Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Juli 2013

Masjid Merah Panjunan

Di Cirebon selain terdapat Masjid Agung Sang Ciptarasa juga terdapat mesjid tua yang ukurannya lebih kecil, yaitu Mesjid Merah Panjunan. Masjid ini fungsinya hanya untuk tempat shalat sehari-hari, tidak dipakai untuk ibadah shalat Jumat. Mesjid yang berada di tengah pemukiman padat ini secara administratif berada di wilayah Kampung Panjunan, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemah Wungkuk. Masjid berada di sudut barat daya perempatan jalan. Sebelah utara merupakan Jl. Kolektoran, sebelah timur merupakan ruas Jl. Masjid Abang. Di sebelah selatan terdapat bangunan untuk Posyandu dan rumah penduduk serta sebelah barat merupakan pemukiman.

Bangunan masjid berdiri di atas lahan seluas 150 m2. Latar belakang sejarah mesjid yang berdiri di perkampungan Arab ini telah berumur sekitar 524 tahun. Pada tahun 1480 Pangeran Panjunan membangun surau, yang kemudian dikenal dengan nama Mesjid Merah Panjunan. Surau ini dibangun 18 tahun sebelum pembangunan Mesjid Agung Sang Cipta Rasa. Dengan demikian, surau ini merupakan tempat ibadat umat Islam kedua di Cirebon, setelah Tajug Pejlagrahan di Kampung Sitimulya. Dikenal dengan nama demikian karena dinding Mesjid ini dibangun dari susunan bata merah ekspose, sementara nama Panjunan menunjuk pada nama kampung di mana mesjid berada.
Pembangunan Mesjid Merah Panjunan berkaitan dengan migrasi keturunan Arab ke Cirebon pada sekitar abad ke-15. Dalam Babad Cirebon disebutkan pada masa pemerintahan Sunan Gunung Jati, surau ini kerap digunakan untuk pengajian dan musyawarah Wali Sanga. Ketika Kesultanan Cirebon diperintah oleh Panembahan Ratu (Cicit Sunan Gunung Jati), pada sekitar tahun 1549, halaman mesjid dipagar dengan kuta  kosod (bata disusun tanpa lepa). Pada pintu masuk dibangun sepasang gapura candi bentar dan pintu panel jati berukir. Keadaan tata ruang mesjid yang masih terawat ini bertahan hingga sekarang. Atap sirap pada tahun 2001-2002 dipugar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jawa Barat. Pada awalnya mesjid ini dikelola oleh pihak Kesultanan Kasepuhan, namun sekarang sudah diserahkan pengelolaannya kepada DKM Panjunan.
Kompleks mesjid dikelilingi pagar bata setinggi 1,5 m. Teknin penyusunan pagar bata ini menggunakan sistem gosok (kuta kosod). Di bagian timur pagar terdapat gerbang dengan bentuk bentar. Pagar berwarna merah bata. Di sebelah utara bangunan utama masjid terdapat bangunan baru berukuran 10 x 2 m. Bangunan ini merupakan kamar mandi, tempat wudhu, dan tempat bersuci lainnya.
Bangunan utama mesjid berukuran 25 x 25 m dilengkapi halaman yang sangat sempit ± 10 x 1 m. Teras depan di sisi timur yang juga digunakan sebagai tempat shalat setiap waktu merupakan pengembangan. Serambi mesjid berukuran 6 x 8 m. Lantai dari bahan keramik berwarna merah marun. Dinding merah bata dihiasi dengan piring keramik Eropa. Di sini terdapat 12 tiang sebagai pendukung atap. Pada sisi barat terdapat gerbang berbentuk koriagung. Gerbang ini adalah pintu bangunan masjid kuno. Di kiri-kanan terdapat hiasan piring-piring keramik Eropa. Di ruang ini terdapat 12 buah  tiang yang mendukung atap genteng.
Ruang utama mesjid kuno berukuran 8 x 12 m berlantai tegel. Dinding merupakan bata dengan teknik penyusunan gosok. Di ruang ini terdapat 4 soko guru dan 10 tiang penyangga atap genteng yang berbentuk tumpang. Ruang ini hanya difungsikan pada hari-hari besar Islam saja. Di selatan bangunan ini ada ruangan yang dimanfaatkan sebagai gudang.

Jumat, 12 Juli 2013

Martabat Tujuh

ADALAH terkenal di kalangan Para Wali dengan tingkatan kedudukannya di Alam Ruhaniyah iaitu suatu yang berupa hirarki tingkatan dan kuasa keruhanian. Tingkatan kekuasaan yang tertinggi yang Allah SWT berikan hanya kepada satu hamba sahaja dan dia takkan digantikan kecuali dia wafat.

Mereka di gelarkan dengan gelaran Qutub karana telah mencapai maqam Qutbaniyat yakni maqam yang khas dikalangan Para Wali. Perumpamaan yang dapat hamba berikan adalah Para Wali itu diibaratkan seperti Para Nabi dan Para Qutub itu pula diibaratkan seperti Para Rasul di kalangan Ummat Muhammadiyah ini. Wallahu A’lam.

Menurut sebuah Hadits yang telah dikeluarkan oleh Hadhrat Abu Na’im dan Hadhrat Ibnu ‘Asakir yang meriwayatkan daripada Hadhrat ‘Abdullah Ibnu Mas’ud ra, berkata bahawa Hadhrat Baginda Nabi Muhammad SAW telah bersabda, “Sesungguhnya bagi Allah ‘Azza Wa Jalla ada 300 orang dari kalangan manusia ini yang hati mereka itu seperti hati Nabi Adam as, dan bagi Allah itu ada 7 orang di kalangan manusia yang hati mereka itu seperti hati Nabi Ibrahim as, dan bagi Allah itu ada 40 orang di kalangan manusia yang hati mereka itu seperti hati Nabi Musa as, dan bagi Allah itu ada 5 orang di kalangan manusia yang hati mereka itu seperti hati Jibril as, dan bagi Allah itu ada 3 orang di kalangan manusia yang hati mereka itu seperti hati Mikail as, dan bagi Allah itu ada seorang di kalangan manusia yang hati mereka itu seperti hati Israfil as.

Apabila wafat yang seorang ini, maka Allah akan menggantikannya dengan melantik salah seorang dari yang 3 orang itu. Apabila wafat seorang dari yang 3 orang itu maka Allah akan menggantikannya dengan melantik salah seorang dari yang 5 orang itu.

Apabila wafat seorang dari yang 5 orang itu maka Allah akan menggantikannya dengan melantik salah seorang dari yang 7 orang itu. Apabila wafat seorang dari yang 7 orang itu maka Allah akan menggantikannya dengan melantik salah seorang dari yang 40 orang itu.

Dan apabila wafat seorang dari yang 40 orang itu maka Allah akan menggantikannya dengan melantik salah seorang dari golongan yang 300 orang itu. Dan apabila wafat seorang dari yang 300 orang itu, maka Allah menggantikannya dengan melantik salah seorang dari kalangan orang ramai.

Maka dengan Para Wali yang tersebut itulah seseorang itu dihidupkan dan dimatikan, diturunkan hujan, dihidupkan tumbuh-tumbuhan dan dihalang bala dari menimpa ummat manusia ini.” Hadhrat ‘Abdullah Ibnu Mas’ud telah ditanya, “Bagaimana dikatakan bahawa dengan Para Wali itulah seseorang itu dihidupkan dan dimatikan.?”

Beliau menjawab, “Kerana Para Wali itu memohon kepada Allah supaya Allah meramaikan bilangan manusia, maka manusia pun menjadi bertambah ramai. Mereka itu berdoa kepada Allah agar orang-orang yang zalim dan tidak berbelas kasihan dibinasakan, maka mereka itupun dihancurkan. Mereka memohon supaya diturunkan hujan, maka diturunkanlah hujan. Mereka memohon agar disuburkan bumi, maka suburlah bumi. Mereka itu berdoa, maka dengan doa mereka itu dijauhkan berbagai rupa bala.”

Bilangan Para Wali tidak dapat ditentukan jumlahnya yang sebenar karana mereka adalah Ahli-Ahli Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan hanya Dialah yang tahu berapakah jumlah bilangan yang sebenar Para AuliyaNya. Namun bilangan mereka yang khusus dari kalangan Para Wali itu adalah tetap sepertimana yang ada dinyatakan dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadhrat Abu Na’im Rahmatullah ‘alaih bermafhum,

“Orang-orang yang terbaik dari kalangan Ummatku pada setiap kurun itu ialah seramai lima ratus orang.”

Mereka adalah orang-orang yang ‘Arif tentang Allah serta tekun membuat kebaikan dan menjauhkan maksiat dan nafsu syahwat. Ingatan mereka hanya tetap kehadhrat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadhrat Imam Muslim dan At-Tirmizi Rahmatullah ‘alaihima bahawa Hadhrat Baginda Nabi Muhammad SAW telah bersabda yang mafhumnya,

Telah memperoleh kemenangan golongan Al-Mufarridun.” Nabi SAW ditanya, “Siapakah mereka itu, Ya! Rasulullah SAW.? Nabi SAW bersabda,             
“Mereka itu ialah orang- orang yang sangat suka menghabiskan masa untuk berzikir mengingati Allah. Zikir itu tidak memberatkan mereka, maka mereka itu akan datang di Hari Qiyamat dalam keadaan ringan.”

Sebuah Hadits ada menyatakan yang mafhumnya,
“Satu golongan dari Ummat Islam ini sentiasa dapat menegakkan kebenaran, tidak akan membahayakan mereka orang yang menentang mereka itu sehinggalah datang ketentuan urusan Allah Ta’ala.”

Dalam sebuah Hadits yang telah diriwayatkan oleh Hadhrat An-Nasa’I dan Hadhrat Ibnu Hibban Rahmatullah ‘alaihima, bahawa Hadhrat Baginda Nabi Muhammad SAW telah bersabda,

“Sesungguhnya ada hamba-hamba dari kalangan Hamba Allah yang dipandang tinggi dan sangat mulia oleh Para Nabi dan Syuhada.” Hadhrat Baginda Nabi Muhammad  SAW telah ditanya, “Siapakah mereka itu, Ya! Rasulullah SAW.? Mudah- mudahan kami juga kasihkan mereka. Hadhrat Baginda Nabi Muhammad SAW bersabda, “Mereka itu ialah kaum yang berkasih sayang antara satu dengan yang lain dengan Nur Allah tanpa memandang kepada harta kekayaan dan keturunan. Wajah-wajah mereka adalah bercahaya dan mereka itu adalah berada di atas limpahan Cahaya Allah. Mereka tidak akan berasa takut walaupun manusia lainnya berasa takut dan mereka tidak akan berasa dukacita bila manusia lain berdukacita.”

Hadhrat Mujaddidul Millat Maulana Ashraf ‘Ali Thanwi Rahmatullah ‘alaih menyatakan bahawa, istilah-istilah Tasawwuf terbahagi kepada dua jenis, yaitu :

Yang pertama, apa yang bertakluk dengan maksud, iaitu apa yang terkandung di dalam Syari’at, yang mana hakikat segala istilah yang digunakan dalam Tasawwuf adalah untuk merujuk kepada Syari’at.
Yang kedua,  istilah-istilah yang digunakan untuk perkara-perkara tambahan. Ianya digunakan untuk menyatakan perkara-perkara yang di luar Syari’at, sebagai contohnya Tajdid Imtsal, Tauhid Wujudi, Shughal, Rabitah dan sebagainya.

Perkara ini merupakan sesuatu yang halus di kalangan Para Sufi yang mulia, yang mana bagi menyembunyikan rahsia mereka dari pengetahuan umum, maka mereka pun menggunakan berbagai istilah. Jikalau tidak, tentulah ianya akan bercanggah dengan Al-Quran dan Hadits, maka wujudlah perkataan-perkataan yang baharu. Sebahagian ‘Ulama yang tidak mengerti dengan penggunaan istilah mereka telah membantah ke atas mereka, yang mana pada hakikatnya memang perkara itu tidak berlaku secara Waqi’, bahkan ianya hanya berlaku pada sudut kefahaman seseorang.

Hadhrat Syeikh ‘Ali Bin ‘Utsman Al-Hujwiri Rahmatullah ‘alaih menyatakan di dalam kitabnya Kashful Mahjub bahawa, menurut Hadhrat Syeikh Abu ‘Abdullah Muhammad Bin ‘Ali Al-Hakim Al-Tirmizi Rahmatullah ‘alaih, ada terdapat sebanyak 4.000 (empat ribu) Wali yang sentiasa hidup di dunia ini dan tidak dapat diketahui oleh orang ramai kerana mereka dilindungi dan disembunyikan oleh Allah Ta’ala, dan mereka tidak mengenal antara satu dengan yang lain.

Beliau menyatakan lagi bahwa terdapat 300 (tiga ratus) orang yang bergelar Akhyar, serta 40 (empat puluh) orang yang bergelar Abdal, 7 (tujuh) orang yang bergelar Abrar, 4 (empat) orang yang bergelar Awtad, 3 (tiga) orang yang bergelar Nuqaba dan seorang yang bergelar Qutub dan Ghauts. Mereka yang termasuk dalam golongan tersebut itu adalah mengenali diri mereka antara satu sama lain.

Adapun pembahagian jenis-jenis Wali dinyatakan seperti berikut seperti yang telah dinyatakan di dalam kitab-kitab.
  •     Wali Abdal
  •     Wali Abrar
  •     Wali Akhyar
  •     Wali Aqtab
  •     Wali Autad
  •     Wali ‘Imad
  •     Wali Ghauts
  •     Wali Mufradan
  •     Wali Maktuman
  •     Wali Nujaba
  •     Wali Nuqaba
  •     Wali Qutub


1). WALI ABDAL
Terdapat 40 (empat pulu)h orang Wali Abdal kesemuanya. Dan 22 (dua puluh dua) orang dari mereka berada di Negara Syam yakni Damsyik, Syria dan lapan belas dari mereka berada di Negara Iraq. Menurut sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal Rahmatullah ‘alaih bahawa sekali Hadhrat Sayyidina ‘Ali Karramallahu Wajhahu telah ditanyakan orang tentang Ahli Syam yakni Para Abdal. Hadhrat Sayyidina ‘Ali Karramallahu Wajhahu telah berkata bahawa dia telah mendengar Hadhrat Baginda Nabi Muhammad SAW bersabda :
“Wali Abdal berada di Negeri Syam dan mereka berjumlah empat puluh orang kesemuanya. Apabila seorang daripada mereka mati, Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menggantikan tempatnya dengan seorang yang lain. Dengan menerusi keberkatan mereka maka diturunkan hujan dan membantu mereka menghadapi musuh-musuh dan menjauhkan azab bagi para penduduk Syam.”

2). WALI ABRAR
Kebanyakan Ulama mengatakan bahawa Wali Abdal adalah Wali Abrar.

3). WALI AKHYAR
Terdapat 500 (lima ratus) orang Wali Akhyar kesemuanya dan adakalanya meningkat sehingga tujuh ratus orang. Kedudukan mereka ada di merata tempat di atas muka bumi ini. Terdapat Hussain pada nama mereka.

4). WALI AQTAB
Terdapat 2 jenis Wali Aqtab, anatara lain :

4.1. AQTAB MU‘AIYINAH
- Terdapat satu Qutub Al-‘Alam yang dikenali juga sebagai Qutub Akbar atau Qutub Al-Irshad atau Qutub Al- Aqtab atau sebagai Qutub Al-Madar. Namanya di Alam Ghaib ialah ‘Abdullah dan memiliki dua orang pembantu. Di bawahnya terdapat 12 (dua belas) orang Wali Qutub. Tujuh orang dari Wali Qutub tersebut menduduki tujuh benua dan dinamakan mereka sebagai Qutub Aqlim dan lima orang dari Wali Qutub tersebut tinggal di Negara Yaman. Mereka dinamakan sebagai Qutub Wilayat.

4.2. AQTAB GHAIR MU‘AIYINAH - Terdapat di setiap bandar atau kariah, seorang Qutub yang akan mendoakan kesejahteraan dan memohon dijauhkan dari segala bala dan musibah.

5). WALI AUTAD
Tedapat 4 orang kesemuanya dan mereka menduduki empat penjuru alam.

6). WALI IMAD
Terdapat 4 orang kesemuanya dan mereka juga menduduki empat penjuru alam dan
bernama Muhammad.

7). WALI GHAUTS
Hanya seorang sahaja Ghauts pada setiap zaman dan sebahagian Ulama mengatakan bahawa dia juga adalah Qutub Al-Aqtab dan sebahagian Ulama mengatakan tidak. Beliau tinggal di Mekah dan sebahagian Ulama mengatakan bahawa dia tidak tinggal di Mekah.

8). WALI MUFRADAN
Seseorang Wali Ghauts yang menuju kepada maqam Qutub Al-Aqtab akan terlebih dahulu melalui kedudukan Wali Fard atau dikenali sebagai Mufradan atau Mufarridan.

9). WALI MAKTUMAN
Mereka adalah Auliya yang tersembunyi dan tidak diketahui keadaan mereka.

10). WALI NUJABA
Mereka berjumlah 70 orang kesemuanya dan tinggal di Negara Mesir serta terdapat
Hassan pada nama mereka.

11). WALI NUQABA
Mereka berjumlah 300 (tiga ratus) orang kesemuanya dan mereka tinggal di Negara
Maghribi (Maroko) dan mereka bernama ‘Ali.

12). WALI QUTUB
Terdapat 2 jenis Wali Qutub, yaitu :

12.1. QUTUB AL-IRSHAD - Yang pertama adalah mereka yang memberi khidmat petunjuk, memperbaiki hati, mentarbiyah nafsu, membimbing kepada jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan makbul di sisiNya. Mereka dikenali sebagai Ahli Irshad. Dari kalangan mereka ini yang paling sempurna dan terbaik di zaman masing-masing dan memiliki limpahan Faidhz yang sempurna, maka mereka digelar sebagai Qutub Al-Irshad. Mereka adalah Naib Para Anbiya yang hakiki. Hati-hati manusia bercahaya dan diberkati kerana mereka dan syarat bagi memperolehi keberkatan tersebut dari mereka adalah dengan meletakkan I’tiqad serta kepercayaan yang penuh terhadap mereka. Keupayaan mereka seumpama Nubuwwat.

12.2. QUTUB AT-TAKWIN - Kemudian ada golongan yang kedua yaitu mereka yang berkhidmat mengislahkan manusia dan mentadbir urusan keagamaan dan sebagai penghindar bala dan musibah yang mana dengan kehendak Batin mereka dengan izin Allah SWT akan memperbetulkan urusan-urusan tersebut. Mereka digelar sebagai Ahli Takwin.

Dari kalangan mereka itu yang paling tinggi dan kuat kedudukannya dan menjadi penghukum atau penyembuh bagi mereka yang lain, maka mereka itu digelar sebagai Qutub At-Takwin. Hal kehidupan mereka sepertimana kehidupan Hadhrat Baginda Nabi Besar Muhammad SAW dan menjalankan urusan pentadbiran. Hadhrat Khidhr a.s menduduki maqam seperti ini.

Dengan kedudukan mereka yang tinggi maka terzahirlah perkara-perkara yang ajaib dan perkara ini adalah lazim. Keadaan mereka tidak seperti Ahli Irshad kerana pada Ahli Irshad tidaklah semestinya berlaku perkara-perkara yang menyalahi adat. Ahli Irshad memiliki Karamat dalam bentuk yang berbeza di mana orang- orang awam tidak dapat memahaminya, bahkan ianya adalah urusan yang berupa Zauq dan perasaan Syauq. Seseorang yang berhajat dan berkhidmat dengan mereka ini dalam suatu jangkamasa yang panjang akan beroleh faedah yang besar dan adalah mereka ini mengetahui keadaan tersebut.

Perkataan Qutub pada pengertian bahasa ‘Arab bererti penghulu kaum manakala menurut istilah Ahli Tasawwuf dan Tariqat, Qutub bererti Penghulu bagi Para Auliya Allah SWT. Mereka berada pada tingkatan yang teratas dari kebanyakan Para Wali serta terhimpun padanya kesempurnaan Syari’at, Tariqat, Ma’rifat dan Haqiqat. Para Qutub menjadi tempat rujukan dan petunjuk bagi Para Wali yang lain.

Mereka membantu menyembuhkan penyakit-penyakit hati yang ada dalam diri Para Wali dan orang-orang yang menuju kepada Kewalian. Kedudukan mereka sangat tinggi dan tidak mudah dicapai melainkan dengan Rahmat dari Allah SWT. Mereka ada di tiap pelosok muka bumi dan tidak seorang pun yang mengenali mereka kecuali bagi orang-orang yang benar-benar ikhlas ingin mengenali mereka dan mengambil istifadah ruhaniah yakni faedah keruhanian dari mereka

Di dalam kitab Jami’ Karamatil Auliya dinyatakan bahawa Wali Qutub diberi gelaran ‘Abdullah dan tingkatan Wali sesudahnya adalah Wali Aimmah yang berjumlah dua orang saja. Seorang diberikan nama ‘Abdur Rabb dan seorang lagi bernama ‘Abdul Malik. Dua orang Wali inilah yang nantinya akan menggantikan Wali Qutub ketika dia wafat meninggalkan dunia.

Di bawah keduanya terdapat Wali Autad yang berjumlah 4 (empat) orang dan mempunyai tugas yang berlainan pada kawasan yang berlainan. Seorang di Timur, seorang di Barat, seorang di Utara dan seorang di Selatan. Wali Autad adakalanya terdiri dari kalangan kaum perempuan.

Tingkatan selanjutnya di bawah mereka adalah Wali Abdal dan mereka berjumlah 7 (tujuh) orang dan ditugaskan menjaga tujuh iklim benua di Dunia. Kemudian ada tingkatan Wali Nuqaba iaitu Wali Pengganti sebanyak 12 (dua belas) orang di setiap peredaran masa dan jumlah mereka tidak akan pernah bertambah mahupun berkurang sesuai dengan jumlah Buruj Falak yang berjumlah 12 (dua belas). Kemudian terdapat juga di bawah mereka tingkatan Wali Nujaba yang berjumlah lapan orang dan tingkatan yang terakhir sekali adalah tingkatan Hawariyun. Wallahu A’lam.

Menurut Hadhrat Syeikh Muhammad Hisham Kabbani Quddisallahu Sirruhu terdapat 5 (lima) tingkatan Qutub yang tertinggi yaitu:
  •     Qutub
  •     Qutub Al-Bilad
  •     Qutub Al-Mutasarrif
  •     Qutub Al-Irshad
  •     Qutub Al-Aqtab


Menurut beliau, Qutub adalah seseorang yang Allah SWT kurniakan keupayaan menerusi Hakikat Muhammadiyah untuk menghuraikan ilmu pengetahuan tentang hakikat Nabi SAW sebelum kewujudannya sehinggalah diutuskan ke Dunia. Qutub juga menghuraikan cabang- cabang ilmu pengetahuan yang baru menerusi hati Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Qutub Al-Bilad adalah bertanggung jawab untuk mentadbir urusan di dunia dan memastikannya berjalan lancar.

Dia mengetahui tentang keperluan jasmani setiap bangsa manusia dan bukan manusia. Qutub Al-Mutasarrif diberikan kemuliaan untuk mengarahkan Malaikat kepada manusia atau makhluk yang berlainan dan dia bertanggungjawab untuk berkhidmat kepada makhluk sehinggakan kepada ulat di dalam batu. Segala kemuliaan ini diperolehinya menerusi Hadhrat Baginda Nabi Muhammad SAW. Qutub Al-Irshad pula bertanggungjawab untuk memberikan nasihat dan petunjuk kepada 124.000 (seratus dua puluh empat ribu) Para Wali manakala Qutub Al-Aqtab pula bertanggungjawab mengawasi kesemua Wali Aqtab

Di atas sekelian Wali Qutub dan Aqtab adalah Ghaut's dan Rohaniahnya adalah yang paling dekat dengan Nabi SAW pada zamannya. Ghauts ada pada setiap zaman dan dia diibaratkan seperti suatu terusan yang akan membawa sesiapa sahaja yang dikehendakinya kepada Hakikat Muhammadiyah dan Hakikat Allah SWT.

Hadhrat Khwajah Khwajagan Ghautsul Tsaqilain Shah Muhammad Bahauddin Naqshband Rahmatullah ‘alaih merupakan salah seorang dari mereka sepertimana Hadhrat Qutubul Aqtab Ghautsul A’zam Syeikh ‘Abdul Qadir Al- Jailani Rahmatullah ‘alaih, Hadhrat Ghautsul Aqtab Khwajah ‘Abdul Khaliq Ghujduwani Rahmatullah ‘alaih dan begitu juga Hadhrat Imam Rabbani Ghauts As- Samdani Mujaddid Alf Tsani Syeikh Ahmad Faruqi Sirhindi Rahmatullah ‘alaih.

Mereka datang silih berganti pada setiap zaman sama ada mereka diketahui ataupun tidak diketahui. Para Wali Qutub, Aqtab dan Ghauts menghasilkan limpahan ilmu kerohanian terus dari Hadhrat Baginda Nabi Muhammad SAW menerusi hati ke hati. Mereka diberikan pengetahuan tentang segala perkara dan kejadian yang berlaku di atas muka bumi yang berkaitan dengan angin ribut, gempa bumi dan hujan yang lebat.

Mereka selalunya dari keturunan yang mulia Ahli Keluarga Hadhrat Baginda Nabi Muhammad  SAW yaitu menerusi Hassani dan Hussaini. Meskipun jika seseorang yang dikurniakan Qutub atau Aqtab atau Ghauts tidak mempunyai pertalian keturunan Hassani mahupun Hussaini, mereka adalah orang-orang yang Allah SWT hendak meninggikannya seperti mana Hadhrat Salman Al-Farisi Radhiyallahu ‘Anhu yang mendapat pengiktirafan sebagai Ahli Keluarga Hadhrat Baginda Nabi Muhammad .

Meskipun beliau adalah seorang A’jam yang datang berhijrah dari Parsi dan memeluk Islam setelah bertemu dengan Hadhrat Baginda Nabi Muhammad SAW, namun kerana ketinggian Iman dan amalannya yang Ikhlas, beliau telah diisytiharkan sebagai Ahlul Bait Hadhrat Baginda Nabi Muhammad SAW. Adapun kedudukan yang lebih tinggi dari yang tersebut di atas, adalah Sultanul Auliya dan ia merupakan kedudukan yang tertinggi bagi seseorang

Wali Allah. Mereka diberikan kewajipan untuk memenuhi keperluan hati dan ruhani manusia. Mereka membawa raja-raja di Dunia kepada Allah SWT. Sultanul Auliya merupakan Khalifah Allah yang sebenar di atas muka bumi pada zamannya dan dia merupakan wakil Hadhrat Baginda Nabi Muhammad SAW sementara 124.000 (seratus dua puluh empat ribu) Para Wali yang lain adalah sebagai mewakili kesemua 124.000 (seratus dua puluh empat ribu) Para Nabi dan Rasul ‘Alaihimus Solatu Wassalam. Wallahu A’lam.

Walau bagaimanapun, satu perkara yang perlu sentiasa dipegang oleh sekelian Ahli Tariqat bahawasanya Hadhrat Baginda Nabi Muhammad SAW adalah Khatamun Nabiyyin yang bererti Penutup Sekelian Nabi. Ini bermaksud, sesudah Hadhrat Baginda Nabi Muhammad SAW, tidak akan ada lagi sebarang Nabi atau Rasul yang baru akan muncul dengan membawa sebarang Syari’at yang baru sehinggalah ke Hari Qiyamat yang mana inilah merupakan ‘Aqidah sekelian Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang telah disepakati.

Jika ada yang mendakwa dirinya sebagai Nabi atau Rasul atau mendakwa membawa suatu Syari’at yang baru untuk ummat manusia dan ianya bercanggah dengan Syari’at yang telah dibawakan oleh Hadhrat Baginda Nabi Muhammad SAW, maka adalah diyakini bahawa ianya tertolak, manakala orang yang mengeluarkan dakwaan tersebut adalah sesat dan jika dia mengajak manusia lain maka adalah dia itu sesat lagi menyesatkan, dan adalah mereka itu Dajjal-Dajjal kecil yang sememangnya ditakdirkan wujud sesudah kewafatan Hadhrat Baginda Nabi Muhammad SAW di kalangan Ummat sepertimana Musailamah Al-Kazzab dan ini merupakan suatui ujian atas keimanan dan I’tiqad di kalangan Ummat Islam.

Adapun Hadhrat Baginda Nabi ‘Isa a.s yang akan muncul menjelangnya Hari Qiyamat bukanlah Nabi yang baru kerana Nabi Isa a.s telah pun dihantar 600 tahun sebelum kelahiran Hadhrat Baginda Nabi Muhammad SAW dan pada usia 33 tahun telah diangkat ke langit.  Nabi Isa a.s tidak akan membawa sebarang Syari’at yang baharu, sebaliknya beliau akan turun sebagai seorang Ummat Hadhrat Baginda Nabi Muhammad SAW dan melaksanakan Syari’at Islam dengan Haq.





Kamis, 20 Juni 2013

Ziarah Kubur

Rasulullah SAW bersabda:
Dari Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb, mereka berdua berkata : Muhammad Bin ‘Ubaid menuturkan kepada kami: Dari Yaziid bin Kasyaan, ia berkata: Dari Abu Haazim, ia berkata: Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW berziarah kepada makam ibunya, lalu beliau menangis, kemudian menangis pula lah orang-orang di sekitar beliau. Beliau lalu bersabda: “Aku meminta izin kepada Rabb-ku untuk memintakan ampunan bagi ibuku, namun aku tidak diizinkan melakukannya. Maka aku pun meminta izin untuk menziarahi kuburnya, aku pun diizinkan. Berziarah-kuburlah, karena ia dapat mengingatkan engkau akan kematian”.
(HR. Muslim no.108, 2/671)

Faidah:
Haram hukumnya memintakan ampunan bagi orang yang mati dalam keadaan kafir (Nailul Authar [219], Syarh Shahih Muslim Lin Nawawi [3/402]). Sebagaimana juga firman Allah Ta’ala:

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah SWT) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya)” (QS. At Taubah: 113)

Berziarah kubur ke makam orang kafir hukumnya boleh (Syarh Shahih Muslim Lin Nawawi, 3/402). Berziarah kubur ke makam orang kafir ini sekedar untuk perenungan diri, mengingat mati dan mengingat akhirat. Bukan untuk mendoakan atau memintakan ampunan bagi shahibul qubur. (Ahkam Al Janaaiz Lil Albani, 187).

Jika berziarah kepada orang kafir yang sudah mati hukumnya boleh, maka berkunjung menemui orang kafir (yang masih hidup) hukumnya juga boleh (Syarh Shahih Muslim Lin Nawawi, 3/402).

Hadits ini adalah dalil tegas bahwa Ibunda Nabi SAW mati dalam keadaan kafir dan kekal di neraka (Syarh Musnad Abi Hanifah, 334).

Tujuan berziarah kubur adalah untuk menasehati diri dan mengingatkan diri sendiri akan kematian (Syarh Shahih Muslim Lin Nawawi, 3/402).

An Nawawi, Al ‘Abdari, Al Haazimi berkata: “Para ulama bersepakat bahwa ziarah kubur itu boleh bagi laki-laki” (Fathul Baari, 4/325). Bahkan Ibnu Hazm berpendapat wajib hukumnya minimal sekali seumur hidup. Sedangkan bagi wanita diperselisihkan hukumnya. Jumhur ulama berpendapat hukumnya boleh selama terhindar dari fitnah, sebagian ulama menyatakan hukumnya haram mengingat hadits,

“Allah SWT melaknat wanita yang sering berziarah kubur” (HR. At Tirmidzi no.1056, komentar At Tirmidzi: “Hadits ini hasan shahih”)

Dan sebagian ulama berpendapat hukumnya makruh (Fathul Baari, 4/325). Yang rajih Insya Allah, hukumnya boleh bagi laki-laki maupun wanita karena tujuan berziarah kubur adalah untuk mengingat kematian dan mengingat akhirat, sedangkan ini dibutuhkan oleh laki-laki maupun perempuan (Ahkam Al Janaaiz Lil Albani, 180).

Ziarah kubur mengingatkan kita akan akhirat. Sebagaimana riwayat lain dari hadits ini:

“Berziarah-kuburlah, karena ia dapat mengingatkanmu akan akhirat” (HR. Ibnu Maajah no.1569)

Ziarah kubur dapat melembutkan hati. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang lain:

“Dulu aku pernah melarang kalian untuk berziarah-kubur. Namun sekarang ketahuilah, hendaknya kalian berziarah kubur. Karena ia dapat melembutkan hati, membuat air mata berlinang, dan mengingatkan kalian akan akhirat namun jangan kalian mengatakan perkataan yang tidak layak (qaulul hujr), ketika berziarah” (HR. Al Haakim no.1393, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jaami’, 7584)

Ziarah kubur dapat membuat hati tidak terpaut kepada dunia dan zuhud terhadap gemerlap dunia. Dalam riwayat lain hadits ini disebutkan:


“Dulu aku pernah melarang kalian untuk berziarah-kubur. Namun sekarang ketahuilah, hendaknya kalian berziarah kubur. Karena ia dapat membuat kalian zuhud terhadap dunia dan mengingatkan kalian akan akhirat” (HR. Al Haakim no.1387, didhaifkan Al Albani dalam Dha’if Al Jaami’, 4279)

Al Munawi berkata: “Tidak ada obat yang paling bermanfaat bagi hati yang kelam selain berziarah kubur. Dengan berziarah kubur, lalu mengingat kematian, akan menghalangi seseorang dari maksiat, melembutkan hatinya yang kelam, mengusir kesenangan terhadap dunia, membuat musibah yang kita alami terasa ringan. Ziarah kubur itu sangat dahsyat pengaruhnya untuk mencegah hitamnya hati dan mengubur sebab-sebab datangnya dosa. Tidak ada amalan yang sedahsyat ini pengaruhnya” (Faidhul Qaadir, 88/4).

Disyariatkannya ziarah kubur ini dapat mendatangkan manfaat bagi yang berziarah maupun bagi shahibul qubur yang diziarahi (Ahkam Al Janaiz Lil Albani, 188). Bagi yang berziarah sudah kami sebutkan di atas. Adapun bagi  shahibul qubur yang diziarahi (jika muslim), manfaatnya berupa disebutkan salam untuknya, serta doa dan permohonan ampunan baginya dari peziarah. Sebagaimana hadits:


“Aisyah bertanya: Apa yang harus aku ucapkan bagi mereka (shahibul qubur) wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Ucapkanlah: Assalamu ‘alaa ahlid diyaar, minal mu’miniina wal muslimiin, wa yarhamullahul mustaqdimiina wal musta’khiriina, wa inna insyaa Allaahu bikum lalaahiquun (Salam untuk kalian wahai kaum muslimin dan mu’minin penghuni kubur. Semoga Allah merahmati orang-orang yang telah mendahului (mati), dan juga orang-orang yang diakhirkan (belum mati). Sungguh, Insya Allah kami pun akan menyusul kalian” (HR. Muslim no.974)

Ziarah kubur yang syar’i dan sesuai sunnah adalah ziarah kubur yang diniatkan sebagaimana hadits di atas, yaitu menasehati diri dan mengingatkan diri sendiri akan kematian. Adapun yang banyak dilakukan orang, berziarah-kubur dalam rangka mencari barokah, berdoa kepada shahibul qubur adalah ziarah kubur yang tidak dituntunkan oleh Rasulullah SAW. Selain itu Rasulullah SAW juga melarang qaulul hujr ketika berziarah kubur sebagaimana hadits yang sudah disebutkan. Dalam riwayat lain disebutkan:

“Dan janganlah mengatakan perkataan yang membuat Allah SWT murka” (HR. Ahmad 3/38,63,66, Al Haakim, 374-375)

Termasuk dalam perbuatan ini yaitu berdoa dan memohon kepada shahibul qubur, ber-istighatsah kepadanya, memujinya sebagai orang yang pasti suci, memastikan bahwa ia mendapat rahmat, memastikan bahwa ia masuk surga, (Ahkam Al Janaiz Lil Albani, 178-179)

Tidak benar persangkaan sebagian orang bahwa ahlussunnah atau salafiyyin melarang ummat untuk berziarah kubur. Bahkan ahlussunnah mengakui disyariatkannya ziarah kubur berdasarkan banyak dalil-dalil shahih dan menetapkan keutamaannya. Yang terlarang adalah ziarah kubur yang tidak sesuai tuntunan Rasulullah SAW yang menjerumuskan kepada perkara bid’ah dan terkarang mencapai tingkat syirik. Insya Allah bermanfaat..

Kamis, 13 Juni 2013

Mesjid Agung Sang Cipta Rasa

Di sebelah barat alun-alun terdapat Mesjid Agung Sang Cipta Rasa. Mesjid ini secara administratif berada di Kampung Kasepuhan, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemah Wungkuk. Mesjid Agung Sang Cipta Rasa dibangun pada tahun 1498 oleh Wali Sanga atas prakarsa Sunan Gunung Jati. Pembangunannya dipimpin oleh Sunan Kalijaga dengan arsitek Raden Sepat (dari Majapahit) bersama dengan 200 orang pembantunya (tukang) yang berasal dari Demak.
 
 Mesjid ini dinamai Sang Pencipta Rasa karena merupakan pengenjawantahan dari rasa dan kepercayaan. Sementara penduduk Cirebon, pada masa itu menamainnya Mesjid Pakungwati karena terletak dalam kompleks Keraton Pangkuwati. Sekarang mesjid ini terletak di depan Keraton Kasepuhan. Menurut cerita rakyat, pembangunan mesjid ini hanya dalam tempo satu malam; pada dini hari keesokan harinya telah dipergunakan untuk shalat Subuh.
 
Kompleks Mesjid Agung Sang Cipta Rasa luasnya ±1.763 m2, dikelilingi pagar tembok. Pagar tersebut berlainan tingginya. Bagian sisi barat dan utara setinggi ± 2 m dan sisi timur dan selatan ± 1,70 m. Sisi timur, tembok dihiasi dengan ragam-ragam belah ketupat, yang berukuran 1 m. Di sisi ini juga terdapat 3 pintu gerbang. Pintu kiri-kanan berukuran ± 2 x 2 m dan di tengah berukuran 3 x 4 m. Ketiga gerbang ini berbentuk koriagung (gapura beratap). Pada puncak gerbang tengah terdapat hiasan bentuk sayap 3 tingkat. Di tengah sayap terdapat lengkunagn yang di tengahnya lagi dihiasi bentuk candi laras. Gapura atas berbentuk setengah lingkaran dengan tulisan Arab. Di kiri-kananya ada hiasan candi laras. Gapura tersebut memiliki 2 daun pintu dengan hiasan candi laras dan belah ketupat.
 
Bangunan utama mesjid menghadap ke timur, berdiri di atas lahan seluas ± 50 x 60 m2. Bangunan mesjid ini berdenah bujursangkar dengan ukuran 28 x 28 cm dan  mempunyai keunikan, yaitu adanya saka tatal (salah satu saka gurunya terbuat dari potongan-potongan kayu jati, lalu ditata rapih menjadi tiang setinggi enam meter dan garis tengahnya ± 60 cm). Pada salah satu tiang penyangga terdapat sebuah papan yang bertulis huruf Arab dan menyebut tentang perbaikan serambi mesjid tersebut.
 
Mesjid Agung yang juga disebut sebagai Mesjid Kasepuhan ini mempunyai sembilan pintu. Pintu utama terdapat di Timur, khusus untuk para wali dan raja. Kedelapan pintu lainnya terletak di sisi Utara dan Selatan. Tujuh buah pintu dibuat dengan ukuran rendah, sehingga bila hendak masuk harus membungkuk. Di dalam mesjid terdapat mihrab, mimbar, dan satu ruangan berpagar kayu. Mihrab terdapat di sisi Barat, terbuat dari batu pualam muda  berwarna  putih. Di bagian   puncak lengkung mihrab, tepatnya   di tengah   terdapat tonjolan yang berbentuk jantung dengan ukiran bunga teratai. Mimbar terbuat dari kayu, letaknya di utara mihrab dan berkelambu. Mimbar ini diberi nama Sang Renggokosa, sedangkan kelambunya bernama Sang Entu. Di sebelah utara mimbar terdapat satu ruangan pagar kayu (kerangkeng) yang disebut maqsura. Ruangan ini dipergunakan khusus untuk ruangan sholat Sultan-sultan Kasepuhan.
 
Bangunan mesjid dilengkapi prabhayaksa (serambi depan) berukuran 30 x 10 m dan serambi selatan berukuran 35 x 8 m. Bentuk atap mesjid Agung Kasepuhan adalah limasan bertingkat tiga tanpa mamolo. Ragam hias yang terdapat di mesjid ini antara lain geometri, motif tumbuh-tumbuhan dan anyaman. Lantai bangunan ini menggunakan tegel dan yang baru menggunakan keramik. Di sebelah utara mesjid terdapat dua sumur yang airnya dianggap keramat. Sumur ini masing-masing berdiameter 1 m. Bagian dinding dalam sumur ditembok dengan bahan bata.
 

Selasa, 14 Mei 2013

Masjid Besar Tegal kalong

Masjid Besar Tegal Kalong terletak di Jalan HajiSuleiman di wilayah Kampung Kaum, Kelurahan Talun, Sumedang Selatan. Di sebelah timur masjid terdapat tanah lapang kecamatan yang sekarang menjadi taman, sebelah utara terdapat Pasar Inpres, sebelah barat pemukiman warga Kampung Kaum, dan sebalah barat merupakan pemukiman wilayah Kampung Sukaluyu.
Tegal Kalong dalam sejarah Sumedang merupakan ibu kota kerajaan Sumedanglarang setelah dipindahkan dari Dayeuh Luhur pada tahun 1600-an. Pemindahan ini terjadi pada waktu R. Suriadiwangsa menggantikan ayahnya, Prabu Geusan Ulun. Setelah Kerajaan Sumedanglarang menjadi daerah kekuasaan Mataram Islam, tempat ini oleh R. Suriadiwangsa dijadikan pusat pemerintahan Kabupaten Sumedang. Sebagai kelengkapan kota seperti yang berlaku pada umumnya kota-kota masa Islam di Indonesia, R. Suriadiwangsa membangun masjid ini pada sekitar tahun 1600-an merupakan bangunan permanen berdenah segi empat berukuran 22 x 8 m. Ruang utama dilengkapi juga dengan pintu-pintu dan jendela-jendela. Masjid beratap tumpang yang disangga empat tiang utama atau saka guru dengan puncaknya dilengkapi dengan mustaka.  Selain ruang utama, masjid dilengkapi juga dengan teras dan tempat wudhu. Pada bagian masjid terdapat halaman yang dilengkapi dengan pagar keliling dengan dua pintu. Menurut keterangan dari pihak Dewan Kesejahteraan Masjid (DKM), semula masjid merupakan bangunan rumah panggung, dinding dari anyaman bambu atau bilik. Setidaknya masjid telah mengalami 5 kali pemugaran.
Selain masjid, di tempat ini terdapat tinggalan arkeologi – sejarah yang cukup penting, yaitu bekas Pendopo Kabupaten Sumedang. Bangunan pendopo tersebut terletak di dekat masjid. Bangunan yang mengalami perubahan dan penambahan bentuk ini sekarang difungsikan sebagai Kantor Camat Sumedang Selatan.

Salah  satu peristiwa sejarah yang cukup penting di masjid ini adalah ketika pada tahun 1786 terjadi serangan tentara Kesultanan Banten yang dipimpin oleh Cilik Widara. Serangan dilakukan ketika Bupati dan para pejabat serta masyarakat sedang menjalankan shalat Hari Raya Idul Fitri yang mengakibatkan banyak jatuh korban di pihak Sumedang. Setelah peristiwa tersebut pusat pemerintahan dipindahkan ke pusat kota yang sekarang. Peristiwa yang memilukan tersebut juga berakibat lain adalah tabu bagi para bupati selanjutnya bila shalat Idul Fitri jatuh pada hari Jumat untuk shalat di ibu kota Sumedang.

Jumat, 26 April 2013

Masjid Saka Tunggal

Masjid Saka Tunggal terletak di desa Cikakak kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, provinsi Jawa Tengah atau 30 KM kearah barat dari kota Purwokerto . Masjid ini dibangun pada tahun 1288 seperti yang tertulis pada Saka Guru (Tiang Utama) masjid ini. Namun, tahun pembuatan masjid ini lebih jelas tertulis pada kitab-kitab yang ditinggalkan pendiri masjid ini, yaitu Kyai Mustolih. Tetapi kitab-kitab tersebut telah hilang bertahun-tahun yang lalu. 

Nama resmi masjid ini adalah masjid Saka Tunggal Baitussalam, tapi lebih populer dengan nama masjid saka tunggal karena memang Masjid ini hanya mempunyai saka tunggal (tiang penyangga tunggal). Sakatunggal yang berada di tengah bangunan utama masjid, saka dengan empat sayap ditengahnya yang akan nampak seperti sebuah totem, bagian bawah dari saka itu dilindungi dengan kaca guna melindungi bagian yang terdapat tulisan tahun pendirian masjid tersebut. Masjid saka tunggal berukuran 12 x 18 meter ini menjadi satu satunya masjid di pulau Jawa yang dibangun jauh sebelum era Wali Sembilan (Wali Songo) yang hidup sekitar abad 15-16M. Sedangkan masjid ini didirikan tahun 1288 M, 2 abad sebelum Wali Songo. Sekaligus menjadikan Masjid Saka Tunggal Baitussalam sebagai Masjid Tertua di Indonesia. Lokasi Ditengah suasana pedesaan Jawa yang begitu kental Suasana pedesaan sangat kental. Di kawasan masjid yang dipenuhi dengan kera-kera yang berkeliaran bebas. Bangunan masjid juga sangat unik, beratapkan ijuk serta sebagian dindingnya dari anyaman bambu. Sejarah Masjid Saka Tunggal Dinamakan Masjid Saka Tunggal, karena memang hanya memiliki satu pilar utama penyangga. 

Disekitar masjid terdapat makam seorang penyebar agam Islam yang bernama Kyai Mustolih. Berdasarkan ceritera nara sumber yaitu KGPH Dipo Kusumo dari Keraton Surakarta Hadiningrat dan Drs. Suwedi Montana , seorang peneliti Arkeologi Islam dari Puslit Arkenas Jakarta pada tanggal 29 Januari 2002 dijelaskan sebagai berikut : Sunan Panggung adalah salah seorang dari kelompok Wali sanga yang merupakan murid Syech Siti Jenar. Sunan Panggung meninggal pada masa pemerintahan Sultan Trenggono di Demak Bintoro antara tahun 1546-1548 M. Menurut Serat Cabolek, Sunan Panggung dihukum dengan cara dibakar atas kesalahannya menentang suatu syariat. Namun demikian dalam hukumannya tersebut ia tidak mati, bahkan saat pada saat itu mampu menulis suluk yang kemudian dikenal dengan sebutan Suluk Malangsumirang. Sunan Panggung menurunkan anak bernama Pengeran Halas. Pangeran Halas menurunkan Tumenggung Perampilan. Tumenggung Perampilan menurunkan Kyai Cikakak. Kyai Cikakak menurunkan Resayuda. Kyai Resayuda menurunkan Ngabehi Handaraka, dan Ngabehi Handaraka menurunkan Mas Ayu Tejawati, Istri Amangkurat IV, yang menurunkan Hamengkubuwana, Raja Ngayogyakarta Hadiningrat. Kyai Cikakak yang merupakan keturunan ketiga Sunan Panggung tidak diketahui nama aslinya. Nama Kyai Cikakak diperkirakan merupakan sebutan, karena ia bertempat tinggal di Desa Cikakak. Di Desa inilah Kyai Cikakak mendirikan sebuah masjid dengan keunikan tersendiri, yaitu dengan tiang utama tunggal ( saka tunggal ) yang masih lestari hingga saat ini. Masjid saka Tunggal di bangun di tempat suci Agama Kuno ( agama yang berkembang sebelum masuknya agama Hindu Budha ) yang dapat dibuktikan di sekitar masjid terdapat sebuah batu menhir yang merupakan tempat untuk kegiatan ritual : agama kuno, dibangun pada tahun 1522 M. Di sekitar tempat ini terdapat hutan pinus dan hutan besar lainnya yang di huni oleh ratusan ekor kera yang jinak dan bersahabat, seperti di Sangeh Bali. Saat ini Masjid Saka Tunggal belum kehilangan sama sekali wajah aslinya. Bedanya, gebyok kayu dan gedek bambu yang semula menjadi dinding masjid ini telah diganti dengan tembok. 

Salah satu tampilan asli masjid ini yang belum hilang adalah saka tunggal di tengah-tengah bangunan masjid. Sakatunggal tersebut dibuat dari galih kayu jati berukir motif bunga warna-warni.Di bagian pangkal berdiameter sekitar 35 sentimeter. Saka ini berdiri hingga di atas wuwungan yang berbentuk limas, seperti wuwungan pada Masjid Agung Demak. Salah satu keunikan lain Saka Tunggal adalah keberadaan empat helai sayap dari kayu di tengah saka. Menurut Sopani sang Juru pelihara Masjid Saka Tunggal tersebut, empat sayap yang menempel di saka tersebut melambangkan papat kiblat lima pancer, atau empat mata angin dan satu pusat. 

Papat kiblat lima pancer berarti manusia sebagai pancer dikelilingi empat mata angin yang empat. Mata angin itu berarti bahwa hidup manusia harus seimbang. Jangan terlalu banyak air bila tak ingin tenggelam, jangan banyak angin bila tak mau masuk angin, jangan terlalu bermain api bila tak mau terbakar, dan jangan terlalu memuja bumi bila tak ingin jatuh. Hidup itu harus seimbang, kata Sopani. (source:banyumaskab.go.id) Tradisi Unik Masjid Saka Tunggal, Banyumas Zikir seperti melantunkan kidung jawa Keunikan masjid saka tunggal Banyumas, benar benar terasa di hari Jum’at. Selama menunggu waktu sholat jum’at dan setelah sholat jum’at, Jamaah masjid Saka Tunggal berzikir dan bershalawat dengan nada seperti melantunkan kidung jawa. Dengan bahasa campuran Arab dan Jawa, tradisi ini disebut tradisi ura ura. Pakaian Imam dan muazin Imam masjid tidak menggunakan penutup kepala yang lazimnya digunakan di Indonesia yang biasanya menggunakan peci, kopiyah, tapi menggunakan udeng/pengikat kepala. khutbah jumat disampaikan seperti melantunkan sebuah kidung, Empat muazin sekaligus Empat orang muazim berpakaian sama dengan imam, menggunakan baju lengan panjang warna putih, menggunakan udeng bermotif batik, dan ke empat muazin tersebut mengumandangkan adzan secara bersamaan. Semuanya dilakukan berjama’ah Uniknya lagi, seluruh rangkaian sholat jumat dilakukan secara berjamaah, mulai dari shalat tahiyatul masjid, kobliah juma’at, shalat Jumat, ba’diah jum’at, shalat zuhur, hingga ba’diah zuhur. Semuanya dilakukan secara berjamaah. Tanpa Pengeras Suara Masjid Saka Tunggal Baitussalam hingga saat ini masih mempertahankan tradisi untuk tidak menggunakan pengeras suara. 

Meski demikian suara azan yang dilantunkan oleh empat muazin sekaligus, tetap terdengar begitu lantang dan merdu dari masjid ini. Ritual Ganti Jaro, Masjid Saka Tunggal Adalah ritual mengganti pagar bambu keliling masjid saka tunggal. Ritual ini diikuti oleh seluruh warga desa Cikakak. Dalam ritual yang mereka sebut ganti Jaro Rajapine. Saat membuat pagar ada beberapa pantangan yang harus ditaati. Mereka dilarang berbicara dengan suara keras serta tidak boleh menggunakan alas kaki. Sehingga yang terdengar hanya pagar bambu yang dipukul. Karena melibatkan ratusan warga, hanya dalam waktu 2 jam pagar sepanjang 300 meter ini selesai. Selain bermakna kebersamaan dan gotong royong, tradisi ganti Jaro Rajab ini bagi warga di sini dipercaya bisa menghilangkan sifat jahat dari diri manusia. Pagar bambu ini selain mengelilingi Masjid Saka Tunggal juga makam Nyai Toleh. Seorang penyebar agama di Banyumas. Sejumlah utusan dari kraton Surakarta dan Ngayogjogkarta Hadiningrat ikut ambil bagian dalam acara ini dengan memanjatkan doa di makam, sebagai rasa syukur. Ritual ganti Jaro Rajab ini kemudian diakhiri dengan prosesi arak arakan 5 gulungan yang berisi nasi tumpeng ini kemudian diperebutkan warga karena dipercaya bisa memberikan berkah. Arsitektur Masjid Saka Tunggal, Banyumas Salah satu keunikan Saka Tunggal adalah empat helai sayap dari kayu di tengah saka. Empat sayap yang menempel di saka tersebut melambangkan ”papat kiblat lima pancer”, atau empat mata angin dan satu pusat. 

Papat kiblat lima pancer berarti manusia sebagai pancer dikelilingi empat mata angin yang melambangkan api, angin, air, dan bumi. Saka tunggal itu perlambang bahwa orang hidup ini seperti alif, harus lurus. Jangan bengkok, jangan nakal, jangan berbohong. Kalau bengkok, maka bukan lagi manusia. Empat mata angin itu berarti bahwa hidup manusia harus seimbang. Jangan terlalu banyak air bila tak ingin tenggelam, jangan banyak angin bila tak mau masuk angin, jangan terlalu bermain api bila tak mau terbakar, dan jangan terlalu memuja bumi bila tak ingin jatuh. ”Hidup itu harus seimbang,” Papat kiblat lima pancer ini sama dengan empat nafsu yang ada dalam manusia. Empat nafsu yang dalam terminologi Islam-Jawa sering dirinci dengan istilah aluamah, mutmainah, sopiah, dan amarah. Empat nafsu yang selalu bertarung dan memengaruhi watak manusia. 

Keaslian yang masih terpelihara adalah ornamen di ruang utama, khususnya di mimbar khotbah dan imaman. Ada dua ukiran di kayu yang bergambar nyala sinar matahari yang mirip lempeng mandala. Gambar seperti ini banyak ditemukan pada bangunan-bangunan kuno era Singasari dan Majapahit. Kekhasan yang lain adalah atap dari ijuk kelapa berwarna hitam. Atap seperti ini mengingatkan atap bangunan pura zaman Majapahit atau tempat ibadah umat Hindu di Bali. Tempat wudu pun juga masih bernuansa zaman awal didirikan meskipun dindingnya sudah diganti dengan tembok. Renovasi dan Benda Benda Peninggalan Sejak tahun 1965 masjid ini sudah dua kali dipugar. Selain dinding tembok, juga diberi dinding anyaman bambu serta lapisan atap seng, Meski sebagian dinding telah direhab dengan tembok, tetapi arsitektur masjid tetap tidak diubah. 

Sehingga tidak ada perbedaan bentuk yang berarti dari awal berdiri hingga sekarang. Sedangkan tiang dari kayu jati yang menopang bangunan utama masjid dengan ukuran masih terlihat begitu kokoh. Selama ratusan tahun berdiri, warga dan jamaah di Cikakak sama sekali tidak mengganti bangunan utama yang ada di tempat itu, kecuali hanya membangun tembok sekeliling masjid sebagai penopang. Barang lainnya yang sampai sekarang masih tetap rapi dan dipelihara di antaranya adalah bedug, kentongan, mimbar masjid, tongkat khatib dan tempat wudlu. Setiap tanggal 27 Rajab di masjid ini diadakan pergantian Jaro dan pembersihan makam Kyai Mustolih,Salah satu tradisi penting dalam masjid Saka Tunggal ini adalah ritual Ganti Jaro Rajab. Ritual ini adalah ritual mengganti pagar bambu yang mengelilingi masjid dan juga mengelilingi makam Nyai Toleh, salah seorang penyebar agama Islam di wilayah Banyumas. Pada ritual ini, masyarakat sekitar membawa bambu untuk menggantikan bambu lama yang ada di Masjid. Mereka berjalan beriringan menuju masjid, tidak boleh bersuara, tidak memakai alas kaki, hanya sesekali suara bambu terdengar karena dibawa bersamaan. 

Hingga sampailah mereka ke pagar lama, mencabuti pagar tersebut, dan menggantinya dengan yang baru. Mirip dengan tradisi keraton, pada upacara ini juga ada gunungan yang berupa nasi tumpeng dan lauk pauknya. Gunungan ini pada akhir upacara menjadi rebutan masyarakat karena dipercaya membawa berkah bagi masyarakat sekitar. Ritual ini diadakan selain sebagai rasa syukur, juga memupuk kebersamaan dan kegotongroyongan di antara masyarakat. Diyakini juga, ritual ini juga menghilangkan berbagai sifat jahat dan jelek dalam diri manusia. Sayang, saat saya berkunjung, ritual Ganti Jaro Rojab ini sedang tidak dilaksanakan. Saya hanya mendapatkan cerita dari pengelola masjid ini.. Masjid yang berjarak ± 5 km dari Ajibarang kearah Selatan,maka bagi yang lewat antara Ajibarang dan Wangon maka silahkan mampir dan nikmati nuansa keriligiusannya. Masjid ini disebut Saka Tunggal karena tiang penyangga bangunan masjid ini, dulunya hanya satu tiang (tunggal). 


Sabtu, 09 Februari 2013

Fadilah Dzikir Asma Ul Husna

Ini wirid untuk memuji Nama-Nama Tuhan yang Maha Segalanya. Saat kita melantunkan puji-pujian kepada-NYA, sebenarnya itulah saat kita membuka jalur koneksi dengan kekuatan paling mutakhir yang ada di alam semesta ini.
Misalnya, saat kita berdzikir berulang-ulang menyebut “Ya Bari’!” maka kita membuka jalur koneksi dengan kekuatan energi gaib penyembuhan yang ada di seluruh alam semesta sehingga bisa diniatkan untuk menyebuhkan semua penyakit.

 Atau misalnya, kita berdzikir berulang menyebut ”Ya ‘Aliy!” maka kita membuka jalur koneksi dengan kekuatan energi gaib kecerdasan yang ada di seluruh alam semesta sehingga bisa diniatkan untuk mencerdaskan otak anak kita.

Sebelum dipaparkan bagaimana cara meniatkannya secara lengkap, berikut adalah Nama-Nama Tuhan:
1. Allah
2. Ar-Rahman – Maha Pemurah
3. Ar-Rahim – Maha Penyayang
4. Al-Malik – Maha Merajai/Pemerintah
5. Al-Quddus – Maha Suci
6. As-Salam – Maha Penyelamat
7. Al-Mu’min – Maha Pengaman
8. Al-Muhaymin – Maha Pelindung/Penjaga
9. Al-Aziz – Maha Mulia/Perkasa
10. Al-Jabbar – Maha Pemaksa
11. Al-Mutakabbir – Maha Besar
12. Al-Khaliq – Maha Pencipta
13. Al-Bari’ – Maha Perancang
14. Al-Musawwir – Maha Menjadikan Rupa Bentuk
15. Al-Ghaffar – Maha Pengampun
16. Al-Qahhar – Maha Menundukkan
17. Al-Wahhab – Maha Pemberi
18. Ar-Razzaq – Maha Pemberi Rezeki
19. Al-Fattah – Maha Pembuka
20. Al-Alim – Maha Mengetahui
21. Al-Qabid – Maha Penyempit Hidup
22. Al-Basit – Maha Pelapang Hidup
23. Al-Khafid – Maha Penghina
24. Ar-Rafi – Maha Tinggi
25. Al-Muiz – Maha Pemberi Kemuliaan/Kemenangan
26. Al-Muthil – Maha Merendahkan
27. As-Sami – Maha Mendengar
28. Al-Basir – Maha Melihat
29. Al-Hakam – Maha Menghukum
30. Al-Adl – Maha Adil
31. Al-Latif – Maha Halusi
32. Al-Khabir – Maha Waspada
33. Al-Halim – Maha Penyantun
34. Al-Azim – Maha Agong
35. Al-Ghafur – Maha Pengampun
36. Ash-Shakur – Maha Pengampun
37. Al-Aliyy – Maha Tinggi Martabat-Nya
38. Al-Kabir – Maha Besar
39. Al-Hafiz – Maha Pelindung
40. Al-Muqit – Maha Pemberi Keperluan
41. Al-Hasib – Maha Mencukupi
42. Aj-Jalil – Maha Luhur
43. Al-Karim – Maha Mulia
44. Ar-Raqib – Maha Pengawas
45. Al-Mujib – Maha Mengabulkan
46. Al-Wasi – Maha Luas Pemberian-Nya
47. Al-Hakim – Maha Bijaksana
48. Al-Wadud – Maha Pencinta
49. Al-Majid – Maha Mulia
50. Al-Baith – Maha Membangkitkan
51. Ash-Shahid – Maha Menyaksikan
52. Al-Haqq – Maha Benar
53. Al-Wakil – Maha Berserah
54. Al-Qawiyy – Maha Memiliki Kekuatan
55. Al-Matin – Maha Sempurna Kekuatan-Nya
56. Al-Waliyy – Maha Melinuingi
57. Al-Hamid – Maha Terpuji
58. Al-Muhsi – Maha Menghitung
59. Al-Mubdi’ – Maha Memulai/Pemula
60. Al-Muid – Maha Mengembalikan
61. Al-Muhyi – Maha Menghidupkan
62. Al-Mumit – Maha Mematikan
63. Al-Hayy – Maha Hidup
64. Al-Qayyum – Maha Berdiri Dengan Sendiri-Nya
65. Al-Wajid – Maha Menemukan
66. Al-Majid – Maha Mulia
67. Al-Wahid – Maha Esa
68. As-Samad – Maha Diminta
69. Al-Qadir – Maha Kuasa
70. Al-Muqtadir – Maha Menentukan
71. Al-Muqaddim – Maha Mendahulukan
72. Al-Mu’akhkhir – Maha Melambat-lambatkan
73. Al-’Awwal – Maha Pemulaan
74. Al-’Akhir – Maha Penghabisan
75. Az-Zahir – Maha Menyatakan
76. Al-Batin – Maha Tersembunyi
77. Al-Wali – Maha Menguasai Urusan
78. Al-Mutaali – Maha Suci/Tinggi
79. Al-Barr – Maha Bagus (Sumber Segala Kelebihan)
80. At-Tawwab – Maha Penerima Taubat
81. Al-Muntaqim – Maha Penyiksa
82. Al-Afuww – Maha Pemaaf
83. Ar-Ra’uf – Maha Mengasihi
84. Malik Al-Mulk – Maha Pemilik Kekuasaan
85. Thul-Jalali wal-Ikram – Maha Pemilik Keagungan dan Kemuliaan
86. Al-Muqsit – Maha Mengadili
87. Aj-Jami – Maha Mengumpulkan
88. Al-Ghaniyy – Maha Kaya Raya
89. Al-Mughni – Maha Penberi Kekayaan
90. Al-Mani – Maha Membela/Menolak
91. Ad-Darr – Maha Pembuat Bahaya
92. An-Nafi – Maha Pemberi Manfaat
93. An-Nur – Maha Pemberi Cahaya
94. Al-Hadi – Maha Pemberi Petunjuk
95. Al-Badi – Maha Indah/Tiada Bandingan
96. Al-Baqi – Maha Kekal
97. Al-Warith – Maha Membahagi/Mewarisi
98. Ar-Rashid – Maha Pandai/Bijaksana
99. As-Sabur – Maha Penyabar

Cara dzikir berdasarkan manfaatnya menurut buku “Khasiat Atau Fadilah Asmaul-Husna” sebagai berikut:

1. “Ya Allah!” apabila dizikirkan 500 x setiap malam, lebih-lebih lagi selepas sholat tahajjud atau sholat sunat 2 rakaat mempunyai pengaruh yang besar di dalam mencapai segala yang diusahakan dan dihajati.

2. “Ya Rahman!” apabila dizikirkan sesudah sholat 5 waktu sebanyak 500x, maka hati kita akan menjadi terang, tenang & sifat-sifat pelupa & gugup akan hilang dengan izin Allah.

3. “Ya Rahim!” apabila dizikirkan sebanyak 100 x setiap hari, InsyaAllah kita akan mempunyai daya penarik yang besar sekali hingga manusia merasa cinta & kasih serta sayang terhadap kita.

4. “Ya Malik!” apabila dizikirkan sebanyak 121 x setiap pagi atau setelah tergelincirnya matahari, segala perkerjaan yang dilakukan setiap hari akan mendatangkan berkat & kekayaan yang diridhoi Allah.

5. “Ya Quddus!” apabila dizikirkan sebanyak 100 x setiap pagi setelah tergelincir matahari, maka hati kita akan terjaga dari semua penyakit hati seperti sombong, iri hari, dengki dll.

6. “Ya Salam!” apabila dizikirkan sebanyak 136 x, InsyaAllah jasmani & rohani kita akan terhindar dari segala penyakit sehingga badan menjadi segar sehat & sejahtera.

7. “Ya Mukmin!” apabila dizikirkan sebanyak 236 x, InsyaAllah diri kita, keluarga & segala kekayaan yang dimiliki akan terpelihara & aman dari segala macam gangguan kejahatan.

8. “Ya Muhaimin!” apabila dizikirkan sebanyak 145 x sesudah sholat fardhu Isya, Insyaallah pikiran & hati kita akan menjadi terang & bersih.

9. “Ya ‘Aziz!” apabila dizikirkan sebanyak 40 x sesudah sholat subuh, InsyaAllah, kita akan menjadi orang yang mulia, disegani orang yang penuh kewibawaan.

10.”Ya Jabbar!” apabila dizikirkan sebanyak 226 x pagi & petang, semua musuh akan menjadi tunduk & patuh dengan izin Allah.

11. “Ya Mutakabbir!” apabila dizikirkan sebanyak 662 x, maka dengan kebijaksanaan bertindak, kita akan dapat menundukkan semua musuh, bahkan mereka akan menjadi pembantu yg setia.

12.”Ya Khaliq!” dibaca mengikut kemampuan atau sebanyak 731x, InsyaAllah yang ingin otak cerdas, cepat menerima sesuatu pelajaran , amalan ini akan memberikan otak kita cerdas dan cepat faham.

13.”Ya Baarii’!” sekiranya kita berada didalam kesukaran atau sedang sakit, dibaca sebanyak 100 x selama 7 hari berturut-turut, InsyaAllah kita akan terlepas dari kesukaran & sembuh dari penyakit tersebut.

14.”Ya Musawwir!” sekiranya seorang isteri yang sudah lama belum mempunyai anak, maka ikhtiarnya dengan berpuasa selama 7 hari dari hari Minggu hingga Sabtu. Di waktu akan berbuka puasa, ambil segelas air & dibacakan “Ya Musawwir” sebanyak 21 x, kemudian diminum air tersebut untuk berbuka puasa. Bagi sang suami, hendaklah melakukan amalan yang sama tetapi hanya dengan berpuasa selama 3 hari. Kemudian pada waktu hendak berjima’, bacalah zikir ini sebanyak 10 x, InsyaAllah akan dikurniakan anak yang soleh.

15.”Ya Ghaffaar!” sambil beri’tikaf (diam dalam masjid dalam keadaan suci) bacalah zikir ini sebanyak 100 x sambil menunggu masuknya waktu sholat Jumaat, InsyaAllah akan diampunkan dosa-dosa kita.

16.”Ya Qahhaar!” dizikir menurut kemampuan atau sebanyak 306 x, maka hati kita akan dijaga dari ketamakkan & kemewahan dunia & InsyaAllah orang-orang yang selalu memusuhi kita akan sadar & tunduk akhirnya.

17. “Ya Wahhaab!” dizikir sebanyak 100 x sesudah sholat fardhu, barang siapa yang selalu didalam kesempitan, Insya Allah segala kesulitan atau kesempitan dalam soal apa pun akan hilang.

18. “Ya Razzaq!” dizikir mengikut kemampuan sesudah sholat fardhu khususnya sholat subuh, Insya Allah akan dipermudahkan rezeki yang halal & membawa berkat. Rezeki akan datang tanpa diduga.

19. “Ya Fattah!” dizikir sebanyak 71 x sesudah selesai sholat subuh, InsyAllah hati kita akan dibuka oleh Allah, sehingga mudah menerima kebenaran, pengetahuan dan kebijaksanaan.

20. “Ya ‘Aalim!” dizikir sebanyak 100 x setiap kali selesai sholat Maktubah, Insya Allah akan mendapat kemakrifatan yang sempurna.

21. “Ya Qaabidhu!” dizikirkan 100 x setiap hari, maka dirinya akan semakin dekat dengan Allah & terlepas dari segala bentuk ancaman.

22. “Ya Baasithu!” Bagi mereka yg berniaga atau mempunyai usaha2 lain, kuatkanlah usaha & berniaga itu dengan memperbanyakkan membaca zikir ini setiap hari, InsyaAllah rezeki akan menjadi murah.

23. “Ya Khaa’fidh!” dizikirkan sebanyak 500 x setiap hari, dalam keadaan suci, khusyuk & tawaduk, InsyaAllah segala maksud akan ditunaikan Allah. Juga apabila mempunyai musuh, musuh itu akan jatuh martabatnya.

24. “Ya Raafi!” dizikirkan setiap hari, baik siang atau malam sebanyak 70 x, InsyaAllah keselamatan harta benda di rumah, di kedai atau di tempat-tempat lain akan selamat & terhindar dari kecurian.

25. “Ya Mu’izz!” dizikirkan sebanyak 140 x setiap hari, Insya Allah akan memperolehi kewibawaan yang besar terutama ketua-ketua jabatan atau perniagaan.

26. “Ya Muzill!” Perbanyakkanlah zikir ini setiap hari, sekiranya ada orang berhutang kepada kita & sukar untuk memintanya, InsyaAllah si penghutang akan sadar & membayar hutangnya kembali.

27. “Ya Samii’!” Sekiranya inginkan doa kita makbul & pendengaran telinga kita tajam, biasakanlah zikir ini setiap hari menurut kemampuan, lebih-lebih lagi sesudah sholat Dhuha, InsyaAllah doa kita akan mustajab.

28. “Ya Bashiir!” Dizikirkan sebanyak 100 x sebelum sholat Jumat, InsyaAllah akan menjadikan kita terang hati, cerdas otak & selalu diberikan taufik & hidayah dari Allah.

29. “Ya Hakam!” dizikirkan sebanyak 68 x pada tengah malam dalam keadaan suci, InsyaAllah dapat membuka hati seseorang itu mudah menerima ilmu-ilmu agama & membantu kecepatan mempelajari ilmu-ilmu agama.

30. “Ya Adllu!” dizikirkan sebanyak 104 x setiap hari sesudah selesai sholat 5 waktu, InsyaAllah diri kita selalu dapat berlaku adil.

31. “Ya Lathiif!” Dengan memperbanyakkan zikir ini mengikut kemampuan, InsyaAllah bagi para peniaga, ikhtiar ini akan menjadikan barangan jualannya menjadi laris & maju.

32. “Ya Khabiir!” Dengan memperbanyakkan zikir ini setiap hari, terkandung faedah yang teramat banyak sekali sesuai dengan maksud zikir ini antara lain faedahnya ialah dapat mempertemukan kita dengan siapapun yang kita inginkan, termasuk bertemu dengan teman atau anak yang telah terpisah sekian lama.

33. “Ya Haliim!” Dizikirkan sebanyak 88 x selepas sholat lima waktu, bagi mereka yang mempunyai kedudukan di dalam pemerintahan, organisasi atau kelompok apa saja, InsyaAllah dipastikan kedudukannya tidak akan digoyang atau digugat.

34. “Ya ‘Aziim!” dizikirkan sebanyak 12 x setiap hari untuk orang yang sekian lama menderitaisakit, InsyaAllah akan sembuh. Juga apabila dibaca 12 x kemudian ditiupkan pada tangan lalu diusap-usap pada seluruh badan, maka dengan izin Allah akan terhindar dari gangguan jin, jin syaitan & sebagainya.

35. “Ya Ghafuur!” bagi orang yang bertaubat, hendaklah memperbanyakkan zikir ini dengan mengakui dosa-dosa & beriktikad untuk tidak mengulanginya, InsyaAllah akan diterima taubatnya oleh Allah.

36. “Ya Syakuur!” dizikirkan sebanyak 40 x sehabis sholat hajat, sebagai pengucapan terima kasih kepada Allah, InsyaAllah semua hajat kita akan dimakbulkan Allah. Lakukanlah setiap kali kita mempunyai hajat yang penting & terdesak.

37. “Ya ‘Aliy!” Untuk mencerdaskan otak anak kita yang bebal, tulislah zikir ini sebanyak 110 x (** di dalam bahasa Arab) lalu direndam pada air yang dingin & diberikan si anak meminumnya, InsyaAllah lama kelamaan kecerdasan si anak itu akan berubah cemerlang.

38. “Ya Kabiir!” Bagi seseorang yang kedudukannya telah dirampas atau dilucuti gara-gara sesuatu fitnah, maka bacalah zikir ini sebanyak 1000 x selama 7 hari berturut-turut dalam keadaan suci sebagai pengaduan kepada Allah. Lakukanlah sesudah sholat malam (tahajud atau hajat).

39. “Ya Hafiiz!” dizikir sebanyak 99 x, InsyaAllah diri kita akan terlindung dari gangguan binatang buas terutamanya apabila kita berada di dalam hutan.

40. “Ya Muqiit!” Sekiranya kita berada di dalam kelaparan seperti ketika sesat di dalam hutan atau di mana sahaja sehingga sukar untuk mendapatkan bekalan makanan, maka perbanyakkan zikir ini. InsyaAllah badan kita akan menjadi kuat & segar kerana rasa lapar akan hilang.

41. “Ya Hasiib!” Untuk memperteguhkan kedudukan yang telah kita jawat, amalkan zikir ini sebanyak 777 x sebelum matahari terbit & selepas sholat Maghrib, InsyaAllah akan meneguhkan kedudukan dan terhindar dari gangguan.

42. “Ya Jaliil!” Barangsiapa mengamalkan zikir ini pada sepertiga malam yang terakhir, InsyaAllah kita akan mendapati perubahaan yang mengagumkan – bisnis akan bertambah maju. Andai seorang pegawai, maka kedudukan kita akan ditinggikan dan mendapat tempat yang terhormat izin Allah.

43. “Ya Kariim!” Untuk mencapai darjat yang tinggi & mulia di dunia mahupun di akhirat kelak, maka amalkan zikir ini sebanyak 280 x ketika hendak tidur. Allah akan mengangkat derajat mereka yang mengamalkan zikir ini.

44. “Ya Raqiib!” Untuk penjagaan barang yang dikhawatirkan, maka zikirkan sebanyak 50 x setiap hari dengan niat agar barang-barang yang dikhawatirkan berada di tempat yang jauh & sukar dijaga akan terhindar dari pencurian dan gangguan lainnya.
45. “Ya Mujiib!” Sesungguhnya Allah adalah Zat yang menerima doa hambaNya & agar doa kita mustajab & selalu diterima Allah, hendaklah mengamalkan zikir ini sebanyak 55 x sesudah sholat subuh. Insyaallah Tuhan akan mengabulkan doa kita.

46. “Ya Waasi!” Apabila di dalam kesulitan maka amalkan zikir ini sebanyak 128 x setiap pagi & petang, InsyaAllah segala kesulitan akan hilang berkat pertolongan Allah. Andai zikir ini sentiasa diamalkan, InsyaAllah Tuhan akan menjaga kita dari iri dengki sesama makhluk.

47. “Ya Hakiim!” Bagi pelajar atau sesiapa saja yang memperbanyakkan zikir ini setiap hari, InsyaAllah akalnya akan menjadi cerdas & lancar didalam menghafal & mengikuti pelajaran. Amalkanlah sekurang-kurangnya 300x setiap hari.

48. “Ya Waduud!” Amalkan zikir ini sebanyak 11,000 x pada setiap malam. InsyaAllah kita akan menjadi insan yang sentiasa bernasib baik, disayangi & rumahtangga kita akan sentiasa berada didalam keadaan harmoni.

49. “Ya Majiid!” Untuk ketenteraman keluarga. Setiap anggota keluarga sentiasa menyayangi & menghormati kita sebagai kepala keluarga, maka amalkan zikir ini sebanyak 99 x, sesudah itu hembuskan kedua belah tapak tangan & usap ke seluruh tubuh dan muka. InsyaAllah semua anggota keluarga kita akan menyayangi & menghormati kita.

50. “Ya Baa’its!” Zikirkan sebanyak 100 x dengan meletakkan kedua tangan ke dada, InsyaAllah akan memberi kelapangan dada dengan ilmu & hikmah.

51. “Ya Syahiid!” Apabila ada di kalangan anggota keluarga kita yang suka membangkang dan sebagainya, maka zikirkan sebanyak 319 x secara berterusan setiap malam sehingga si pembangkang akan sedar & berubah perangainya.

52. “Ya Haq”! Perbanyakkan zikir ini, InsyaAllah ianya sangat berfaedah sekali untuk menebalkan iman & taat di dalam menjalankan perintah Allah.

53. “Ya Wakiil” Sekiranya terjadi hujan yang disertai ribut yang kuat, atau terjadi gempa, maka ketika itu perbanyakkan zikir ini, InsyaAllah bencana tersebut akan menjadi reda & kembali seperti sediakala.

54. “Ya Qawiy!” Amalkan zikir ini sebanyak mungkin agar kita tidak gentar apabila berhadapan dengan keadaan apapun termasuk keadaan yang berbahaya.

55. “Ya Matiin!” Amalkanlah zikir ini sebanyak mungkin untuk mengembangkan kekuatan sehingga musuh apapun merasa gentar dan ketakutan.

56. “Ya Waliy!” mengamalkan zikir ini akan mengukuhkan kedudukan kita dan terhindar dari gangguan oleh orang-orang yang bersifat dengki.

57. “Ya Hamiid!” Perbanyakkan zikir ini sebagai pengakuan bahwa hanya Allah saja yang paling berhak menerima segala pujian.

58. “Ya Muhshiy!” Sekiranya kita inginkan diri kita digolongkan didalam pertolongan yang selalu dekat dengan Allah (muraqabah), maka amalkan zikir ini sebanyak mungkin sesudah sholat 5 waktu.

59. “Ya Mubdiu!” Agar segala apa yang kita rancangkan akan berhasil, maka zikirkan sebanyak 470 x setiap hari.

60. “Ya Mu’id!” Andai ada anggota keluarga yang menghilangkan diri dan sebagainya, amalkan zikir ini sebanyak 124 x setiap hari sesudah sholat.
61. “Ya Muhyiy!” amalkan zikir ini sebanyak 58 x setiap hari, InsyaAllah kita akan diberikan kemuliaan derajat dunia & akhirat kelak.

62. “Ya Mumiit!” Barangsiapa memperbanyakkan zikir ini, InsyaAllah akan dipermudahkan didalam perniagaan, bisnis, politik dan sebagainya.

63. “Ya Hayyu!” Untuk mencapai kekuatan mental/batiniah didalam menjalani kehidupan, perbanyakkanlah zikir ini.

64. “Ya Qayyuum!” Telah berkata Imam Ghazali bahawa barangsiapa yang ingin memperolehi harta yang banyak lagi barokah, ingin dikasihi oleh setiap manusia, ingin berwibawa, ditakuti musuh & ingin menjadi insan yang terhormat, maka berzikirlah dgn “Ya Hayyu Ya Qayyuum…” sebanyak 1,000 x setiap malam atau siang hari. Hendaklah melakukannya secara terus menerus, Insya Allah akan tercapai segala hajat.

65. “Ya Waajid!” Andai berkeinginan keperibadian yang kukuh, tidak mudah terpengaruh & teguh pendirian, maka perbanyakkan zikir ini.

66. “Ya Maajid!” Demi kecerdasan otak dan agar dipermudahkan hati untuk menerima pelajaran, maka hendaklah pelajar tersebut memperbanyakkan zikir ini setiap hari.

67. “Ya Waahid!” Bagi pasangan yang belum dikaruniai anak dan ingin segera untuk menimang bayi, amalkanlah zikir ini sebanyak 190 x setiap kali selesai menunaikan sholat 5 waktu selama satu bulan & selama itu juga hendaklah berpuasa sunat Senin dan kamis.

68. “Ya Somad! Ketika dalam kelaparan akibat tersesat atau kesempitan hidup, maka mohonkan kepada Allah dengan zikir ini sebanyak mungkin. InsyaAllah, diri akan terasa segar & sentiasa merasa longgar hidupnya.

69. “Ya Qaadir!” Apabila kita berhajatkan sesuatu namun selalu gagal, maka amalkan zikir ini sebanyak 305 x setiap hari, Insya Allah segala hajat akan berhasil.

70. “Ya Muqtadir!” Agar tercapai keinginan yang dikehendaki, selain perlu berikhtiar lahirah, maka berzikirlah dengan zikir ini semampunya. Zikir ini mempercepatkan keberhasilan keinginan kita.

71. “Ya Muqaddim!” Menurut Imam Ahmad bin Ali Al-Buuniy, beliau berkata “Barangsiapa yang berzikir dengan zikir ini sebanyak 184 x setiap hari, InsyaAllah, niscaya segala usahanya akan berhasil”.

72. “Ya Muahkhir”! Bagi meninggikan lagi ketaatan kita kepada Allah, perbanyakkanlah zikir ini.

73. “Ya Awwal!!” Barangsiapa yang mengamalkan zikir ini sebanyak 37 x setiap hari, InsyaAllah segala apa yang dihajati akan diperkenankan Allah.

74. “Ya Aakhir!” Amalkan berzikir sebanyak 200 x sesudah sholat 5 waktu selama satu bulan, InsyaAllah Tuhan akan membuka pintu rezeki yang halal.

75. “Ya Dhaahir!” Amalkanlah zikir ini sebanyak 1,106 x selesai sholat waktu di tempat yang sunyi (khalwat), niscaya Allah akan membuka hijab padanya dari segala rahasia yang sukar serta diberi kefahaman ilmu.

76. “Ya Baathinu!” Seperti no. 75 juga, tetapi amalkan sebanyak 30 x sesudah sholat fardhu.

77. “Ya Waaliy!” Memperbanyakkan zikir ini setiap pagi & petang menyebabkan seseorang menjadi ahli ma’rifat dan hatinya dibuka oleh Allah. Para wali Allah juga selalu memperbanyakkan zikir ini

78. “Ya Muta’aAliy!” Sekiranya kita ingin berjumpa dengan mereka yang berkedudukan tinggi atau mereka yang sukar ditemui, maka bacalah zikir ini sebanyak mungkin. InsyaAllah dengan mudah kita akan berjumpa dengannya & segala hajat yang penting akan berhasil.

79. “Ya Barr!” Amalkanlah zikir ini sebanyak mungkin setiap hari, InsyaAllah segala apa yang kita hajati akan terlaksana dengan mudah.

80. “Ya Tawwaab!” Bagi orang yang selalu membuat dosa & ingin bertaubat maka hendaklah memperbanyakkan zikir ini supaya dengan mudah diberikan petunjuk kembali ke jalan yang lurus.

81. “Ya Muntaqim!” Jika kita berhadapan dengan orang yang zalim, supaya dia tidak melakukan kezalimannya terhadap kita, maka hendaklah kita memperbanyakkan zikir ini setiap kali sesudah sholat fardhu. Insyaallah, kita akan mendapat pertolongan Allah.

82. “Ya ‘Afuww!” Barangsiapa memperbanyakkan zikir ini, niscaya dia akan diampuni segala dosanya oleh Allah.

83. “Ya Rauuf!” Bagi siapa yang ingin dirinya disayangi dan disenango oleh teman atau siapa saja yang memandangnya, amalkan zikir ini waktu siang malam.

84. “Ya Maalikul Mulki!” Seseorang pimpinan/ ketua yang ingin kedudukan yang langgeng dan tanpa diganggu gugat, hendaklah selalu mengamalkan zikir ini sebanyak 212 x sesudah sholat fardhu & 212 pada setiap malam selama sebulan.
85. “Ya Zul Jalaali wal Ikraam!” Amalkanlah zikir ini sebanyak 65 x setiap hari selama sebulan, InsyaAllah segala hajat kita akan tercapai dengan pertolongan Allah.

86. “Ya Muqsith!” Berzikirlah dengan zikir ini mengikut kemampuan, InsyaAllah Tuhan akan menganugerahkan sifat adil kepada mereka yang mengamalkannya.

87. “Ya Jaami’!” Sekiranya ada dikalangan keluarga kita atau isteri kita yang lari dari rumah, maka amalkanlah zikir ini sebanyak mungkin pada setiap hari dengan niat semoga Allah menyadarkan orang tersebut. Dengan izin Allah orang yang lari itu akan pulang dalam jangka waktu yang singkat.

88. “Ya Ghaniy!” Amalkanlah zikir ini pada setiap hari sebanyak mungkin, InsyaAllah apa yang kita usahakan akan cepat berhasil & kekayaan yang kita perolehi itu akan mendapat berkat.

89. “Ya Mughniy!” Mintalah kekayaan yang bermanfaat untuk kehidupan dunia & akhirat kepada Allah dengan memperbanyakkan zikir ini, InsyaAllah segala hajat kita akan tercapai.

90. “Ya Maani’!” Andai kita selalu mengamalkan zikir ini sebanyak 161 x pada waktu menjelang sholat subuh setiap hari, InsyaAllah kita akan terhindar dari orang-orang yang zalim & suka membuat angkara.

91. “Ya Dhaarr!” Asma ini sangat berguna didalam ikhtiar kita untuk menyembuhkan sesuatu penyakit yang sudah menahun dan lama diobati. Amalkanlah zikir ini sebanyak 1001 x pada setiap hari, InsyaAllah dengan ikhtiar ini penyakitnya cepat sembuh.

92. “Ya Naafi’ “! Menurut Imam Ahmad Al-Buniy, barangsiapa mengamalkan zikir ini setiap hari, maka bagi orang yang sakit, sakitnya akan sembuh, & bagi orang yang susah akan dihilangkan kesusahannya dengan izin Allah.

93. “Ya Nuur!” Menurut Sheikh Ahmad bin Muhammad As Shawi, barangsiapa yang menghendaki kemuliaan yang agung & memperolehi apa terbaik untuk kebaikan di dunia akhirat, maka hendaklah selalu berzikir dengan zikir ini pagi & petang.

94. “Ya Haadiy!” Bagi siapa yang dalam perjalanan ke suatu tempat tertentu, kemudian ia tersesat, hendaklah ia memohon petunjuk Allah dengan memperbanyakkan zikir ini, akan diberikan pertolongan Allah lepas dari kesesatan tersebut.

95. “Ya Baadii!” Andai kita mempunyai rencana/rancangan yang sangat penting & bagi memastikan rencana kita itu berjaya dan berjalan lancar, maka berzikirlah dengan zikir ini sebanyak 500 x selepas sholat fardhu. InsyaAllah Tuhan akan memberikan pertolongan hingga rencana kita sukses.

96. “Ya Baaqy!” Amalkanlah zikir ini sebanyak mungkin tanpa batas waktu, InsyaAllah dengan ikhtiar ini semua perkerjaan yang telah dilakukan akan berda pada puncak sukses dan rezeki tidak akan mudah terlepas, bisnis tidak akan rugi atau bangkrut.

97. “Ya Waarits!” berzikir sebanyak 500 x selepas sholat fardhu atau sebagainya, segala urusan kita akan berjalan lancar. Pada setiap malam berzikir dengan zikir ini sebanyak 707 x, Allah akan memberi petunjuk sehingga usaha kita akan berhasil dengan ridho-NYA.

98. “Ya Rasyiid!” biasakanlah zikir ini sebanyak mungkin, niscaya otak kita akan bertambah cerdas.

99. “Ya Shabuur!” Agar kita diberi kesabaran oleh Allah dalam segala hal, maka perbanyakkanlah zikir ini menurut kemampuan. Dengan sifat sabar penuh pengharapan, maka segala usaha akan mencapai kejayaan.