Rabu, 13 Februari 2013

Surau Tuo Taram dan Makam Ibrahim Mufti

"Setitik cahaya menyembul dari balik semak-semak di kaki bukit. Mungkin suluh orang yang mencari belut sawah atau menjaring ikan di sungai Batang Mungo sepanjang lereng bukit itu. Tapi, makin mendekat, makin jelas terlihat. Makin terang terasa. Lalu, cahaya itu menggulung seperti dihempas angin limbubu. Menggumpal, membulat, membesar seperti bola api. Melayang dan melaju kencang ke arah Surau Tuo....”

Tulisan di atas memang fiksi. Pernah dimuat Jawa Pos (Grup Padang-Today), pada 23 oktober 2005. Pengarangnya Damhuri Muhammad, jebolan IAIN Imam Bonjol Padang dan UGM Yogyakarta, yang belakangan menjadi Cerpenis di Jakarta. Meskipun fiksi, namun cerita pendek dengan judul asli ”BUYA” tersebut, sesungguhnya mirip sekali dengan kisah yang biasa didengar banyak orang, ketika berkunjung ke Surau Tuo dan Makam Keramat Syeikh Ibrahim Mufti di Nagari Taram, Kecamatan Harau, Kabupaten Limopuluah Koto.

Bahkan, kalau cerita karangan Damhuri tersebut dinikmati sampai akhir, pikiran pembaca pasti akan membayangkan, bagaimana rentetan kisah yang terjadi di Surau Tuo Taram, ratusan tahun nan lampau. Dalam kisah tersebut, Damhuri memaparkan dengan jelas, tentang peristiwa yang terjadi pada suatu malam, di mana sebuah cahaya tiba-tiba saja turun dan seperti menyambar bagian kanan Mihrab Surau Tuo. Tak lama kemudian, warga dari enam jorong: Tanjuang Ateh, Tanjuang Kubang, Tanjuang Balai Cubadak, Parak Baru, Sipatai, dan Subarang, menganggap cahaya tadi sebagai pertanda letak makam Buya Ibrahim Mufti yang hilang beberapa tahun.

Damhuri juga menjelaskan dengan gamblang, bagaimana Buya yang sedang mencukur rambut, tiba-tiba hilang dan pergi memadamkam api yang membakar Mekkah. Padahal, ketika itu rambutnya baru separoh yang dicukur. Bukan hanya itu, Damhuri menceritakan pula soal negeri Taram yang dulu bertanah gersang. Tak ada sumber air untuk mengairi sawah. Kalaupun ada sawah yang ditanami, itu hanya mengharapkan curah hujan. Tapi, sejak kedatangan buya Ibrahim Mufti, perlahan-lahan alam mulai bersahabat. Keadaan berubah menjadi lebih baik.

Waktu itu, Buya menancapkan ujung tongkatnya ke dalam tanah, lalu dihelanya tongkat itu sambil berjalan ke arah timur. Tanah kering yang tergerus tongkat buya seketika lembab, basah dan dialiri air yang datang entah dari mana. Sesampai di ujung paling timur, Buya berhenti. Dibiarkannya tongkat itu tertancap. Lebih dalam dari tancapan yang pertama. Kelak, titik tempat beliau berhenti dinamai: Kepala Bandar. Itulah mata air pertama di Taram.

Sesuai Cerita Warga

Apa yang dicerikan Damhuri tersebut, sesuai betul dengan cerita yang diperoleh penulis ketika berkali-kali mengunjungi Surau Tuo Taram dan Makam Ibrahim Mufti yang disebut-sebut keramat. Jikapun ada bedanya, nyaris tidak seberapa. Di mana, warga Taram mulai ”menganggap” bagian sebelah kanan Mihrab Surau Tuo, sebagai Makam Keramat Syeikh Ibrahim Mufti, ketika seorang murid bermimpi bertemu beliau.

Dalam mimpi itu diberitahukan, Syeikh sudah meninggal. Jika ingin melihat kuburannya, lihatlah pada malam tanggal 27 Rajab dengan petunjuk cahaya dari tanah. Dari tempat cahaya muncul itulah, Syeikh dimakamkan. Selain cerita tersebut, kepada Padang-Today warga Taram juga menceritakan, soal Syeikh Ibrahim Mufti yang dikabarkan bisa pergi memadamkan api di Mekkah, ketika rambutnya baru terpotong sebelah.

Lalu, diceritakan pula soal tongkat Ibrahim Mufti yang sampai sekarang masih ada. Pokoknya, miriplah dengan cerita Buya karangan Damhuri Muhammad. Terlepas dari hal tersebut, pastinya Surau Tuo Taram memang nikmat untuk dikunjungi, terlebih pada bulan Ramadhan ini. Melaksanakan Shalat Zuhur atau Ashar di dalamnya, juga terasa amat segar meskipun di luar cuaca sedang panas. Tak percaya? Cobalah datang ke sana!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar