makam, sebagai rasa syukur. Ritual ganti Jaro Rajab ini kemudian diakhiri dengan prosesi arak arakan 5 gulungan yang berisi nasi tumpeng ini kemudian diperebutkan warga karena dipercaya bisa memberikan berkah. Arsitektur Masjid Saka Tunggal, Banyumas Salah satu keunikan Saka Tunggal adalah empat helai sayap dari kayu di tengah saka. Empat sayap yang menempel di saka tersebut melambangkan ”papat kiblat lima pancer”, atau empat mata angin dan satu pusat. 

Papat kiblat lima pancer berarti manusia sebagai pancer dikelilingi empat mata angin yang melambangkan api, angin, air, dan bumi. Saka tunggal itu perlambang bahwa orang hidup ini seperti alif, harus lurus. Jangan bengkok, jangan nakal, jangan berbohong. Kalau bengkok, maka bukan lagi manusia. Empat mata angin itu berarti bahwa hidup manusia harus seimbang. Jangan terlalu banyak air bila tak ingin tenggelam, jangan banyak angin bila tak mau masuk angin, jangan terlalu bermain api bila tak mau terbakar, dan jangan terlalu memuja bumi bila tak ingin jatuh. ”Hidup itu harus seimbang,” Papat kiblat lima pancer ini sama dengan empat nafsu yang ada dalam manusia. Empat nafsu yang dalam terminologi Islam-Jawa sering dirinci dengan istilah aluamah, mutmainah, sopiah, dan amarah. Empat nafsu yang selalu bertarung dan memengaruhi watak manusia. 

Keaslian yang masih terpelihara adalah ornamen di ruang utama, khususnya di mimbar khotbah dan imaman. Ada dua ukiran di kayu yang bergambar nyala sinar matahari yang mirip lempeng mandala. Gambar seperti ini banyak ditemukan pada bangunan-bangunan kuno era Singasari dan Majapahit. Kekhasan yang lain adalah atap dari ijuk kelapa berwarna hitam. Atap seperti ini mengingatkan atap bangunan pura zaman Majapahit atau tempat ibadah umat Hindu di Bali. Tempat wudu pun juga masih bernuansa zaman awal didirikan meskipun dindingnya sudah diganti dengan tembok. Renovasi dan Benda Benda Peninggalan Sejak tahun 1965 masjid ini sudah dua kali dipugar. Selain dinding tembok, juga diberi dinding anyaman bambu serta lapisan atap seng, Meski sebagian dinding telah direhab dengan tembok, tetapi arsitektur masjid tetap tidak diubah. 

Sehingga tidak ada perbedaan bentuk yang berarti dari awal berdiri hingga sekarang. Sedangkan tiang dari kayu jati yang menopang bangunan utama masjid dengan ukuran masih terlihat begitu kokoh. Selama ratusan tahun berdiri, warga dan jamaah di Cikakak sama sekali tidak mengganti bangunan utama yang ada di tempat itu, kecuali hanya membangun tembok sekeliling masjid sebagai penopang. Barang lainnya yang sampai sekarang masih tetap rapi dan dipelihara di antaranya adalah bedug, kentongan, mimbar masjid, tongkat khatib dan tempat wudlu. Setiap tanggal 27 Rajab di masjid ini diadakan pergantian Jaro dan pembersihan makam Kyai Mustolih,Salah satu tradisi penting dalam masjid Saka Tunggal ini adalah ritual Ganti Jaro Rajab. Ritual ini adalah ritual mengganti pagar bambu yang mengelilingi masjid dan juga mengelilingi makam Nyai Toleh, salah seorang penyebar agama Islam di wilayah Banyumas. Pada ritual ini, masyarakat sekitar membawa bambu untuk menggantikan bambu lama yang ada di Masjid. Mereka berjalan beriringan menuju masjid, tidak boleh bersuara, tidak memakai alas kaki, hanya sesekali suara bambu terdengar karena dibawa bersamaan. 

Hingga sampailah mereka ke pagar lama, mencabuti pagar tersebut, dan menggantinya dengan yang baru. Mirip dengan tradisi keraton, pada upacara ini juga ada gunungan yang berupa nasi tumpeng dan lauk pauknya. Gunungan ini pada akhir upacara menjadi rebutan masyarakat karena dipercaya membawa berkah bagi masyarakat sekitar. Ritual ini diadakan selain sebagai rasa syukur, juga memupuk kebersamaan dan kegotongroyongan di antara masyarakat. Diyakini juga, ritual ini juga menghilangkan berbagai sifat jahat dan jelek dalam diri manusia. Sayang, saat saya berkunjung, ritual Ganti Jaro Rojab ini sedang tidak dilaksanakan. Saya hanya mendapatkan cerita dari pengelola masjid ini.. Masjid yang berjarak ± 5 km dari Ajibarang kearah Selatan,maka bagi yang lewat antara Ajibarang dan Wangon maka silahkan mampir dan nikmati nuansa keriligiusannya. Masjid ini disebut Saka Tunggal karena tiang penyangga bangunan masjid ini, dulunya hanya satu tiang (tunggal). 


Kamis, 25 April 2013

Kuil Prabu Siliwangi

Di kaki gunung salak, Kabupaten Bogor, ada Pura Parahyangan Agung Jagatkarta Tamansari Gunung salak. Orang menamakannya sebagai kuil Prabu Siliwangi . Mengapa begitu sebab orang hindu dari bali sengaja membangun kuil itu sebagai penghormatan kepada Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran yang dianggap telah berjasa mengembangkan agama hindu.

Inilah pura terbesar di luar Bali, setelah Pura Besakih di Pulau Bali. Dibangun diatas tanah sekitar 15 ha letaknya dikawasan lereng Gunung Salak, tepatnya di kec. Taman Sari, Kab. Bogor, daerah Ciapus. PURA terbesar secara fisik dan konsep berada di bumi suci, Parahyangan (Para Hyangan), Bogor. Di sinilah tempat petilasan Prabu Siliwangi — raja paling masyhur dan paling dipuja.

Terlepas dari perbedaan anggapan, apakah benar Prabu Siliwangi beragama hindu atau bukan, yang jelas, begitulah yang dikatakan I nyoman Radeg, pendeta hindu yang bertanggung jawab sehari-hari di kuil itu.

Penyebab kuil itu dibangun di kaki gunung Salak, tepatnya di kampung warunglobok, Bogor adalah karena di tempat itu dianggap punya kekuatan magis. Nyoman radeg ,mengatakan, bahwa secara gaib, tergambarkan di tempat itu dulu berdiri sebuah bangunan kuil. Bentuknya seperti yang kini berdiri di kaki bukit itu. "Bentuk kuil itu kerap terbawa mimpi. Maka kami bikin kuil disini dengan arsitektur persis sperti di dalam mimpi," demikian tutur nyoman radeg.


Sebagai seorang yang percaya pada keberadaan kekuatan mistis, Nyoman radeg bila di tengah sepinya malam dengan bintang-gemintang menerangi jagat raya suka duduk sendiri menyepi, di pelataran kuil. Mengapa kerap duduk menyepi di sana? Sebab pada waktu-waktu tertentu, dia kerap di datangi arwah Prabu Siliwangi. Suatu saat Nyoman didatangi seorang pemuda usia 16 atau 17 tahunan dengan penampilan seperti ksatria tempo dulu. Siapakah anda anak muda yang datang secara misterius itu? Sang pemuda asing menyebut dirinya dengan nama Pamanahrasa. Namun suatu waktu Nyoman pun didatangi seorang berpenampilan gagah dan memakai ornamen laiknya seorang raja. Usianya berkisar antara 50 atau 55 tahunan. "Siapakah anda yang berpenampilan seperti raja ini?" tanya Nyoman radeg kepada tamu asingnya itu. "Sayalah Sri Baduga Maharaja!" tutur lelaki berpenampilan gagah dengan alistebal hidung mancung itu.

Nyoman radeg tidak hapal, siapa Pamanahrasa dan siapa pula Baduga Maharaja. Namun manakala dia bertanya kesana-kemari di Bogor dan sekitarnya, Nyoman sungguh terkejut. Pamanahrasa itu menurut ahli di Bogor, ternyata adalah Sri Baduga Maharaja Siliwangi manakala masih muda. "Sementara Sri Baduga Maharaja adalah raja pertama kerajaan Pajajaran. Dan dialah yang dikenal sebagai Prabu Siliwangi." Tutur Nyoman radeg. Maka untuk hari-hari selanjutnya, Nyoman kerap duduk menyepi sendirian di pelataran kuil Prabu Siliwamgi.

Tidak setiap saat memang mangalami hal-hal gaib. Ada kalanya tidak terjadi hal-hal aneh. Adakalanya hanya terbersit cahaya putih dari langit dan jatuh di altar kuil. "Namun adakalanya menyaksikan tontonan yang spektakuler,"tutur Nyoman radeg yang membuat misteri penasaran. Apakah itu? Nyoman berkata bahwa suatu saat di altar kuil terlihat ksatria Pamanahrasa sedang duduk di sana dikelilingi oleh para puteri ayu. Namun suatu saat adegan itu terulang kembali. Hanya saja yang sikelilingi putri ayu adalah Prabu Siliwangi yang duduk di singgasana. Denikian Nyoman radeg.

Kata Nyoman ada amanat dari Prabu Siliwangi yang dia tidak boleh lupa. Apakah itu ? "Beliau memberikan amanat pada saya, bahwa seluruh keturunannya jangan dilarang bila ingin datang ke kuil ini, apapun agama dan keyakinannya," kata Nyoman radeg. Apakah itu karena himbauan Prabu Siliwangi atau bukan, yang jelas setiap hari minggu ke bukit itu banyak orang datang terdiri dari berbagai agama dan keyakinan. "Tidak semua bermaksud ingin menghormati Prabu Siliwangi, Bahkan yang hanya datang karena berwisata pun kami tak larang." Ulas Nyoman radeg.



Debus Banten

Ada Banyak ragam dan jenis atau nama Ilmu Debus di Nusantara ini, salah satunya adalah Debus banten yang merupakan kesenian asli masyarakat Banten yang diciptakan pada abad ke-16, yaitu tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin (1532-1570), dalam rangka penyebaran agama Islam. Agama Islam diperkenalkan ke Banten oleh Sunan Gunung Jati, salah satu pendiri Kesultanan Cirebon, pada tahun 1520, dalam ekspedisi damainya bersamaan dengan penaklukan Sunda Kelapa. Kemudian, ketika kekuasaan Banten dipegang oleh Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682), debus difokuskan sebagai alat untuk membangkitkan semangat para pejuang dalam melawan penjajah Belanda. Apalagi, di masa pemerintahannya tengah terjadi ketegangan dengan kaum pendatang dari Eropa, terutama para pedagang Belanda yang tergabung dalam VOC. Kedatangan kaum kolonialis ini di satu sisi membangkitkan semangat jihad kaum muslimin Nusantara, namun di sisi lain membuat pendalaman akidah Islam tidak merata, yaitu terjadinya percampuran akidah dengan tradisi pra-Islam. Hal ini yang terdapat pada kesenian debus.

Permainan debus merupakan bentuk kesenian yang dikombinasikan dengan seni tari, seni suara dan seni kebatinan yang bernuansa magis. Kesenian debus biasanya dipertunjukkan sebagai pelengkap upacara adat, atau untuk hiburan masyarakat. Pertunjukan ini dimulai dengan pembukaan (gembung), yaitu pembacaan sholawat atau lantunan puji-pujian kepada Nabi Muhammad, dzikir kepada Allah, diiringi instrumen tabuh selama tiga puluh menit. Acara selanjutnya adalah beluk, yaitu lantunan nyanyian dzikir dengan suara keras, melengking, bersahut-sahutan dengan iringan tetabuhan. Bersamaan dengan beluk, atraksi kekebalan tubuh didemonstrasikan sesuai dengan keinginan pemainnya : menusuk perut dengan gada, tombak atau senjata almadad tanpa luka; mengiris anggota tubuh dengan pisau atau golok; makan api; memasukkan jarum kawat ke dalam lidah, kulit pipi dan anggota tubuh lainnya sampai tebus tanpa mengeluarkan darah; mengiris anggota tubuh sampai terluka dan mengeluarkan darah tapi dapat disembuhkan seketika itu juga hanya dengan mengusapnya; menyiram tubuh dengan air keras sampai pakaian yang dikenakan hancur lumat namun kulitnya tetap utuh. Selain itu, juga ada atraksi menggoreng kerupuk atau telur di atas kepala, membakar tubuh dengan api, menaiki atau menduduki tangga yang disusun dari golok yang sangat tajam, serta bergulingan di atas tumpukan kaca atau beling. Atraksi diakhiri dengan gemrung, yaitu permainan alat-alat musik tetabuhan.

Terlepas dari anggapan debus berkaitan erat dengan dunia mistis yang bertentangan dengan Islam, ajaran itu turut berperan dalam sejarah diciptakannya kesenian debus di Indonesia, serta pelaksanaan atraksinya yang dimulai dengan pembacaan doa maupun lantunan sholawat Nabi. Tak dapat disangkal, debus merupakan kesenian tradisional khas Banten yang dapat dijadikan sebagai daya tarik bagi para wisatawan. Jadi, mengapa tidak melestarikan dan mengembangkan kesenian debus, yang juga merupakan ciri khas kebudayaan Banten.

Makam Raden Arya Wiralodra

Komplek makam Raden Arya Wiralodra terdapat di Blok Karangbaru, Desa Sindang, Kecamatan Sindang. Kompleks makam berada pada pemukiman. Di sebelah selatan, timur, dan utara merupakan pemukiman penduduk sedangkan di sebelah barat adalah lahan kosong yang dimanfaatkan untuk kebun. Keadaan makam sudah mengalami dua kali pemugaran. Pemugaran pertama dilakukan pada tahun 1965 dan yang kedua pada tahun 1985. Semua makam yang ada telah mengalami perombakan total.
 
Komplek makam dikelilingi pagar tembok dengan gerbang masuk pada sisi selatan. Begitu memasuki komplek makam melalui pintu gerbang akan sampai di serambi depan cungkup makam Arya Wiralodra yang merupakan bangunan baru. Cungkup tersebut menghadap ke timur. Di dalam cungkup disekat menjadi dua ruangan yang dihubungkan dengan jalan masuk tanpa daun pintu. Pintu masuk cungkup langsung menuju ke ruangan sebelah selatan. Di ruangan ini terdapat makam Ki Tinggil. Dengan melalui pintu penghubung yang berada di ujung timur sekat ruangan, akan memasuki ruangan sebelah utara di mana makam Arya Wiralodra I berada. Kedua makam ini sama-sama sudah direnovasi. Jirat berbentuk berundak berlapis keramik. 
 
Sebagaimana makam Islam pada umumnya, kedua makam ini berorientasi utara-selatan. Di sebelah timur laut cungkup kuburan Wiralodra I terdapat cungkup lainnya yang menghadap ke barat di dalamnya terdapat kuburan Wiralodra III. Di sekitar ke dua cungkup dijumpai banyak kubur yang merupakan kuburan para kerabat Wiralodra.
 
Cerita mengenai Arya Wiralodra, menurut Babad Dermayu, berkaitan erat dengan pendirian kota Indramayu. Arya Wiralodra disebutkan sebagai putra ketiga Tumenggung Gagak Singalodra dari daerah Banyuurip, Bagelen, Jawa Tengah. Kedatangan Wiralodra ke Indramayu, ketika itu belum jadi kota, disertai Ki Tinggil seoranga Panakwannya. Wiralodra ketika datang di tepi sungai Cimanuk memilih lokasi untuk membuka hutan di sebelah barat sungai. Daerah tersebut akhirnya berkembang menjadi perkampungan. Suatu saat Wiralodra kembali ke Bagelen, Ki Tinggil tetap tinggal di Cimanuk. Sepeninggal Wiralodra kemudian datang Endang Darma untuk bermukim di kampung tersebut. Di samping bercocok tanam Endang Darma mengajarkan ilmu kanuragan (kedigjayaan) kepada masyarakat.
 
Keberadaan Endang Darma di Cimanuk dilaporkannya oleh Ki Tinggil kepada Arya Wiralodra. Dengan disertai beberapa saudaranya, Arya Wiralodra kembali ke Cimanuk. Setelah sampai, bertemu dengan Endang Darma, Wiralodra mengajak untuk menguji kesaktian dengan catatan bila Wiralodra kalah dia menjadi pembantu Endang Darma. Sebaliknya bila Endang Darma kalah, maka ia menjadi istri Wiralodra. Akhirnya Endang Darma dapat dikalahkan. Akhirnya Arya Wiralodra menjadikan Endang Darma sebagai istri. Ketika itu Arya Wiralodra adalah wakil kerajaan Sunda (Galuh) di Cimanuk.
 
Sumber lain memaparkan bahwa Arya Wiralodra adalah utusan dari Demak yang ditempatkan di daerah Indramayu (Cimanuk) sebagai bagian dari strategi Islamisasi yang dilakukan Demak di Pulau Jawa. Selain itu juga sebagai langkah Politis sehubungan dengan persaingan dagang dengan Portugis yang saat itu (1511) telah menguasai malaka.
 
Menurut Babad Dermayu, perubahan nama dari Cimanuk menjadi Indramayu berkaitan erat dengan istri Arya Wiralodra yang bernama Endang Darma. Pada suatu waktu Kerajaan Sunda yang mayoritas penduduknya beragama Hinda-Buddha, mengalami goncangan politik. Penduduk banyak yang beralih keyakinan ke agama Islam. Sebagian daerah melepaskan diri dari kekuasaannya, seperti misalnya Cirebon (1521 Masehi). Situasi ini dimanfaatkan oleh Arya Wiralodra untuk melepaskan diri dari Prabu Cakraningrat (Raja Galuh) dan kemudian nama Cimanuk diubah menjadi Indramayu. Nama Indramayu diambil dari nama istri Wira¬lodra Endang Darma yang juga disebut Darma Ayu. Berdasarkan nama panggi¬lan tersebut, daerah Cimanuk kemudian disebut Dermayu yang akhir¬nya menjadi Indramayu. Arya Wiralodra menjadi kepala daerahnya dengan gelar Indrawijaya. Peristiwa itu terjadi pada 7 Oktober 1527. Tanggal tersebut oleh pemerintah setempat dijadikan sebagai hari jadi Indramayu.
 
Dengan memperhatikan latar belakang sejarah tersebut, sangat layak apabila menjadikan makam Arya Wiralodra sebagai salah satu destinasi (tujuan) objek wisata budaya di Indramayu. Diharapkan dengan mengunjungi dan memahami cerita tentang Arya Wiralodra orang akan lebih mengerti tentang Indramayu.
 

Selasa, 23 April 2013

Keraton Kasepuhan Cirebon

Keraton Kasepuhan didirikan pada tahun 1430 oleh Sunan Gunung Jati yang wafat pada tahun 1568. Ia bersemayam di Dalem Agung Pakungwati, Cirebon. Keraton Kasepuhan dulunya bernama 'Keraton Pakungwati. Sebutan Pakungwati berasal dari nama Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati. Ia wafat pada tahun 1549 dalam Mesjid Agung Sang Cipta Rasa dalam usia yang sangat tua. Nama beliau diabadikan dan dimuliakan oleh nasab Sunan Gunung Jati sebagai nama Keraton yaitu Keraton Pakungwati yang sekarang bernama Keraton Kasepuhan.


Di depan Keraton Kesepuhan terdapat alun-alun yang pada waktu zaman dahulu bernama Alun-alun Sangkala Buana yang merupakan tempat latihan keprajuritan yang diadakan pada hari Sabtu atau istilahnya pada waktu itu adalah Saptonan. Dan di alun-alun inilah dahulunya dilaksanakan juga pentas perayaan Negara lalu juga sebagai tempat rakyat berdatangan ke alun-alun untuk memenuhi panggilan ataupun mendengarkan pengumuman dari Sultan. Di sebelah barat Keraton kasepuhan terdapat Masjid yang cukup megah hasil karya dari para wali yaitu Masjid Agung Sang Cipta Rasa.

Sedangkan di sebelah timur alun-alun dahulunya adalah tempat perekonomian yaitu pasar -- sekarang adalah pasar kesepuhan yang sangat terkenal dengan pocinya. Model bentuk Keraton yang menghadap utara dengan bangunan Masjid di sebelah barat dan pasar di sebelah timur dan alun-alun ditengahnya merupakan model-model Keraton pada masa itu terutama yang terletak di daerah pesisir. Bahkan sampai sekarang, model ini banyak diikuti oleh seluruh kabupaten/kota terutama di Jawa yaitu di depan gedung pemerintahan terdapat alun-alun dan di sebelah baratnya terdapat masjid.

Sebelum memasuki gerbang komplek Keraton Kasepuhan terdapat dua buah pendopo, di sebelah barat disebut Pancaratna yang dahulunya merupakan tempat berkumpulnya para punggawa Keraton, lurah atau pada zaman sekarang disebut pamong praja. Sedangkan pendopo sebelah timur disebut Pancaniti yang merupakan tempat para perwira keraton ketika diadakannya latihan keprajuritan di alun-alun.

Memasuki jalan kompleks Keraton di sebelah kiri terdapat bangunan yang cukup tinggi dengan tembok bata kokoh disekelilingnya. Bangunan ini bernama Siti Inggil atau dalam bahasa Cirebon sehari-harinya adalah lemah duwur yaitu tanah yang tinggi. Sesuai dengan namanya bangunan ini memang tinggi dan nampak seperti kompleks candi pada zaman Majapahit. Bangunan ini didirikan pada tahun 1529, pada masa pemerintahan Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).

Di pelataran depan Siti Inggil terdapat meja batu berbentuk segi empat tempat bersantai. Bangunan ini merupakan bangunan tambahan yang dibuat pada tahun 1800-an. Siti Inggil memiliki dua gapura dengan motif bentar bergaya arsitek zaman Majapahit. Di sebelah utara bernama Gapura Adi sedangkan di sebelah selatan bernama Gapura Banteng. Dibawah Gapura Banteng ini terdapat Candra Sakala dengan tulisan Kuta Bata Tinata Banteng yang jika diartikan adalah tahun 1451.

saka yang merupakan tahun pembuatannya (1451 saka = 1529 M). Tembok bagian utara komplek Siti Inggil masih asli sedangkan sebelah selatan sudah pernah mengalami pemugaran/renovasi. Di dinding tembok kompleks Siti Inggil terdapat piring-piring dan porslen-porslen yang berasal dari Eropa dan negeri Cina dengan tahun pembuatan 1745 M. Di dalam kompleks Siti Inggil terdapat 5 bangunan tanpa dinding yang memiliki nama dan fungsi tersendiri. Bangunan utama yang terletak di tengah bernama Malang Semirang dengan jumlah tiang utama 6 buah yang melambangkan rukun iman dan jika dijumlahkan keseluruhan tiangnya berjumlah 20 buah yang melambangkan 20 sifat-sifat Allah SWT. Bangunan ini merupakan tempat sultan melihat latihan keprajuritan atau melihat pelaksanaan hukuman. Bangunan di sebelah kiri bangunan utama bernama Pendawa Lima dengan jumlah tiang penyangga 5 buah yang melambangkan rukun islam. 

Bangunan ini tempat para pengawal pribadi sultan.Bangunan di sebelah kanan bangunan utama bernama Semar Tinandu dengan 2 buah tiang yang melambangkan Dua Kalimat Syahadat. Bangunan ini adalah tempat penasehat Sultan/Penghulu. Di belakang bangunan utama bernama Mande Pangiring yang merupakan tempat para pengiring Sultan, sedangkan bangunan disebelah mande pangiring adalah Mande Karasemen, tempat ini merupakan tempat pengiring tetabuhan/gamelan. Di bangunan inilah sampai sekarang masih digunakan untuk membunyikan Gamelan Sekaten (Gong Sekati), gamelan ini hanya dibunyikan 2 kali dalam setahun yaitu pada saat Idul Fitri dan Idul Adha. Selain 5 bangunan tanpa dinding terdapat juga semacam tugu batu yang bernama Lingga Yoni yang merupakan lambing dari kesuburan. Lingga berarti laki-laki dan Yoni berarti perempuan. Bangunan ini berasal dari budaya Hindu. Dan di atas tembok sekeliling kompleks Siti Inggil ini terdapat Candi Laras untuk penyelaras dari kompleks Siti Inggil ini.


Peninggalan Zaman Batu ditemukan di Malalak

Puluhan situs yang diduga sebagai peninggalan zaman batu berhasil ditemukan warga di Kecamatan Malalak Agam, tepatnya di Bukit Tanjuang Batu Kanagarian Malalak Timur Kecamatan Malalak Agam. Berdasarkan penelusuran koran ini lokasi penemuan batu tersebut terletak antara Jorong Limau Badak dan Jorong Saskan Malalak Timur Kecamatan Malalak Agam.

Sebagaimana penelusuran yang dilakukan koran ini kemarin, puluhan situs batu tersebut terletak di kawasan perbukitan di sekitar kaki Gunung Singgalang. Dengan ketinggian mencapai sekitar 150 meter dari permukaan tanah. Sedangkan jaraknya diperkirakan hanya berkisar sekitar 1 KM dari pemukiman penduduk. Atau tidak jauh dari lokasi galodo Saskan yang terjadi beberapa tahun lalu. Hanya saja untuk bisa menjangkau kawasan bukit berbatu itu, kita harus menempuh jalan menanjak dengan kemiringan 70 hingga 80 derjat.

Namun demikian untuk bisa menuju lokasi perbukitan tersebut pada dasarnya tidak begitu sulit. Karena pasca galodo di Jorong Saskan beberapa tahun lalu, belakangan di sekitar kawasan itu telah terbentang jalan baru sehingga semakin memudahkan warga untuk menuju lokasi batu basurek.

Berdasarkan informasi sejumlah warga di Jorong Saskan Nagari Malalak Timur serta pemuka masyarakat lainnya diketahui, situs peninggalan zaman batu itu sebenarnya telah lama ditemukan warga. Warga biasanya menyebutkannya dengan lokasi batu basurek. "Namun, karena telah lama dibiarkan begitu saja, akhirnya lokasinya sudah banyak dipenuhi semak belukar, sehingga untuk menemukannya relatif cukup sulit," ungkap Am salah seorang warga.

Berbekal informasi warga tersebut koran ini mencoba menelusuri lokasi yang dimaksud. Semula koran ini agak kesulitan untuk menemukan ciri ciri batu basurek yang dimaksud warga. Namun setelah melakukan penelusuran lebih jauh bersama seorang warga, akhirnya koran ini berhasil menemukan sejumlah peninggalan yang tergolong sangat mencengangkan. Bahkan tidak hanya satu batu basurek saja seperti disebutkan warga, melainkan ada puluhan peninggalan sejarah atau batu ukir lainnya.

Bahkan bila telusuri secara seksama, lokasi yang dimaksudkan warga itu tak ubahnya bagaikan candi batu. Hanya saja kondisinya terlihat telah tertimbun tanah atau dedaunan lainnya.

Sebagaimana hasil penelusuran koran ini, sejumlah situs yang diduga peninggalan zaman batu tersebut terbilang sangat beragam. Di antaranya ada yang berupa ukiran pemandangan, di samping berbagai ukiran dalam bentuk huruf lainnya. Namun yang terbanyak di antaranya adalah pahatan menyerupai berbagai jenis binatang. Yang mengejutkan beberapa di antara ukiran tersebut ada yang menyerupai tulisan Allah.

Uniknya lagi, di antara ukiran batu tersebut ada yang berbentuk kapal raksasa, ataupun kuali raksasa yang terbuat dari batu. Seolah olah lokasi itu dulunya tak ubahnya pernah didiami manusia.

"Warga biasanya menamakan kawasan itu dengan kawasan batu basurek, bahkan dulunya warga sering berkunjung ke sana. Namun sekarang warga sudah tidak lagi sering berkunjung ke sana," ungkap Katik Surun, salah seorang tokoh masyarakat yang juga merupakan salah seorang pemilik lahan di kawasan itu.  Katik Surun mengakui, sampai saat ini belum seorangpun yang mampu mengungkap misteri yang terkandung di kawasan perbukitan itu."Tapi hurufnya memang tidak terlalu banyak. Barangkali ukiran itu dibuat jauh sebelum orang mengenal huruf," terangnya. 

Khatik Surun menyebutkan, berdasarkan informasi yang diterimanya dari sejumlah orang tua tua kampung diketahui, permukaan air dulunya memang tidak jauh dari kawasan penemuan batu basurek tersebut. Artinya, lokasi penemuan batu basurek itu awalnya terletak di pinggir sungai, yang saat ini airnya telah menyusut secara drastis.

Ditambahkannya, jika saja misteri penemuan peninggalan yang diduga sebagai peninggalan zaman batu itu bisa terungkap, maka nantinya akan bisa mengungkap sejarah baru terkait perjalanan peradaban manusia di Minangkabau. Katik Surun juga optimis jika kawasan itu nantinya bisa dikembangkan sedemikian rupa, termasuk bisa dimasukkan dalam kawasan cagar budaya maka tidak tertutup kemungkinan nantinya daerah itu bisa berkembang menjadi kawasan wisata sejarah.

Di sisi lain, seperti ditegaskan Pakiah Khairi salah seorang tokoh masyarakat lainnya, kawasan di sekitar lokasi penemuan batu basurek tersebut memang merupakan kawasan bersejarah. Bahkan pada zaman Belanda di kawasan itu merupakan pusat kegiatan orang rantai atau dikenal juga dengan rodi atau kerja paksa. Pada zaman itu orang rantai tersebut dikerahkan tentara pendudukan Belanda untuk membuka jalan yang menghubungkan antara Pariaman Malalak hingga ke Bukittinggi. "Jadi ruas jalan yang menghubungkan antara Malalak dengan Kota Bukittinggi pada dasarnya bukanlah ruas jalan Sicincin-Malalak yang sedang dibangun oleh pemerintah sekarang, tapi justru melewati daerah batu basurek itu, karena jarak tempuhnya jauh lebih dekat," terangnya.

Ditambahkannya, selain peninggalan batu basurek dan peninggalan ukiran batu lainnya, di sekitar kawasan perbukitan itu juga pernah ditemukan batu berbentuk manusia yang memiliki hidung. "Sayangnya karena kurang terpelihara maka saat ini bagian hidungnya sudah mulai rusak, namun demikian bekas   peninggalannya masih bisa terlihat," terangnya.


Rabu, 10 April 2013

Esoteri Keris Kamardikan

Menurut buku ”Jawa Sejati” tulisan Prof. Rustopo disebutkan pada masa tahun 1960-an, setelah Indonesia merdeka tahun 1945, komunitas penggemar keris menyadari bahwa keris harus disosialisasikan kepada khalayak umum dan tidak terkubur menjadi pengetahuan ekslusive dalam keraton. Hal ini disusul dengan dibentuknya perkumpulan Boworoso Tosanaji pada tahun 1959 yang didirikan oleh alm. KGPH. Hadiwidjojo (cucu raja Paku Buwana X) bersama alm. Go Tik Swan (terakhir mendapat gelar kraton Kanjeng Panembahan Harjonegoro).

Dari sumber lain, pada tahun 1960 tercatat pernah dilakukan pameran dan seminar pertama bersama para pemerhati keris oleh Boworoso Tosanaji di Museum Radhyapustaka dikota Surakarta, Jawa Tengah - Indonesia. Selanjutnya komunitas ini melakukan diskusi berpindah-pindah antara lain di Jl. Ngadijayan dan terkadang di Jl. Suryohamijayan.

Tahun 1972, seminar dan diskusi dipusatkan di kantor PKJT (Pusat Kesenian Jawa Tengah) yaitu di Sasono Mulyo keraton Kasunanan Surakarta.

Menurut catatan lain, pada tahun 1975, Go Tik Swan (Kanjeng Panembahan Harjonegoro) bersama teman-teman komunitas keris se Jawa Tengah antara lain KRT. Gunandar Sumodipuro, R. Ng. Atmotjurigo, R. Yudosutrisno, R. Yudo Prawiro, R. Sukatno, Slamet, Suparman, Hadi Kasman, Fauzan dan beberapa yang lainnya, mendapat fasilitas peralatan dan ruang kerja di area PKJT untuk memulai membuat keris. Kegiatan di Sasono Mulyo itu ternyata semakin menarik perhatian generasi muda. Mulailah bergabung Suprapto Suryodarmo, Drs. Murtijono, dr. Tunjung Suharso Sulaksono, dr. Herman Sukarman, Sujarwo, Joko Prasetyo, Joko Subagyo, Agus Susanto dan Hasan, mereka bergabung dengan nama Paguyuban Paniti Kadgo dengan kegiatan yang lebih khusus pada penelitian dan praktek membuat keris.

Paguyuban Paniti Kadgo menjadi sebuah acuan untuk melestarikan keris yang kemudian mendapat tempat di kampus Akademi Seni Karawitan Indonesia, Sasono Mulyo, Keraton Surakarta. (Karawitan = sastra dan lagu Jawa yang berkaitan dengan gamelan Jawa).

Dari catatan yang ada ternyata secara autodidak, keris juga dikerjakan oleh beberapa seniman (empu) antara lain Sumodadi (alm.) di Wlingi – Blitar, Jawa Timur, Ki Pakurodji di Magetan – Madiun, Jawa Timur, Djeno Harumbrodjo (alm) - Jogyakarta, yang awalnya diprakarsai oleh Dietrich Dressert dari Jerman, yang mendorong agar Djeno Harumbrojo menekuni kembali profesi pande besi dengan membuat keris. Djeno Harumbrodjo bersama Yosopangarso (alm) pernah aktif melakukan pengkajian dan praktek di Taman Mini Indonesia Indah – Jakarta dengan supervisor antara lain Ir. Haryono Haryoguritno.

Kemudian muncul seniman keris (empu) seperti KRT. Pauzan Pusposukadgo; KRT. Subandi Suponingrat, R. Ng. Suyanto, Yohanes Yantono, Sukamdi, KRT. Rudi Hartono Diningrat, M. Jamil, Fanani, H. Duraphi, H. Ahmad dan masih banyak lagi. Karena selain di Jawa Tengah, kini tersebar seniman keris antara lain di Malang – Jawa Timur, di Sumenep – Madura, di Denpasar – Bali yang terus aktif mengembangkan keris baru atau lebih dikenal dengan keris Kamardikan.

Sudah merupakan hal yang biasa jika keris dianggap sebagai sebuah benda yang memiliki kekuatan mistik. Anggapan ini bahkan menjadi keyakinan oleh masyarakatnya, mereka percaya adanya kekuatan itu oleh karena empu menanamkan daya dari mantera atau doa-doanya. Banyak diantara mereka menyimpan keris sebagai jimat dan diyakini membawa keberuntungan. Aspek mistik dalam dunia keris sangat menarik dibicarakan, walaupun bersifat subyektif, namun ada kalanya kekuatan itu bisa dirasa atau dilihat oleh banyak orang.

Penciptaan keris dijaman dahulu selalu melalui prosesi yang berkaitan dengan ritual dan spiritual. Pada keris Kamardikan hal ini belum dijamah. Namun keris Kamardikan belum tentu ‘tidak memiliki’ kekuatan gaib. Marilah kita coba menganalisa proses cipta keris kamardikan secara ilmiah, menyangkut ilmu jiwa dan metafisika.

Esoteri Keris Kamardikan
Kata ‘esoteri’ sangat lazim didalam dunia perkerisan, adalah untuk menyebutkan sesuatu yang ada di dalam keris. Esoteri atau adanya kekuatan mistik keris menjadi ketertarikan penggemar keris, karena harapan akan dapat membantu penyelesaian persoalan hidupnya. Hal itu adalah wajar, karena fenomena kegaiban keris sudah tertanam sejak dahulu.

Namun, dikaji lebih dalam lagi apa yang disebut esoteri keris atau mistik keris, dalam sisi pandang penalaran (analisis kejiwaan);

   1. Keris dapat dihayati sebagai jalinan persoalan yang kompleks dan sebagai pengetahuan yang amat sinengker (bhs Kawi; sinengker = penuh kerahasiaan). Tetapi bagaimana kompleks dan sinengkernya keris, suatu hal yang tak dapat diabaikan dalam 'penikmatan' kedalaman makna keris adalah, bahwa ‘sesuatu’ itu awalnya mengemuka sebagai gejala yang dapat ditangkap melalui penginderaan (visual). Lalu dicerna dalam pikiran dan terjadi ‘kesan’ (interpretasi) dari pengaruh adanya pengalaman si penikmatnya (adanya chemistry). Jika seorang mengenal keris sebagai sesuatu yang menakutkan maka kesan itu akan mempengaruhi. Daya keris secara subyektif adalah interpretation yang muncul oleh adanya perception – experience dan intellectual.

   2. 'Dhapur' (bentuk keris) dan 'pamor' (motif layer) keris sebagai gejala “Visual-estetis” adalah yang pertama-tama merangsang indera penglihatan dalam proses penikmatan keris. Aspek visual-estetis atau aspek kesenirupaan itu, merupakan hal yang amat penting dan tak bisa diabaikan dalam penikmatan keris. Kemungkinan pengolahan estetika bagian-bagian keris adalah yang justru menyebabkan timbulnya daya gaib keris. Dugaan ini dapat dijadikan dasar bagi penelaahan keris dari sudut pandang senirupa. Esoteri atau kekuatan tuah keris secara kontekstual; akan dapat dijelaskan dengan adanya relasi kesenirupaan yang terjadi dalam proses penciptaan dan proses penikmatan keris. (disarikan dari “Isi keris ditinjau dari sudut pandang senirupa”; Drs. Budhiardjo Wirjodirdjo.M.Sn., Makalah; 1989).

Karena seni budaya keris ‘kontemporer’ berkembang tidak sentralistis pada keraton lagi, apalagi kekuasaan keraton sudah beralih pada bentuk negara Republik, maka keraton tidak lagi mengangkat empu (tidak yoso empu), maka keris Kamardikan akan menuju suatu persepsi, yaitu sebagai ekspresi seorang seniman dalam mengutarakan maksudnya baik bermuatan filosofis, simbolis bahkan esoteric. Istilah keterpukauan dalam visual-estetis jika dicermati akan melahirkan interpretasi atau daya tersendiri (esoteric) yang merupakan ekspresi si pencipta.

Begitu pula keangkeran ‘pemberian gelar’ atau nama pada sebilah keris (a.l. Kyahi; Kanjeng Kyahi; Kanjeng Kyahi Ageng) yang dahulu resmi secara seremonial dalam tradisi keraton, misalnya untuk pengenang jasa keris (karena si pemilik berhasil menyelesaikan tugas raja), adanya tujuan dibuatnya keris karena suatu kebutuhan spiritual dalam mengatasi situasi (seperti untuk mengusir wabah penyakit), serta adanya peristiwa-peristiwa gaib yang muncul dan berinteraksi dengan pemilik keris.

Pada masa yang akan datang, gelar keris pada keris Kamardikan akan bergeser pemahaman sebagai penanda sebuah karya (judul) untuk membedakan karya yang satu dengan yang lainnya. Kemudian nama atau gelar keris dimaksudkan sebagai titian (jembatan) untuk mengungkapkan makna simbolis-esoteric dari apa yang menjadi konsep si pembuat keris itu.

Kritik dan pengkerdilan pasti muncul terhadap keris-keris Kamardikan yang keluar ‘pakem’ atau tidak menuruti pedoman pokok (eksentris). Namun dibalik kritik tersebut, sebaliknya keris Kamardikan kontemporer yang keluar dari ‘pakem’ akan menjadi kekuatan budaya konseptual yang lebih unggul untuk menembus pasar modern.

Kualitas Keris Kamardikan

Pada beberapa pameran keris, telah sering ditampilkan keris tangguh Kamardikan dalam variant klasik. (Disebut klasik karena keris yang ditampilkan masih merupakan duplikasi/mutrani bentuk keris tua seperti dapur Pasopati gaya PB X, Sardulo Mangsah - PB IX, Megantoro - Majapahit, dlsb).

Dimasa mendatang keris Kamardikan selain bentuknya yang mungkin mulai bergeser dari keris tua, juga akan unggul pula terhadap kualitas bahan, teknik dan konsepnya.

Ditinjau kualitas dan tekniknya bisa dinilai, pada:

1. Batasan tradisional, yo-mor-jo-si-ngun yang sudah mengendap (dianggap baku), akan tereksplorasi dalam karya keris Kamardikan kontemporer yang canggih. Empu yang terlatih menduplikat keris tua dan mampu menangkap nilai estetikanya secara tradisional akan "melahirkan keris yang unggul" dengan gaya khas karyanya.
2. Material/bahan, kemungkinan kembali pada teknik mendaur pasir pantai seperti proses pembuatan keris kuno, masih dapat dilakukan (eksperimen dari KRT. Subandi Suponingrat dan Dietrich Dresscher) atau mengimport besi atau baja dengan spesifikasi dan standar yang teruji dari luar negeri. Seperti bahan baja DAKS dari Daido Steel, seri Ns. 1045 dari Nippon Steel atau St. 60 dari Bohler serta beberapa jenis bahan nikel heterogen (9% Ni) untuk bahan pamornya yang setara dengan bahan dari meteor. Pada akhir-akhir ini eksperimentasi dengan mendatangkan bahan iron meteorite juga dilakukan, seperti iron meteorit dari Namibia – Afrika bernama Gibeon meteorit, Campo del Cielo dari Argentina, Nantan dari Guang Ji - China, Mundrabilla – West Australia, Baby Uruacu – Brazilia dan juga Muonionalusta dlsb. Standarisasi bahan tersebut akan dapat menuju suatu kepastian data spesifikasi sebagai jaminan standart kualitas (internasional).
3. Ekspresi, demi sistematika kerja yang tertata, bisa dilakukan ritual-ritual pada setiap tahapannya. Karena problemnya bukan tata cara ritual yang baku seperti tradisi kuno dengan mantera-mantera, akan tetapi lebih utama adalah sikap batin sang seniman. Empu Sukamdi lebih menyukai pelaksanaan tidak menggunakan sarana sesaji, akan tetapi dengan meditasi mengheningkan cipta untuk nembung (permisi kepada alam), njawab (menyapa lingkungan makhluk halus), panyuwunan (permohonan kepada Tuhan YME); Sementara empu Daliman lebih mantap dengan cara Katholik. Arca Bunda Maria sengaja dipajang di besalennya. Sementara beberapa seniman melakukan finishing touchnya masih dengan ritual kejawen seperti sepuh jilat (quenching dengan dijilat). Dari sikap batin itu, muncul greget atau keterpukauan yang tertanam pada keris sebagai perwujudan (imaji) bersatunya penghayatan, experience dan intelligency (Leo Tollstoy). "Mekanisme instingtif, inspiratif/ilham dan intuitif adalah yang sering terpakai dalam proses penciptaan karya seni dibandingkan dengan proses "formal" nya. Karena bagi seniman atau kreatornya, pengenalan obyektif atas dunia luar dengan segala azasnya, justru menjadi muatan esotericnya; sehingga karya yang diciptakan merupakan tangkapan atas sesuatu yang di luar dirinya yang dapat diesensikan sebagai memiliki persesuaian yang berada di dalam dirinya sendiri". (Drs. Budihardjo Wirjodirdjo M.Sn.)

Tidak berbeda dengan yang diutarakan pada tata cara tradisional yang sering dipenuhi prosesi panjang. Prinsip-prinsip dasar tata cara itu telah menjadi singkat tatkala dipraktekkan oleh para seniman (empu keris) Kamardikan. Mengacu prinsip: ada "subyek" (manusia) dan "obyek" (keris) yang diciptakan melalui sebuah proses penciptaan yang melibatkan imajinasi dan penjiwaannya. Bahwa perkerisan masa kini telah mampu menjamah fenomena esoteris, sebagai hal yang selalu dipertanyakan sebenarnya sudah terjawab.

Jika bercermin pada kepercayaan Jawa (kejawen), imajinasi yang menjamah sebuah benda akan tertanam oleh sebab induksi dari konsentrasi sang seniman (empu keris) sebagai kehendak, maka energi yang tertanam akan tertangkap oleh penikmatnya. Bisa berupa getaran/daya atau suatu gambaran/persepsi sesuai pengalaman dan inteligensi masing-masing penikmatnya. Gambaran atau kesan itu kita mengerti sebagai 'esoteric'.

Interpretasi esoteric, bisa digolongkan dalam 5 (lima) aliran, antara lain:

 1. Daya atau energi dari imajinasi yang tertanam pada keris dideteksi secara elektromagnetis (pendulum, aura dll). Dengan perabaan energi/daya akan menyentuh cakra-cakra manusia sebagai getaran dan atau penangkapan dengan foto aura. (Reiki; foto Kirlian dll).
 2. Daya yang di"personifikasi"kan melalui gambaran figur-figur makhluk halus atas dasar kekuatan visualisasi onderbewustnya (bawah sadar), hal ini terjadi karena ingatan dan wawasan. Maka ada “kawruh tayuh keris” (pengetahuan menebak kekuatan keris) seperti telah dikenal sebagai tradisi sampai kini dengan cara pokok yaitu mencari isyarat/impian.
 3. Penginderaan visual-estetis, munculnya suatu greget atau keterpukauan oleh hasil ekspresi dari wujud yang tertanam melalui proses intuitif, kreatif dan reka ulang ingatan/penghayatan dalam sentuhan pada karya.
 4. Pemahaman semiotik, antara lain simbol (tanda) yang dipahami sebagai maksud yang melahirkan harapan. Seperti lingkaran-lingkaran motif pamor udan-mas sebagai harapan kerejekian, garis lurus bertumpuk sebagai singkir dan metafora pamor rondoru (motif seperti gambar daun palm), blarak sinered, junjung drajat dll, sebagai symbol kemuliaan, derajat dan kemakmuran.   
5. Pesan filosofis sebagai esoteric yang dapat memberi keyakinan (pesan psikhis) pada pemiliknya. Dapur jangkung (bentuk keris luk 3) sebagai kekuatan yang dapat menumpu terjangkaunya cita-cita, dapur sengkelat (luk 13) untuk memantapkan keyakinannya dalam meraih kepangkatan, Kalamisani (keris lurus) sebagai ‘pameling’ (mengingatkan) agar selalu hidup dalam ketakwaan untuk mendapat ketentraman lahir dan batin, dll. (R. Ng. Atmotjurigo).

Melalui pengetahuan tentang simbolisme keris itu, maka senirupa keris dapat merupakan tanggapan terhadap nilai yang kompleks dari perkerisan itu sendiri, terkecuali fungsi keris dalam tradisi busana. Keris Kamardikan yang kontemporer mungkin saja tidak terikat lagi pada warangka standar, karena akan lebih mengutamakan kebebasan dalam ekspresinya dari sekedar berfungsi sebagai pelengkap busana.

Budaya perkerisan yang hiruk-pikuk dengan sejarah dan tradisi yang bersumber dari kekuasan/keraton tetap menjadi target konservasi. Sementara keris Kamardikan kontemporer akan semakin affluent karena diikuti pengembangan asesorinya secara kreatif, sehingga akan mudah dinikmati oleh para awam keris.

Seniman atau empu keris masa kini sudah cukup menguasai kaidah ‘pakem’ karena sering mutrani (menduplikasi), tidak diragukan ketika dihadapkan dengan keris-keris tua, karena pada hakekatnya penguasaan terhadap ‘pakem’ dan pemahaman terhadap nilai-nilai tradisi keris tetap menjiwai para empu dalam berkarya (essensi).

Keris akan menjadi kaya aliran sebagai "variant klasik" dan sebagai "karya kontemporer", bukan mati salah satunya, melainkan akan tumbuh dimasa mendatang sebagai sebuah bentuk pelestarian.

"Tingkat intelektual seniman keris Kamardikan, sikap batin dan keinginannya mengutarakan suatu maksud (seperti filosofis, simbolis, reka inspirasi dan hal-hal esoteric lainnya) dalam 'penciptaan' karya, merupakan proses yang sama seperti pada 'proses penciptaan' keris tua oleh para empu keris jaman dahulu". (sequencetial - essensinya sama tetapi beda kurun waktu penciptaannya).

Pergeseran budaya sentralistik keraton (pengagungan) mungkin akan terjadi menuju budaya progresif dengan pemaknaan yang bebas, seperti munculnya muatan kritik sosial pada post¬modern (happening art, environmental art, dll.) dalam senirupa Barat. Perkembangan keris Kamardikan kontemporer tidak akan lepas dari tuntutan pemenuhan sisi ketertarikan (interesting demand), untuk beradaptasi dengan modernisasi, dan akan menjadi sebuah senirupa yang baru lahir dari Nusantara.


Senin, 08 April 2013

Keris Budha Purwocaritro

Sebelum membicarakan keris Budha-purwocaritro, kita sepakati dahulu bahwa yang dimaksud keris Budha-purwocaritro dalam konteks ini adalah bukan keris keropos yang berasal dari keris larungan (keris yang dibuang ke sungai). Namun merupakan keris penemuan dalam tanah yang memiliki bentuk dan ciri-ciri khusus. Keris Budha-purwocaritro ini keris yang terpendam dijaman dahulu, kemudian ditemukan oleh pencari pasir, pembuat bata atau petani dengan secara tidak sengaja, yang kemudian dikoleksi oleh para pecinta keris melalui pengumpul dari daerah-daerah.

Keris budha-purwocaritro bentuknya bermacam-macam. Namun sudah menjadi stereotip bahwa keris yang memiliki bentuk yang khas ini oleh penggemar keris untuk yang pendek disebut Bethok budha dan Jalak budha, dan untuk yang berbentuk ramping panjang disebut keris Singasari. Karena belum diketemukan catatan yang mendukung fakta, maka tangguh keris-keris ini disebut tangguh jaman “purwocaritro” (jaman antah-berantah). Dalam kamus Bausastra Jawa-Indonesia, S. Prawiroatmodjo; Purwo artinya permulaan dan Carito artinya cerita. Tangguh purwocaritro adalah jaman dimana telah dimulainya suatu kegiatan pembuatan senjata keris, tetapi kepastian tahunnya tidak diketahui.

Daerah Penemuan
Diutarakan oleh seorang kolektor di Jakarta, keris Budha-purwocaritro ada yang berasal dari tepian muara anak sungai Bengawan Solo. Seperti daerah Pati, Kudus, Lasem, dan Tuban. Beberapa pedagang keris di Solo menyatakan tahun 1998 sering ada penemuan di Sragen dan Sungai Progo. Seorang yang pernah menekuni keris Budha-purwocaritro, menyatakan bahwa penemuan tidak hanya di tepi sungai melainkan sering pula di persawahan, seperti di Karawang, Subang (Jawa Barat), Cimanuk-Indramayu juga di Jawa Timur seperti Kediri dan pinggiran sungai Berantas.

Ketika ada informasi ditemukan pecahan gerabah atau porselin, maka biasanya ditemukan perkakas rumah tangga dan keris yang terpendam. Benda-benda lain yang ditemukan biasanya, kerangka manusia yang sudah menjadi kapur yang keras dan berkeping-keping. Kerangka tersebut belum menjadi fosil batu, karena usianya masih dibawah 2000 tahun. Penemuan pada bekas kuburan tua ini, oleh komunitas pengumpul benda temuan ini disebut “bekal kubur”.

Dari tahun ke tahun penemuan di sungai-sungai sangatlah banyak. Pada musim kemarau di salah satu sungai di daerah Kuningan (Jawa Barat), pernah terdampar keris Naga Jangkung dengan lebar gonjo hampir sejengkal, menyerupai perahu.

Di tepi sungai Cimanuk – Indramayu tersangkut cangkul secara tidak sengaja oleh pencari pasir, sebilah tombak Pataka. Sedang di daerah Mojo Agung – Jawa Timur diketemukan jalak Budha dengan pamor pedaringan kebak.

Pada temuan di Jawa Timur (tepian sungai Brantas) juga sering ditemukan kalung manik-manik (bead), uang keping tembaga, pecahan porselin, perkakas logam dan lain-lainnya. Pegumpul keris sering membeli dari penggalian longsoran tanah di pinggiran sungai Bengawan Solo. Antara lain dari temuan di anak sungai Bengawan Solo di daerah Lasem. Diperkirakan longsoran itu adalah kompleks kuburan yang luruh karena erosi sungai. Tidak jarang pula ditemukan oleh pembuat bata dan genteng pada ‘sungai mati’, (yang dimaksud ‘sungai mati’ adalah lokasi sungai yang sudah berubah atau serong dan tertimbun tanah menjadi daratan), jika di gali dalamnya berupa tanah liat yang bagus untuk bahan tembikar. Selain itu sering pula pencari pasir menemukan keris dan benda lainnya di tengah sungai yang sedang mengering, bahkan terkadang ditemukan di dalam relung-relung cadas.

Bahwa sungai pada masa itu merupakan lalulintas dan pusat keramaian menjadi alasan utama sebagai tempat tenggelamnya keris-keris ini. Disamping itu daerah-daerah yang berdekatan dengan sungai dipastikan banyak peninggalan alat-alat praktis kebutuhan manusia terutama senjata. Baik itu senjata sebagai alat bela diri maupun keris sebagai ageman (status social dan piandel).

Sungai sebagai lalulintas juga memungkinkan terjadinya peperangan atau perampokan, sehingga beberapa senjata terjatuh dan terbengkalai di tepi sungai.

Kuburan-kuburan tua sering di temukan dipinggiran sungai, biasanya posisi kerangka kepala selalu menghadap ke Timur sesuai tradisi penguburan pada masa itu. Berita para pengumpul keris Budha-purwocaritro dari tahun ke tahun menyatakan, penemuan di muara Bengawan Solo dan tepian sepanjang sungai Brantas masih memegang rekor. Sering pula, keris Budha-purwacaritro jenis pendek (Bethok, Jalak) terbenam pada lahan persawahan seperti di Kediri, Tulung Agung, desa Panggul, Trenggalek, Pare dan di daerah Mojo Agung pinggiran kota Malang. Daerah-daerah ini kemungkinan adalah merupakan pusat keramaian pada masa itu. Keris pendek selebar sandal jepit dengan hiasan pendita kembar ditemukan di sungai kecil Lodoyo desa Sumber Agung – Blitar (1975?), kemudian disimpan di desa Jimbe (terakhir saya berkunjung tahun 1993) letaknya diantara Tulung Agung dan Blitar. Hingga saat ini disimpan di samping rumah kepala desa dengan papan bertuliskan “Sanggar Kekunoan”. Oleh penduduk disekitarnya keris itu disebut keris Umyang Jimbe.

Sanggar ini diziarahi oleh mereka dari segala penjuru kota yang percaya pada tuah Umyang Jimbe. Begitu pula, apakah keris Budha-purwocaritro yang kita bicarakan dalam tulisan ini adalah betul di buat pada jaman Singosari?

Profesi Spesialis yang di”agung”kan

Dalam perspektif historis Asia diperkirakan abad 5M (Masehi) perkembangan teknologi logam maju pesat dan menjadi spesialisasi pekerjaan. Sejarah di pulau Jawa, pada jaman Mataram kuno (Mataram Hindu) disebutkan berjayanya dinasti Sanjaya yang dapat diketahui melalui Prasasti Canggal (daerah Kedu) pada 732M, Prasasti balitung 907M dan Kitab Carita Parahyangan. Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu telah mengalami kejayaan ekonomi, kemajuan teknologi logam, kesenian dan budaya. Seni pahat besi diatas batu dibuktikan dengan adanya candi-candi. Perkembangan teknologi logam telah menjadi prioritas utama dari kerajaan ini. Raja-raja yang memerintah Mataram Hindu adalah Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya disebutkan sebagai raja yang pertama dan selanjutnya berurutan adalah Sri Maharaja Rakai Panangkaran, Rakai Panunggalan, rakai Warak, Rakai Garung, Rakai Pikatan, Rakai Kayu Wangi, Rakai Ratu Humalang dan terakhir Rakai Watukara Dyah Balitung.

"Dinasti Syailendra yang diperkirakan berdiri abad ke 8 adalah kerajaan beragama Budha. Dari sumber sejarah, kerajaan Syailendra dapat diketahui melalui peninggalan candi Kalasan dan beberapa prasasti, diantaranya adalah Prasasti Kalasan 778M yang menyebutkan seorang raja dari dinasti Syailendra telah mengalahkan raja sang Rakai Panangkaran dan mendirikan Sanggha Budha di desa kalasan, berupa “Candi Kalasan”.

"Dalam masa kerajaan Mataram Hindu para pembuat artefak logam dikenal dengan istilah sesuai dengan jenis bahannya seperti panday tamraga atau pandai tamra (pande tembaga), panday kangsa (pande perunggu), panday wsi (pande besi, panday mas (pande mas). Dalam masa yang lebih muda pande emas disebut dhatudagdha seperti disebutkan dalam kitab Slokantara. Bermacam profesi para pande logam sesuai dengan spesialisasi jenis barang yang dihasilkan seperti : Panday Dang (pembuat dandang), limus galuh (pembuat benda perhiasan emas), panday sisinghen (pembuat senjata). Pada masa kerajaan Majapahit tukang pembuat senjata tersebut disebut ‘palalandep’ (landep artinya tajam). Sejak masa itu para tukang pembuat keris diberi julukan Mpu.”

Dari spesialisasi profesi tersebut, keris selain memiliki fungsi tehnomik sebagai senjata tikam, juga memiliki sosioteknik yaitu sebagai tanda status social. Keris juga berfungsi sebagai benda ritual atau ideologis dinyatakan pada penemuan Prasasti Poh 905M : “sajining manusuk sima wdihan sang hyang brahma yu 1 mas ma 1 wdihan sang hyang susuk kulumpang yu 4 mas ma 4 wadung 1 rimwas 1 patupatuk 1 lukai 1 tamilan 1 linggis 4 tatah 1 wangkyul 1 kris 1 kampit 1 gulumi 1”. Dalam kaitannya dengan upacara sima atau upacara patok tanah.

Catatan-catatan etnografis masa lalu menunjukkan bahwa empu keris atau pande besi secara khusus memiliki kedudukan penting dalam masyarakat karena dianggap memiliki kesaktian dan tidak sembarang atau setiap orang dapat menjadi empu. Oleh karena itu sangat menarik bahwa, seperti disebutkan di dalam kitab Slokantara, pande besi termasuk salah satu golongan masyarakat ‘candala’. Tempat pembuatan benda-benda logam pada abad ke 9 di sebut ‘gusalyan’ (besalen) dari istilah ‘paryyen’ (jawa kuno) menjadi ‘paron’. Tempat-tempat tersebut dianggap sacral karena memiliki aspek simbolik-regilius dimana ‘paron’ adalah lambang ’bumi’ dan ‘palu’ merupakan jatuhnya bahan besi (meteor) yang ditumbukkan, sebagai lambang terrestrial dan celestial yaitu simbolik dari persatuan “bapa akasa” dan “ibu bumi”. Artinya dalam pengertian ini adalah bahwa selain fungsi teknomik dan sosioteknik, keris juga dianggap sebagai benda sakral yang dihasilkan dari pemahaman religious tentang ‘manunggaling kawulo gusti’.

Pada keris Budha-purwocaritro, symbol-symbol itu sangat terlihat. Antara lain : memiliki desain teknomik tinggi sebagai senjata tikam dengan gonjo yang luar biasa kerasnya. Gonjo yang didasari filosofi “lingga-Yoni” pada keris ini jelas merupakan fungsi teknomik, yaitu untuk menahan genggaman tangan ketika menusukkan bilahnya. Desain sosioteknik yang kreatif, seperti pluntiran kembang kacang, greneng yang plastis bagai rumbai-rumbai (greneng menyanyi) yang dinamis dan kruwingan-kruwingan yang sangat estetis mencerminkan symbol kebesaran. Penggarapan yang professional pada keris Budha-purwocaritro yang masih bersatu dengan ukir (tangkai) emasnya adalah symbol status social dari pemiliknya pada masa itu.

Keterkaitan dengan Sejarah kerajaan-kerajaan

Geografi historis menyatakan bahwa Mataram Kuno terletak di Jawa Tengah dengan pusatnya disebut Bhumi Mataram yang merupakan tempat yang subur dikelilingi pegunungan seperti : pegunungan Serayu, gunung Prau, gunung Sindoro, gunung Sumbing, gunung Ungaran, gunung Merapi, gunung Merbabu, gunung Sewu, gunung Kidul, pegunungan Kendang dan lalulintas sungainya antara lain adalah sungai Bogowonto, sungai Progo, sungai Elo dan yang terlebar adalah sungai Bengawan Solo.

Peninggalan-peninggalan masa dinasti Sanjaya adalah candi-candi di dataran tinggi Dieng (dari asal kata 'Di Hyang' yang artinya 'kediaman nenek moyang') antara lain adalah candi Arjuna, Semar, sebelah kiri berturutan candi Srikandi, Puntodewo dan Sembodro. Kemudian peninggalan dari Sri Maharaja Rakai Pikatan yang mendirikan candi Loro Jonggrang, Prambanan.

Peninggalan dari kerajaan dinasti Syailendra yang beragama Budha antara lain candi Kalasan 778M dan pada masa kejayaan raja Samarottungga membangun candi Borobudur, dimana setelah Borobudur selesai raja Samarottungga meninggal dunia, digantikan putranya Balaputra Dewa dari permasuri Pramodhawardhani.

Raja Mataram terakhir adalah Sri Maharaja Rakai Wawa, pada waktu itu memerintah dibantu oleh penasehatnya yaitu Mpu Sindok yang menjabat sebagai Rakryan I Hino.

Rakryan I Hino adalah jabatan tertinggi dibawah raja, yang dibawahnya adalah Rakryan I Halu dan Rakryan I Sirikan. Pola jabatan tri tunggal ini berlanjut hingga pada jaman kerajaan Majapahit.

Mpu Sindok kemudian naik tahta dan memindahkan kerajaannya dari Jawa Tengah ke Jawa Timur tepatnya disamping muara sungai Brantas dengan nama Medang Kamulan, ber-ibukota Watan Mas. Catalan yang pernah saya temukan adalah bahwa pemindahan disebabkan karena bencana gunung Merapi menghancurkan tatanan wilayah kerajaan (1006M?). Wilayah kekuasaan kerajaan Medang Kamulan mencakup Nganjuk (sebelah barat), Pasuruan (sebelah timur), Surabaya (sebelah utara) dan Malang (sebelah selatan).

Dalam kejayaannya Medang Kamulan menguasai seluruh Jawa Timur. Sumber berita ini didapat dari tulisan berita asing dari China dan India, serta beberapa prasasti seperti: Prasasti desa Tangeran (sekarang Jombang) menyatakan Mpu Sindok memerintah bersama permaisuri Sri Wardani Pu Khin mulai tahun 933M; Prasasti daerah Bangil; Prasasti Mpu Sindok dari Lor (dekat Nganjuk) tahun 939M dimana Mpu Sindok memerintahkan membuat candi Jayamrata dan Jayastambho di desa Anyok Lodang sebagai tugu kemenangan. Nama kerajaan Kamulan juga disebut oleh Dr. J.G. de Casparis: Prasasti Indonesia, terutama di bagian yang menjelaskan tentang upacara pemujaan leluhur Srada bagian De betekenis van Kamulan" hal. 70.

Kerajaan Medang Kamulan pada akhirnya dihancurkan oleh Sriwijaya yang bekerja sama dengan kerajaan kecil di Jawa Tengah, yaitu Kerajaan Wurawari (di daerah Madiun?). Raja yang berkuasa waktu itu adalah Dharmawangsa keturunan dinasti Mpu Sindok. Penyerangan ke Medang Kamulan dilakukan pada saat raja Dharmawangsa mengadakan perkawinan putrinya dengan Erlangga, anak raja Udayana dari pulau Bali. Dharmawangsa tewas, namun Erlangga muda dapat melarikan diri bersama rombongan setianya yang dipimpin oleh Narottama.

Pada tahun 1016-1019M, Erlangga mengolah batin di hutan Wonogiri, mempersiapkan segala sesuatunya untuk merebut kekuasaan. Akhirnya pada tahun 1028-1035M, Erlangga mulai menghadapi lawan-lawannya dari kerajaan Wurawari, kerajaan Wengker dan Raja Putri yang bernama Rangda Indirah. Peperangan dengan Rangda Indirah diceritakan melalui cerita rakyat Calon Arang. Erlangga berhasil menjadi raja menyandang gelar Rakai Halu Sri Lakeswara Dharmawangsa Erlangga Teguh Ananta Wirakramatunggadewa, hingga 1048M. Medang Kamulan akhirnya berjaya. Pada akhir pemerintahan Erlangga, untuk menghindari perang saudara peta kekuasaannya dibagi menjadi dua yaitu kerajaan Kediri dengan ibukota Daha diperintah Jaya Warsa dan kerajaan Jenggala dengan ibukota Kahuripan diperintah oleh Jayeng Rana. Lokasi kerajaan dibelah sungai Brantas sebagai batas pemisahnya. Konsepnya diatur oleh mpu Baradah. Sejarah ini diketahui melalui prasasti-prasasti antara lain: Prasasti Keting 1104M, Prasasti Ngantang 1135M, Prasati Jaring 1181M dan Prasasti Kamulan 1194M.

Berita tentang kerajaan Kediri yang didapat dari berita asing China dalam buku Chu fan chi karangan Chu ju kua (1220M) dan buku Ling wa tai ta (1778M) yang ditulis kembali oleh Chu ik fei, banyak menerangkan kondisi Kediri pada abad 12M sampai 13M. Dalam buku tersebut raja Jayabaya dinyatakan sebagai raja terbesar kerajaan Kediri. Membangun singgasana baru di desa Pamenang, sehingga pada masa Jayabaya kerajaan Kediri sering disebut kerajaan Pamenang. Peninggalan kesusasteraan dan keseniannya sangat bermutu, peninggalan epigrafik itu seperti kitab Bharatayudha karya mpu Sedah dan mpu Panuluh, kitab Arjuna Wiwaha karya mpu Kanwa, Smaradhana karya mpu Dharmaja, kitab Hariwangsa, kitab Wrttassancaya dan Lubdhaka karya mpu Tanakung dan kitab Bhomakavya yang tidak jelas pengarangnya. Kitab Bharatayudha diilhami perang saudara antara kerajaan Kediri dan Jenggala. Raja Jayabaya selain sebagai raja Kediri terbesar, juga terkenal sebagai ahli nujum dan meninggalkan beberapa tulisan yang disebut Jongko Joyoboyo. Dalam ramalannya raja Jayabaya menyatakan akan ada ratu adil di negara ini.

Pada masa pemerintahan raja Jayabaya juga dikenal mpu panday wsi yang serba bisa dan berprofesi sebagai pujangga dan ahli strategi bernama mpu Kuturan, dinyatakan dalam kisahnya empu Kuturan merantau ke pulau Bali dengan wahana daun kluwih yang dalam bahasa Jawa; 'nitih godong kluwih' dan membawa serta binatang kesayangannya yaitu kijang mas. Kemudian pada jaman Majapahit oleh Mpu Supa keris Nagasasra dimuati pula gambar kijang mas dipahatkan dibawah badan naga, sebagai monumen untuk menghargai empu Kuturan.

Pada Prasasti Kamulan 1194M diketahui raja Kediri terakhir adalah raja Kertajaya (1190-1222M) atau dengan sebutan Ratu Dandang Gendis. Pada masa akhir pemerintahannya kestabilan kerajaan menurun, karena raja Kertajaya mengurangi hak-hak kaum Brahmana, sehingga kaum Brahmana melakukan pertentangan. Saat itulah Ken Arok di Tumapel (dekat kota Malang) telah menjadi raja kecil setelah membunuh Akuwu Tunggul Ametung dengan keris ciptaan empu Gandring yang sebelumnya dibunuh pula. Ken Arok merebut Kendedes yang cantik dari Tunggul Ametung dan menjadi raja di Tumapel. Hingga kemudian datang kaum Brahmana yang tersingkir dalam pertentangannya dengan raja Kertajaya dari Kediri. Mereka minta bantuan kepada Ken Arok, maka terjadilah peperangan di dekat Ganter yang disebut perang Ganter (1222M). Pasukan Kediri hancur, sedangkan raja Kertajaya tak diketahui rimbanya. Saat itulah Ken Arok berjaya dan merubah kerajaan Tumapel menjadi kerajaan Singasari (1222M), serta merta Ken Arok sebagai raja bergelar Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi dengan memproklamirkan dinasti barunya bernama dinasti Girindrawangsa. Hal ini dilakukan untuk meninggalkan jejak masa lalunya. Sumber-sumber sejarah tentang Singasari diambil dari Kitab Pararaton, Kitab Negarakretagama, prasasti-prasasti pada tahun 1248M, berita dari China tentang kaisar Kubilai Khan yang pernah menyerang kerajaan Singasari serta peninggalan purbakala seperti candi Kidal, candi Jago dan candi Singasari.

Pada pemerintahan raja Kertanegara (1268-1292M), kerajaan Singasari dinyatakan berjaya dan meluaskan daerah hingga pulau Bali. Kerajaan Singasari memperluas hubungan luar negerinya hingga ke Campa. Mengadakan ekspedisi Pamalayu (1275M dan 1286M) sebagai upaya raja Kertanegara melakukan perluasan menjadi Nusantara, serta untuk melemahkan Sriwijaya. Jawa Barat dapat dikuasai pada 1289M.

Raja Kertanegara berbaik terhadap lawan-lawan politiknya seperti mengangkat Ardharaja, putra Jayakatwang (keturunan Raja Kediri) menjadi menantu, serta Raden Wijaya cucu Mahesa Cempaka, juga sebagai menantu yang pada akhirnya menjadi raja Majapahit.

Kerajaan Singasari sudah merupakan embrio Nusantara, (pemikiran ini kemudian dilanjutkan oleh Majapahit, Gajah Mada) kebudayaannya berkembang dengan seni pahat yang indah seperti ditemukannya patung Ken Dedes sebagai jilmaan Dewi Prajnaparamita lambang kesempurnaan ilmu, patung raja Kertanegara sebagai Jaka Dolok yang ditemukan dekat Surabaya serta patung Amoghapasa perwujudan raja Kertanegara yang ketika itu dikirim ke Dharmacraya ibukota kerajaan Melayu (sekarang berada di Museum Nasional Jakarta). Pada prasasti Butak (1294M) juga diceritakan tentang masa keruntuhan Singasari dan tentang perjuangan Raden Wijaya ketika merintis berdirinya kerajaan Majapahit.

Keris PENDEK dan Keris RAMPING
Keris-keris pendek sudah ditemukan ada yang berpamor, akan tetapi banyak yang keleng, besinya berserat berwarna kelabu kehijauan dengan bentuk tanpa sogokan, disebut Bethok Buddha dan yang memakai sogokan disebut Jalak Buddha,

Kita juga mengenal keris sajen dengan bentuk tangkai berbadan manusia, dalam beberapa buku Belanda disebut keris Majapahit, namun ada pula yang menyebut "keris sajen", atau keris picit. Keris sajen justru jarang sekali ditemukan dalam kontek keris penemuan terpendam ini. Perlu penelitian, apakah betul keris sajen adalah bentuk keris yang disebutkan dalam Prasasti Poh (905M). Atau mungkin jaman yang lebih muda, karena tradisi ruwatan berkembang lagi dengan pesat pada jaman Majapahit, seperti ruwatan Pangur (meratakan gigi anak-anak memasuki usia 8 th), ruwatan Bersih Desa, upacara Srada (nyadran) yang juga menggunakan keris sebagai salah satu sesajinya.

Pada prasasti-prasasti yang telah ditemukan, bentuk keris tidak pernah dijelaskan. Penemuan prasasti yang menyebutkan kata "kris" atau keris hanya terdapat dalam prasasti-prasasti tua jaman Mataram Kuno pada abad 8 dan 9, seperti Prasasti Kwak 1 pada 879M; Prasasti Taragal 880M (diperkirakan kata Tegal dari Taragal); Prasasti Taji 901M dan Prasasti Poh 905M. Prasasti-prasasti yang ditemukan setelah itu tidak lagi menyinggung kata "kris" atau keris melainkan tentang keadaan dan situasi kerajaan serta beberapa kisah raja-raja.

Namun penuturan Suprapto Suryodarmo 1986 yang dikutip dari makalah; Peran Keris Dalam Sejarah, Drs. Bagyo Suharyono MHum. disebutkan:"keris yang tadinya berbentuk gemuk pendek berbadan lebar cenderung seperti keris Budha atau Katga pada masa ini berubah ramping walaupun juga masih tampak dempak dan sangkuk. Contohnya keris-keris Jenggala dan Singhasari, dalam relief di Candi Panataran, keris sudah lebih ramping bentuknya".

Kata gemuk pendek keris Budha mungkin yang dimaksud adalah Bethok dan Jalak Budha. Serta memiliki pengertian sebagai sebutan jaman pembuatannya masa kerajaan beragama Buddha. Dimana abad 8 - 9M kerajaan yang ada adalah Mataram Kuno, dinasti Syailendra, dimana raja Samarotungga (812-833M) membangun Borobudur sebagai indikasi jaman kerajaan beragama Buddha. Penyebutan keris Jenggala dan Singhasari kemungkinan secara umum keris sudah berbentuk ramping. Akan tetapi keris budha-purwocaritro yang ditemukan di Lasem pinggiran anak Bengawan Solo, sungai Porong dan di daerah Salam - Gemolong juga berbentuk ramping dengan prototype yang sama. Padahal lokasi ini berada di Jawa Tengah, keris ramping juga ditemukan di tepian Bengawan Solo desa Kedung Banteng - Sragen yang bukan daerah kerajaan Singasari. Karena ditemukan masih di sekitar sungai Bengawan Solo, bisa jadi indikasi tangguh keris itu masih tangguh Mataram Kuno.

Walau disebutkan pada candi Penataran ada relief gambaran keris yang sudah berubah bentuk dari pendek menjadi bentuk yang panjang. Bisa jadi memang sebelumnya sudah ada perubahan bentuk yang berkembang menjadi panjang. Seperti penemuan di tepian sungai Brantas yang juga berbentuk panjang, serta dapat diindikasikan sebagai tangguh Medang Kamulan atau Kediri. Sesuai dengan beberapa kutipan dibawah ini;

"Keturunan dinasti Syailendra yaitu Mpu Sindok memindahkan kerajaan dengan sebutan kerajaan Medang Kamulan di dekat muara sungai Brantas, dari Jawa Tengah ke Jawa Timur".

"Selanjutnya pemerintahan raja Erlangga keturunan raja Udayana dari Bali, menantu Dharmawangsa raja terakhir medang Kamulan meluaskan perdagangan hingga ke Benggala, Celyon, Chola, Campa dan Burma. Pada Prasasti Kolagen dinyatakan Erlangga memerintahkan untuk pembuatan tanggul-tanggul ditepi sungai Brantas agar kapal-kapal besar dapat masuk menyusuri lalulintas sungai”.

Pada akhir pemerintahan Erlangga (1048M), ia membagi pemerintahannya menjadi kerajaan Kediri dan kerajaan Jenggala dengan pemisah sungai Brantas.

Sungai Brantas masih disebut lagi pada prasasti tersebut digambarkan sebagai bandar laut dan pusat keramaian. Hal ini merupakan indikasi jaman Medang Kamulan, bahwa keris budha-purwocaritro lebih banyak ditemukan di area sungai, dibandingkan di daratan.

Berpijak dari data-data tersebut diatas menjelaskan bahwa keris ramping atau panjang belum tentu diciptakan pada jaman Jenggala dan Singasari, melainkan sudah diciptakan pada jaman Mataram kuno-Medang Kamulan.

Sesuai fungsi keris saat itu diciptakan sebagai senjata tikam yang pada akhirnya berkembang sebagai benda ideologis. Perkembangan benda ideologis pasti termuati nilai falsafah dan seni. Kembang kacang yang dibuat seperti belalai gajah adalah transformasi dari bentuk Ganesha, sebagai dewa lambang keilmuan dan teknologi.

Simbol-simbol ideologis bisa dilihat pada relief fragmen keris ataupun tombak. Seperti koleksi alm. Harjonegoro berbentuk bethok ber-relief fragmen Arjuna Wiwaha mengangkat cerita dari karya sastra empu Kanwa. Bethok tersebut bernama K.K. Arjuno Wiwoho, tangguh Kediri.


Keris asli atau pemalsuan

Menentukan keaslian keris tua ini butuh jam terbang yang tinggi, hingga paham ciri-ciri yang dapat menjadi pedoman. Empu Sukamdi dari Solo cenderung mengamati dari aspek estetika. Bahwa apakah keris tua itu tangguh jaman Budha, Mataram kuno ataupun Singasari memiliki rumus baku keris yang pasti. Antara lain rumus condong leleh sebagai pedoman menilai sebilah keris (condong leleh adalah kemiringan sebilah keris). Merupakan rumusan yang mungkin dalam seni rupa barat setara dengan apa yang disebut "Golden Section". Jika diteliti dari simpul-simpul garis condong leleh keris Jalak Buddha hingga keris tangguh Surakarta, dipastikan memiliki pedoman pokok yang tetap dan konsisten. Pedoman pokok itu biasanya dimiliki oleh seorang ahli keris karena keterlatihan "rasa" atau "pakulinan" (bhsJw; kebiasaan). Jika keris tidak sesuai rancang bangun yang baku, maka diduga keris itu palsu (buatan sekarang yang diproses seperti keris tua).

Pedoman condong leleh bisa menjadi panduan karena, yaitu: Pertama, adalah pengaruh adanya produksi warangka dan pendok. Demi kepraktisan, masa itu dibuatlah blad kemiringan (condong leleh), dari keris karya mpu master. Kedua, empu-empu berikutnya ketika membuat keris, merasa lebih nyaman ngepaske (merujuk) pada warangka yang mengikuti standar condong leleh itu. Pengaruh dari produksi massal warangka (sheat) maupun pendoknya (cover penutup kayu) memang memungkinkan terjadinya keseragaman condong leleh pada setiap jamannya.

Keris budha-purwocaritro sudah ditemukan ada yang berpamor miring. Selain pamor miringnya yang spesifik, pada pamor beras utah, teknik pelapisan dari keris-keris budha-purwocaritro juga tidak sama dengan teknik pada tangguh yang lebih muda. Jika dipelajari, pedaringan kebak pada keris budha-purwocaritro pecahan wos wutahnya lebih banyak menyatu, alurnya seperti telah terpotong-potong lembut.

Teknik pamor wos wutah (beras tumpah) adalah pola dasar pamor mlumah, cara pelapisannya menghasilkan berjenis-jenis nama pamor lain jika dilakukan cacahan dan perusakan agar meliuk-liuk. Begitu pula teknik wos wutah dari tangguh Surakarta yang divariasi dengan kubangan-kubangan gebagan (gedagan) dan cacahannya memiliki ciri yang khas. Teknik wos wutah keris budha-purwocaritro (Singasari?) dan tangguh Surakarta memiliki kecanggihan yang berbeda. Pada keris budha-purwocaritro tidak menampakkan gelombang gebagan (nginden) walau tekniknya juga dengan kubangan gebagan, ini menunjukkan bahwa kubangannya setelah selesai digebag, dilipat sekali lagi sebelum disatukan dengan baja (ati, slorok). Jika pecahan pamor mlumahnya diamati dengan cermat, keris dari kedua tangguh ini sebetulnya sulit dipalsukan atau ditiru.

Pecahan pamor wos wutah merupakan "aksara tali rasa" (dalam ilmu kejawen). Alurnya ritmik dan dinamis. Terbentuknya pecahan pamor itu 'sangat alamiah' itulah yang disebut pamor jwalono, yang sudah ahli bisa membaca dengan "rasa" karena aksara itu merupakan ilham Illahi.

Kwalitas teknik keris penemuan palsu dapat dibedakan, antara lain pada: detail penggarapan serta tehnik pelipatan besi yang tidak kreatif. Seperti telah diutarakan, bahwa profesionalisme dan spesialisasi yang "diagungkan" pada abad 8 - 9M, mengkondisikan terciptanya keris yang "agung" pula, seperti pada keris-keris budha-purwocaritro.

Selain itu, keris budha-purwocaritro yang asli jika diamati korosinya, ada beberapa ciri yang tidak dapat ditiru yaitu efek korosi berupa "untug cacing" serta sobekan berserat atau sering disebut "sesetan" besi.

Satu hal yang mengherankan pada keris budha-purwocaritro yang asli adalah antara bilah, gonjo dan metuknya sangat rapat seolah menyatu. Gonjo wulungnya terbuat dari bahan yang istimewa. Keris budha-purwocaritro yang ditemukan di Jawa Barat sering kali hanya tinggal gonjo wulungnya saja, bilahnya sudah habis. Sementara keris prosesan baru tidak bisa mencapai kerapatan gonjo, bilah dan metuk yang sempurna.

Jika dibeli dalam keadaan kotor bisa dibedakan yang terpendam di daerah basah memiliki patina keras berwarna hitam legam seperti aspal, sementara yang di daerah kering terbungkus lagi oleh korosi berwarna coklat bata. Patina keris yang asli, selain keras juga berbau wengur yang amat sangat jika direndam dalam air jeruk. Pendapat ini dikuatkan oleh Sumartono (kolektor) dan David Mangkujoyo (ahli jamas pusaka) yang mengatakan, bahwa patina pada keris budha-purwocaritro yang asli selain berbau wengur, jika dibakar patinanya hanya membara, sementara keris yang palsu jika dibakar patinanya keluar nyala apinya.

Jika ditemukan masih menyatu dengan hiasan emas, akan lebih mudah menentukan keasliannya, karena bahan emasnya berbeda dengan emas jaman sekarang. Apalagi biasanya pengerjaannya sangat rumit dan sulit. Jika keris budha-purwocaritro didapat masih berikut hiasan-hiasan emasnya, akan lebih mudah untuk membedakan keasliannya. Karena emas tua tidak dapat ditiru, terutama pada warna patina emasnya yang kemerahan (bhs.Jw; ngunir bosok) dan terkadang sebaliknya berwarna kuning muda (bhs.Jw; tai enom).

Lagi pula, tehnik kriya emas yang rumit sangat menguji kesabaran. Karena di jaman dahulu pengabdian dan kelayakan hidup para empu sudah terjamin. Inilah penyebab panday mas sekarang tidak dapat mencapai kwalitas tinggi seperti di jaman dahulu. Harga keris budha-purwocaritro yang masih utuh sangat mahal, karena usianya yang hampir 1000 tahun. Berbeda dengan kolektor domestik, pembeli dari luar negeri seperti dari Prancis, Jerman maupun Belanda lebih suka keris yang masih berpatina atau berkarbon tebal. Mereka memperlakukannya seperti barang-barang perunggu, tidak dibersihkan melainkan langsung dicoating (dilapisi pelindung terbuat dari cairan toloen dicampur plastik pvc). Patina dari keris juga dicoating dengan bahan tertentu untuk menjaga nilai autentiknya. Pasir dan tanah yang menempel disikat pelan-pelan dengan air, hingga batas patina yang keras dan legam, setelah kering disemprot cairan tersebut.

Sesuai penuturan Hibertus Sadirin: "Secara arkeologis harus memperhatikan nilai-nilai keautentikan yang terkandung didalamnya, termasuk dalam hal ini patina benda cagar budaya yang tidak boleh rusak karena konservasi".(Suatu Kajian Tehnis Arkeologis dari Aspek Tehnologi Pembuatan dan Perawatannya, Hr. Sadirin, 1997).

Keris budha-purwocaritro masih menyimpan misteri, sehingga belum ada pengamat keris Indonesia tertarik untuk mengadakan penelitian mendalam. Padahal meneliti keris budha-purwocaritro dari temuan satu dengan temuan yang lain sering mendapatkan kesimpulan yang berbeda atau bahkan berbantahan dengan dasar-dasar "tangguh" ataupun "pengetahuan keris" yang sudah mapan.

Keris budha-purwocaritro selain memiliki tehnik penggarapan yang prima, ternyata telah mencatatkan suatu nilai, bahwa patron keris tersebut telah mempengaruhi "estetika" keris-keris pada jaman berikutnya.