Kamis, 14 Februari 2013

Makam Wali Allah Pangeran Sake, Citeureup

Sebagian besar Masyarakat di Citeureup mencintai serta memuliakan Pangeran Sake, mungkin dikarenakan jasa-jasa beliau didalam membuka wilayah Citeureup, ini bisa dilihat dari Makamnya yang selalu ramai diziarahi, terutama pada malam Selasa dan malam Jum’at. Bahkan bukan hanya warga Citeureup saja yang datang berziarah, dari kota-kota lainpun banyak yang datang, seperti Jabotabek, Bandung, Tasikmalaya, Madura, Karawang hingga Kalimantan.

Setiap malam Selasa dan malam Jum’at para penziarah semenjak sore hari sudah mulai berdatangan. Mereka ada yang datang berjalan kaki hingga berkendaraan, biasanya berkelompok. Tak ada yang mengatur, tetapi para penziarah terlihat tertib memasuki lahan pemakaman. Mereka bergantian masuk, sebagian lainnya bergerombol di luar area makam atau menunggu di majlis yang berada tak jauh dari area pemakaman. Lokasinya yang terletak di Gang Nangka Karang Asem Timur, itu mudah untuk dikunjungi. Bagi para penziarah yang datang dari luar kota melalui tol Jagorawi masuk menuju arah prapatan Citeureup, kemudian kearah selatan melewati BTN Griya Persada kemudian memutar balik kearah Citeureup.

Mbah Sake, begitu masyarakat Citeureup menyebutnya banyak berjasa dalam penyebaran agama Islam di daerah Citeureup dan sekitarnya, beliau semasa hidupnya lebih memilih jalan kesufian dibanding menjadi pamong di istana banten.Masjid Ash-Shoheh diyakini sebagian sesepuh Citeureup sebagai tempat Eyang Sake menghabiskan waktunya dalam beribadah.setiapShubuh kerapkali beliau bersama jamaah lainnya berdzikir hingga waktu Isyraq (terbit fajar). Ada yang menyebut beliau penganut Thariqat Naqsabandiyah.

Banyak cerita / mitos yang dikaitkan dengan Pangeran Sake, baik cerita tentang kehidupannya maupun tentang peninggalannya, cerita-cerita mengalir begitu saja tanpa ada yang tahu darimana sumbernya. Meski demikian nampaknya tak ada yang mempertentangkannya. Cerita-cerita tersebut sudah mengalun sejak lama,dari mulut ke mulut dan sebagian malah tidak memperdulikan kebenarannya. Diantara cerita-cerita tersebut ada yang sebagian saya paparkan disini, sebagian lagi tidak, karena dianggap mustahil dan dikhawatirkan menimbulkan fitnah. Diantara cerita tersebut adalah :

1. Pangeran Sake memiliki beberapa makam, diantaranya ada di Bogor, Cibinong, Cileungsi,Citeureup dan mungkin di daerah lainnya.Terdengar agak aneh memang, seseorang bisa wafat berkali-kali. Namun ada salah satu sumber yang sangat masuk akal, yakni dari salah seorang sesepuh citeureup yang berasal dari leuwiliang, beliau mengatakan bahwa pada zaman dulu, sebagai penyebar agama, Pangeran Sake seringkali menjadi incaran Belanda, gerak-geriknya seringkali dimata-matai, sehingga ketika beliau tinggal disatu tempat, belanda pun dapat mengendusnya, maka demi menghilangkan jejak dibuatlah gundukan tanah yang diklaim sebagai makamnya, sehingga Belanda pun menghentikan pengejarannya, begitu seterusnya, pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. masuk akal kan...?


2. Mbah Sake ada dimakamnya pada malam-malam tertentu saja seperti misalnya para penziarah yang datang biasanya ramai pada malam selasa dan malam jum’at. Sebagian meyakini bahwa beliau ada di makam pada malam selasa, dan sebaliknya sebagian mengatakan bahwa mbah sake ada pada malam Jum’at.


3. Ada yang mengaku memiliki Photo / lukisan Pangeran Sake, uniknya yang dapat melihat dengan jelas hanyalah keturunannya saja, selain daripada keturunannya tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas, bahkan yang terlihat hanyalah benda-benda biasa seperti batu,kayu,bahkan harimau.


4. Seseorang mengaku memiliki Jubah peninggalan Pangeran Sake semasa beliau hidup, mirip seperti cerita diatas, yang dapat memakai pakaian tersebut dalam artian pakaian tersebut akan cukup dikenakan apabila yang bersangkutan masih keturunannya.

Masih banyak mitos-mitos lainnya, wallahu a’lam mengenai kebenaran cerita – cerita tersebut, mitos-mitos ini mengalir begitu saja tanpa tahu dari mana sumbernya, yang jelas kita berkhusnudzon saja kepada Pangeran Sake yang sudah berjasa membuka hutan rimba bernama Citeureup hingga para anak cucunya dapat menikmatinya sekarang.

Berbicara Pangeran Sake, tidak dapat dilepaskan asal muasal dari Pangeran Sake yakni daerah Banten, kemudian berbicara Banten tentu tak mudah juga dilupakan Pembuka wilayah banten yang tak lain adalah Karuhun (Nenek Moyang) dari Pangeran Sake Yaitu Maulana Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, seorang Hamba Allah yang berjasa besar dalam rangka tersebarnya agama Islam di Indonesia umumnya serta di Jawa barat khususnya. Beliau juga merupakan bagian dari Wali Songo. Karena jasa-jasanya Rakyat Jawa Barat memberinya gelar Syekh Maulana Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati Rahimahullah.

Sunan Gunung Jati bernama Syarif Hidayatullah, lahir sekitar tahun 1450. Ayah beliau adalah Syarif Abdullah bin Nur Alam bin Jamaluddin Akbar, seorang Mubaligh dan Musafir besar dari Gujarat, India yang sangat dikenal sebagai Syekh Maulana Akbar bagi kaum Sufi di tanah air. Syekh Maulana Akbar adalah putra Ahmad Jalal Syah putra Abdullah Khan putra Abdul Malik putra Alwi putra Syekh Muhammad Shahib Mirbath, ulama besar di Hadramaut, Yaman yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah SAW melalui cucu beliau Imam Husain.

Bunda Sunan Gunung Jati adalah Nyai Rara Santang (Syarifah Muda’im) yaitu putri dari Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dan Nyai Subang Larang, dan merupakan adik dari Kian Santang atau Pangeran Walangsungsang yang bergelar Cakrabuwana / Cakrabumi atau Mbah Kuwu Cirebon Girang yang berguru kepada Syekh Datuk Kahfi, seorang Muballigh asal Baghdad bernama asli Idhafi Mahdi bin Ahmad.Makam Nyai Rara Santang bisa kita temui di dalam komplek KLENTENG di Pasar Bogor, di sebelah Kebun Raya Bogor.

Bagi para sejarawan beliau adalah peletak konsep Negara Islam modern ketika itu dengan bukti berkembangnya Kesultanan Banten sebagi negara maju dan makmur mencapai puncaknya 1650 hingga 1680

Beliau menikahi adik dari Bupati Banten ketika itu bernama Nyai Kawunganten. Dari pernikahan ini beliau mendapatkan seorang putri yaitu Ratu Wulung Ayu dan Pangeran Sebakingking atau Maulana Hasanuddin yang kelak menjadi Sultan Banten yang selanjutnya nanti akan sampai kepada lahirnya pangeran Sake.

Dalam menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa, Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati tidak bekerja sendirian, beliau sering ikut bermusyawarah dengan anggota wali lainnya di Masjid Demak. Bahkan disebutkan beliau juga membantu berdirinya Masjid Demak. Dari pergaulannya dengan Sultan Demak dan para Wali lainnya ini akhirnya Syarif Hidayatullah mendirikan Kesultanan Pakungwati dan ia memproklamirkan diri sebagai Raja yang pertama dengan gelar Sultan.

Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat.

Pangeran Sake yang banyak dikenal di daerah citeureup karena perjuangan beliau di daerah ini berasal dari Banten. Beliau adalah Putra dari Sultan Ageng Tirtayasa.tentu tidak ada salahnya apabila kita paparkan sedikit riwayat dari ayahanda Pangeran Sake tersebut.

Sultan Ageng Tirtayasa (Banten, 1631 – 1683) adalah putra Sultan Abdul Ma’ali Ahmad dan Ratu Martakusuma yang menjadi Sultan Banten periode 1640-1650. Ketika kecil, ia bergelar Pangeran Surya. Ketika ayahnya wafat, ia diangkat menjadi Sultan Muda yang bergelar Pangeran Ratu atau Pangeran Dipati. Setelah kakeknya meninggal dunia, ia diangkat sebagai sultan dengan gelar Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah.Nama Sultan Ageng Tirtayasa berasal ketika ia mendirikan keraton baru di dusun Tirtayasa (terletak di Kabupaten Serang).

Sultan Ageng Tirtayasa mempunyai beberapa istri diantaranya Ratu Adi Kasum sebagai permaisuri yang melahirkan Abdul Kahar (Sultan Abdul Nasr Abdul Kahar), dari Ratu Ayu Gede, Sultan Ageng dikaruniai 3 orang anak, yaitu Pangeran Arya Abdul Alim, Pangeran Ingayujapura (Ingayudipura) dan Pangeran Arya Purbaya. Sedangkan dari istri-istri lainnya mempunyai beberapa anak yaitu Pangeran. Sugiri, Pangeran Sake, TB. Raja Suta, TB. Husen, TB. Kulon, dan lain-lain. Diantara anak-anaknya hanya dua saja yang menjadi penguasa yakni Sultan haji dan Pangeran Purbaya, selebihnya memilih meninggalkan banten diantaranya Pangeran Sogiri dan Pangeran Sake yang memilih wilayah timur yang terbentang antara Citeureup, Cibinong sampai ke Cibarusah.

Adapun Silsilah dari Pangeran Sake adalah sebagai berikut :
1. Syeh Syarif Hidayatullah Gunung Jati (1450-1569) Berputra :
2. Sultan Maulana Hasanudin / Panembahan Surosowan (1552-1570), Berputra :
3. Sultan Maulana Yusuf (1570-1580), Berputra :
4. Sultan Maulana Muhamad (1580-1596), Berputra :
5. Sultan Abdul Mafahir Mahmud Abdul Kadir Kenari (1596-1651), Berputra :
6. Sultan Abul Maali Ahmad, Berputra :
7. Sultan Abdul Fathi Abdul Fatta / Sultan Ageng Tirtayasa (1631-1683), Berputra :
8. Syeh Syarifudin Shoheh / Pangeran Sake (1682-1740).


Adapun Putra dari Pangeran Sake :
1.   Pangeran Suryadinata
2.   Pangeran Kertayudha
3.   Pangeran Wiranata
4.   Raden Suryapringga
5.   Raden Komarudin
6.   Raden Syarifudin
7.   Raden Sahabudin
8.   Raden Muhidin
9.   Ratu Jiddah
10. Tubagus Badrudin
11. Tubagus Kamil
12. Ratu Mantria

Mbah Dalem Machsan adalah Menantu dari Pangeran Sake, Makamnya terletak tidak jauh dari Makam Pangeran Sake. Pangeran Sake Wafat Pada Malam Jum’at Tanggal 10 Muharram.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar