Sabtu, 22 Juni 2013

Mandala Keraton

Di mata orang Jawa, keraton adalah keramat. Kawula takut kuwalat jika berbuat semaunya di lingkungan keraton. Kawula selalu berasumsi bahwa sang raja memilikki kuluk kanigara, yaitu makutha yang esensinya memuat kewibawaan. Makutha menyimpan hal-hal yang “the seen” dan “unseen worlds”. Secara kasatmata, makutha itu benda berharga. Tapi di balik barang tersebut merupakan perlambangan kesaktian dan kekuasaan sebagai warisan pusaka Kiai Jaka Piturun. Kepemimpinan raja adalah kuasa yang mengayomi sebagaimana ada rasa adhem, ayem dan tenang yang dikhayati oleh kawula.

Keraton adalah pusat rasa Jawa, rasa hakiki yang hidup di dataran nalar Jawa adalah rasa njaba dan rasa njero.  Kedua rasa ini menep (merasuk) dalam candrasengkala memet regol kemagangan yang berbunyi: Dwi Naga Rasa Tunggal (1682). Dwi Naga Rasa Tunggal artinya dua naga yang tubuhnya (sarira) dipadukan hingga muncul ungkapkan mistik manunggaling kawula – Gusti.

Dalam konteks manunggal ini, ditunjukkan oleh ungkapkan sarira tunggal atau sari-rasa-tunggal. Maksudnya adalah kawula-Gusti memilikki hakikat satu rasa (madu rasa).  Keinginan kawula untuk selalu manunggal dengan Gusti disebut madu brangta.

Sebelum keraton berdiri, sesuatu yang ada hanyalah hutan belantara.  Hutan yang bernama Garjitawati dan diartikan sebagai kesadaran total manusia.  Kesadaran yang melahirkan pemikiran jernih dan wening. Wati berarti kaya, banyak, luas dan Garjtawati adalah hutan yang menyimbolkan kesadaran kuat.  Salah satu raja Jawa, Sri Sultan HB I memandang tepat keraton Yogya berdiri di atas bumi harum itu.  Dari sini kesadaran kosmis muncul di benak kawula-Gusti Yogya, karena tata letak simbolik imajiner keraton.

Kosmologi keraton Yoga tidak terlepas dari pandangan dunia Kejawen dengan masyarakat kejawen berpikir tentang kosmologi Jawa melalui pepangkataning dumadi, Tribuwana. Adanya Guru loka (baitul makmur), Endra loka (baitul muharam), dan Jana Loka (baitul muqadas).  Guru loka dalam posisi keraton diwakili oleh Gunung Merapi. Gunung berada di utara disebut lor, utama dan luhur. Posisi di tengah yaitu, Endra Loka artinya raja. Raja kehidupan tidak lain adalah hati (rasa sejati). Ada pun Jana loka adalah gambaran kawula, rendah dan bawah. Ketiga ranah filosofi – kosmis ini yang memposisikan keraton sebagai sentral.

Pemikiran kosmologi Jawa sedemikian berkembang dan meningkat dari posisi Tribuwana menjadi Pancabuwana. Konsep Pancabuwana tetap meletakkan keraton sebagai Pusat. Pancabuwana memuat keblat papat lima pancer yang berarti buwana manusia selalu dilingkupi oleh empat anasir:

(a)  Keraton sebagai sentral (pancer) kehidupan.

(b)  Keraton Yogyakarta secara kosmis diapit oleh empat anasir kiblat yaitu

   1. Kampung Gandamanan (Timur)
   2. Kampung Krapyak (Selatan)
   3. Wirabrajan (Barat)
   4. Utara (jetis)

Makna filosofi Kampung Gandamanan bila ditarik ke utara lurus bersimetris dengan Kampung Gandalayu (timur Tugu).  Adapun Kampung Wirabrajan, jika ditarik lurus ke utara muncul Kampung Pingit, sebelah barat Tugu. Jadi garis imajiner keraton ke Tugu menandai bahwa lokasi keraton diapit oleh dua nama kampong yang melambangkan hidup (Pingit, berarti suci) dan mati (Gandalayu, artinya bau bangkai).  Hal ini ditandai pula bahwa Kampung Pingit itu dialiri sungai Winanga dan Kampung Gandalayu yang dialiri Sungai Code. Winanga berasal dari bahasa Jawa winong, artinya paham, ketahuilah dekatkanlah dengan Hyang Winong yaitu Tuhan.  Sebaliknya, jauhilah yang jelek, berbau bangkai yang dilambangkan Code (dalam bahasa Jawa, cocode, kejelekan).

Jika posisi Pancabuwana tersebut dilukiskan, keraton akan tampak sebagai sumber kasekten.  Sakti berarti hangabehi, di dalamnya muncul zating Pagneran melalui sebuah proses emanasi. Kosmologi keblat papat lima pancer, keraton tergambar sebagai kuthanegara yang berada pada posisi tengah, isinya suwung (titik nol), menjadi fakta hakiki (ultimate reality), hari pasarannya adalah Kliwon, multi-warna dan dewanya adalah Manikmaya (Bhatara Hyang Guru).  Sebelah timur dibatasi oleh negaragung, sebagai fakta emanen, sebagai purwaning dumadi (jagad kawitan).  Maka posisi semadi orang Jawa menghadap ke timur, pasarannya adalah Legi, dibatasi dengan negaragung brang wetan, warnanya putih, disimbolkan anasir air, dewanya Wisnu.  Sebelah selatan adalah fakta eksistensial, berwarna merah, pasaran Paing, dibatasi Laut Selatan, dan dewanya Kala.  Sebelah barat pasarannya adalah Pon, dibatasi negaragung brang kulon, berwarn akuning, sebagai fakta transeden, dewinya Sri.  Sebelah utara adalah pasarannya Wage, warnanya hitam, dibatasi Gunung Merapi, dewanya Narada, sebagai fakta esensial.

Kosmologi keraton demikian terkait dengan sebutan ning-rat.  Ning artinya jernih dan rat (dunia kosmos).  Kejernihan berpikir tentang dunia (kosmos) oleh kesakralan keraton.  Di mata orang Jawa, keraton sebagai mandala yang gawat keliwat-liwat wingit kepati-pati.  Maka dalam Serat Baron Sekender, dikisahkan ada pesawat colonial yang hendak menyerang keraton Yogya, tiba-tiba jatuh ketika berada di atas keraton.  Nuansa kosmis itulah yang menyebabkan keraton sangat berbeda dengan tempat lain.  Keraton diibaratkan seperti istana, tapi istana bukan keraton.

Dari waktu ke waktu, umumnya orang Jawa memandang keraton selalu menyebarkan ruh kosmis, yaitu:

(1)  Memberi perlindungan (hangayomi)

(2)  Memberi rasa aman, tenang dan tenteram (hangayemi)

(3)  Memberi berkah berbagai hal (hamberkahi).

Ketiganya tergambar pada watak raja yang mahambeg paramarta.  Artinya, raja selalu menyebarkan watak keutamaan kepada kawula.  Kawula memandang Sultan sebagai figure yang mampu amangku-amengku-among-momot.  Amangku, artinya bisa menciptakan suasana jenak, tenang, adhem ayem, memahami aspirasi bawahan secara total sebagaimana seorang Ibu memangku anaknya.  Amengku, berarti mampu menjalankan kekuasaan yang tidak semena-mena, penuh kecintaan, perlindungan, penuh perhatian, seperti halnya sayap ayam melindungi anaknya.  Among-momot, artinya mampu memimpin dengan kultur kejawaan yang penuh asah-asih-asuh, mewadahi segala keinginan kawula.  Ketiga hal itu terangkum dalam ungkapan mahambeg berbudi bawa laksana.

Melalui Perjanjian Giyanti yang diskenariokan kolonialis pada 13 Februari 1755, hingga membelah Mataram menjadi dua, yaitu Kasultanan Yoga dan Kasunan Surakarta, terkesan agak aneh.  Sunan seakan representasi ulama dan sultan adalah gambaran umaro.  Pada hal kedua belah pihak jelas memuat ulama-umaro.  Teologi dan teosofi Keraton Yogya selalu merujuk bahwa keraton adalah sentral – kosmis – filosofis.  Keraton Yogya tidak sekadara memimpin kawula secara lahir, melainkan juga dengan konsepsi filosofi kejawen yang luhur.  Sultan yang bergelar Sayidin Panatagama Kalifatullah, diakui atau tidak jelas melukiskan sebuah paugeraning dumadi.  Sultan dianggap figure waskitha atau nawung kridha, yang menjadi pandom (kiblat) kawula.

Atas dasar itu, keraton sekaligus juga sebagai pusat (telenging dumadi).  Maka kedudukan sultan menjadi abon-aboning panembah jati.  Maksudnya, keraton menjadi sentral kawula dalam melakukan persembahan.  Hakikatnya kawula adalah menyembah Hyang Widhi, sebab Sultan diobsesikan sebagai wakil (badal wakiling) Tuhan.  Itulah sebabnya kawula selalu melakukan tindakan saiyeg, saeka praya sebaya pati sebaya mukti.

Demi tegaknya keraton, kawula rela dan ikhlas berkorban secara serentak, rukun sampai titik darah penghabisan.  Alasannya, jika keraton menemui kejayaan, kawula juga akan menerima kemurahan (luberan) raja.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar