Minggu, 30 Juni 2013

Syekh Ahmad Khatib Sambas

Beliau adalah Ahmad Khatib Sambas dilahirkan di daerah Kampung Dagang, Sambas, Kalimantan Barat, pada bulan shafar 1217 H. bertepatan dengan tahun 1803 M. dari seorang ayah bernama Abdul Ghaffar bin Abdullah bin Muhammad bin Jalaluddin. Ahmad Khatib terlahir dari sebuah keluarga perantau dari Kampung Sange’. Pada masa-masa tersebut, tradisi merantau (nomaden) memang masih menjadi bagian cara hidup masyarakat di Kalimantan Barat.

Ahmad Khatib Sambas menjalani masa-masa kecil dan masa remajanya. Di mana sejak kecil, Ahmad khatib Sambas diasuh oleh pamannya yang terkenal sangat alim dan wara’ di wilayah tersebut. Ahmad khatib Sambas menghabiskan masa remajanya untuk mempelajari ilmu-ilmu agama, ia berguru dari satu guru-ke guru lainnya di wilayah kesultanan Sambas. Salah satu gurunya yang terkenal di wilayah tersebut adalah, H. Nuruddin Musthafa, Imam Masjid Jami’ Kesultanan Sambas.

Karena terlihat keistimewaannya terhadap penguasaan ilmu-ilmu keagamaan, Ahmad Khatib Sambas kemudian dikirim oleh orang tuanya untuk meneruskan pendidikannya ke Timur Tengah, khususnya Mekkah. Maka pada tahun 1820 M. Ahmad Khatib Sambas pun berangkat ke tanah suci untuk menuntaskan dahaga keilmuannya. Dari sini kemudian ia menikah dengan seorang wanita Arab keturunan Melayu dan menetap di Makkah. Sejak saat itu, Ahmad Khatib Sambas memutuskan menetap di Makkah sampai wafat pada tahun 1875 M.
Guru-gurunya :
  •   H. Nuruddin Musthafa, Imam Masjid Jami’ Kesultanan Sambas.
  •   Syeh Muhammad Arsyad Al Banjari
  •   Syeh Daud Bin Abdullah Al Fatani (ulama asal Patani Thailand Selatan yang bermukim di Mekkah)
  •   Syeh Abdusshomad Al Palimbani (ulama asal Palembang yang bermukim di Mekkah)
  •   Syeikh Abdul hafidzz al-Ajami
  •   Syeh Ahmad al-Marzuqi
  •   Syeh Syamsudin, mursyid tarekat Qadiriyah yang tinggal dan mengajar di Jabal Qubays Mekkah.
Ketika kemudian Ahmad Khatib telah menjadi seorang ulama, ia pun memiliki andil yang sangat besar dalam perkembangan kehidupan keagamaan di Nusantara, meskipun sejak kepergiannya ke tanah suci, ia tidaklah pernah kembali lagi ke tanah air.

Masyarakat Jawa dan Madura, mengetahui disiplin ilmu Syeikh Sambas, demikian para ulama menyebutnya kemudian, melalui ajaran-ajarannya setelah mereka kembali dari Makkah. Syeikh Sambas merupakan ulama yang sangat berpengaruh, dan juga banyak melahirkan ulama-ulama terkemuka dalam bidang fiqh dan tafsir, termasuk Syeikh Nawawi al-Bantani adalah salah seorang di antara murid-murid Beliau yang berhasil menjadi ulama termasyhur.

Salah satunya adalah Syeikh Abdul Karim Banten yang terkenal sebagai Sulthanus Syeikh. Ulama ini terkenal keras dalam imperialisme Belanda pada tahun 1888 dan mengobarkan pemberontakan yang terkenal sebagai pemberontakan Petani Banten. Namun sayang, perjuangan fisiknya ini gagal, kemudian meninggalkan Banten menuju Makkah untuk menggantikan Syeikh Ahmad Khatib Sambas.


Syeikh Ahmad Khatob Sambas dalam mengajarkan disiplin ilmu Islam bekerja sama dengan para Syeikh besar lainnya yang bukan pengikut thariqat seperti Syaikh Tolhah dari Cirebon, dan Syaikh Ahmad Hasbullah bin Muhammad dari Madura, keduanya pernah menetap di Makkah.

Sebagian besar penulis Eropa membuat catatan salah, ketika mereka menyatakan bahwa sebagian besar Ulama Indonesia bermusuhan dengan pengikut sufi. Hal terpenting yang perlu ditekankan adalah bahwa Syeikh Sambas adalah sebagai seorang Ulama (dalam asti intelektual), yan g juga sebagai seorang sufi (dalam arti pemuka thariqat) serta seorang pemimpin umat yang memiliki banyak sekali murid di Nusantara.

Hal ini dikarenakan perkumpulan Thariqat Qadiriyyah wa Naqsabhandiyyah yang didirikannya, telah menarik perhatian sebagian masyarakat muslim Indonesia, khususnya di wilayah Madura, Banten, dan Cirebon, dan tersebar luas hingga ke Malaysia, Singapura, Thailand, dan Brunei Darussalam.

Peranan dan Karyanya
Perlawanan yang dilakukan oleh suku Sasak, pengikut Thariqat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah yang dipimpin oleh Syeikh Guru Bangkol juga merupakan bukti yang melengkapi pemberontakan petani Banten, bahwa perlawanan terhadap pemerintahan Belanda juga dipicu oleh keikutsertaan mereka pada perkumpulan Thariqoh yang didirikan oleh Syeikh Ahmad Khatib Sambas ini.

Thariqat Qadiriyyah wan Naqshabandiyyah mempunyai peranan penting dalam kehidupan muslim Indonesia, terutama dalam membantu membentuk karakter masyarakat Indonesia. Bukan semata karena Syaikh Ahmad Khatib Sambas sebagai pendiri adalah orang dari Nusantara, tetapi bahwa para pengikut kedua Thariqat ini adalah para pejuang yang dengan gigih senantiasa mengobarkan perlawanan terhadap imperialisme Belanda dan terus berjuang melalui gerakan sosial-keagamaan dan institusi pendidikan setelah kemerdekaan.


Ajarah Syeikh Ahmad Khatib Sambas hingga saat ini dapat dikenali dari karyanya berupa kitab FATHUL ARIFIN nang merupakah notulensi dari ceramah-ceramahnya yang ditulis oleh salah seorang muridnya, Muhammad Ismail bin Abdurrahim. Notulensi ini dibukukan di Makkah pada tanggal tahun 1295 H. kitab ini memuat tentang tata cara, baiat, talqin, dzikir, muqarobah dan silsilah Thariqah Qadiriyyah wan Naqsyabandiyah.

Buku inilah yang hingga saat ini masih dijadikan pegangan oleh para mursyid dan pengikut Thariqah Qadiriyyah wan Naqsyabandiyah untuk melaksanakan prosesi-prosesi peribadahan khusus mereka. Dengan demikian maka tentu saja nama Syeikh Ahmad Khatib Sambas selalu dikenang dan di panjatkan dalam setiap doa dan munajah para pengikut Thariqah ini.

Walaupun Syeikh Ahmad Khatib Sambas termasyhur sebagai seorang tokoh sufi, namun Beliau juga menghasilkan karya dalam bidang ilmu fikih yang berupa manusrkip risalah Jum’at. Naskah tulisan tangan ini dijumpai tahun 1986, bekas koleksi Haji Manshur yang berasal dari Pulau Subi, Kepulauan Riau. Demikian menurut Wan Mohd. Shaghir Abdullah, seorang ulama penulis asal tanah Melayu. Kandungan manuskrip ini, membicarakan masalah seputar Jum’at, juga membahas mengenai hukum penyembelihan secara Islam.
Pada bagian akhir naskah manuskrip, terdapat pula suatu nasihat panjang, manuskrip ini ditutup dengan beberapa amalan wirid Beliau selain amalan Tariqat Qadiriyah-Naqsyabandiyah.

Karya lain (juga berupa manuskrip) membicarakan tentang fikih, mulai thaharah, sholat dan penyelenggaraan jenazah ditemukan di Kampung Mendalok, Sungai Kunyit, Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat, pada 6 Syawal 1422 H/20 Disember 2001 M. karya ini berupa manuskrip tanpa tahun, hanya terdapat tahun penyalinan dinyatakan yang menyatakan disalin pada hari kamis, 11 Muharam 1281 H. oleh Haji Ahmad bin Penggawa Nashir.

Sedangkan mengenai masa hidupnya, sekurang-kurangnya terdapat dua buah kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh orang Arab, menceritakan kisah ulama-ulama Mekah, termasuk di dalamnya adalah nama Syeikh Ahmad Khatib Sambas. Kitab yang pertama, Siyar wa Tarajim, karya Umar Abdul Jabbar. Kitab kedua, Al-Mukhtashar min Kitab Nasyrin Naur waz Zahar, karya Abdullah Mirdad Abul Khair yang diringkaskan oleh Muhammad Sa'id al-'Amudi dan Ahmad Ali.

Murid-Muridnya antara lain :
  • Syeh Nawawi Al Bantani
  • Syeh Muhammad Kholil Bangkalan Madura
  • Syeh Abdul Karim Banten
  • Syeh Tolhah Cirebon
  • Syeh Nawawi Al Bantani dan Syeh Muhammad Kholil selain berguru kepada Syeh Ahmad Khatib Sambas juga berguru kepada Syeh Ahmad Zaini Dahlan, mufti mazhab Syafii di Masjidil Haram Mekkah.
Sepeninggal Syeh Ahmad Khatib Sambas, Imam Nawawi Al Bantani ditunjuk meneruskan mengajar di Madrasah beliau di Mekkah tapi tidak diberi hak membaiat murid dalam tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Sedangkan Syeh Muhammad Kholil, Syeh Abdul Karim dan Syeh Tolhah diperintahkan pulang ke tanah Jawa dan ditunjuk sebagai Khalifah yang berhak menyebarkan dan membaiat murid dalam Tharekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.

Murid murid Syekh Ahmad Khatib Sambas diatas adalah guru para Ulama-Ulama Nusantara generasi berikutnya yang dikemudian hari menjadi ulama yang mendirikan pondok pesantren dan biasa dipanggil dan digelari sebagai KYAI, Tuan Guru, Ajengan, dsb. 


Jumat, 28 Juni 2013

Syekh Abdul Samad al-Palimbani

Beliau Sahabat Datuk kalampayan dan sesama murid Syekh Samman Al Madani yg dikenal dengan 4 Serangkai dari Tanah Jawi bersama Syekh Abdul Wahab Bugis (Menantu Datuk Kalampayan suami Syarifah) dan Syekh Abdurrahman Al Masri (kakeknya Habib Utsman Betawe, Pengarang Kitab sifat 20) yang hidup antara 1700-1800 M.

Makam beliau di tengah hutan karena beliau dulu ikut serta dalam perjuangan melawan kerajaan Siam Budha Thailand yang ingin merebut Tanah Melayu Pattani yg sekarang menjadi bagian negara Thailand.

As-Sheikh Abdul Samad Al-Palembangi mati syahid ketika berjuang bersama tentera Melayu Kedah melawan Tentara Kerajaan Siam Budha Thailand.

Beliau pengarang Kitab Hidayatussalikin (Bahasa Arab Melayu) dan kitab Siarus Salikin yang banyak diajarkan saat majlis2 pengajian di Kalimantan Selatan

Manakib Beliau :
Bila berbicara perjuangan atau penyebaran Islam di Nusantara, salah satu nama yang akan disebut dan dibahas yakni Syekh Abdul Samad. Seorang ulama besar pada masanya yang dilahirkan di Palembang pada 1116 Hijiriyah atau 1704 Masehi.
Masyarakat Palembang, termasuk pula keturunannya, menyebut namanya Syekh Abdul Samad Al-Falembani. Namun ada tiga nama lain yang menyebutkan ulama besar ini. Yakni berdasarkan Ensiklopedia Islam, namanya Abdus Samad Al-Jawi Al-Falembani. Lalu berdasarkan sumber sumber-sumber Melayu, seperti ditulis oleh Azyumardi Azra dalam bukunya 'Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII (Mizan: 1994)', namanya Abdul Samad bin Abdullah Al-Jawi Al-Falembani. Ketiga, masih menurut Azyumardi Azra, apabila merujuk pada sumber-sumber Arab, namanya Sayyid Abdus Al-Samad bin Abdurrahman Al-Jawi.

Lalu, dari garis keturunan bangsa apa sebenarnya Syeikh Abdul Samad ini? Bila dilihat garis bapak, dia masih keturunan Arab. Nama bapaknya Syekh Abdul Jalil bin Syekh Abdul Wahhab bin Syekh Ahmad Al-Mahdani. Bapaknya seorang ulama dari Yaman. Yang sebelum datang ke Palembang, sempat mampir dahulu di Kedah, Malaysia. Di sana, dia menikahi Wan Zainab, puteri Dato Sri Maharaja Dewa.

Sementara ibu Syekh Abdul Samad adalah Radin Ranti, seorang perempuan Palembang. Jadi jika dilihat garis keturunan ibu, Syeikh Abdul Samad keturunan Palembang. Seperti para ulama di masanya, Syekh Abdul Samad ini banyak melakukan pengembaraan dalam menuntut ilmu. Baik di Nusantara maupun di negeri yang jauh, seperti Arab.

Mencari Ilmu
Guru pertama Syekh Abdul Samad yakni bapaknya sendiri, Syekh Abdul Jalil. Selanjutnya dia disekolahkan ke pondok pesantren di negeri Patani (Thailand). Pada masa itu Patani adalah salah satu tempat menempa ilmu-ilmu ke-Islaman dengan sistem pondok.
Mungkin saja Syekh Abdul Samad bersama saudara-saudaranya seperti Wan Abdullah dan Wan Abdul Qadir telah memasuki pondok-pondok yang terkenal saat itu, seperti Pondok Bendang Gucil di Kerisik, Pondok Kuala Bekah atau Pondok Semala.

Di antara para gurunya di Patani, yang dapat diketahui dengan jelas hanyalah Syekh Abdur Rahman bin Abdul Mubin Pauh Bok. Beliau juga mempelajari ilmu sufi daripada Syekh Muhammad bin Samman, selain mendalami kitab-kitab tasawuf dari Syekh Abdul Rauf Singkel dan Samsuddin Al-Sumaterani, kedua-duanya dari Aceh.

Dari Patani, Syekh Abdul Samad belajar ke Mekah dan Madinah. Di sini dia banyak bergaul dengan para ulama asal Nusantara lainnya seperti Muhammad Arsyad Al-Banjari, Abdul Wahhab Bugis, Abdul Rahman Al-Batawi, dan Daud Al-Fatani. Walaupun menetap di Mekah, Syekh Abdul Samad, menurut Azyumardi, tetap memberikan perhatian besar pada perkembangan sosial, politik, dan keagamaan di Nusantara.

Gurunya di Mekah antara lai Muhammad bin Abdul Karim Al-Sammani, Muhammad bin Sulayman Al-Kurdi, dan Abdul Al-Mun'im Al-Damanhuri. Kemudian dia berguru dengan Ibrahim Al-Rais, Muhammad Murad, Muhammad Al-Jawhari, dan Athaullah Al-Mashri.

Ulama Kritis
Meskipun mendalami tasawuf, Syekh Abdul Samad dikenal kritis. Dia mengkritik kalangan yang mempraktikkan tarekat secara berlebihan. Beliau selalu mengingatkan akan bahaya kesesatan yang diakibatkan oleh aliran-aliran tarekat tersebut, khususnya tarekat Wujudiyah Mulhid yang terbukti telah membawa banyak kesesatan di Aceh.

Untuk mencegah apa yang diperingatkannya itu, Syeikh Al-Palembani menulis semula intipati dua kitab karangan ulama dan ahli falsafah abad pertengahan, yakni Imam Al-Ghazali yakni kitab 'Lubab Ihya' Ulumud Diin' (Intisari Ihya' Ulumud Diin), dan 'Bidayah Al-Hidayah' (Awal Bagi Suatu Hidayah). Dua karya Imam Al-Ghazali ini dapat membantu membimbing mereka yang mempraktikkan aliran sufi.

Berkaitan dengan ajaran tasawufnya, Syekh Al-Palembani mengambil jalan tengah antara doktrin tasawuf Imam Al-Ghazali dan ajaran 'wahdatul wujud' Ibnu Arabi; bahwa manusia sempurna (insan kamil) adalah manusia yang memandang hakikat Yang Maha Esa itu dalam fenomena alam yang serba aneka dengan tingkat makrifat tertinggi, sehingga mampu 'melihat' Allah SWT sebagai 'penguasa' mutlak.

Di Palembang, di masa Kesultanan Palembang, Syekh Abdul Samad sangat membenci Belanda. Apalagi Belanda memegang pengaruh besar di lingkungan Islam dan pemerintahan Palembang. Dia pun memutuskan meninggalkan Palembang. Guna melakukan perjalanan, dia bersama murid-muridnya menebang kayu di hutan untuk membuat perahu atau kapal kecil. Dia pergi ke Makkah.

Walaupun sebenarnya beliau bukanlah seorang tukang yang pandai membuat perahu, namun beliau sanggup mereka bentuk perahu itu sendiri untuk membawanya ke Mekah. Tentunya ada beberapa orang muridnya mempunyai pengetahuan membuat perahu seperti itu. Ini membuktikan Sheikh Abdus Shamadal-Falimbani telah menunjukkan keteguhan pegangan, tawakal adalah merupakan catatan sejarah yang tidak dapat dilupakan.

Membela Patani
Setelah kembali ke Makkah, Syekh Abdul Samad al-Falimbani tetap ingin pulang ke Nusantara. Dia telah lama bercita-cita untuk ikut serta dalam salah satu peperangan melawan para penjajah di Nusantara. Namun setelah dipertimbangkan, dia lebih tertarik membantu umat Islam di Pattani dan Kedah melawan keganasan Siam.

Dalam peperangan itu, dia memegang peranan penting dengan beberapa panglima Melayu lainnya. Ada catatan menarik mengatakan beliau bukan berfungsi sebagai panglima sebenarnya tetapi beliau bertindak sebagai seorang ulama sufi yang sentiasa berwirid, bertasbih, bertahmid, bertakbir dan bersalawat setiap siang dan malam.

Misteri Kematiannya
Sulit sekali menemukan tahun pasti wafatnya Syeikh Abdul Samad. Menurut Dr M Chatib Quzwain dalam bukunya "Mengenal Allah Suatu Studi Mengenal Ajaran Tasauf Sheikh Abdus Shamad al-Palimbani" pada tahun 1244 hijriyah atau 1828 masehi dikatakan umur Syekh Abdul Samad 124 tahun.

Al-Baythar menyatakan, Al-Palimbani meninggal setelah 1200 Hijriyah atau 1785 Masehi. Tetapi kemungkinan besar dia meninggal setelah 1203 Hijriyah atau 1789 Masehi, setelah dia menulis karya terkenalnya 'Sayr Al-Salikin'. Saat itu usianya berkisar 85 tahun.

Berdasarkan sumber di Jedah, dia dikatakan terbunuh dalam perang melawan Thailand pada 1244 Hijriyah atau 1828 Masehi. Lalu di mana Syekh Abdul Samad dimakamkan.? Dr M Chatib Quzwain menyebut bahwa makam Syekh Abdul Samad di Palembang, tapi di Palembang belum didapatkan informasi di mana makamnya di Palembang. Sedangkan Dr Azyumardi Azra menulis, "Ada kesan kuat dia meninggal di Arabia".

Tetapi, yang jelas, seperti ditulis penyair Malaysia yakni Muhammad Abdulloh bin Suradi dalam artikelnya "Syekh Abdul Samad Al-Falimbani, Ulama, Sufi dan Syuhada" masyarakat di Patani mengklaim telah menemukan makam Syeikh Abdul Samad di antara kampung Sekom dengan Cenak, di kawasan Tiba, Patani Utara, Thailand.

Daftar Karya Syekh Abdul Samad al-Palimbani ialah:
  • Zahratul Murid fi Bayani Kalimatit Tauhid, (1178 H/1764 M).
  • Risalah Pada Menyatakan Sebab Yang Diharamkan Bagi Nikah, (1179 H/1765 M).
  • Hidayatus Salikin fi Suluki Maslakil Muttaqin, (1192 H/1778 M).
  • Siyarus Salikin ila ‘Ibadati Rabbil 'Alamin, (1194 H/1780 M-1203 H/1788 M).
  • Al-'Urwatul Wutsqa wa Silsiltu Waliyil Atqa.
  • Ratib Sheikh 'Abdus Shamad al-Falimbani.
  • Nashihatul Muslimina wa Tazkiratul Mu’minina fi Fadhailil Jihadi wa Karaamatil Mujtahidina fi Sabilillah.
  • Ar-Risalatu fi Kaifiyatir Ratib Lailatil Jum’ah
  • Mulhiqun fi Bayani Fawaidin Nafi'ah fi Jihadi fi Sabilillah
  • Zatul Muttaqin fi Tauhidi Rabbil 'Alamin
  • Ilmut Tasawuf
  • Mulkhishut Tuhbatil Mafdhah minar Rahmatil Mahdah 'Alaihis Shalatu was Salam
  • Kitab Mi'raj, (1201 H/1786 M).
  • Anisul Muttaqin
  • Puisi Kemenangan Kedah.




Senin, 24 Juni 2013

Makam Wali Allah Syekh Abdul Muhyi

(Tasikmalaya, Jawa Barat 1151 H/1730 M). Ulama Tharekat Syattariah, penyebar agama Islam di Jawa Barat bagian selatan. Karena dipandang sebagai wali, makmnya di Pamijahan di keramatkan orang.
Abdul Muhyi datang dari keluarga bangsawan. Ayahnya, Sembah Lebe Warta Kusumah, adalah keturunan Raja Galuh (Pajajaran). Abdul Muhyi dibesarkan di Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Pendidikan agama Islam pertama kali diterimanya dari ayahnya sendiri dan kemudian dari para ulama yang berada di Ampel. Dalam usia 19 tahun, ia berangkat ke Kuala, Aceh, untuk melanjutkan pendidikannya dan berguru pada Syeikh Adur Rauf Singkel, seorang ulama sufi dan guru tarekat Syattariah.

Syeikh Abdur Rauf Singkel adalah ulama Aceh yang berupaya mendamaikan ajaran martabat alam tujuh yang dikenal di Aceh sebagai paham Wahdatul wujud atau wujudiyyah (panteisme dalam Islam) dengan paham sunah. Meskipun begitu Syeikh Abdur Rauf Singkel tetap menolak paham wujudiyyah yang menganggap adanya penyatuan antara Tuhan dan hamba. Ajaran inilah yang kemudian dibawa Syeikh Abdul Muhyi ke Jawa.

Masa studinya di Aceh dihabiskannya dalam tempo enam tahun (1090 H/1669 M-1096 H/1675 M). Setelah itu bersama teman-teman seperguruannya, ia dibawa oleh gurunya ke Baghdad dan kemudian ke Mekah untuk lebih memperdalam ilmu pengetahuan agama dan menunaikan ibadah haji.

Setelah menunaikan ibadah haji, Syeikh Haji Abdul Muhyi kembali ke Ampel. Setelah menikah, ia meninggalkan Ampel dan mulai melakukan pengembaraan ke arah barat bersama isteri dan orang tuanya. Mereka kemudian tiba di Darma, termasuk daerah Kuningan, Jawa Barat. Atas permintaan masyarakat muslim setempat, ia menetap di sana selama tujuh tahun (1678-1685) untuk mendidik masyarakat dengan ajaran Islam. Setelah itu ia kembali mengembara dan sampai ke daerah Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat. Ia mentap di Pameungpeuk slama 1 tahun (1685-1686) untuk menyebarkan agama Islam di kalangan penduduk yang ketika itu masih menganut agama Hindu.

Pada tahun 1986 ayahnya meninggal dunia dan dimakamkan di kampung Dukuh, di tepi Kali Cikangan. Beberapa hari setelah pemakaman ayahnya, ia melanjutkan pengembaraannya hingga ke daerah Batuwangi. Ia bermukim beberapa waktu di sana atas permintaan masyarakat. Setelah itu ia ke Lebaksiuh, tidak jauh dari Batuwangi. Lagi-lagi atas permintaan masyarakat ia bermukim di sana selama 4 tahun (1686-1690). Pada masa empat tahun itu ia berjasa mengislamkan penduduk yang sebelumnya menganut agama Hindu.

Menurut cerita rakyat, keberhasilannya dalam melakukan dakwah Islam terutama karena kekeramatannya yang mampu mengalahkan aliran hitam. Di sini Syeikh Haji Abdul Muhyi mendirikan masjid tempat ia memberikan pengajian untuk mendidik para kader yang dapat membantunya menyebarkan agama Islam lebih jauh ke bagian selatan Jawa Barat. Setelah empat tahun menetap di Lebaksiuh, ia lebih memilih bermukim di dalam gua yang sekarang dikenal sebagai Gua Safar Wadi di Pamijahan, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Menurut salah satu tradisi lisan, kehadirannya di Gua Safar Wadi itu adalah atas undangan bupati Sukapura yang meminta bantuannya untuk menumpas aji-aji hitam Batara Karang di Pamijahan. Di sana terdapat sebuah gua tempat pertapaan orang-orang yang menuntut aji-aji hitam itu. Syeikh Haji Abdul Muhyi memenangkan pertarungan melawan orang-orang tersebut hingga ia dapat menguasai gua itu.
Ia menjadikan gua itu sebagai tempat pemukiman bagi keluarga dan pengikutnya, di samping tempat ia memberikan pengajian agama dan mendidik kader-kader dakhwah Islam. Gua tersebut sangat sesuai baginya dan para pengikutnya untuk melakukan semadi menurut ajaran tarekat Syattariah. Sekarang gua tersebut banyak diziarahi orang sebagai tempat mendapatkan “berkah”. Syeikh Haji Abdul Muhyi juga bertindak sebagai guru agama Islam bagi keluarga Bupati Sukapura, Bupati Wiradadaha IV, R. Subamanggala.

Setelah sekian lama bermukim dan mendidik para santrinya di dalam gua, ia dan para pengikutnya berangkat menyebarkan agama Islam di kampung Bojong (sekitar 6 km dari gua, sekarang lebih dikenal sebagai kampung Bengkok) sambil sesekali kembali ke Gua Safar Wadi. Sekitar 2 km dari Bojong ia mendirikan perkampungan baru yang disebut kampung Safar Wadi.

Di kampung itu ia mendirikan masjid (sekarang menjadi kompleks Masjid Agung Pamijahan) sebagai tempat beribadah dan pusat pendidikan Islam. Di samping masjid ia mendirikan rumah tinggalnya. Sementara itu, para pengikutnya aktif menyebarkan agama Islam di daerah Jawa Barat bagian selatan. Melalui para pengikutnya, namanya terkenal ke berbagai penjuru Jawa Barat.

Menurut tradisi lisan, Syeikh Maulana Mansur berulang kali datang ke Pamijahan untuk berdialog dengan Syeikh Haji Abdul Muhyi. Syeikh Maulana Mansur adalah putra Sultan Abdul Fattah Tirtayasa dari Kesultanan Banten. Sultan Tirtayasa sendiri adalah keturunan Maulana Hasanuddin, sultan pertama kesultanan Banten yang juga putra dari Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati, salah seorang Wali Songo.

Berita tentang ketinggian ilmunya itu sampai juga ke telinga Sultan Mataram. Sultan kemudian mengundang Syeikh Haji Abdul Muhyi untuk menjadi guru bagi putra-putrinya di istana Mataram. Sultan Mataram Paku Buwono II (1727-1749) ketika itu bahkan menjanjikan akan memberi piagam yang memerdekakan daerah Pamijahan dan menjadikannya daerah “perdikan”, daerah yang dibebaskan dari pembayaran pajak. Undangan Sultan Mataram itu tidak pernah dilaksanakannya, karena pada tahun 1151 H (1730 M) Syeikh Haji Abdul Muhyi meninggal dunia karena sakit di Pamijahan.
Berdasarkan keputusan Sultan Mataram itulah, oleh pemerintah kolonial Belanda, melalui keputusan residen Priangan, Pamijahan sejak tahun 1899 dijadikan daerah “pasidkah”, daerah yang dikuasai secara turun temurun dan bebas memungut zakat, pajak, dan pungutan lain untuk keperluan daerah itu sendiri.

Makam Syeikh Haji Abdul Muhyi yang terdapat di Pamijahan diurus dan dikuasai oleh keturunannya. Makamnya itu ramai diziarai orang sampai sekarang karena dikeramatkan. Sampai saat ini desa Pamijahan dipimpin oleh seorang khalifah, jabatan yang diwariskan secara turun-temurun, yang juga merangkap sebagai juru kunci makam dan mendapat penghasilan sedekah dari para peziarah.

Karya tulis Syeikh Haji Abdul Muhyi yang asli tidak ditemukan lagi. Akan tetapi ajarannya disalin oleh murid-muridnya, di antaranya oleh putra sulungnya sendiri, Syeikh Haji Muhyiddin yang menjadi tokoh Tharekat Syattariah sepeninggal ayahnya. Syeikh Haji Muhyiddin menikah dengan seorang putri Cirebon dan lama menetap di Cirebon. Ajaran Syeikh Haji Abdul Muhyi versi Syeikh Haji Muhyiddin ini ditulis dengan huruf pegon (Arab Jawi) dengan menggunakan bahasa Jawa (baru) pesisir. Naskah versi Syeikh Haji Muhyiddin itu berjudul Martabat Kang Pitutu (Martabat Alam Tujuh) dan sekarang terdapat di museum Belanda, dengan nomor katalog LOr. 7465, LOr. 7527, dan LOr. 7705.

Ajaran “Martabat Alam Tujuh” ini berawal dari ajaran tasawuf wahdatul wujud (kesatuan wujud) yang dikembangkan oleh Ibnu Arabi. Tidak begitu jelas kapan ajaran ini pertama kali masuk ke Indonesia. Yang jelas, sebelum Syeikh Haji Abdul Muhyi, beberapa ulama sufi Indonesia sudah ada yang menulis ajaran ini, sepertiHamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani (tokoh sufi, w. 1630), dan Abdur Rauf Singkel, dengan variasi masing-masing. Oleh karena itu sangat lemah untuk mengatakan bahwa karya Syeikh Haji Abdul Muhyi yang berjudul Martabat Kang Pitutu ini sebagai karya orsinilnya, tetapi besar kemungkinan berupa saduran dari karya yang sudah terdapat sebelumnya dengan penafsiran tertentu darinya.

Menurut ajaran “Martabat Alam Tujuh”, seperti yang tertuang dalam Martabat kang Pitutu, wujud yang hakiki mempunyai tujuh martabat, yaitu (1) Ahadiyyah, hakikat sejati Allah Swt., (2) Wahdah, hakikat Muhammad Saw., (3) Wahidiyyah, hakikat Adam As., (4) Alam arwah, hakikat nyawa, (5) Alam misal, hakikat segala bentuk, (6) Alam ajsam, hakikat tubuh, dan (7) Alam insan, hakikat manusia. Kesemuanya bermuara pada yang satu, yaitu Ahadiyyah, Allah Swt. Dalam menjelaskan ketujuh martabat ini Syeikh Haji Abdul Muhyi pertama-tama menggaris bawahi perbedaan antara Tuhan dan hamba, agar sesuai dengan ajaran Syeikh Abdur Rauf Singkel-orang tidak terjebak pada identiknya alam dengan Tuhan.
Ia mengatakan bahwa wujud Tuhan itu qadim (azali dan abadi), sementara keadaan hamba adalah muhdas (baru). Dari tujuh martabat itu, yang qadim itu meliputi martabat Ahadiyyah, Wahdah, dan Wahidiyyah, semuanya merupakan martabat-martabat “keEsaan” Allah SWT. yang tersembunyi dari pengetahuan manusia. Inilah yang disebut sebagai wujudullah. Empat martabat lainnya termasuk dalam apa yang disebut muhdas, yaitu martabat-martabat yang serba mungkin, yang baru terwujud setelah Allah SWT. memfirmankan “Kun” (jadilah).

Selanjutnya melalui martabat tujuh itu Syeikh Haji Abdul Muhyi menjelaskan konsepi nsan kamil (manusia sempurna). Konsep ini merupakan tujuan pencapaian aktivitas sufi yang hanya bisa diraih dengan penyempurnaan martabat manusia agar sedekat-dekatnya “mirip” dengan Allah SWT. Melalui usaha Syeikh Haji Muhyiddin, ajaran martabat tujuh yang dikembangkan Syeikh Abdul Muhyi tersebar luas di Jawa pada abad ke-18. 


Sabtu, 22 Juni 2013

Mandala Keraton

Di mata orang Jawa, keraton adalah keramat. Kawula takut kuwalat jika berbuat semaunya di lingkungan keraton. Kawula selalu berasumsi bahwa sang raja memilikki kuluk kanigara, yaitu makutha yang esensinya memuat kewibawaan. Makutha menyimpan hal-hal yang “the seen” dan “unseen worlds”. Secara kasatmata, makutha itu benda berharga. Tapi di balik barang tersebut merupakan perlambangan kesaktian dan kekuasaan sebagai warisan pusaka Kiai Jaka Piturun. Kepemimpinan raja adalah kuasa yang mengayomi sebagaimana ada rasa adhem, ayem dan tenang yang dikhayati oleh kawula.

Keraton adalah pusat rasa Jawa, rasa hakiki yang hidup di dataran nalar Jawa adalah rasa njaba dan rasa njero.  Kedua rasa ini menep (merasuk) dalam candrasengkala memet regol kemagangan yang berbunyi: Dwi Naga Rasa Tunggal (1682). Dwi Naga Rasa Tunggal artinya dua naga yang tubuhnya (sarira) dipadukan hingga muncul ungkapkan mistik manunggaling kawula – Gusti.

Dalam konteks manunggal ini, ditunjukkan oleh ungkapkan sarira tunggal atau sari-rasa-tunggal. Maksudnya adalah kawula-Gusti memilikki hakikat satu rasa (madu rasa).  Keinginan kawula untuk selalu manunggal dengan Gusti disebut madu brangta.

Sebelum keraton berdiri, sesuatu yang ada hanyalah hutan belantara.  Hutan yang bernama Garjitawati dan diartikan sebagai kesadaran total manusia.  Kesadaran yang melahirkan pemikiran jernih dan wening. Wati berarti kaya, banyak, luas dan Garjtawati adalah hutan yang menyimbolkan kesadaran kuat.  Salah satu raja Jawa, Sri Sultan HB I memandang tepat keraton Yogya berdiri di atas bumi harum itu.  Dari sini kesadaran kosmis muncul di benak kawula-Gusti Yogya, karena tata letak simbolik imajiner keraton.

Kosmologi keraton Yoga tidak terlepas dari pandangan dunia Kejawen dengan masyarakat kejawen berpikir tentang kosmologi Jawa melalui pepangkataning dumadi, Tribuwana. Adanya Guru loka (baitul makmur), Endra loka (baitul muharam), dan Jana Loka (baitul muqadas).  Guru loka dalam posisi keraton diwakili oleh Gunung Merapi. Gunung berada di utara disebut lor, utama dan luhur. Posisi di tengah yaitu, Endra Loka artinya raja. Raja kehidupan tidak lain adalah hati (rasa sejati). Ada pun Jana loka adalah gambaran kawula, rendah dan bawah. Ketiga ranah filosofi – kosmis ini yang memposisikan keraton sebagai sentral.

Pemikiran kosmologi Jawa sedemikian berkembang dan meningkat dari posisi Tribuwana menjadi Pancabuwana. Konsep Pancabuwana tetap meletakkan keraton sebagai Pusat. Pancabuwana memuat keblat papat lima pancer yang berarti buwana manusia selalu dilingkupi oleh empat anasir:

(a)  Keraton sebagai sentral (pancer) kehidupan.

(b)  Keraton Yogyakarta secara kosmis diapit oleh empat anasir kiblat yaitu

   1. Kampung Gandamanan (Timur)
   2. Kampung Krapyak (Selatan)
   3. Wirabrajan (Barat)
   4. Utara (jetis)

Makna filosofi Kampung Gandamanan bila ditarik ke utara lurus bersimetris dengan Kampung Gandalayu (timur Tugu).  Adapun Kampung Wirabrajan, jika ditarik lurus ke utara muncul Kampung Pingit, sebelah barat Tugu. Jadi garis imajiner keraton ke Tugu menandai bahwa lokasi keraton diapit oleh dua nama kampong yang melambangkan hidup (Pingit, berarti suci) dan mati (Gandalayu, artinya bau bangkai).  Hal ini ditandai pula bahwa Kampung Pingit itu dialiri sungai Winanga dan Kampung Gandalayu yang dialiri Sungai Code. Winanga berasal dari bahasa Jawa winong, artinya paham, ketahuilah dekatkanlah dengan Hyang Winong yaitu Tuhan.  Sebaliknya, jauhilah yang jelek, berbau bangkai yang dilambangkan Code (dalam bahasa Jawa, cocode, kejelekan).

Jika posisi Pancabuwana tersebut dilukiskan, keraton akan tampak sebagai sumber kasekten.  Sakti berarti hangabehi, di dalamnya muncul zating Pagneran melalui sebuah proses emanasi. Kosmologi keblat papat lima pancer, keraton tergambar sebagai kuthanegara yang berada pada posisi tengah, isinya suwung (titik nol), menjadi fakta hakiki (ultimate reality), hari pasarannya adalah Kliwon, multi-warna dan dewanya adalah Manikmaya (Bhatara Hyang Guru).  Sebelah timur dibatasi oleh negaragung, sebagai fakta emanen, sebagai purwaning dumadi (jagad kawitan).  Maka posisi semadi orang Jawa menghadap ke timur, pasarannya adalah Legi, dibatasi dengan negaragung brang wetan, warnanya putih, disimbolkan anasir air, dewanya Wisnu.  Sebelah selatan adalah fakta eksistensial, berwarna merah, pasaran Paing, dibatasi Laut Selatan, dan dewanya Kala.  Sebelah barat pasarannya adalah Pon, dibatasi negaragung brang kulon, berwarn akuning, sebagai fakta transeden, dewinya Sri.  Sebelah utara adalah pasarannya Wage, warnanya hitam, dibatasi Gunung Merapi, dewanya Narada, sebagai fakta esensial.

Kosmologi keraton demikian terkait dengan sebutan ning-rat.  Ning artinya jernih dan rat (dunia kosmos).  Kejernihan berpikir tentang dunia (kosmos) oleh kesakralan keraton.  Di mata orang Jawa, keraton sebagai mandala yang gawat keliwat-liwat wingit kepati-pati.  Maka dalam Serat Baron Sekender, dikisahkan ada pesawat colonial yang hendak menyerang keraton Yogya, tiba-tiba jatuh ketika berada di atas keraton.  Nuansa kosmis itulah yang menyebabkan keraton sangat berbeda dengan tempat lain.  Keraton diibaratkan seperti istana, tapi istana bukan keraton.

Dari waktu ke waktu, umumnya orang Jawa memandang keraton selalu menyebarkan ruh kosmis, yaitu:

(1)  Memberi perlindungan (hangayomi)

(2)  Memberi rasa aman, tenang dan tenteram (hangayemi)

(3)  Memberi berkah berbagai hal (hamberkahi).

Ketiganya tergambar pada watak raja yang mahambeg paramarta.  Artinya, raja selalu menyebarkan watak keutamaan kepada kawula.  Kawula memandang Sultan sebagai figure yang mampu amangku-amengku-among-momot.  Amangku, artinya bisa menciptakan suasana jenak, tenang, adhem ayem, memahami aspirasi bawahan secara total sebagaimana seorang Ibu memangku anaknya.  Amengku, berarti mampu menjalankan kekuasaan yang tidak semena-mena, penuh kecintaan, perlindungan, penuh perhatian, seperti halnya sayap ayam melindungi anaknya.  Among-momot, artinya mampu memimpin dengan kultur kejawaan yang penuh asah-asih-asuh, mewadahi segala keinginan kawula.  Ketiga hal itu terangkum dalam ungkapan mahambeg berbudi bawa laksana.

Melalui Perjanjian Giyanti yang diskenariokan kolonialis pada 13 Februari 1755, hingga membelah Mataram menjadi dua, yaitu Kasultanan Yoga dan Kasunan Surakarta, terkesan agak aneh.  Sunan seakan representasi ulama dan sultan adalah gambaran umaro.  Pada hal kedua belah pihak jelas memuat ulama-umaro.  Teologi dan teosofi Keraton Yogya selalu merujuk bahwa keraton adalah sentral – kosmis – filosofis.  Keraton Yogya tidak sekadara memimpin kawula secara lahir, melainkan juga dengan konsepsi filosofi kejawen yang luhur.  Sultan yang bergelar Sayidin Panatagama Kalifatullah, diakui atau tidak jelas melukiskan sebuah paugeraning dumadi.  Sultan dianggap figure waskitha atau nawung kridha, yang menjadi pandom (kiblat) kawula.

Atas dasar itu, keraton sekaligus juga sebagai pusat (telenging dumadi).  Maka kedudukan sultan menjadi abon-aboning panembah jati.  Maksudnya, keraton menjadi sentral kawula dalam melakukan persembahan.  Hakikatnya kawula adalah menyembah Hyang Widhi, sebab Sultan diobsesikan sebagai wakil (badal wakiling) Tuhan.  Itulah sebabnya kawula selalu melakukan tindakan saiyeg, saeka praya sebaya pati sebaya mukti.

Demi tegaknya keraton, kawula rela dan ikhlas berkorban secara serentak, rukun sampai titik darah penghabisan.  Alasannya, jika keraton menemui kejayaan, kawula juga akan menerima kemurahan (luberan) raja.


Kamis, 20 Juni 2013

Ziarah Kubur

Rasulullah SAW bersabda:
Dari Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb, mereka berdua berkata : Muhammad Bin ‘Ubaid menuturkan kepada kami: Dari Yaziid bin Kasyaan, ia berkata: Dari Abu Haazim, ia berkata: Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW berziarah kepada makam ibunya, lalu beliau menangis, kemudian menangis pula lah orang-orang di sekitar beliau. Beliau lalu bersabda: “Aku meminta izin kepada Rabb-ku untuk memintakan ampunan bagi ibuku, namun aku tidak diizinkan melakukannya. Maka aku pun meminta izin untuk menziarahi kuburnya, aku pun diizinkan. Berziarah-kuburlah, karena ia dapat mengingatkan engkau akan kematian”.
(HR. Muslim no.108, 2/671)

Faidah:
Haram hukumnya memintakan ampunan bagi orang yang mati dalam keadaan kafir (Nailul Authar [219], Syarh Shahih Muslim Lin Nawawi [3/402]). Sebagaimana juga firman Allah Ta’ala:

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah SWT) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya)” (QS. At Taubah: 113)

Berziarah kubur ke makam orang kafir hukumnya boleh (Syarh Shahih Muslim Lin Nawawi, 3/402). Berziarah kubur ke makam orang kafir ini sekedar untuk perenungan diri, mengingat mati dan mengingat akhirat. Bukan untuk mendoakan atau memintakan ampunan bagi shahibul qubur. (Ahkam Al Janaaiz Lil Albani, 187).

Jika berziarah kepada orang kafir yang sudah mati hukumnya boleh, maka berkunjung menemui orang kafir (yang masih hidup) hukumnya juga boleh (Syarh Shahih Muslim Lin Nawawi, 3/402).

Hadits ini adalah dalil tegas bahwa Ibunda Nabi SAW mati dalam keadaan kafir dan kekal di neraka (Syarh Musnad Abi Hanifah, 334).

Tujuan berziarah kubur adalah untuk menasehati diri dan mengingatkan diri sendiri akan kematian (Syarh Shahih Muslim Lin Nawawi, 3/402).

An Nawawi, Al ‘Abdari, Al Haazimi berkata: “Para ulama bersepakat bahwa ziarah kubur itu boleh bagi laki-laki” (Fathul Baari, 4/325). Bahkan Ibnu Hazm berpendapat wajib hukumnya minimal sekali seumur hidup. Sedangkan bagi wanita diperselisihkan hukumnya. Jumhur ulama berpendapat hukumnya boleh selama terhindar dari fitnah, sebagian ulama menyatakan hukumnya haram mengingat hadits,

“Allah SWT melaknat wanita yang sering berziarah kubur” (HR. At Tirmidzi no.1056, komentar At Tirmidzi: “Hadits ini hasan shahih”)

Dan sebagian ulama berpendapat hukumnya makruh (Fathul Baari, 4/325). Yang rajih Insya Allah, hukumnya boleh bagi laki-laki maupun wanita karena tujuan berziarah kubur adalah untuk mengingat kematian dan mengingat akhirat, sedangkan ini dibutuhkan oleh laki-laki maupun perempuan (Ahkam Al Janaaiz Lil Albani, 180).

Ziarah kubur mengingatkan kita akan akhirat. Sebagaimana riwayat lain dari hadits ini:

“Berziarah-kuburlah, karena ia dapat mengingatkanmu akan akhirat” (HR. Ibnu Maajah no.1569)

Ziarah kubur dapat melembutkan hati. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang lain:

“Dulu aku pernah melarang kalian untuk berziarah-kubur. Namun sekarang ketahuilah, hendaknya kalian berziarah kubur. Karena ia dapat melembutkan hati, membuat air mata berlinang, dan mengingatkan kalian akan akhirat namun jangan kalian mengatakan perkataan yang tidak layak (qaulul hujr), ketika berziarah” (HR. Al Haakim no.1393, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jaami’, 7584)

Ziarah kubur dapat membuat hati tidak terpaut kepada dunia dan zuhud terhadap gemerlap dunia. Dalam riwayat lain hadits ini disebutkan:


“Dulu aku pernah melarang kalian untuk berziarah-kubur. Namun sekarang ketahuilah, hendaknya kalian berziarah kubur. Karena ia dapat membuat kalian zuhud terhadap dunia dan mengingatkan kalian akan akhirat” (HR. Al Haakim no.1387, didhaifkan Al Albani dalam Dha’if Al Jaami’, 4279)

Al Munawi berkata: “Tidak ada obat yang paling bermanfaat bagi hati yang kelam selain berziarah kubur. Dengan berziarah kubur, lalu mengingat kematian, akan menghalangi seseorang dari maksiat, melembutkan hatinya yang kelam, mengusir kesenangan terhadap dunia, membuat musibah yang kita alami terasa ringan. Ziarah kubur itu sangat dahsyat pengaruhnya untuk mencegah hitamnya hati dan mengubur sebab-sebab datangnya dosa. Tidak ada amalan yang sedahsyat ini pengaruhnya” (Faidhul Qaadir, 88/4).

Disyariatkannya ziarah kubur ini dapat mendatangkan manfaat bagi yang berziarah maupun bagi shahibul qubur yang diziarahi (Ahkam Al Janaiz Lil Albani, 188). Bagi yang berziarah sudah kami sebutkan di atas. Adapun bagi  shahibul qubur yang diziarahi (jika muslim), manfaatnya berupa disebutkan salam untuknya, serta doa dan permohonan ampunan baginya dari peziarah. Sebagaimana hadits:


“Aisyah bertanya: Apa yang harus aku ucapkan bagi mereka (shahibul qubur) wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Ucapkanlah: Assalamu ‘alaa ahlid diyaar, minal mu’miniina wal muslimiin, wa yarhamullahul mustaqdimiina wal musta’khiriina, wa inna insyaa Allaahu bikum lalaahiquun (Salam untuk kalian wahai kaum muslimin dan mu’minin penghuni kubur. Semoga Allah merahmati orang-orang yang telah mendahului (mati), dan juga orang-orang yang diakhirkan (belum mati). Sungguh, Insya Allah kami pun akan menyusul kalian” (HR. Muslim no.974)

Ziarah kubur yang syar’i dan sesuai sunnah adalah ziarah kubur yang diniatkan sebagaimana hadits di atas, yaitu menasehati diri dan mengingatkan diri sendiri akan kematian. Adapun yang banyak dilakukan orang, berziarah-kubur dalam rangka mencari barokah, berdoa kepada shahibul qubur adalah ziarah kubur yang tidak dituntunkan oleh Rasulullah SAW. Selain itu Rasulullah SAW juga melarang qaulul hujr ketika berziarah kubur sebagaimana hadits yang sudah disebutkan. Dalam riwayat lain disebutkan:

“Dan janganlah mengatakan perkataan yang membuat Allah SWT murka” (HR. Ahmad 3/38,63,66, Al Haakim, 374-375)

Termasuk dalam perbuatan ini yaitu berdoa dan memohon kepada shahibul qubur, ber-istighatsah kepadanya, memujinya sebagai orang yang pasti suci, memastikan bahwa ia mendapat rahmat, memastikan bahwa ia masuk surga, (Ahkam Al Janaiz Lil Albani, 178-179)

Tidak benar persangkaan sebagian orang bahwa ahlussunnah atau salafiyyin melarang ummat untuk berziarah kubur. Bahkan ahlussunnah mengakui disyariatkannya ziarah kubur berdasarkan banyak dalil-dalil shahih dan menetapkan keutamaannya. Yang terlarang adalah ziarah kubur yang tidak sesuai tuntunan Rasulullah SAW yang menjerumuskan kepada perkara bid’ah dan terkarang mencapai tingkat syirik. Insya Allah bermanfaat..

Selasa, 18 Juni 2013

Tanaman Penangkal Santet

Bambu Kuning seperti gambar diatas selain sebagai penghias taman atau pagar rumah, maka keluarga bambo kuning yang bernama ilmiah "Bambusa Vulgaris" ini juga dipercaya selain menolak ilmu santet juga mampu menolak maling atau pencuri.

Pohon yang daunnya mirip daun beringin dan berbuah mirip melinjo ini telah sejak lama dipercaya mampu mengusir gangguan ular berbisa. Pohon bernama ilmiah "Mimusopselengi" ini juga mempunyai makna agar selalu 'disanjung-sanjung' selalu.

Cocor Bebek dilihat dari auranya, tanaman yang mempunyai nama latin "Kalanchoe Pinnata" ini mempunyai kekuatan hampir sama dengan pohon Jambu Dersono; bisa mendinginkan tanah yang 'panas'. Bahkan di beberapa daerah pelosok Nusantara, cocor bebek biasa dipakai untuk obat sakit kepala, batuk, sakit dada, borok dan beberapa jenis penyakit kulit lain, seperti demam, luka, memperlancar haid, serta obat bisul.

Pohon Jambu Dersono ini adalah sejenis jambu air ini memiliki aura yang sangat kuat. Bahkan karena saking kuatnya aura yang dikeluarkannya, tanah yang semula 'panas', bila ditanami tanaman ini akan berubah menjadi 'hoki'. Aura yang dimiliki pohon Jambu Dersono ini juga dapat mendatangkan rejeki bagi pemiliknya atau penghuni rumah dimana dia ditanam. Di beberapa kraton, tanaman bernama "Latin Eugenia Malaccencis" ini juga menjadi simbol 'kadersan sih ing sesama', menggambarkan kasih dan cinta satu sama lain.

Pohon Serut ini yang menjadi salah satu favorit bagi penggemar bonsai di Indonesia, pohon ini konon dapat menghilangkan niat jahat yang mengancam penghuni rumah. Pohon Serut ini dapat ditanam di bagian rumah manapun, khasiat "Camona Retusa" tersebut akan muncul.

Selain tanaman di atas, ada beberapa tanaman lain yang yang memiliki aura hampir serupa; bisa mengusir dan mendinginkan hawa 'panas'. Bahkan bias mengusir binatang berbisa dan ancaman maling.

Tebu Wulung, sama seperti Pinang Merah dan Kemuning Jawa, dapat ditanam dimanapun, tebu yang kulit batang sampai daunnya berwarna hitam ini dapat menangkal ilmu-ilmu hitam yang mengancam penghuni rumah. Karena tuahnya, beberapa paranormal biasanya menggunakan tanaman bernama latin "Saccharum Officniarum" ini dapat digunakan sebagai media penyembuhan. 

Kemuning Jawa, ialah tanaman yang memiliki nama ilmiah "Murraya Paniculata" ini juga diyakini dapat mampu menolak kekuatan black magic. Selain itu, Kemuning Jawa di dunia obat tradisional, tanaman yang bunganya mirip bunga melati ini biasa digunakan untuk mengobati bisul, rematik, memar, sakit gigi, radang buah zakar, infeksi saluran kencing, dan beberapa penyakit lainnya.

Pinang Merah ini dengan nama ilmiah "Cyrtostachys Lakka", juga dipercaya dapat menolak serangan black magic semacam santet yang ditujukan pada penghuni rumah.

Tanaman Kaktus yang biasa tumbuh di daerah kering, mempunyai kekuatan sama dengan mawar; yaitu mampu menangkal santet dan hawa-hawa negatif lainnya. Namun kekuatan ini hanya bisa keluar bila ia ditanam atau ditaruh di luar rumah, di belakang, di depan, atau di samping. Bila diletakkan di dalam rumah, bukan kekuatan penolak santet yang keluar, tapi justru bisa menolak datangnya rejeki.

Bunga Mawar, bunga lambang cinta yang batangnya penuh duri ini mempunyai kekuatan menyerap hawa-hawa negatif, termasuk menangkal serangan santet. Hawa negatif yang berhasil diserapnya akan langsung dibuang ke dalam tanah. Tapi sebaiknya jangan ditanam di depan rumah. Karena bila ditanam di depan rumah, hawa negatif yang sudah dimasukkan tanah, dikhawatirkan akan dilangkahi atau dilewati penghuni rumah. Bila ini terajdi, si penghuni rumah bisa terkena bencana.

Minggu, 16 Juni 2013

Syech Muhammad Abdul Malik bin Muhammad Ilyas

Semasa hidupnya Syech Abdul Malik memimpin 2 (dua) thariqah besar (sebagai mursyid) yaitu: Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah dan Thariqah Asy-Syadziliyah. Sanad Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah telah ia peroleh secara langsung dari ayah beliau yakni Syaikh KH Muhammad Ilyas, sedangkan sanad Thariqah Asy-Sadziliyah diperolehnya dari As-Sayyid Ahmad An-Nahrawi Al-Makki (Makkah).

Syaikh Abdul Malik mengamalkan dua amalan wirid utama, yaitu membaca Al-Qur’an dan Shalawat. Beliau membaca shalawat sebanyak 16.000 kali dalam setiap harinya dan menghatamkan Al-Qur’an setiap hari. Shalawat yang diamalkan adalah shalawat Nabi Khidir AS atau lebih sering disebut shalawat rahmat, yakni “Shallallah ‘ala Muhammad.” Dan itu adalah shalawat yang sering beliau ijazahkan kepada para tamu dan murid beliau. Adapun shalawat-shalawat yang lain, seperti shalawat Al-Fatih, Al-Anwar dan lain-lain.

Beliau juga dikenal sebagai ulama yang mempunyai kepribadian yang sabar, zuhud, tawadhu dan sifat-sifat kemuliaan yang menunjukan ketinggian dari akhlaq yang melekat pada diri beliau. Sehingga amat wajarlah bila masyarakat Karesidenan Banyumas dan sekitarnya sangat mencintai dan menghormatinya.

Beliau disamping dikenal memiliki hubungan yang baik dengan para ulama besar umumnya, Syaikh Abdul Malik mempunyai hubungan yang sangat erat dengan ulama dan habaib yang dianggap oleh banyak orang telah mencapai derajat waliyullah, seperti Habib Soleh bin Muhsin Al-Hamid (Tanggul, Jember), Habib Ahmad Bilfaqih (Yogyakarta), Habib Husein bin Hadi Al-Hamid (Brani, Probolinggo), KH Hasan Mangli (Magelang), Habib Hamid bin Yahya (Sokaraja, Banyumas) dan lain-lain.
Diceritakan, saat Habib Soleh Tanggul pergi ke Pekalongan untuk menghadiri sebuah haul. Selesai acara haul, Habib Soleh berkata kepada para jamaah,”Apakah kalian tahu, siapakah gerangan orang yang akan datang kemari? Dia adalah salah seorang pembesar kaum ‘arifin di tanah Jawa.” Tidak lama kemudian datanglah Syaik Abdul Malik dan jamaah pun terkejut melihatnya.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Habib Husein bin Hadi Al-Hamid (Brani, Kraksaan, Probolinggo) bahwa ketika Syaikh Abdul Malik berkunjung ke rumahnya bersama rombongan, Habib Husein berkata, ”Aku harus di pintu karena aku mau menyambut salah satu pembesar Wali Allah.”

Asy-Syaikh Abdul Malik lahir di Kedung Paruk, Purwokerto, pada hari Jum’at 3 Rajab 1294 H (1881). Nama kecilnya adalah Muhammad Ash’ad sedang nama Abdul Malik diperoleh dari ayahnya, KH Muhammad Ilyas ketika ia menunaikan ibadah haji bersamanya. Sejak kecil Asy-Syaikh Abdul Malik telah memperoleh pengasuhan dan pendidikan secara langsung dari kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya yang ada di Sokaraja, Banyumas terutama dengan KH Muhammad Affandi.

Setelah belajar Al-Qur’an dengan ayahnya, Asy-Syaikh kemudian mendalami kembali Al-Qur’an kepada KH Abu Bakar bin H Yahya Ngasinan (Kebasen, Banyumas). Pada tahun 1312 H, ketika sudah menginjak usia dewasa, oleh sang ayah, ia dikirim ke Makkah untuk menimba ilmu agama. Di sana ia mempelajari berbagai disiplin ilmu agama diantaranya ilmu Al-Qur’an, tafsir, Ulumul Qur’an, Hadits, Fiqh, Tasawuf dan lain-lain. Asy-Syaikh belajar di Tanah suci dalam waktu yang cukup lama, kurang lebih selama limabelas tahun.

Dalam ilmu Al-Qur’an, khususnya ilmu Tafsir dan Ulumul Qur’an, ia berguru kepada Sayid Umar Asy-Syatha’ dan Sayid Muhammad Syatha’ (putra penulis kitab I’anatuth Thalibin hasyiyah Fathul Mu’in). Dalam ilmu hadits, ia berguru Sayid Thaha bin Yahya Al-Magribi (ulama Hadramaut yang tinggal di Makkah), Sayyid Alwi bin Shalih bin Aqil bin Yahya, Sayyid Muhsin Al-Musawwa, Asy-Syaikh Muhammad Mahfudz bin Abdullah At-Tirmisi. Dalam bidang ilmu syariah dan Thariqah Alawiyyah ia berguru pada Habib Ahmad Fad’aq, Habib Aththas Abu Bakar Al-Attas, Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi (Surabaya), Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas (Bogor), Kyai Soleh Darat (Semarang).

Sementara itu, guru-gurunya di Madinah adalah Sayyid Ahmad bin Muhammad Amin Ridwan, Sayyid Abbas bin Muhammad Amin Raidwan, Sayyid Abbas Al Maliki Al-Hasani (kakek Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki Al-Hasani), Sayyid Ahmad An-Nahrawi Al Makki, Sayyid Ali Ridha. 

Setelah sekian tahun menimba ilmu di Tanah Suci, sekitar tahun 1327 H, Asy-Syaikh Abdul Malik pulang ke kampung halaman untuk berkhidmat kepada kedua orang tuanya yang saat itu sudah sepuh (berusia lanjut). Kemudian pada tahun 1333 H, sang ayah, Asy Syaikh Muhammad Ilyas berpulang ke Rahmatullah.

Sesudah sang ayah wafat, Asy-Syaikh Abdul Malik kemudian mengembara ke berbagai daerah di Pulau Jawa guna menambah wawasan dan pengetahuan dengan berjalan kaki. Ia pulang ke rumah tepat pada hari ke- 100 dari hari wafat sang ayah, dan saat itu umur Asy Syaikh berusia tiga puluh tahun.

Sepulang dari pengembaraan, Asy-Syaikh tidak tinggal lagi di Sokaraja, tetapi menetap di Kedung Paruk bersama ibundanya, Nyai Zainab. Perlu diketahui, Asy-Syaikh Abdul Malik sering sekali membawa jemaah haji Indonesia asal Banyumas dengan menjadi pembimbing dan syaikh. Mereka bekerjasama dengan Asy-Syaikh Mathar Mekkah, dan aktivitas itu dilakukan dalam rentang waktu yang cukup lama.

Sehingga wajarlah kalau selama menetap di Mekkah, ia memperdalam lagi ilmu-ilmu agama dengan para ulama dan syaikh yang ada di sana. Berkat keluasan dan kedalaman ilmunya, Syaikh Abdul Malik pernah memperoleh dua anugrah yakni pernah diangkat menjadi Wakil Mufti Madzab Syafi’i di Mekkah dan juga diberi kesempatan untuk mengajar. Pemerintah Saudi sendiri sempat memberikan hadiah berupa sebuah rumah tinggal yang terletak di sekitar Masjidil Haram atau tepatnya di dekat Jabal Qubes. Anugrah yang sangat agung ini diberikan oleh Pemerintah Saudi hanya kepada para ulama yang telah memperoleh gelar Al-‘Allamah.

Syaikh Ma’shum (Lasem, Rembang) setiap berkunjung ke Purwokerto, seringkali menyempatkan diri singgah di rumah Asy-Syaikh Abdul Malik dan mengaji kitab Ibnu Aqil Syarah Alfiyah Ibnu Malik secara tabarrukan (meminta barakah) kepada Asy-Syaikh Abdul Malik. Demikian pula dengan Mbah Dimyathi (Comal, Pemalang), KH Khalil (Sirampog, Brebes), KH Anshori (Linggapura, Brebes), KH Nuh (Pageraji, Banyumas) yang merupakan kiai-kiai yang hafal Al-Qur’an, mereka kerap sekali belajar ilmu Al-Qur’an kepadanya.

Kehidupan Syaikh Abdul Malik sangat sederhana, di samping itu ia juga sangat santun dan ramah kepada siapa saja. Beliau juga gemar sekali melakukan silaturrahiem kepada murid-muridnya yang miskin. Baik mereka yang tinggal di Kedung Paruk maupun di desa-desa sekitarnya seperti Ledug, Pliken, Sokaraja, dukuhwaluh, Bojong dan lain-lain.

Hampir setiap hari Selasa pagi, dengan kendaraan sepeda, naik becak atau dokar, Syaikh Abdul Malik mengunjungi murid-muridnya untuk membagi-bagikan beras, uang dan terkadang pakaian sambil mengingatkan kepada mereka untuk datang pada acara pengajian Selasanan (Forum silaturrahiem para pengikut Thariqah An-Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah Kedung paruk yang diadakan setiap hari Selasa dan diisi dengan pengajian dan tawajjuhan).

Murid-murid dari Syaikh Abdul Malik diantaranya KH Abdul Qadir, Kiai Sa’id, KH Muhammad Ilyas Noor (mursyid Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah sekarang), KH Sahlan (Pekalongan), Drs Ali Abu Bakar Bashalah (Yogyakarta), KH Hisyam Zaini (Jakarta), Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya (Pekalongan), KH Ma’shum (Purwokerto) dan lain-lain.

Sebagaimana diungkapkan oleh murid beliau, yakni Habib Luthfi bin Yahya, Syaikh Abdul Malik tidak pernah menulis satu karya pun. “Karya-karya Al-Alamah Syaikh Abdul Malik adalah karya-karya yang dapat berjalan, yakni murid-murid beliau, baik dari kalangan kyai, ulama maupun shalihin.”

Diantara warisan beliau yang sampai sekarang masih menjadi amalan yang dibaca bagi para pengikut thariqah adalah buku kumpulan shalawat yang beliau himpun sendiri, yaitu Al-Miftah al-Maqashid li-ahli at-Tauhid fi ash-Shalah ‘ala babillah al-Hamid al-majid Sayyidina Muhammad al-Fatih li-jami’i asy-Syada’id.”

Shalawat ini diperolehnya di Madinah dari Sayyid Ahmad bin Muhammad Ridhwani Al-Madani. Konon, shalawat ini memiliki manfaat yang sangat banyak, diantaranya bila dibaca, maka pahalanya sama seperti membaca kitab Dala’ilu al-Khairat sebanyak 110 (seratus sepuluh) kali, dapat digunakan untuk menolak bencana dan dijauhkan dari siksa neraka.

Syaikh Abdul Malik wafat pada hari Kamis, 2 Jumadil Akhir 1400 H (17 April 1980) dan dimakamkan keesokan harinya lepas shalat Ashar di belakang masjid Baha’ul Haq wa Dhiya’uddin, Kedung Paruk Purwokerto. 


Jumat, 14 Juni 2013

Khasiat Batu Opal

Opal digunakan untuk meningkatkan kewarasan akal yang kurang stabil, membantu seseorang memiliki kapasiti untuk berbagi rasa cinta dan meningkatkan kestabilan psikik. Orang Arab percaya bahwa opal jatuh dari surga saat banyak petir, dari situ Opal mendapat warnanya yang berapi. Zaman dulu Opal dianggap sebagai lambang kejujuran dan percaya diri. Opal sangat kuat pengaruhnya dalam ritual sihir.

Karena Opal berkualiti mengandung semua warna dari batu kelahiran lain, dapat dipergunakan atau diisi dengan energi serta kekuatan dari kombinasi semua batu kelahiran, juga digunakan untuk menggantikan batu kelahiran lain didalam menyebut mantra, ritual atau keperluan lain dari kekuatan sihir. Sering dihubungkan dengan alam maya dan penonjolan astral, juga digunakan untuk memanggil kembali kehidupan yang lalu (tiap warna mewakili sebuah kehidupan dari masa lalu).

Opal memiliki kemampuan untuk penyembuhan, terutama meningkatkan kapasitas mental seperti imajinasi yang kreatif, kekuatan pikiran lain yang belum digunakan selama ini. Dari segi kesihatan Opal dipercaya dapat membantu proses asimilasi protein. Fire Opal sering digunakan di dalam kegiatan pengumpulan dana bagi yang memerlukan, biasa dikenakan sebagai Mahkota dengan kalung emas yang dikelilingi 10-12 Diamond, dipercaya mempunyai kekuatan untuk mengumpulkan wang yang hebat.

Opal Hitam adalah alat pilihan tukang sihir/sulap, digunakan untuk meningkatkan penerimaan terhadap sulap/sihir mereka dan juga menonjolkan kekuatan mereka.
Opal Hitam yang dikenakan dekat jantung sebagai kalung dan terbuat dari emas dikatakan dapat mengusir Syaitan, melindungi orang dari mata Syaitan, melindungi pengembara dalam perjalanan menuju tempat yang jauh.

Opal juga telah digunakan sebagai ramuan ajaib untuk menyembuhkan tubuh, mengusir mimpi buruk dan sebagai alat untuk meningkatkan energi. Opal Putih kalau digunakan pada ritual disaat malam bulan purnama, dikatakan membawa kekuatan dari Dewi Bulan bagi tercapainya harapan bagi orang yang melaksanakannya. Opal sangat dihargai pada abad pertengahan, disebut sebagai “ophthalmios” atau “Batu Mata,” oleh kerana kepercayaan yang luas bahwa Opal bermanfaat bagi indra pengelihatan dan menyembuhkan penyakit mata. Wanita berambut perang memakai kalung Opal untuk melindungi dari hilangnya warna rambut mereka. Opal Hitam dihargai sebagai batu yang sangat membawa keberuntungan.


Kamis, 13 Juni 2013

Karakteristik khusus sebuah keris jawa

Gaib Keris adalah sesuatu yang seringkali menjadi polemik dalam kepemilikan sebuah keris. Keberadaan suatu sosok gaib di dalam sebuah keris adalah yang menyebabkan sebuah keris memiliki kegaiban / tuah tertentu bagi pemiliknya. Kegaiban inilah yang membedakan keris dengan senjata jenis lain. Aspek kegaiban keris seringkali dikultuskan dan menjadi mitos dan legenda di masyarakat. Selain karena faktor budaya dan aspek purbakala, kegaiban keris inilah yang seringkali menjadi dasar / pendorong seseorang untuk memiliki keris. Tetapi aspek kegaiban ini pula yang seringkali menjadi alasan keris dijauhi orang karena kesan kleniknya.

Di pulau Jawa khususnya, pada jamannya, selain faktor kegaibannya, keris merupakan lambang derajat pemiliknya, lebih daripada sekedar sebuah senjata perang / tarung.  Ada aturan-aturan yang harus dipatuhi di masyarakat tentang tatacara mengenakan keris dan jenis-jenis keris yang boleh dimiliki oleh seseorang. Seorang rakyat biasa tidak boleh mengenakan keris yang diperuntukkan untuk seorang lurah. Seorang lurah tidak boleh mengenakan keris yang diperuntukkan untuk seorang bupati. Seorang senopati tidak boleh mengenakan keris yang diperuntukkan untuk seorang raja. Seorang raja juga tidak boleh mengenakan keris yang diperuntukkan untuk seorang senopati, dsb.

Bila ada seseorang memiliki keris yang derajat kerisnya lebih tinggi dari kedudukan dirinya di masyarakat, maka orang itu tidak akan menyimpannya untuk dirinya sendiri. Biasanya akan diserahkan / dipersembahkan kepada orang lain yang pantas untuk memilikinya. Begitu juga seseorang yang berderajat tinggi, tidak akan mengenakan keris untuk orang berderajat di bawahnya. Biasanya akan disimpan saja di ruang pusakanya atau diberikannya kepada orang lain yang pantas memakainya. Demikianlah, keris pun memiliki kelas-kelasnya sendiri sesuai kepantasan dari status pemiliknya di masyarakat, dan masyarakat pun menghormati keris sesuai derajatnya masing-masing.

Keris bersifat khusus dan pribadi, dibawa dengan diselipkan di belakang pinggang. Dalam kondisi berperang atau bertarung-pun, biasanya keris tidak langsung dikeluarkan untuk digunakan bertarung. Biasanya orang akan berkelahi atau bertarung dengan tangan kosong (adu kanuragan) atau menggunakan senjata lain selain keris, seperti tombak, golok, cemeti, trisula, pedang, atau gada. Keris hanya akan digunakan bila seseorang benar-benar berniat membunuh lawannya, atau bila kondisinya benar-benar berada dalam pilihan: membunuh atau dibunuh, dan tidak ada senjata lain yang dapat diandalkannya, barulah kerisnya akan digunakan.

Jadi, keris bukanlah senjata utama dalam bertarung, tetapi keris menjadi senjata pamungkas yang diandalkan. Terjadi demikian karena dalam budaya dan hati orang-orang Jawa, keris bukanlah semata-mata senjata untuk bertarung. Ada sesuatu yang lain yang dipercaya ada di dalam sebuah keris, yaitu  kegaiban keris.

Keberadaan sebuah keris sangat dimuliakan. Ada pantangan untuk mengeluarkan keris di dalam perkelahian / pertarungan, kecuali keris itu memang diniatkan untuk membunuh lawan. Dan pantang keris yang sudah dihunus dimasukkan kembali ke dalam sarungnya sebelum keris itu masuk dahulu ke badan lawan.


Di dalam masyarakat Jawa umumnya keris dikenakan dengan diselipkan di belakang pinggang. Tetapi yang bentuknya kecil biasanya dikenakan di depan, dibalik baju. Keris tidak ditampilkan sebagai lambang kegagahan dan keberadaannya juga tidak ditonjolkan. Sangat tidak elok (dianggap tidak tahu tatakrama) jika seorang Jawa menonjolkan kerisnya dalam kehidupan sehari-hari. Karena sesuai filosofinya, yang sakti itu seharusnya adalah orangnya, bukan kerisnya. Dalam kondisi bertarung / berkelahi pun kerisnya tetap dikenakan di belakang pinggang, karena akan mengganggu pergerakan tangan dan badan jika dikenakan di depan.

Penampilan itu mencerminkan kepribadian Jawa yang suka merendahkan hati dan mengutamakan jalan damai daripada kekerasan. Jika ada perselisihan, orang Jawa lebih suka menyelesaikannya dengan cara damai daripada berkelahi. Namun jika jalan damai tidak didapatkan, orang Jawa juga tidak keberatan menghunus kerisnya untuk mempertahankan harga dirinya.

Kegaiban keris telah menyebabkan keris bersifat pribadi bagi pemiliknya. Itu juga yang menyebabkan adanya tradisi, seseorang yang ingin membeli atau menjual sebuah keris, tidak menyebut harga keris, tetapi "mahar" atau "mas kawin" sebuah keris. Tradisi perlakuan tersebut sama seperti seseorang yang harus menyediakan "mas kawin" untuk meminang anak gadis seseorang. Makna dari perlakuan tersebut adalah seseorang yang membeli / menerima sebuah keris dari orang lain atau menjual / menyerahkan sebuah keris kepada orang lain, mereka bukan hanya memindahtangankan sebuah keris, tetapi juga kegaiban di dalamnya.


Mesjid Agung Sang Cipta Rasa

Di sebelah barat alun-alun terdapat Mesjid Agung Sang Cipta Rasa. Mesjid ini secara administratif berada di Kampung Kasepuhan, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemah Wungkuk. Mesjid Agung Sang Cipta Rasa dibangun pada tahun 1498 oleh Wali Sanga atas prakarsa Sunan Gunung Jati. Pembangunannya dipimpin oleh Sunan Kalijaga dengan arsitek Raden Sepat (dari Majapahit) bersama dengan 200 orang pembantunya (tukang) yang berasal dari Demak.
 
 Mesjid ini dinamai Sang Pencipta Rasa karena merupakan pengenjawantahan dari rasa dan kepercayaan. Sementara penduduk Cirebon, pada masa itu menamainnya Mesjid Pakungwati karena terletak dalam kompleks Keraton Pangkuwati. Sekarang mesjid ini terletak di depan Keraton Kasepuhan. Menurut cerita rakyat, pembangunan mesjid ini hanya dalam tempo satu malam; pada dini hari keesokan harinya telah dipergunakan untuk shalat Subuh.
 
Kompleks Mesjid Agung Sang Cipta Rasa luasnya ±1.763 m2, dikelilingi pagar tembok. Pagar tersebut berlainan tingginya. Bagian sisi barat dan utara setinggi ± 2 m dan sisi timur dan selatan ± 1,70 m. Sisi timur, tembok dihiasi dengan ragam-ragam belah ketupat, yang berukuran 1 m. Di sisi ini juga terdapat 3 pintu gerbang. Pintu kiri-kanan berukuran ± 2 x 2 m dan di tengah berukuran 3 x 4 m. Ketiga gerbang ini berbentuk koriagung (gapura beratap). Pada puncak gerbang tengah terdapat hiasan bentuk sayap 3 tingkat. Di tengah sayap terdapat lengkunagn yang di tengahnya lagi dihiasi bentuk candi laras. Gapura atas berbentuk setengah lingkaran dengan tulisan Arab. Di kiri-kananya ada hiasan candi laras. Gapura tersebut memiliki 2 daun pintu dengan hiasan candi laras dan belah ketupat.
 
Bangunan utama mesjid menghadap ke timur, berdiri di atas lahan seluas ± 50 x 60 m2. Bangunan mesjid ini berdenah bujursangkar dengan ukuran 28 x 28 cm dan  mempunyai keunikan, yaitu adanya saka tatal (salah satu saka gurunya terbuat dari potongan-potongan kayu jati, lalu ditata rapih menjadi tiang setinggi enam meter dan garis tengahnya ± 60 cm). Pada salah satu tiang penyangga terdapat sebuah papan yang bertulis huruf Arab dan menyebut tentang perbaikan serambi mesjid tersebut.
 
Mesjid Agung yang juga disebut sebagai Mesjid Kasepuhan ini mempunyai sembilan pintu. Pintu utama terdapat di Timur, khusus untuk para wali dan raja. Kedelapan pintu lainnya terletak di sisi Utara dan Selatan. Tujuh buah pintu dibuat dengan ukuran rendah, sehingga bila hendak masuk harus membungkuk. Di dalam mesjid terdapat mihrab, mimbar, dan satu ruangan berpagar kayu. Mihrab terdapat di sisi Barat, terbuat dari batu pualam muda  berwarna  putih. Di bagian   puncak lengkung mihrab, tepatnya   di tengah   terdapat tonjolan yang berbentuk jantung dengan ukiran bunga teratai. Mimbar terbuat dari kayu, letaknya di utara mihrab dan berkelambu. Mimbar ini diberi nama Sang Renggokosa, sedangkan kelambunya bernama Sang Entu. Di sebelah utara mimbar terdapat satu ruangan pagar kayu (kerangkeng) yang disebut maqsura. Ruangan ini dipergunakan khusus untuk ruangan sholat Sultan-sultan Kasepuhan.
 
Bangunan mesjid dilengkapi prabhayaksa (serambi depan) berukuran 30 x 10 m dan serambi selatan berukuran 35 x 8 m. Bentuk atap mesjid Agung Kasepuhan adalah limasan bertingkat tiga tanpa mamolo. Ragam hias yang terdapat di mesjid ini antara lain geometri, motif tumbuh-tumbuhan dan anyaman. Lantai bangunan ini menggunakan tegel dan yang baru menggunakan keramik. Di sebelah utara mesjid terdapat dua sumur yang airnya dianggap keramat. Sumur ini masing-masing berdiameter 1 m. Bagian dinding dalam sumur ditembok dengan bahan bata.
 

Rabu, 12 Juni 2013

Habib Hasan bin Idrus Al-Habsyi sebagai Pasak Banjar

Habib Hasan bin Idrus Al-Habsyi pada masa hidupnya terkenal sebagai "Pasak" Banjar. Ia hidup sezaman dengan tokoh berpengaruh lainnya, mufti ternama Kalimantan, Surgi Besar H Jamaluddin, sekitar abad ke 19.

Pihak keluarga tidak memiliki catatan tahun kelahiran Habib Hasan. Dari informasi orang-orang tua, yang diketahui pasti adalah Habib Hasan kelahiran Sambas. Sang ayah, Sayyid Idrus bin Hasan Al-Habsyi, diperkirakan datang ke Banjarmasin tahun-tahun terakhir menjelang runtuhnya Kesultanan Banjar.

Pada tahun 1855, pada susunan pemerintahan di Banjarmasin saat jabatan residen dipegang oleh A Van der Ven dan kekuasaan mangkubumi ditangan Pangeran Tamjidillah, tak tertera nama Sayyid Idrus. Wakil tokoh orang Arab yang tercatat ikut dalam elite pemerintahan hanya Pangeran Syarif Husien bin Muhammad Baharun, sebagai salah satu anggota pengadilan perdata dan pidana.

Nama Sayyid Idrus baru muncul pada tahun 1860-an, ketika kerajaan Banjar di hapus secara sepihak oleh Belanda. Ketika terjadinya perang Banjar, Sayyid Idrus diakui sebagai Hoofd der Arabieren (kepala orang Arab).

Keluarga Habib Idrus tinggal di Ujung Murung. Ujung Murung adalah perkampungan Arab di zaman penjajahan. Didepan rumah mereka mengalir sungai Martapura, yang tersambung dengan sungai Barito. Beberapa meter dari kediaman beliau berdiri sebuah surau kecil yang diberi nama "Langgar (Mushola) Noor". Langgar Noor binaan keluarga Sayyid Idrus dan dilanjutkan oleh Habib Hasan.

Sayyid Idrus pada tahun 1296 H (sekitar tahun 1876 M), Habib Hasan menggantikan sang ayah sebagai tokoh ulama keturunan Arab di Banjarmasin. Kharismatik yang dimiliki Habib Hasan membuat pejabat Belanda segan dan dihormati. "Habib Hasan dianggap Belanda sebagai "Raja tak Bermahkota."

Di masyarakat ia dikenal dengan sebutan Habib Ujung Murung. Bersama sahabatnya H Jamaluddin yang adalah keturunan  Syech Muhammad Arsyad Al-Banjari, mereka dipercaya umat sebagai tempat bertanya berbagai persoalan.

Pada suatu ketika masyarakat bingung menunggu penentuan kapan hari H datangnya Idul Fitri, maka pemuka masyarakat dan ulama kemudian mengunjungi kediaman Habib Hasan di Ujung Murung. "Sudahkan kalian ke Kiai Jamal.?" ujar Habib Hasan.

Kemudian warga pun mengikuti petunjuk Habib Hasan untuk menanyakan perihal berakhirnya puasa Ramadhan ke Kiai Jamal (Surgi Mufti H Jamaluddin). Setelah tiba dikediaman beliau, lagi-lagi rombongan ulama dan pemuka masyarakat Banjar mendapatkan pertanyaan serupa. "Sudahkah kalian mendatangi Habib Ujung Murung.?"

Setelah kejadian itu, rombongan akhirnya diminta menunggu isyarat dari keduanya. Habib Ujung Murung dan Surgi Mufti bertemu dan bermusyawarah. Hasilnya "Tunggulah hari itu. Jika beduk dibunyikan pertanda puasa Ramadhan telah berakhir.

Sebagai tokoh berpengaruh dizamannya, Habib Hasan pernah melindungi pelarian Ratu Zaleha, pejuang Perang Banjar cucu Pahlawan Nasional Pangeran Antasari. Ratu Zaleha yang diburu tentara Belanda, tiba-tiba muncul dan menemui Habib Hasan, lantas beliau disembunyikan dibawah ranjang Habib Hasan.

Tentara Belanda yang telah mendapatkan informasi tersebut kemudian mendatangi kediaman Habib Hasan. Dengan penuh keyakinan dan tidak gentar sedikit pun Habib Hasan menghadapi pasukan tentara bersenjata itu. "Silahkan periksa seluruh isi rumah ini." ujarnya.

Setelah setiap sudut rumah diperiksa, Belanda itu tidak menemukan buruannya. Mereka pun meninggalkan rumah Habib Hasan tanpa hasil.

Untuk menghindari kecurigaan lebih lanjut dari spion-spion Belanda, Ratu Zaleha kemudian diungsikan lagi pada suatu malam dengan menggunakan perahu yang sudah siap menjemput didepan rumah Habib Hasan. Tak jelas kemana perahu itu membawa Ratu Zaleha.

Habib Hasan memiliki saudara yakni Syarifah Mahani. Sang adik ini menikah dengan Habib Muhammad bin Agil Al-Habsyi. Kemudian Habib Muhammad sering berdialog dengan Habib Hasan dan Surgi Mufti. Panglima Batur, pejuang Perang Banjar, lainnya yang mati syahid dihukum gantung oleh Belanda berguru ilmu kepada Habib Muhammad.

Nama neneknya yaitu Syarifah Fetum anak pasangan Habib Muhammad bin Agil Al-Habsyi dengan Syarifah Mahani binti Idrus Al-Habsyi, dulu memiliki catatan Perang Banjar yang ditulis dalam bahasa Arab Melayu. Buku berharga itu hilang ketika keluarga mereka mengungsi ke kampung lain pada saat jembatan  Coen (Jembatan Dewi, sekarang Jembatan Ahmad Yani) meledak ketika Jepang masuk ke Banjarmasin, Februari 1942. Dari sang nenek, mantan Rabithah Alawiyyin kota Banjarmasin ini banyak mendapat cerita tentang leluhurnya yang bermukim di Ujung Murung.

Ratu Zaleha akhirnya ditangkap tahun 1905 dan di asingkan ke Bogor. Sebelumnya, suami Ratu Zaleha , Gusti Muhammad Arsyad juga ditangkap Belanda dan diasingkan ke Bogor. Mereka hidup puluhan tahun di kawasan Empang Bogor sebelum akhirnya dikembalikan ke Banjarmasin setelah tua dan sakit-sakitan. Ratu Zaleha kembali ke Banjarmasin tahun 1937 dan meninggal dunia pada tahun 1957.

Sebagaimana tahun lahirnya, kapan persisnya Habib Hasan meninggal dunia, pihak keluarga tidak memiliki catatan. Ada sebuah foto yang memperlihatakan Habib Hasan berdampingan dengan Gusti Muhammad Arsyad di penghujung Perang Banjar tahun 1904.

Saat Habib Hasan meninggal dunia, Surgi Mufti menanggis. Kehilangan sahabat terbaiknya membuat Surgi Mufti sangan bersedih. Habib Hasan dimakamkan di Turbah Sungai Jingah, Banjarmasin yang merupakan alkah (pemakaman) khusus keluarga Habaib.

Habib Hasan meninggalkan dua orang anak, yakni Husien dan Abubakar dan tiga anak perempuan , yaitu Syarifah Sehah, Syarifah Aisyah dan Syarifah Noor. Husien tidak meneruskan keturunan garis laki-laki, karena empat anaknya perempuan semua, yakni Syarifah Mariam, Syarifah Sidah, Syarifah Mastora dan Syarifah Salmah.

Dari jalur salah satu putri Habib Hasan tersebut, muncul Habib Abdullah bin Ahmad Al-Hamid, tokoh Alawiyyin di Pal Satu, Kelurahan Sungai Baru. Ibunya, Syarifah Aminah binti Umar Al-Habsyi adalah cucu Husien. Begitu pula ayahnya, Habib Ahmad bin Abdullah Al-Hamid adalah cucu Husien juga. Habib Abdullah menyimpan rapi foto sang leluruh.

Abubakar, anak Habib Hasan lainnya yang tinggal di Kampung Alalak, melanjutkan silisilah dzuriat keluarga Habib Ujung Murung dari jalur laki-laki, yakni tiga putra: Salim, Agil dan Ibrahim. Anak Ibrahim, Idrus 69 tahun, keturunan langsung Habib Hasan tertua yang masih hidup hingga saat ini.   



Senin, 10 Juni 2013

Penangkal Ilmu Hitam

Ilmu hitam atau black Magic bisa di tangkal dengan sarana berikut ini, walaupun seseorang tidak memiliki ilmu gaib sebagai proteksi serangan ilmu hitam seperti santet,teluh atau tuju, asalkan tepat sarana dan syaratnya maka ilmu hitam dapat di antisipasi kedatangannya. Sarana nya adalah sebagai berikut

Carilah bambu seruas, bambunya harus bambu petung  atau bambu wulung carilah yang agak tua, kemudian  bambu tersebut di letakkan di depan rumah atau di dekat pintu /atas pintu bagian depan bambu ini berkhasiat untuk menolak ilmu hitam yang datang di rumah tersebut.

Yang ini menggunakan cermin cekung, yang di pasang di pintu rumah atau ruang tamu.
Besitowo yitu besi putih seperti nekel cukup 18 gram di bungkus dengan kain merah gantunglah di dalam rumah di bagian manapun terserah,

Bisa juga besi bekas las, atau bekas mengelas, di bungkus dengan kain merah,

Jenggger ayam jago dan ekornya 7 helai, jengger di jemur sampai kering dan bulu ekornya di bakar sampai jadi abu kemudian di bungkus dengan kain merah dan di gantung di teras rumah,

Rahang babi hutan yang masih utuh atas bawah kemudian rahang babi hutan tersebut di gantung di pohon halaman rumah.

Kulit macan bisa juga taring atau kukunya, kemudian di bungkus dengan kain merah di gantung di dalam rumah,

Gigi musang atas bawah seluruhnya di bungkus dengan kain merah di gantung di dalam rumah,
Kelamin anjing hitam di awetkan dan di bungkus dengan kain warna hitam di gantung di dalam rumah.

Ekor tupai dan kelinci di awetkan dibungkus  dengan kain warna coklat gantungkan di dalam rumah,

Tanduk kerbau dan tulang dahinya di taruh di depan rumah

Semua sarana di atas sangat efektif untuk menangkal datangnya serangan ilmu hitam, karena sarana-sarana  tersebut mempunyai energi yang dapat menetralkan serangan santet yang datang ketika kita berada didalam rumah, sehingga serangan santet yang datang menjadi tawar, perlu di ketahui serangan santet ilmu hitam ini datangnya pada tengah malam di saat waktu dini hari. Maka di saat saat seperti itulah santet sangat kuat,
Dan sebagai tambahan jika kita merasa ada ancaman santet, maka di sarankan tidur di lantai jangan di atas ranjang, karena santet tidak sampai menyentuh bumi dalam jarak 50 cm. Wallahualam.

Minggu, 09 Juni 2013

Pesugihan Macan Kerah Dan Kandang Bubrah

Di indonesia terdapat berbagai macam laku pesugihan. Dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang paling banyak adalah dengan memelihara tuyul. Syaratnya tidak begitu sulit. Anda bisa mencarinya di bukit Surowitri- Gresik atau di daerah Krucuk di Klaten. Tuyul-tuyul di daerah tersebut terkenal sangat profesional. Salah satunya, yang paling diakui kehebatannya adalah tuyul jenis memet, dengan kedua taring panjang di mulutnya.

Tuyul jenis ini mempunyai dedikasi yang tinggi terhadap majikan, tetapi anda juga harus mampu menyediakan semua kebutuhan dia. Seperti kamar khusus dengan ranjang dan kelambu berwrna hijau, cermin, boneka kayu, permainan dakon, dan lima tetes darah manusia tiap minggunya. O ya.., anda juga harus sering-sering membawa tuyul ini jalan-jalan keliling kampung sebelum maghrib, supaya tuyul merasa krasan dalam peliharaan anda.

Dan satu lagi, jangan pernah lalai dengan semua persyaratan itu, karena jika tuyul marah maka nyawa salah satu keluarga anda akan melayang. Tidak begitu sulit bukan, bahkan sepertinya sangat mudah. Tapi…!! Menjelang akhir hidup anda, anda akan merasakan sakit yang amat sangat. Sakaratul maut akan berjalan lama sekali,  dan tentu saja sangat menyiksa.

Selain tuyul ada juga laku pesugihan Buto Ijo. Tetapi laku ini agak berat uba rampenya. Anda harus menyediakan kamar khusus dan memberinya makan berupa manusia setiap tahun. Satu tumbal akan dihargai 1,5 milyar. Tetapi kalau anda gagal menyediakan ‘hidangan’ itu maka nyawa anda sendiri akan melayang. Jadi siap-siap saja sedia manusia yang masih segar dalam jumlah yang banyak.

Ada yang lebih gampang lagi dari jenis pesugihan di atas. Yaitu laku pesugihan Jaran Penoreh. Untuk laku jenis ini anda harus membuka usaha angkutan umum dan pada tiap badan kendaraan harus diberi gambar kuda putih. Tumbalnya akan dipilih sendiri oleh kendaraan tersebut, dengan menabrak orang di jalan. Gampang bukan ?

Masih ada beberapa lagi jenis pesugihan yang mungkin anda sudah sering sekali mendengarnya atau bahkan menyaksikan sendiri pelakunya. Seperti babi ngepet, anjing ngepet, ratu ular dan pesugihan bulus putih. Ketiganya sudah tidak asing lagi bukan. Berbagai macam cerita dan film tentang laku pesugihan itu sudah sering sekali kita baca atau saksikan.

Namun ada beberapa laku pesugihan yang amat sangat aneh dan tidak lazim. laku pesugihan ini bahkan pernah saya saksikan sendiri pelakunya. Laku pesugihan itu bernama Macan kerah dan Kandang bubrah. Bagi para penganut laku pesugihan Macan Kerah, mereka harus selalu berantem dengan tetangga kanan kirinya.

Pokoknya setiap hari harus cari perkara biar bisa berantem mulut dan kalau bisa sampai jotos-jotosan. Semakin sering dia berantem, semakin sering pula dia mendapat harta kekayaan. Sedangkan laku pesugihan kandang bubrah,  penganut ilmu pesugihan ini cuma diharuskan merenovasi rumah tiap tahun. Pokoknya hanya merenovasi meskipun tidak ada bagian tertentu dari rumah yang rusak. 



Sabtu, 08 Juni 2013

Sunan Katong dan Pakuwojo

Bathara Katong atau Sunan Katong besama pasukannya mendarat di Kaliwungu dan memilih tempat di pegunungan Penjor atau pegunungan telapak kuntul melayang. Beberapa tokoh dalam rombongannya antara lain terdapat tokoh seperti Ten Koe Pen Jian Lien (Tekuk Penjalin),Han Bie Yan (Kyai Gembyang) dan Raden Panggung (Wali Joko).

Penyebaran Islam di sekitar Kaliwungu tidak ada hambatan apapun. Sedangka memasuki wilayah yang agak ke barat, ditemui seorang tokoh agama Hindu/Budha, bahka disebutkan sebagai mantan petinggi Kadipaten di bawah Kerajaan Majapahit untuk wilayah Kendal/Kaliwungu, bernama Suromenggolo atau Empu Pakuwojo.

Dikatakan dalam cerita tutur, ia seorang petinggi Majapahit dan ahli membuat pusaka atau empu. Ia seorang adipati Majapahit yang pusat pemerintahannya di Kaliwungu/Kendal. Untuk meng-Islamkan atau menyerukan kepada Pakuwojo supaya memeluk agam Islam, Tidaklah mudah sebagaimana meng-ISlamkan masyarakat biasa lainnya. Biasanya sifat gengsi dan merasa jad taklukan adalah mendekati kepastian. Karena ia merasa punya kelebihan, maka peng-Islamannya diwarnai dengan adu kesaktian, sebagaimana Ki Ageng Pandan Aran meng-Islamkan para 'Ajar' di perbukitan Bergota/Pulau Tirang.

Kesepakatan atau persyaratan dibuat dengan penuh kesadaran dalam kapasitas sebagai seorang ksatria pilih tanding. "Bila Sunan Katong sanggup mengalahkannya, maka ia mau memeluk agama Islam dan menjadi murid Sunan Katong", demikian sumpah Pakuwojo di hadapan Sunan Katong. Pola dan gaya pertrungan seperti it memang sudash menjadi budaya orang-orang dahulu. Mereka lebih menjunjung sportivitas pribadi.

Dengan didampingi dua sahabatnya dan satu saudaranya, pertarungan antarkeduanya berlangsung seru. Selain adu fisik, mereka pun adu kekuatan batin yang sulit diikuti oleh mata oran awam. Kejar mengejar, baik di darat maupun di air hingga berlangsung lama dan Pakuwojo tidak pernah menang. Bahkan ia berkeinginan untuk lari dan bersembunyi. Kebetulan sekali ada sebuah pohon besar yang berlubang. Oleh Pakuwojo digunakan sebagai tempat bersembunyi dengan harapan Sunan Katong tidak mengetahuinya. Namun berkat ilmu yang dimiliki, Sunan Katong berhasil menemukan Pakuwojo, dan menyerahlah Pakuwojo.

Sebagaimana janjinya, kemudian ia mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai tanda masuk Islam. Oleh Sunan Katong, pohon yang dijadikan tempat persembunyian Pakuwojo diberi nama Pohon Kendal yang artinya penerang. Di tempat itulah Pakuwojo terbuka hati dan pikirannya menjadi terang dan masuk Islam. Dan Sungai yang dijadikan tempat pertarungan kedua tokoh itu diberi nama Kali/Sungai Kendal, yaiut sungai yang membelah kota Kendal, tepatnya di depan masjid Kendal. Pakuwojo yang semula oleh banyak orang dipanggil Empu Pakuwojo, oleh Sunan Katong dipanggil dengan nama Pangeran Pakuwojo, sebuah penghargaan karena ia seorang petinggi Majapahit. Setelah itu ia memilih di desa Getas Kecamatan Patebon dan kadang-kadang ia ebrada di padepokannya yang terletak di perbukitan Sentir atau GUnung Sentir dan menjadi murid Sunan Katong pun ditepati dengan baik. Sedangkan nama tempat di sekitar pohon Kendal disebutnya dengan Kendalsari.

Masih ada keterangan lain yang ada hubungannya dengan nama Kendal. Dikatakannya bahwa nama Kendal berasal dari kata Kendalapura. Dilihat dari namanya, Kendalapura ini berkonotasi dengan agama Hindu. Artinya, bahwa Kendal sudah ada sejak agama Hindu masuk ke Kendal. Atau paling tidak di dalam berdo'a atau mantera-mantera pemujaan sudah menyebu-nyebut nama Kendalapura.

Ada juga keterangan yang menerangkan bahwa Kendal berasal dari kata Kantali atau Kontali. Nama itu pernah disebut-sebut oleh orang-orang Cina sehubungan dengan ditemukannya banya arca di daerah Kendal. Bahkan disebutkan oleh catatan itu bahwa candi-candi di Kendal jauh lebih tua dari candi Borobudur maupun candi Prambanan.

Temuan-temuan itu patut dihargai dan bahkan bisa menjadi kekayaan sebuah asal-usul, walaupun kebanyakan masyarakat lebih cenderung pada catatan Babad Tanah Jawi yang menerangkan bahwa nama Kendal berasal dari sebuah pohon yang bernama pohon Kendal.

Kecenderungan itu karena dapat diketahui tentang tokoh-tokohnya yaitu Sunan Katong dan Pakuwojo yang mendapat dukungan dari Pangeran Benowo. Selain itu catatan-catatan pendukung lainnya justru berada di Universitas Leiden, Belanda, sebuah perguruan tinggi terkenal yang banyak menyimpan catatan sejarah Jawa.

Akan halnya cerita Sunan Katong dan Pakuwojo dalam legenda yang telah banyak ditulis itu menggambarkan sebuah prosesi, betapa sulitnya merubah pendirian seseorang, terlebih menyangkut soal agama/keyakinan. Cerita-cerita itu menerangkan bahwa antara Pakuwojo dan Sunan Katong pada akhirnya tewas bersama (sampyuh).

Cerita yang sebenarnya tidaklah demikian. Cerita itu maksudnya, begitu Pakuwojo berhasil dibuka hatinya oleh Sunan Katong, dan Pakuwojo mau mengucapkan dua kalimat syahadat dan menjadi murid Sunan Katong, berarti antara kedua tokoh itu hidup rukun sama-sama mengembangkan agama Islam. 


Kamis, 06 Juni 2013

Khasiat Batu Akik

Akik dapat membantu untuk hal-hal yang berhubungan dengan kepribadian secara fizikal dan emosional.
Lagenda mengatakan bahawa pemakai Akik akan dilindungi dari bahaya dan membangkitkan pemakainya dengan keberanian. Akik dipercayai dapat menyembuhkan penyakit Insomnia (kesulitan untuk tidur yang parah), memberikan mimpi indah dan memberi ashbab bagi keseimbangan tubuh.

Jenis-jenis akik dengan kemampuannya :
Akik Lumut
dapat meningkatkan hubungan dengan alam sekitar. Lumut Hijau membantu menghilangkan racun dalam darah dan menyeimbangkan energi emosional. Lumut Merah membantu membersihkan darah serta menambah stamina fisik.

Akik pohon
menolong didalam melakukan introspeksi diri dengan lebih jelas, melihat dunia melalui sudut pandang yang lebih luas dan menurunkan demam serta kadar racun

Akik Garis/Pita
membantu dalam menarik kekuatan, mengatasi rasa tidak mempunyai cukup kekuatan atau keberanian

Akik Renda/Jalinan
mengatasi keputus-asaan dan depresi, menimbulkan kegembiraan serta relaksasi dari tegangan otot serta kejang. Akik renda biru membantu menyeimbangkan cairan tubuh dan memberi ketenangan emosi.

Akik menyerupai bulu burung
menguatkan pembuluh darah dan mengatasi rasa takut tanpa sebab yang jelas. Berguna untuk mengurangi rasa takut dalam berburu atau menemukan arah

Akik bintik-bintik
perlindungan ekstra terhadap pelawat/pengembara, salah satu batu para petualang

Akik Mata
melindungi dari kerusakan pada tubuh dan menghilangkan pikiran negatif

Akik Dendrite
menyeimbangkan kadar gula darah. Merupakan batu para petualang untuk memberikan keamanan dan kekuatan

Akik India
memberikan kekuatan jasmani, mengatasi perasaan tidak aman/tidak sejahtera dan menghilangkan kelemahan fisik serta emosional

Akik Botswana
mengatasi ketidakpastian dari arah dan tujuan peribadi



Selasa, 04 Juni 2013

Mistik Cindaku

Cindaku adalah sebutan untuk manusia harimau yang berasal dari daerah Kerinci, Jambi. Menurut kepercayaan masyarakat Kerinci, manusia memiliki hubungan batin dengan harimau.

“Bahwasanya di bumi sakti ini tumbuh suatu kepercayaan magis spritual tentang hubungan bathin manusia dengan harimau, sehingganya kemudian tidak mengherankan di tengah masyarakat Kerinci ada pula yang berkeyakinan kalau nenek moyang mereka adalah harimau.”

Kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Kerinci tentang harimau merupakan warisan dari nenek moyang mereka yang konon telah berperan serta dalam melestarikan hutan di wilayah Kerinci yang merupakan habitat asli dari harimau Sumatra. Diceritakan dalam cerpen Cindaku tentang adanya perjanjian yang dilakukan oleh nenek moyang mereka yang disebut Tingkas, dengan harimau yang tinggal di suatu hutan di wilayah Kerinci. Perjanjian tersebut berisi tentang pembagian wilayah, antara wilayah hunian harimau dan wilayah manusia.

“Ini tidak terlepas dari legenda yang berkembang di mana di sebutkan dahulu Tingkas nenek moyang orang Kerinci telah menjalin hubungan dengan harimau, dan dalam hubungan itulah terbentuk perjanjian yang membatasi dan mengatur hubungan manusia dengan alam terutama hutan rimba. Perjanjian itulah yang mengontrol nafsu masing-masingnya sehingga tidak sampai memakan wilayah satu sama lainnya. Hutan rimba adalah wilayah hunian harimau. Tingkas dan anak cucunya tidak boleh merampas hak itu. Sementara kampung dan kota adalah wilayah manusia, harimau pun tidak akan pernah berani berkuasa atau menunjukkan kebuasannya di sini."

Perjanjian tersebut merupakan suatu penggambaran sifat manusia yang mau menghargai kehidupan sesama makhluk ciptaan Tuhan. Hal tersebut dapat pula dihubungkan dengan kearifan lokal atau local wisdom, dimana suatu masyarakat mampu menyerap pesan-pesan yang disampaikan oleh para nenek moyang melalui cerita-cerita atau dongeng-dongeng yang bersifat peringatan maupun pendidikan. Dalam kasus ini, pesan yang disampaikan adalah sebuah peringatan tentang adanya pembagian antara wilayah harimau dan wilayah manusia yang harus dihormati keberadaannya. Kearifan lokal itu sampai saat ini masih dipegang teguh oleh masyarakat Kerinci. Selain sebagai suatu penghargaan terhadap nenek moyang, tetap dipegangteguhnya warisan nenek moyang tersebut berhubungan dengan konsekuensi yang berat terhadap orang yang berani melanggarnya. Konsekuensi yang dimaksud dapat berhubungan dengan kematian yang disebabkan oleh serangan harimau, juga dihubungkan dengan kemunculan cindaku yang merupakan pelindung bagi harimau sekaligus penjaga wilayah hunianya.

"Perjanjian itulah yang disebut perjanjian garis tanah, yang berlaku selama ranting mati yang ditanam di tanah waktu itu tidak tumbuh berdaun apalagi berbunga. Ini berarti ini berarti perjanjian itu akan berlaku selama-lamanya, karena ranting mati yang di tanam itu mustahil akan hidup dan tumbuh seumur-umur dunia."

Kutipan diatas menunjukkan adanya unsur-unsur estetis yang diungkapkan melalui perumpamaan ranting kering yang tak mungkin bisa tumbuh lagi. Perumpamaan tersebut digunakan untuk menegaskan bahwa pejanjian antara manusia dan harimau berlaku untuk selama-lamanya.
Kepercayaan tentang cindaku hanya terdapat di wilayah Kerinci saja. Orang Kerinci yang berkemampuan cindaku hanya bisa berubah menjadi harimau bila dadanya menyentuh tanah Kerinci, tanah yang merupakan tempat berpijak harimau Sumatra, yang berkaitan dengan hak-hak hidup harimau dan manusia yang harus senatiasa dijaga keharmonisannya. Cindaku adalah jelmaan dari manusia yang terlahir dari tanah Kerinci. Tidak semua orang Kerinci adalah cindaku, hanya sebagian orang saja yang mempunyai darah Tingkas (nenek moyang orang Kerinci) dan orang tertentu saja yang mampu berubah menjadi harimau. Orang tertentu yang dimaksud adalah orang-orang yang mempunyai bakat supranatural dan mampu menyerap ilmu yang diberikan oleh cindaku. Lebih khusus lagi, tidak semua keturunan Tingkas mampu merubah diri menjadi cindaku, dalam legenda Kerinci, cindaku akan menampakkan diri jika ada yang mencoba untuk melanggar perjanjian garis tanah saja, sehingga keturunan Tingkas tidak bisa sesuka hatinya untuk mengubah diri menjadi harimau. Dari hal tersebut dapat dikatakan bahwa suatu kekuatan besar tidak bisa seenaknya digunakan untuk hal-hal yang kurang bermakna, karena dengan kekuatan tersebut para cindaku mempunyai tanggung jawab besar untuk menjaga apa yang seharusnya tetap terjaga.